![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
2 TAHUN KEMUDIAN
Seorang gadis berlari kencang sambil menenteng gitar di tangannya. Langkahnya berhenti tepat di pintu
gedung yang sudah dipadati oleh pria-pria. Gedung itu sangat ramai dan penuh sesak oleh para pria yang berdandan keren dan rapi.
“Pe..permisi..” Ia berkata sopan agar kerumunan di depannya memberikan jalan. Seluruh mata tertuju pada
gadis itu. Ia adalah ssatu-satunya gadis yang ada di sana. Sambil menenteng gitar yang agak berat, ia menurunkan ujung topinya agar ia tidak dapat melihat orang-orang yang sedari tadi heran menatapnya.
Ia menuju antri dengan rapi untuk mengambil nomor urut masuk. Gagang gitarnya berusaha ia kendalikan
agar tidak menyenggol pria-pria di sekitarnya. Ia menempelkan nomor urut itu pada dadanya dan mencari tempat untuk duduk.
Seseorang dengan sopan memberikan kursinya. Gadis itu tersenyum ramah dan menduduki kursi pria yang
langsung pergi setelah memberikan tempat duduknya. Ia melihat sekeliling. Itu adalah suasana audisi pada sebuah perusahaan entertaiment The Hit. Ia terskesima dengan beberapa pria yang berlatih dance di dekatnya. Lalu pria yang berdiri di depannya sedang menghafalkan lirik rap yang enak didengar. Sesekali
pria itu juga menyuarakan irama beat box dari mulutnya.
*“Kau pasti bisa…”*Ia menyemangati dirinya dalam hati sambil menyeka telapak tangannya yang basah pada pahanya. “Kau sudah belajar gitar sejak lama\, kau pasti bisa…” Gadis itu berhenti melihat sekeliling. Ia merasa saingannya sangat berbakat. “Kau boleh gagal di ujian masuk universitas\, tapi jangan sampai gagal disini. Akhirnya kau berhasil masuk les akademi musik\, kan? Kali ini kau tidak boleh gagal! Semangat!”
++++++++++++++++++++
Akhirnya gilirannya masuk. Sambil menenteng gitarnya, ia memasuki ruangan yang berisikan 4 orang
juri. Gadis itu berdiri ditengah ruangan sambil menatap ke empat juri yang menilai tampilan luar gadis itu.
“Lepas topinya,” seseorang berbicara.
“Ah, iya. Maaf,”
Pandangannya semakin jelas setelah ia membuka topi hitamnya. 4 orang juri itu adalah salah satu
petinggi The Hit, CEO atau pemilik The Hit dan dua anggota BEYOND yang bernama Jhony dan Hope.
“Loh? Wanita?” Seorang pria tambun yang rupanya CEO The Hit itu kaget dengan gadis yang berdiri di
tengah ruangan itu. Ia berganti tatap dengan Jhony yang duduk di sebelahnya.
“Wah! Cantik! Cantiik,” celoteh Hope meredakan ketegangan gadis itu. Rambutnya yang sebahu bergerak
lemas saat ia menunduk untuk menyembunyikan senyum malunya. “silahkan perkenalkan diri.”
“Nama saya Mary,”
“Mm.. Mary,” Jhony yang duduk di tengah menyela Mary. “Kau tau jika kita hanya mengaudisi pria, kan?”
Mary menganguk yakin. “Saya audisi sebagai song-maker. Saya telah membuat beberapa lagu dan mengirimnya ke The Hit. Lalu saya menerima mail yang mengatakan bahwa saya dapat melakukan audisi hari ini,” Jelas Mary.
