The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
15


__ADS_3

Malam itu di The Hit terdengar samar samar suara seseorang yang sedang bicara di pantry. Itu adalah Jay dan Mary. Mary meneguk kopi hangatnya sambil bersandar santai di meja.


“Akhirnya…selamat ya,” Mary mengulang lagi kalimatnya. Ia berkali kali mengucapkan selamat atas kemunculan mereka di TV dalam beberapa hari lagi.


“Ini juga berkat kau, Mario,” Jawab Jay malu-malu. “Hhhaah… tak terasa sudah satu bulan kau menemani


kami.” Jay sedikit merenggangkan badannya. “Kerja bagus,”


Perkataan Jay membuat hening suasana pantry. Mary sedang mengolah ulang kalimat Jay. Sudah sebulan ia disana. Berarti sudah sebulan juga waktu yang ia habiskan demi ‘menyelamatkan’ BEYOND dan hidupnya. Sekarang targetnya ini akan melangkah menuju kesuksesan. Namun apakah itu langkah yang benar? Apakah langkah ini akan membuat ‘misi’ Mary berhasil?


“Mario?”


Jay membungkukkan wajahnya menatap Mary. Membuat Mary terkaget. “Kau kenapa?”


“Ah.. eumm.. ti..tidak.” Sanggahnya. Kemudian ia menggaruk kepalanya mencoba mengganti topik. “Ini


tentang Justin…”


Jay tampak tertarik dengan topik baru Mary. Ia memperhatikan ceritanya. Cerita tentang yang dialami


Justin. Cerita tentang Justin dan teman wanitanya dan juga mimpinya.


“Ah.. anak itu..” Jay menggeleng pelan sambil tersenyum mendengar cerita Mary yang khawatir dengan


Justin.


“Ck…Mengapa PD Bane melarang kalian berkencan sih? ‘Kan Justin jadi kasihan. Mereka juga tidak bisa


merasakan kisah cinta SMA yang manis…”


“Haha, sudah resikonya, kan?” Jay mengangkat kedua bahu lebarnya.


Mary mengangguk, tanda ‘benar juga’. “Kau kan yang paling dekat dengannya, ada saran? Setelah ini Justin pasti akan sibuk sekali. Hingga tidak dapat bertemu Jane,”


“Mmm…Sudah waktunya mereka ‘berpisah’, ya?” Jay nampak berfikir. Ia memegang dagunya dan menatap


langit-langit. “Aku tidak suka perpisahan yang menyedihkan.”


++++++++++++++++++++


Mary benar-benar ingin mengetahui siapa Victor sebenarnya. Ia masih ingat kabar yang menyatakan bahwa


rumah Victor terbakar sekitar dua hari setelah upacara kelulusan. Bahkan kabar itu diceritakan lagi oleh temannya saat Mary menghadiri sebuah reuni angkatan yang diadakan tiga hari sebelum beberapa murid pria di kelasnya memilih untuk masuk ke militer, rentang waktu antara reuni itu dan upacara kelulusan Mary


yaitu sekitar enam bulan.


“Siapa yang menyebarkan berita itu?”Mary berfikir sambil menapakkan kakinya diatas jalan berkerikil, payung yang dibawanya diseret-seret hingga mengeluarkan suara yang berisik. “Mengapa Victor yang dapat kabur dan tinggal di rumah Jimmy itu diam saja dengan berita yang tersebar? Mengapa ia tidak mencoba mengatakan pada temannya bahwa ia masih hidup?”


“Permisi..” Mary memasuki sebuah toko klontong kecil di dekat tempatnya tertabrak Victor kemarin. Tangannya masih memegang kertas yang berisi alamat rumah Victor.


Seorang ibu tua berjalan keluar sambil mengusapkan telapak tangannya yang basah ke celana kainnya. “Ya?


Mau beli apa, anak muda?”


“Ah tidak, bibi. Saya ingin tanya alamat..” Mary mendekatkan badannya dan membaca isi kertas itu.


