![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
TOK TOK TOK…
Mary mengetuk pelan sebuah ruangan, ia membukanya perlahan setelah mendengar seseorang dari dalam
meyuruhnya masuk. Itu adalah ruang rekaman atau lebih tepatnya studio pembuatan lagu.
“Permisi,” Mary tersenyum pelan pada wajah yang belum pernah ia temui. Pria itu adalah pria tinggi dengan
badan terbesar di BEYOND. Ia juga nampak dewasa. Namun, senyum yang ia tunjukan secara tiba-tiba itu membuat wajahnya terlihat lebih muda.
“Oh, kau manager baru, ya?” Ia mendekat. “Kemarin belum sempat berkenalan. Aku Jay.” Ia menyentuh
dadanya. Ia mengangkat pelan alisnya dengan harapan Mary memperkenalkan diri dan berhenti tersenyum lebar kepadanya.
“Oh? A..Aku Mario. Salam kenal.”
Jay tertawa kecil. Membuat Mary bingung. “Ah, maaf.” Jay segera menutup mulutnya. “Nama yang lucu. Aku suka Super Mario Bros.” terangnya tanpa ditanya. Ia orang yang ramah setelah Hope dan Jhony tentunya. Jay lalu mengajaknya duduk di sofa yang menghadap pada meja kerja yang dipenuhi alat untuk membuat musik.
Tiba-tiba saja pintu dibuka. Itu adalah Jhony. Sebenarnya ia yang mengajak Mary untuk ke ruangan itu. Mary penasaran dengan apa yang akan Jhony bicarakan, namun ternyata ia hanya ingin sedikit bercerita kepada Mary. Jhony menerangkan kalau Sejin adalah manager sibuk yang mengurus seluruh hubungan BEYOND dengan media dan lain sebagainya, sehingga hal itu membuat Sejin lupa bahwa ia belum memperkenalkan
BEYOND secara lengkap pada Mary.
Mary mengangguk pelan. Jhony adalah orang ramah yang mau membantunya menjadi manager yang baik.
Sebenarnya Mary bisa saja mengabaikan cerita Jhony, namun itu bisa jadi informasi mengapa sang Pencabut Nyawa menunjuk mereka sebagai ‘target’nya. Jhony juga berbagi perasaan gugup, takut, dan ketidak percayaan dirinya. Namun tentu, ia senang akhirnya ia dan tim nya kini sudah dapat debut. Jhony
mengungkapkan itu semua sambil tersenyum kecil. Entah ia benar-benar senang atau tidak.
“Oh iya, kau harus mendengarkan lagu debut kami,” Jhony menjentikkan jarinya.
“Ah iya benar,” Jay memukul dahinya pelan dan ikut berdiri sambil berjalan kecil menuju komputer besar di dalam ruangan. Mary membuntuti mereka.
Mary mendengar lagu debut itu. Alunan music yang catchy dipadukan dengan suara para vokalist serta rap yang bagus membuatnya terus mengikuti irama sambil mengetuk-ngetukkan kakinya. Ia juga tidak lupa melirik wajah Jay dan Jhony. Jay menyilangkan tangannya sambil menggerakkan kepala. Serta Jhony
yang duduk dan mengoperasikan computer, terlihat tersenyum puas. Mary memujinya ketika lagu itu berakhir. Ia juga tak lupa menyemangati mereka dan membuat BEYOND memiliki debut yang sukses.
Mary baru menyadari kehadiran Agust dibelakangnya. Sepertinya ia datang ditengah-tengah lagu diputar, jadi tak ada yang mendengarkan suara pintu yang dibuka. Agust mengajak bicara Jhony. Itu tentang musik. Agust bertanya progres lagu terbaru mereka, tentang pembuatan nada, pembagian rap, hingga pemilihan penyanyi untuk guide song nya. Hal itu bukan hal umum yang Mary dengar, karena ia sekolah di sekolah musik, namun entah mengapa mendengar pembicaraan itu secara langsung membuatnya kagum pada BEYOND.
__ADS_1
++++++++++++++++++++
Setelah membantu staf memfotokopikan beberapa file, Mary menuju ke ruang dance practice. Ia melihat ada Hope, Jimmy dan Victor disana. Mereka tampak sudah selesai latihan. Keringat itu terlihat jelas mengucur dari
dahi mereka. Hope memanggil Mary dan mengajaknya duduk di tengah ruangan setelah sang koreografer mematikan tape dan beranjak pergi.
Hope menepuk lantai, menandakan kalau itu adalah tempat duduk Mary. Di depan Mary, terlihat Victor
yang sedang meneguk habis air mineral dengan penuh semangat, ia terlihat lelah setelah berlatih dance tadi.
Sedangkan Jimmy, ia masih tidak berhenti memperhatikan Mary dan mengamati Mary dari ujung kepala hingga kaki.
“Ck,” Jimmy berdecak sambil memiringkan kepalanya dan mengeryitkan dahinya. “Aku yakin pernah
melihatmu sebelumnya.” Ia mengacungkan jari telunjuk pada Mary dan menggerak-gerakkannya.
“Mulai lagi..” Gumam Hope.
“Tidak, Hope. Ini Sungguhan.” Jimmy lalu mengelus-elus dagunya bak detektif. Mary tentu saja mulai
“Benarkah? Kau tidak salah orang?” Pertanyaan Hope membuatnya juga menatap Mary.
“Tidak mungkin.” Victor ikut menimpali. “Jimmy punya ingatan yang kuat. Dia juga tidak bisa berbohong.”
Victor mengarahkan jempolnya ke Jimmy yang disambut senyum meringisnya.
