The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
Epilog


__ADS_3


Victor memegang erat tangan seseorang yang duduk dihadapannya. Itu adalah Virgo, kakak kandung


Victor. Baju abu-abu yang dikenakannya jelas menandakan bahwa ia adalah salah satu penghuni lapas disana. Virgo masih tersenyum menatap adiknya yang sepertinya masih berbicara tentang kesehariannya dan pengalaman menyenangkannya bersama teman-teman.


Virgo lega menyaksikan adiknya telah meraih mimpinya. Ia juga merasa lega karena telah mengakui


kesalahannya dan berhenti sembunyi. Virgo masih ingat kala Victor yang tiba-tiba datang dan menemukan rumah Virgo di malam hari. Ia juga masih ingat Victor menangis saat memakan masakannya. Virgo memang tidak bisa menyaksikan debut stage adiknya di showcase maupun di TV, namun ia senang karena akhirnya adik yang disayanginya ini berhasil mencapai impiannya.


“Aaaaa…” Victor mengambil telur gulung dengan sumpit dan mendekatkannya ke mulut Virgo.


“Kakak bisa sendiri, tau.” Virgo menolak suapan Victor.


“Mmmm..” Victor bertingkah imut dengan menggoyangkan badannya dan memajukan mulutnya. Ia masih


bersikeras menyuapi kakaknya. “Aaaaa….”


Virgo akhirnya memakan suapan Victor. Victor tersenyum senang melihatnya. Victor bahkan menepuk nepuk


kepala kakaknya. Virgo sedikit tertawa geli melihat tingkah Vivtor.


++++++++++++


The Hit sedang merayakan kemanangan BEYOND di lagu baru mereka. Pesta kecil-kecilan ini dihadiri oleh BEYOND beserta staff dan CEO mereka.


“Hei Justin…” Hope mendekat kearah Justin dan Mary yang berdiri berdua. “Kau tidak bisa melakukannya sendiri?” Hope menggeleng pelan kepalanya. Ia melihat Mary sedang menuangkan gelas jus besar pada gelas kaca Justin.


“Apanya?”


“Itu!” Hope menunjuk gelas Justin. “Kau tidak bisa menungkannya sendiri?”


“Nanti tumpah, Hope.”Jawab Mary. “Sudah..” Mary berhenti menuangkan jus jeruk itu pada gelas Justin yang sudah terisi penuh.


“Terimakasih, Mary,” Justin tersenyum riang sambil memamerkan gigi kelincinya. “Kita ambil daging disana yuk!” justin mengajak Mary pergi.


“Eit eit!” Seruan Hope menghentikan langkah kaki Mary dan Justin. “Aku masih ada urusan dengan Mary,


kau ambil sendiri saja.”


“Yasudah nanti saja.” Justin memundurkan kakinya dan lebih memilih berdiri diam di samping Mary.


“Kau ini…” Hope sedikit bergumam kesal pada member termudanya terus menempeli Mary.


“Ada apa Hope?” Mary menatap Hope disebelahnya.


“Ah tidak. Eumm… jepit yang kau kenakan lucu juga” Hope menunjuk jepit dengan hiasan bunga merah di


rambut Mary. Ya. itu adalah jepit yang 'pernah' Jhony berikan pada Mary. Langit memang telah menghapus 'ingatan' Mary dan Member BEYOND -kecuali Jay- , namun barang-barang yang pernah menjadi ada di masa itu secara ajaib tidak ikut 'terhapus'.


“Ah.. terimakasih..” Mary memegang jepit itu lagi. Ia memang sudah lupa darimana ia mendapatkannya, namun entah mengapa ia suka sekali dengan jepit manis itu.


“Ngomong-ngomong… aku ingin berterimakasih saja. Kau kan sudah ikut membantu membuat melodi di lagu


ini..” Ucap Hope sambil menggaruk belakang kepalanya.