Setelah lulus SMA dan menerima kegagalannya masuk universitas seni ternama, Mary memang melakukan
berbagai kerja sambilan. Ia lalu mendaftarkan diri untuk masuk akademi musik untuk mengasah kemampuannya, terutama di permainan gitar yang memang sudah ia kuasai. Di sana ia juga diajarkan membuat lagu yang baik. Sudah banyak lagu yang ia ciptakan. Mary kemudian iseng-iseng rajin mengirimkan demo lagunya ke perusahaan The Hit, perusahaan yang selalu dilewatinya saat ia akan berangkat kerja sambilan di salah satu café yang berada dekat dengan The Hit.
“Oke.” CEO The Hit itu mengangguk. “Mainkan lagu buatanmu,”
Mary tersenyum saat ia diijinkan mengikuti audisi hari ini. Ia mengeluarkan mini gitarnya yang berwarna coklat. Mary mulai memetik gitar itu dan menyanyikan lagu yang ia buat nada yang ringan dan santai serta lirik yang dalam membuat siapapun yang mendengarnya ikut hanyut di dalamnya.
Entah mengapa lirik yang disampaikan Mary melalui lagu ciptaannya begitu menyentuh di hati Jhony. Lirik
yang menggambarkan persahabatan, cinta, kerja keras dan kesakitan itu seakan mengingatkannya pada BEYOND jauh sebelum sukses seperti sekarang. BEYOND yang masih berjuang bersama-sama, bekerja keras dan saling menyemangati satu sama lain.
Perjuangan CEO The Hit juga masih diingat Jhony, banyak dana yang dikeluarkan untuk mengangkat nama
BEYOND. Ia bahkan tidak sanggup menyewa manager tambahan untuk menemani sang manager utama. Namun semua perlahan berubah berkat kerja keras BEYOND dan kegigihan BEYOND. Fansite yang
__ADS_1
tiba-tiba muncul entah siapa yang mendirikannya juga kini semakin memiliki banyak pengunjung. Kehadiran masternim yang tiba-tiba semakin bertambah ikut membuat BEYOND semakin dikenal masyarakat.
PLOK PLOK PLOK
Jhony terbangun dari lamunannya karena suara tepuk tangan Hope yang terlalu keras. Ia melihat Mary
sudah selesai bernyanyi. Mary melepaskan senyuman puas pada 4 juri dihadapannya. Wajah Mary yang tampak tak asing membuat Jhony membalas senyumannya.
++++++++++++++++++++
“Di lantai tiga, paling ujung kanan,” Jawab Mary saat salah satu teman trainee nya menanyakan ruangan olah vokal.
“Kau sudah hafal?” seorang trainee yang sedari tadi berjalan dengannya ikut kagum.
“Gampang kok menghafalnya,” Mary menatap temannya yang jauh lebih tinggi itu. “Rasanya gedung ini juga tampak tidak asing bagiku,” Gumamnya.
“Apa?”
“Ha? Ah tidak,” Mary menggeleng pelan. “Aku duluan, ya,” ia menepuk lengan teman nya dan berjalan
pergi.
Sudah seminggu Mary menjadi trainee di The Hit. Ia merupakan satu-satunya pendaftar di bidang song-maker. Ia juga merupakan satu-satunya wanita di audisi kemarin. The Hit memang menggelar audisi hanya untuk pria saja.
Mary melangkahkan kaki ke studio yang berisi peralatan rekaman. Itu adalah ruangan yang ditujukan untuk
latihan mengenai aplikasi rekaman lagu, pembuatan guide song dan aktifitas lain yang biasa digunakan seseorang untuk belajar membuat lagu di The Hit. Mary duduk di kursi empuk itu dan mulai membuka folder yang sudah ia simpan di komputer itu. Ia ingin menyempurnakan lagunya dengan editan-editan unik.
“Tidak ditutup?”
Suara itu membuat Mary menoleh. Ia memang lupa menutup pintu studio itu. “Selamat sore,” Mary
membungkukkan badan pada member BEYOND yang berdiri di ujung pintu. Itu adalah member yang belum ia temui selama menjadi trainee di The Hit. “Saya Mary, song-maker trainee,” Mary memperkenalkan diri.