Jantung Mary berdegup kencang. Masih terlalu dini untuk ketahuan sekarang. Kedua anggota BEYOND, yang seumuran dengan Mary yaitu Jimmy dan Victor, menatapnya curiga. Apalagi setelah Mary keceplosan bahwa ia bersekolah di sekolah seni dekat taman kota. Jimmy semakin curiga karena ia tidak pernah mendengar murid bernama Mario di sekolah –yang ternyata juga tempat Jimmy dan Victor menggali ilmu. Jimmy mengadahkan tangannya. Ia ingin melihat KTP atau ID card sekolah milik Mario. Sebenarnya Jimmy bukan orang yang usil seperti ini. Namun rasa penasarannya membuatnya tidak tenang.
“’Kan aku sudah bilang, dompet dan HP ku dicuri tepat beberapa hari sebelum aku menjadi manager
disini!” Jawab Mary. Kali ini ia bangga dengan jawabannya yang tentu saja palsu.
++++++++++++++++++++
Percakapan menengangkan antara Mary dan Jimmy membuat Mary lupa untuk menjemput Justin. Hari sudah sore dan agak gelap. Justin pasti sudah pulang sekolah. Mary mempercepat kayuhan sepedanya menuju sekolah Justin. Tentu saja sudah sepi. Hanya terlihat para anggota klub sepak bola di lapangan dan gadis-gadis yang sedang membersihkan kuas mereka yang penuh dengan cat.
__ADS_1
Mary membalikkan badannya. Ia bingung harus mencari dimana. Ia memilih menuntun sepedanya sambil
melihat sekeliling dan akhirnya ia menemukan Justin, ia duduk sendirian di mimimarket dekat sekolahnya. Mary menghela nafas lega dan mendekati Justin.
Mary memarkir sepedanya dan menarik kursi agar dapat menatap member termuda di BEYOND itu. Sebelum kata sapaan itu keluar dari mulutnya, Mary terkejut melihat tulang pipi Justin yang membiru.
“Pipimu lebam!” Mary mendekatkan wajahnya, namun Justin memalingkan muka dan menyembunyikannya. “Kau berkelahi?!” Mary mengeryitkan dahinya, sedangkan Justin membisu. Mary lalu bergegas masuk ke minimarket dan membeli minuman dingin serta telur rebus. Mary menyuruhnya menggulung-gulungkan telur dengan cangkang yang masih dingin ke luka lebamnya.
“Tinggalkan aku sendiri.” Kata Justin sambil meraih telur itu. Mary duduk diam dan membuka minuman dingin
yang ditujukan Justin. Mary menyodorkannya.
Keheningan melanda. Mary tidak meninggalkan Justin. Ia masih duduk diam dan menunggunya. Menunggunya bercerita juga.
“Apa kau memukul balik?” Tanya Mary.
“Tidak” Jawabnya. Mary menghela nafas bersyukur. Namun ia mengerti perasaan Justin yang pasti ingin memukul balik temannya itu tapi ia tahan.
“Aku sudah biasa disindir temanku tentang aku yang akan debut menjadi idola,” lanjut Justin. “namun hari
ini dia sudah keterlaluan. Dia menjelek-jelekan pekerjaan ini. Dia berkata aku akan menjadi boneka, robot, manusia bermuka dua dan hal aneh lainnya!” Suaranya meninggi dan nada bicaranya semakin cepat. Justin terlihat emosi sambil membayangkan kejadian tadi siang.
“Padahal bagiku ini bukan pekerjaan, ini adalah mimpi, ini adalah hobi.” Lalu suaranya menjadi pelan. Ia
menunduk. Ia lalu menatap Mary “Jadi aku berkata kasar padanya. Lalu dia marah dan memukulku.”Justin menunjuk memar di pipinya. “Karena aku tidak ingin menimbulkan masalah sebelum debut, aku kabur seperti pengecut dan berada disini seharian.”
Mary menatap dalam. Untuk seorang laki-laki, pasti menyesakkan jika ada yang memukulmu namun kau tidak
bisa melawan balik. Mary hanya diam. Ia bangga dengan pengendalian emosi Justin. Justin tampak malu dipandang oleh Mary seperti ayah yang bangga pada anaknya. Justin lalu meneguk segelas kaleng minuman dingin itu dan mengajaknya pergi.
Justin sudah duduk manis di kursi sepeda Mary. Mary belum pernah membonceng pria dengan sepeda
sebelumnya. Badan Justin yang tinggi dan lebih berat dari Mary membuatnya mengayuh dengan sekuat tenaga.
++++++++++++++++++++
Beberapa hari ini selain Mary disibukkan mengatur jadwal sekolah Justin dan rutinitas mengantar-jemputnya, Mary juga membantu tim produksi, iklan, tim kreatif untuk mempersiapkan debut BEYOND yang sudah di depan mata. Ia hampir tidak ada waktu untuk bertemu Sejin untuk sekedar membicarakan apa yang sudah dilalui BEYOND selama ini. Mary juga tidak mungkin mengganggu jadwal latihan BEYOND hanya unyuk menanyai masalah mereka satu per satu.
__ADS_1
Mary melewati koridor utama dan melirik kalendar besar disana. Ia masih punya waktu untuk menyelesaikan
misinya. Mary kemudian menuju ruang iklan. Ia mengamati apa yang tim iklan lakukan untuk mempromosikan BEYOND. Tim iklan yang hanya tiga orang itu tampak tidak tidur dan kelelahan. Kantung matanya tebal dan menghitam. Mary kemudian mendekati mereka dan menawarkan bantuan. Mary harus melakukan sesuatu demi menyelamatkan ‘target’nya.