“Aduh, tidak perlu…” Mary tersipu malu. Mary juga ikut senang mengetahui lagu BEYOND kali ini menang dan

__ADS_1


sukses, karena Mary ikut andil dalam beberapa melodi di lagu ini.


“Tidak. Aku harus memberimu hadiah.” Hope tersenyum senang dan semangat.


“Ha?”


“Bagaimana kalau makan ma…”


“Hei, Mary!!” Seruan Jimmy membuat Hope berhenti melanjutkan perkataannya soal ajakan makan malam.


Mary melihat ke sisi kirinya. Jimmy datang dengan Jhony yang mengikuti dibelakangnya.


“Kenapa kau teriak-teriak segala sih!” Mary ikut protes.


“Kau yang menyebarkan foto SMA ku ya!” Serunya. Ia kini berhadapan dengan Mary. Hope sedikit mundur


selangkah.


“Ha? Tidak?” Mary menggelengkan kepalanya. Ia mengingat penampilan Jimmy saat SMA. Pipi tembem


dan mata kecilnya masih ada di ingatan Mary. “Ahahaha!” Ia tertawa keras membayangkan wajah Jimmy.


“Tuh kan! Kau yang menyebarkannya ya!!”


“Tidak! Bukan aku! Kan penggemarmu banyak. Mungkin ada yang satu sekolah dengan kita!” Seru Mary. Ia


yakin ia tidak menyebarkan foto masa lalu Jimmy.


“Sudah, sudah…” Jhony menengahi mereka berdua. Ia kembali memberikan minuman Jimmy yang sedari tadi


ia pegang.


“Di studionya,” Jhony menjawab sambil menggerakkan kepalanya menuju arah pintu.


“Mmm… aku permisi sebentar ya,” Mary memutuskan keluar dari keramaian.


“Hei! Mau kemana kau, Mary!” Jimmy masih berseru heboh.


Hope menatap punggung Mary yang menjauh dan keluar ruangan. Ia menghela nafas berat. Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Hope dan mengelusnya. Hope menoleh ke sisi kanannya. Itu adalah Jay. Hope tersenyum masam terhadap Jay. Ia melepas tangan Jay yang ada di pundaknya.


“Aku juga permisi sebentar,” Hope berjalan menjauhi kerumunan dan pergi mengejar Mary.


+++++++++++++


Mary mengetuk pintu studio yang terbuka kecil itu. Suara dari dalam membiarkannya masuk. Mary


mendengar lagu yang mainkan Agust dari dalam komputernya. Kedua orang itu terdiam dalam ruangan. Keduanya mendengarkan lagu yang diputar dengan volume speaker yang cukup keras.


“Lagu apa ini?” Tanya Mary. Melodinya cukup nyaman di hati, liriknya indah, dan suara Justin yang menyanyikannya menambah kesempurnaan lagu itu.


“Oh ini?” Agust berbalik badan menatap Mary. Ia menunjukkan kertas partitur ditangan kanannya. “Entahlah. Aku menemmukannya di salah satu folder ku. Lalu partitur ini juga tiba-tiba terselip di buku lama ku.” Jelas Agust.


“Lagunya indah,” Puji Mary. Entah mengapa lagu itu terdengar sangat tidak asing di telinga Mary.


Mendengarnya juga membuat dadanya semakin sesak. Rasanya sakit, sedih, namun membuat bibirnya tidak berhenti tersenyum saat mendengarnya.


“Iya. Judulnya….”

__ADS_1


“First Love,” Ucap Agust dan Mary bersamaan. Agust menatap mata Mary yang berair.


“Ka..kau kenapa?” Agust kebingungan menghadapi gadis yang menangis secara tiba-tiba dihadapannya.


Mary menutup wajahnya dengan telapak tangannya. “Ah maaf..” ucapnya. “Aku tidak tau. Ini aneh.” Mary


menyeka air matanya. “Lagu ini membuat dadaku sesak. Rasanya sakit, sedih namun indah. Seperti mengingatkanku pada sesuatu. Membuatku membayangkan sesuatu.” Mary bingung sendiri mengungkapkan perasaan aneh yang ia rasakan.