Member BEYOND itu rupanya Agust. Ia membulatkan mulutnya sambil mengangguk pelan. Ia kemudian mengangkat lengannya untuk menunjukan flashdisk di tangannya. “Ada yang perlu aku ambil,” ucapnya. Membuat Mary hendak berdiri di kursinya. Namun ia terlanjur tidak bisa bergerak karena Agust sudah
aktifitas dengan nyaman.
“Kau Mary yang sering mengirimkan lagu ke The Hit ya?” Tanya Agust dengan mata masih di layar. Ia
kemudian berdiri sempurna saat komputer memproses data dari dalam komputer ke flashdisk nya.
“Iya,” Mary mendongak menatap Agust.
“Ooh..” Ia mengangguk lagi. “Bagus. Aku ikut mendengarnya,” Pujinya.
“Be..benarkah? Terimakasih.”
Ucapan terimakasih Mary tidak dijawab Agust, ia berjalan menuju rak besar yang ada di depan pintu. Mary
ikut berdiri dan menghampiri rak itu. Ia melihat Agust mengambil salah satu buku dari sana.
“Ah! Buku ini.” Mary ototmatis tersenyum saat melihat salah satu tumpukan buku yang tak asing baginya berjajar rapi di rak. Tangannya bergerak secara otomatis dan mengambilnya. Agust yang tertarik dengan ucapan Mary ikut melihat buku dengan sampul warna-warni yang diambilnya.
“Itu untuk pemain piano pemula.” Ujar agust yang baru saja membaca judul buku itu.
“Iya, sepertinya aku juga belajar dari buku ini.” Mary tersenyum riang menatap Agust sambil mengangkat
buku yang dipegangnya. Mary lalu terdiam karena Agust menatap diam ke arah nya.
“Kau..” Agust memiringkan kepalanya. “Sepertinya tidak asing..”
“Maaf?”
“Ah. Tidak. Lupakan.” Agust lalu menuju ke arah komputer itu untuk mencabut flashdisknya. Ia kemudian berjalan menuju pintu. “Oh ya.” Agust membalikkan badan. Mary juga berbalik menatap Agust. “Apa kau mau kue kering?” Agust mengeluarkan kue dari sakunya jaketnya. Itu adalah kue kering bertabur kacang
__ADS_1
almond yang dibungkus plastik transparant dengan corak pink dan diikat pula dengan pita pink yang manis.
Mary tersenyum dan berjalan mendekat. Ia mengambil kue itu dari tangan Agust.
“Jay membuat kue kering hari ini. Aku rasa ia terlalu banyak membuatnya,” Jelas Agust tanpa ditanya. Ia
menyaku lagi tangannya saat kue kering itu sudah berpindah tangan.
“Terimakasih,” Mary tersenyum senang pada perlakuan baik seniornya itu. Ia menatap kue kering yang
dibungkus cantik itu. “Bahkan kue ini pun tampak tidak asing!”
++++++++++++++++++++
“Selamat malam,” Mary membungkuk sopan menyapa seniornya yang baru saja lewat.
“Ah! Mary!” Jay yang sudah berjalan melewatinya kemudian membalik jalannya untuk berjalan menghampiri Mary. Mary merasa senang karena seniornya itu sudah menghafal namanya dan memanggilnya santai. “Sudah kau terima kuenya?”
“Kue?” Mary memiringkan kepalanya. “Ah yang dari Agust? Iya. Sudah. Enak sekali. Terimakasih.” Mary
membungkukkan badannya. “Agust berkata bahwa kau tidak sengaja membuat lebih,”
“Tidak tidak.” Jin menggelengkan kepalanya, membuat rambut coklatnya bergerak kesana kemari. “Itu memang punyamu.”
“Apa?”
“Ah Tidaaak… lupakan..hahaha,” Jay tertawa sambil berkacak pinggang. “Ngomong-ngomong, kau song-maker trainee itu kan?”
