![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Hari yang sibuk pun dimulai. Sudah beberapa hari ini Mary memilih tidur di kantor dengan beberapa
staff. Ia terkadang tidur di ruang dance, vocal, bahkan studio. Agust, Jhony dan Hope merupakan member yang terkadang memilih untuk bermalam di The Hit.
Mary merasa lebih segar setelah meminum beberapa vitamin pemberian Agust. Ia kini berjalan menuju meeting room untuk menemui Justin. Ia membuka pintu, Justin terlihat sibuk membolak balik buku pelajarannya.
“Kau akan cuti sekolah selama dua minggu,” kata Mary sembari meletakkan beberapa kertas yang dari tadi
ia bawa ke atas meja. Kata-kata Mary membuat mata bulat Justin menuju ke arahnya. Mary menatap pipi Justin, memar itu sudah hilang, membuat wajah tampan Justin kembali terlihat.
“Mengapa lama sekali?!” Serunya. Justin belum pernah cuti selama itu sebelumnya. Namun sekolahnya yang merupakan sekolah seni dan juga memiliki beberapa murid yang berprofesi sebagai idola dan artis sudah terbiasa dengan cuti lama yang diajukan agensi mereka.
“Tentu saja. Ini semua agar kau lebih maksimal latihannya. Aku sudah mengirim surat ke sekolah, tenang
saja.” Mary membaca ulang berkas yang ada di meja itu. “Ah iya.” Mary menatap Justin. “Nanti saat kau masuk, pinjam saja buku catatan temanmu. Kau bisa menyalinnya dan belajar di apartment, atau disini.”
Justin berfikir. Ia berfikir antara tidak mau repot-repot menyalin pelajaran dengan tidak mau meminjam buku catatan temannya karena tentu mereka tidak akan meminjami. Justin memang tidak memiliki teman dekat.
“Itu loh, teman mu yang di warnet. Pinjam saja dia.” Ujar Mary seakan biasa membaca fikiran Justin.“dia satu sekolah denganmu, kan?”
Mary membuat Justin memikirkan Jane, Jane adalah penjaga warnet langganannya dan juga teman satu
sekolah Justin yang kelasnya bersebelahan dengannya. Gadis berambut panjang itu selalu tidur di perpustakaan saat jam istirahat dan makan bekal saat jam pelajaran. Itu yang Justin tau darinya. Satu-satunya teman yang ia dekat. Justin juga membuatnya mengingat perkataan Jane beberapa hari yang lalu.
Saat itu Justin memilih bermain di warnet lagi. Ia tidak menghadiri jam pelajaran terakhir. Ia sudah suntuk. Ia
juga melihat Jane yang sudah ada di warnet. Gadis itu bolos juga. Jane menatapnya heran, “Justin? Kau bolos lagi?” Tanyanya. Justin tidak menjawab dan hanya melewatinya. Justin menuju tempat duduk favoritnya. Ia selalu duduk disana setiap ke warnet itu. Namun hari sedang sial. Ada seorang pria paruh baya dengan tampang menyeramkan sedang duduk disana.
“Kau bisa duduk disana.” Tunjuk Jane pada salah satu bangku kosong. Justin menurutinya. Ia segera duduk
di bangku itu tanpa bersuara sedikit pun. Jane yang tau Justin sedang bad mood malah menghampirinya. Jane
duduk disebelahnya dan ikut memainkan game yang sama.
“Kau habis berkelahi dengan, Leo, ya?” Jane membuka percakapan yang tentu nggak ingin didengar Justin.
Justin hanya diam. Jarinya bergerak cepat diatas keyboard. Matanya juga fokus ke arah layar.
“Maklumi saja dia. Dia hanya iri padamu.” Gerakan tangan Jane juga tak kalah cepat, matanya juga bagai
tertancap pada layar komputernya. “Leo kan sudah bukan trainee lagi. Dia tidak lolos di seleksi bulanan agensinya. Jadi dia iri padamu yang sudah mau debut, sedangkan dia tidak segera debut..” Jane bercerita panjang lebar.
“Maklumi saja dia..” Jane mengulang perkataannya.
Justin memejamkan matanya dan membulatkan kepalan tangannya. Jane memecahkan konsentrasinya. Ia memutar kursinya menghadap Jane. Tatapannya membuat Jane sedikit ketakutan.
“Jangan ikut campur dengan urusan kami,” katanya pelan dan tajam. “kenapa kau membelanya?!” ia
__ADS_1
meninggikan suaranya. “Dan juga! Kenapa aku harus memakluminya?! Dia sudah bicara seenaknya padaku! Memangnya salah kalau aku debut lebih dulu darinya?! Gagal dalam seleksi kan bukan karna ku! Aku juga tidak tau apa yang akan terjadi setelah aku debut!” Ia mengakhiri perkataannya. Membuat seisi warnet
diam. Mata mereka semua terlihat canggung.
Justin sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi pada game nya. Ia membayar lalu bergegas keluar dari tempat
itu. Jane mengejarnya dan berhasil memegang lengannya.
“Kau marah? Maafk…”
Justin sudah menyibakkan tangannya sebelum Jane menyelesaikan kalimatnya.
“Ok! Maaf!” Jane meninggikan suaranya karena Justin berjalan pergi. “Selamat untuk debutmu! Jangan lukai kakimu lagi!” Jane berteriak. Kalimat terakhirnya membuat Justin berhenti. Ia membalikkan badan. Jane berjalan mendekat. “Kau tahu? Kita sudah pernah bertemu sebelumnya.”
Justin hanya menatap Jane bingung. Dari mana ia tau kakinya pernah terluka. Kapan mereka pernah bertemu?