Agust kemudian berjalan menghampiri Mary. Ia memeluknya. Mary yang kembali menutup wajahnya dengan


telapak tangannya itu diam saja saat Agust memeluknya. Agust dengan pelan menepuk-nepuk kepala Mary.


Suasana hangat di dalam studio itu membuat seseorang yang sedari tadi berada di luar untuk mengikuti


Mary menutup pintu studio itu perlahan.


++++++++++++++++++++++


Justin menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya. Ia melihat kondisi bandara hari ini cukup sepi. Justin


sedikit takut jika ada yang mengenalinya, karena ia tidak membawa manager maupun BEYOND untuk pergi ke luar negeri bersamanya, jadi tidak ada yang bisa melindunginya. Justin masih memegang kertas itu pada tangannya. Ia memilih memanggil taksi dan memberikan alamat itu pada sang supir.


Taksi itu membawanya pada sebuah Universitas besar. Ditatapnya lapangan hijau lapang yang berhias


pohon-pohon besar dan beberapa mahasiswa yang duduk-duduk diatasnya.


“Dimana sih?” Justin celingukan menatap ke area luas ini. “Haduh,” Justin melepas kacamata hitamnya


dan topi yang sedari tadi dikenakannya. Justin mengacak-acak rambutnya hebat lalu memasang topinya lagi.


“Oh! Justin!” Seseorang berteriak. Sepertinya ia kenal dengan Justin. Gadis berbadan tinggi itu mengeluarkan ponselnya. Ia mulai memotret Justin dari kejauhan.


Justin yang agak sedikit risih itu berjalan maju sambil menurunkan ujung topinya. Melihat aksi gadis itu


yang kerap mengikuti Justin, orang-orang disekitar kampus mulai mendekatinya karena penasaran dengan sosok yang dipotret gadis itu.


“Justiiin!” Beberapa gadis terdengar berseru melihat Justin lewat dihadapannya. Mereka mengeluarkan ponsel dan mulai mengabadikan gambar.


Kerumunan itu makin banyak dan makin mengikuti Justin. Justin yang tidak nyaman itu mempercepat


jalannya, namun sekumpulan penggemarnya masih mengikuti dan berteriak histeris.


Tiba-tiba seseorang menggenggam tangan Justin. Ia membawa Justin berlari. Justin menatap punggungnya. Itu adalah sosok Jane. Justin tersenyumm lebar dan mempercepat larinya hingga Jane sedikit terseret.


“Kenapa kau kemari sih!” Seru Jane yang masih berlari kencang dengan Justin yang memegang tangannya.


Justin yang memimpin Jane berlari itu menoleh menatap Jane di belakangnya. “Aku kembali! Aku kemari untuk


mencarimu!” Seru Justin juga.


Perkataan Justin membuat Jane tersenyum malu. Jane lalu membelokkan langkahnya. Ia membawa Justin


bersembunyi di salah satu lorong kecil di taman Universitasnya. Jane menyenderkan punggungnya di tembok lorong itu. Justin mengeluarkan kepalanya dari lorong itu untuk mengecek apakah keramaian tadi masih mengejarnya.


“Hhhh…hhh…”Justin mengelus dadanya mengetahui bahwa para penggemarnya sudah pergi. Ia juga menyenderkan punggungnya di tembok depan Jane. Kini mereka saling berhadapan.


“A.aku..hhh..hh kembali,” Justin mengulangi perkataannya. Jane tersenyum cantik pada Justin yang ternyata

__ADS_1


masih memegang janjinya.


“Aku tau,” Jane mendekatkan diri pada Justin yang masih bersandar di tembok. Jane berjinjit dan berdiri pada jari kakinya untuk memudahkan bibirnya agar menyentuh bibir Justin. “Selamat datang kembali,” Ucapnya.


__ADS_2