“Iya, saya Mary,” Mary memperkenalkan nama yang sudah diketahui Jay.
“Oke, Mary,” Jay menepuk pundak Mary. “Selamat datang kembali,” Gumamnya pelan.
Mary berusaha mendengar namun tidak bisa, ia juga berusaha membaca mulutnya namun gerakannya terlalu
cepat. Belum sempat Mary bertanya apa yang dikatakan Jay, namun ia sudah berlalu pergi.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Jay menyadari kini waktunya ia berpisah dengan Mary dan segala 'misi' yang mereka jalankan, ia melihat angin kencang itu bersatu membentuk pusaran angin. Pusaran angin itu kemudian berjalan menuju Mary bagai mengikatnya di tengah. Jay melihat Mary sedang mengucapkan sesuatu. Ia tak dapat mendengarnya karena suara angin yang kencang bagai badai ini mengganggunya.
“Terimakasih!!” Jay berteriak. Ia berharap Mary mendengarnya. Ia juga melihat Mary yang semakin lama semakin pudar. Jay kemudian mengeryitkan alisnya karena cahaya terang itu muncul lagi. Sinarnya membuatnya semakin tak sanggup membuka mata. Sinar itu kian dekat. Dan kini menghampirinya.
Jay merasa ada sesuatu yang mengetuk kepalanya.
“Si…permisi…” Suara manusia itu juga terdengar makin jelas.
“Ah!” Jay terbangun tiba-tiba dan membuat si pengetuk kepala itu terkaget. “Hah!” Jay menunjuk kaget gadis yang tadi mengetuk kepalanya. “Ma..Oops!!” Jay yang hampir menyebut nama Mary, menutup mulutnya.
Ia memang kaget dengan kehadiran Mary di depannya, namun tidak bagi Mary, karena ingatan Mary tentu sudah dihapus ‘Langit’. Mary memang gagal menyelesaikan ‘misi’nya, namun ‘Langit’ memberikan penghargaan atas berbagai tindakan Mary yang ikut membantu member BEYOND dalam menyelesaikan masalah. ‘Langit’ memberikan Mary kesempatan hidup lagi dan menghapus kejadian buruk yang akan dialami Jay, namun untuk itu, Mary harus merelakan ‘Langit’ menghapus ingatannya.
Jay melihat sekeliling. Kini ia tertidur di salah satu meja di depan mimimarket. Ia melihat langit sudah mulai sore.
“Maaf kak. Apa kau mabuk?” Mary memegang lengannya.
“Aku?” Jay menatapnya. Ia yakin itu Mary. Walapun rambutnya panjang dan dikuncir kuda, namun wajahnya
masih tetap sama. Bahkan seragam minimarket yang digunakannya juga menunjukan bahwa nama pegawai itu adalah Mary. “Aku tidak mabuk.”
“Baiklah kalau begitu. Aku membangunkanmu karena sepertinya akan turun hujan.”
“Oh,” Jay menatap langit, sepertinya perkataan Mary benar. Jay menurunkan tatapannya lagi, hendak mencari
Mary, namun Mary sudah berjalan masuk ke minimarket. Jay menatap Mary yang nampak berdiri di balik meja kasir
“Aku senang dapat bertemu denganmu lagi.” Ucapnya dalam hati sambil melihat sosok Mary. “Langit’
__ADS_1
memang memberikan penghargaan padamu. Kau tidak hanya membantu BEYOND untuk sukses, kau bahkan membantu member BEYOND untuk menyelesaikan masalah pribadinya dan ikut menguatkan teman-temanku. Terimakasih, Mary. Terimakasih karena ikut berjuang bersama. Terimakasih telah membuat insiden truk itu tidak pernah terjadi. Memang hanya aku yang akan mengingatnya, namun aku percaya, kau masih bagian dari kami. Terimakasih.”
TAMAT.