Sang ibu pemilik toko itu langsung membulatkan matanya dan membawa Mary keluar toko sambil menunjuk-nujuk bangunan di depannya. Itu adalah sebuah tanah dengan batu bata diatasnya. Ibu itu bilang bahwa rumah disana baru saja dirobohkan dan akan dibangun ulang menjadi sebuah bangunan yang akan dijadikan toko diatasnya.

__ADS_1


“Rumah itu hangus terbakar, jadi sang pemilik lahan merobohkannya saja.”


“Terbakar?” Mary mengeryitkan dahinya. Cerita bibi ini semakin sama dengan yang dialami Victor.


“Iya. Rumah itu berisi satu keluarga tanpa ibu. Suatu malam, rumah itu terbakar. Katanya sih seluruh


anggota keluarga mati di dalamnya.” Ibu itu berkacak pinggang sambil mencoba mengingat kejadian itu, matanya menyipit bagai ada kobaran api di depannya. “Ah tidak, tidak, tidak!” Ibu itu memukul-mukul pelan lengan Mary. “Ada yang aneh, anak muda!”


“Ada apa, bi?”


“Anehnya, polisi hanya menemukan satu mayat pria tua di dalamnya. Ia tidak menemukan anggota keluarga


yang lain!”


“Memang ada berapa anggota keluarga disana?” tanya Mary agar ibu ini tetap melanjutkan ceritanya.


Pemilik toko daging dan toko buah di kanan-kirinya ikut nimbrung. Tanpa terasa perbincangan mereka dihadiri oleh beberapa ibu-ibu.


“Ada tiga. Tiga kan? Ia memiliki dua anak, kan?” Si ibu ini meminta persetujuan temannya.


“Iya! Satu perempuan dan satu lelaki!” seorang ibu-ibu dengan daster kembangnya menyahut. “Kasus ini


memang aneh, tapi waktu itu ‘kan ada isu politik panas, tentang pejabat korupsi itu loh!”


“Ah..iya..” Ibu yang lain mengangguk setuju.


“Seluruh stasiun TV menayangkan berita itu. Jadi polisi tidak menindak lanjuti kasus ini.  Apalagi si pemilik tanah yang barusaja membeli tanah ini katanya juga seorang pebisnis besar!” Ibu-ibu disekitar Mary


semakin bergosip. “Ia tidak ingin ada isu aneh tentang bangunan yang nanti akan didirikan usaha apalah itu, aku tidak tahu. Makanya, berita tentang bekas rumah terbakar juga tidak boleh tersebar luas.”


tergagap. Ia lalu melanjutkan, “Soalnya, malam itu aku mendengar si anak lelaki sedang ribut hebat dengan ayahnya!”


“Benarkah?”


“Wah? Benarkah?”


Sang ibu-ibu saling menyahut satu sama lain. “Iya! Mereka begitu berisik. Sepertinya Tuan Kim mabuk


berat! Aku saat itu bersiap bergegas keluar dan hendak melihat kondisi nak Victor! Namun saat aku keluar rumah, api tiba-tiba keluar dari dalam rumah!”


“Wah, iya! Kau kan yang tahu duluan, ya!”


“Terus-terus?”


“Tapi anehnya, aku sempat melihat seseorang lari keluar dari rumah itu. Sepertinya si anak perempuannya!


Ia berambut panjang, kok!”


“Lah? Terus? Anak laki-lainya kemana?” Ibu-ibu itu makin penasaran. Sang pemiliki cerita juga


hanya mengangkat bahunya.


Mary merasa kehadirannya hanya membuat ribut pada ibu-ibu yang menceritakan kejadian yang sudah lama


berlalu itu. Mary berjalan pergi setelah berpamitan pada seluruh ibu-ibu yang ternyata jumlahnya cukup banyak. Ia menyusuri gang yang memiliki penerangan seadanya. Saatnya ia menjemput Justin. Langit terlihat mendung, Mary bersyukur ia sudah membawa payung.


“Argh!”

__ADS_1


Tiba tiba ada yang menarik kerah Mary dan menabrakkannya ke dinding tembok beton di sampingnya. Genggaman kerah yang terlalu kuat membuat Mary sesak nafas.