“Ah sudah kuduga kau lupa. Kita berkenalan dua kali. Dua duanya aku yang memulai duluan!” Jane
sedikit memajukan bibir kecilnya. “Sekitar satu tahun lalu. Di rumah sakit, ingat?”
-FLASHBACK-
Justin melihat sang perawat mengganti perbannya. Kala itu Justin adalah seorang trainee baru di The Hit. Ia berusaha keras menyusul kemampuan para trainee yang lain. Justin belajar koreografer hampir setiap hari. Latihannya yang terlalu keras itu lah yang membuatnya kini sudah dua hari harus tinggal di rumah sakit untuk merawat pergelangan kakinya yang terkilir dan mengalami pembengkakan otot. Justin tidak bisa jalan duludan memerlukan bantuan kruk atau kursi roda untuk itu. Para member bergantian menjaga Justin, namun Justin bersikeras tidak ingin dijaga. Ia bisa sendiri.
“Oh, gadis itu lagi…” Jay melihat gadis yang sama hampir tiap hari lewat di kamar Justin dan melirik ke
dalam ruangan. Gadis itu membawa bawa tiang infus yang menancap pada punggung tangannya.
Justin mendongakkan kepalanya mencoba melihat siapa yang ada di luar pintu, namun nampaknya gadis
itu sudah berlalu pergi.
Tak terasa waktu sudah hampir siang, Jay harus kembali latihan. Justin bersikeras ingin mengantar Jay dengan kursi rodanya, namun Jay membatasinya hanya sampai lobby saja.
“Bye, nanti malam aku dan Hope akan datang.” Jay mencubit pipi Justin. Hal yang sangat ia benci.
Justin memandang punggung Jay. Ia semakin menjauh. Justin lalu mengendalikan kursi roda dan membuatnya
berbalik arah untuk menuju kamarnya. Ia berpapasan dengan seorang gadis. Justin melewatinya, namun gadis itu tetap mengarahkan padangannya pada Justin.
“Hei, tunggu,” Kata gadis itu pelan. Membuat Justin menoleh kebelakang dan memutar kursi rodanya. “kau
dari kamar 221, kan?” Tanyanya. Justin memandangnya dan mengasumsikan bahwa dialah gadis yang dilihat Jay tadi. “aku dari 218. Aku Jane.” Dia menjulurkan tangannya tanda untuk berjabat tangan. Justin meraih tangannya dan menjabatnya.
“Justin.” Katanya pelan.
__ADS_1
-END OF FLASHBACK-
Justin kini mengingatnya. Jane adalah gadis dari kamar sebelah yang terkena keracunan makanan. Ia harus
diopname selama beberapa hari. Jane sering mengajak Justin berkeliling rumah sakit. Jane berkata bahwa ia kesepian disana. Teman nya hanya manula ataupun anak kecil yang sudah tentu akan bermain bersama saudara atau orang tua yang selalu menjenguknya.
Jane mengajak Justin menuju ke taman belakang rumah sakit untuk melihat wanita cantik yang bernyanyi
dengan gitarnya dari pada mengikuti kelas berdoa bersama manula. Jane berbagi crayon dan pensil warna dengan Justin dan menggambar bersama di kamar Justin. Jane juga yang mengajak Justin berkeliling rumah sakit saat malam untuk sekedar ‘berjurit malam’ ala film horor yang kemudian gagal karena para perawat selalu menangkap basah mereka dan menyuruh mereka kembali ke kamar masing-masing.
Itu adalah minggu yang singkat. Justin juga ingat bahwa di hari ia diperbolehkan pulang, ia belum sempat berpamitan pada Jane. Ia pergi begitu saja dan melupakan Jane.
++++++++++++++++++++
Hope berlari menuju ruangan tempat Mary berada. Hope membuka ruangan itu dan mendapati Mary sedang
sendirian dan menatap laptopnya.
“Ada apa?” Tanya Mary.
“Aku beberapa hari yang lalu mabuk, ya?” tanya Hope. Membuat Mary mengingat kejadian itu. Hari dimana
ia harus menyeret-nyeret Hope dan membawanya menaiki tangga apartmentnya yang berada di lantai tiga.
“Ah.. iya!” Mary sedikit menutup laptopnya. “Kan sudah kubilang jangan minum!”
“Maaf yaa…” Hope duduk di depan Mary.
“Terus? Kata Sejin aku tertidur di apartment mu?” Lanjut Hope penasaran dengan apa yang terjadi. Agust dan Jimmy tiba tiba datang dan membaur. Agust duduk di samping Mary, dan Jimmy duduk di samping Hope.
“Iya. Sejin mencarimu. Karena itu aku harus mengantarmu pagi-pagi sekali. Kau bahkan masih tidur di dalam
taksi,” jelas Mary. Hope membulatkan mulutnya sambil mengangguk pelan. Tiba tiba Agust menyondongkan kepalanya ke layar laptop Mary.
“Apa yang kau kerjakan?” tanyanya.
“Ini, aku membantu tim iklan untuk promosi.” Mary menggeser laptopnya agar Agust dapat melihat dengan
jelas. Hope dan Jimmy diam saja menunggu Mary membalik laptopnya. “Bagaimana lagi ya cara mempromosikan kalian?” Mary mengelus dagunya, berfikir.
“Eyy.. Sejin kan bilang kau tak perlu melakukan ini.” Hope membalik lagi laptopnya menghadap Mary. Ia
baru saja melihat Mary mendesain website yang akan ia jadikan fansite.
“Iya. Bukannya kau manager kami dan manager pribadinya Justin, ya?” Jimmy mengeryitkan dahi.
Mary sadar seseorang disebelahnya memandangnya. Mary menoleh, “Apa?”
__ADS_1
“Kau…” Agust yang memandanginya membuka suara. “siapa kau sebenarnya?”