“J..Jimmy?!” Seru Mary yang melihat Jimmy telah berbuat kasar padanya. Payung yang sedari tadi dibawanya


jatuh dan agak menggelinding, namun yang paling parah adalah genggaman tangan Jimmy yang tidak kunjung lepas dari kerah Mary. “Se..sesak! Lepaskan!” Mary mendorong Jimmy keras. Jimmy sedikit terpental mundur. “Uhuk! Uhuk! Uhuk!”


“Aku tahu kau akan melakukan ini,” Jimmy mendekat kearah Mary lagi. “Aku minta kau hentikan.


Sekarang juga!” Jimmy mendorong Mary hingga ia jatuh ke aspal yang keras.


“Jimmy! Kau!” Mary tentu saja emosi. Namun tiba tiba hujan mulai turun rintik demi rintik seakan


meredakan emosi Mary. Mary kemudian berdiri lari dan membersihkan tangannya.


“Kembalilah ke The Hit. Aku harus menjemput Justin,” Perintah Mary dengan nada lemas karena tidak ingin


beradu mulut lagi dengan Jimmy.


“Tidak! Kau pasti akan kembali lagi kesini!”


Mary menatap Jimmy sambil menggelengkan kepalanya. Heran. Jimmy keras kepala sekali demi melindungi


sahabatnya. “Terserah.”


Mary berjalan menuju sekolah Justin dengan Jimmy yang mengekori di belakang. Mary mencoba ramah dan


mengajak Jimmy untuk berjalan di sampingnya, namun Jimmy menolak. Mary kini bagai pria yang membawa bayangannya.



“Jimmy? Kau ikut menjemputku?”


“Sudah, jangan pedulikan dia,” Mary segera memayungi Justin begitu ia menemukannya di depan gerbang.


Mary berjalan bersama Justin dengan Jimmy yang masih jalan dibelakang mereka. Justin memilih bungkam dan tidak ikut campur pada urusan kedua orang itu.


“Hei, Jim,” Mary menoleh ke belakang menatap Jimmy. Gerakan kepalanya menandakan bahwa Jimmy lah yang seharusnya dibawah payung bersama Justin. Biar Mary saja yang berjalan dibelakang mereka. Jimmy menjawab bahasa tubuh Mary dengan gelengan. Jimmy berusaha menutupi kepalanya yang mulai basah dengan kedua lengannya yang diangkat hingga diatas kepala.


“Ckckck…” Mary menggeleng kesal. Ia melihat Jimmy yang hanya memakai kaos itu terlihat basah dan kedinginan. Ia lalu menyuruh Justin memegang ganggang payung. Mary membuka jaketnya. “Nih”


Mary membentangkan jaketnya dan meletakkannya diatas lengan Jimmy. Mary berharap Jimmy menggunakannya sebagai penghadang hujan walaupun tidak seefektif payung.


Mary lalu berlari kecil kearah Justin dan berlindung dibawah payung, ia memegang ganggang payung itu


lagi. Payung itu di arahkan Mary hingga menutupi Justin. Bahu kiri Mary tampak basah. Namun ia biarkan saja, yang penting Justin si idola baru, ini tidak basah. Mary merasa sedikit dingin karena air hujan mulai membahasi kaos putih nya. Justin yang tidak sadar dengan hal itu terus berjalan sambil memainkan


game di ponselnya.


“Ah!!” Seseorang berteriak dari belakang mereka. Mary dan Justin otomatis menoleh. “Justin! Lihat!” Jimmy menunjuk jalanan di depan Justin dan membuat Justin menoleh ke depan lagi.


BET.


Jimmy memakaikan jaket basah Mary pada badan Mary. Mary menatap Jimmy bingung. Ia diam.


“Ya ampun!” Mary tiba-tiba kaget. Wajahnya memerah. “Jimmy melihatnya!” Seru Mary dalam hati saat menyadari bahwa Jimmy melihat balutan perban yang dikenakan Mary –untuk menutupi dadanya, terlihat dari balik kaos putihnya yang basah.


Jimmy terdiam. Wajahnya memerah. Mary kemudian menutupi dadanya dengan menyilangkan tangannya di depan dada. “K..kau..melihatnya?” Tanya Mary memastikan sekali lagi.

__ADS_1


__ADS_2