The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
21


__ADS_3

Mary membasahi bibirnya. Kakinya bergetar. Ia berusaha mengganti lampu kamarnya yang meredup. Ia berdiri diatas kursi yang tidak membantunya untuk meraih lampu yang menempel di langit-langit. Mary berdiri diatas jari-jari kakinya yang tak berhenti bergentar. Tangan panjangnya berusaha memutar bohlam lampu usang itu.


BRUK!


PRANG!


Kursi itu terjatuh ke samping, membuat Mary yang tidak dapat menjaga keseimbangan itu ikut terjatuh. Bokongnya terasa sakit. Bohlam lampu yang masih baru itu ikut pecah dan melukai jari telunjunknya. Darahnya tidak keluar parah, namun akan cukup perih jika terkena angin dan air. Mary kemudian membalutkan plester luka ke jari telunjuknya itu.


“Hhhaahh..” Mary menggerakkan jempolnya diatas ponsel. Lebih baik jika meminta penjaga apartment


untuk mengganti bohlam lampunya. Tangan Mary lalu terdiam.


“Berhati-hatilah,” Suara sang Pencabut Nyawa tiba-tiba bermain di ingatannya. Itu adalah hal yang diucapkan Pencabut Nyawa beberapa hari yang lalu. “Kau akan mulai menjalani hari-hari yang buruk, bahkan sial, jika kau tidak kunjung membuat kemajuan tentang BEYOND. Hari-hari buruk itu akan terus berlanjut hingga hari dimana aku akan mengecek keberhasilan misimu tiba.”


Kakinya lemas. Mary terduduk. Ia tidakk peduli dengan pecahan lampu yang masih berserakan. Jantungnya berdetak gugup. Pupilnya bergerak kesana kemari.


“Apa sudah dimulai? Hari ‘sial’ku?” Pikirnya dalam hati. Mary tidak terima karena sang Pencabut Nyawa rasanya terlalu cepat untuk memulai hari sialnya. Sore nanti adalah debut stage BEYOND yang pertama, Mary meminta sang Pencabut Nyawa menunggu beberapa hari setelah BEYOND debut di TV. Ia harus menunggu reaksi masyarakat terhadap BEYOND terlebih dahulu sebelum memulai ‘menyiksa’ Mary.


“Tidak.” Pikirannya melayang lagi. “Ini sudah dari kemarin,” Mary kemudian mengingat kejadian di desa tempat Virgo tinggal. Ia hampir tertabrak sepeda tua besar yang dikendalikan anak kecil. Untung ia tidak terluka. Ia hanya terjatuh karena sempat menghindari tabrakan itu.


“Sampai seberapa parah hingga hari itu tiba?” Mary membayangkan apa yang akan terjadi dengannya di kemudian hari. Nafasnya sesak tak beraturan. Ia takut.


Air matanya mulai keluar. Ia sudah membayangkan yang tidak-tidak.  “Aku Belum ingin mati… tolong hentikan..” Ia berharap para malaikat dan Pencabut Nyawa mendengar ucapannya. “Aku barusaja menemukan mimpiku, aku barusaja menemukan keluarga baru, aku masih ingin bersama BEYOND, aku masih ingin hidup..”


++++++++++++++++++++


Mary kaget saat seseorang dari belakang menyentuh tangannya dan mengangkatnya.


“Jarimu kenapa?” Tanya Jimmy. Ia nampak berbeda dengan tatanan rambut baru dan make-up yang menonjolkan eyeliner nya.


Mary cepat-cepat menurunkan tangannya. “Tidak apa-apa. Luka kecil,” Jawabnnya santai. Suara Sejin kemudian terdengar dari kejauhan. Lagi-lagi ia meneriakkan nama ‘Mario’ seolah Mary telah hilang di hutan.


Mary berlari mendekati Sejin. Sejin seperti biasa memintanya menemukan anggota keluarga maupun kerabat


dekat anggota BEYOND sebagai tamu VIP dan membiarkan mereka bertemu satu sama lain.


Mary menyusuri lorong back stage dan bertemu orang tua Jimmy, ia memberi salam sopan. Ia juga bertemu Jane, ia tampak cantik datang dan dengan membawa buket bunga. Jane tersenyum riang saat Mary menemukannya. Mary kemudian menatap sosok bapak yang berdiri disamping Jane. Dia adalah ayah Hope!


Mary berkenalan dengannya. Ia ikut senang karena akhirnya ayah Hope dapat datang melihat anaknya beraksi di panggung. Ayah nya terdengar kaku dan ramah. Wajahnya persis seperti Hope.


“Mario?”


Seseorang berdiri dihadapannya saat Mary terdiam di tengah lorong dan membaca kertas catatan. Mary mengangkat kepalanya.


“Kak Virgo!” Seru Mary. Suaranya terdengar keras.  “Wah! Kakak datang!” Mary tersenyum riang dan membawa Virgo berjalan keluar lorong. “Ayo duduk di kursi penonton, nanti kau bisa bertemu Victor usai penampilannya

__ADS_1


selesai,” Ajak Mary. “Nah…kau duduk di…”


“Mario. Mario.” Virgo menghentikan langkahnya. Ia memegang lengan kanan Mary. Virgo menempelkan


kertas di telapak tangan Mary.


“Apa ini?”


“Aku harus pergi. Tolong jaga Victor,” Pinta Virgo. Mary kini memperhatikan wanita dewasa di depannya itu. Matanya agak berair, bajunya juga nampak tidak rapi. Kuncirannya bahkan menggantung seperti akan terlepas.


“Loh? Tapi… Victor akan naik sebentar lagi!” Mario meninggikan suaranya agar tidak kalah dari suara staff yang sedang check sound. “Kau akan pergi kemana, kak?!”


“A..aku.. Aku harus pergi ke tempat dimana aku harus berada,” Mata kiri Virgo meneteskan setetes air mata.


Mary terkaku. Ia kaget mendengar pernyataan kakak Virgo. “Mungkinkah…penjara?”


“Jika aku melihatnya, aku akan semakin tidak ingin pergi,” Virgo menggenggam tangan Mary yang sudah


terdapat sepucuk surat di dalamnya. Virgo lalu berbalik dan berlari pergi.


“Kak!” Seru Mary. Ia berlari berusaha menghentikan langkah Virgo. “Tunggu kak Virgo!” Namun telat, Virgo tampak sudah berlari jauh hingga keluar dari lingkup studio itu.


++++++++++++++++++++



yang sebenarnya pada Victor. Mereka baru saja bertemu. Mereka baru saja makan bersama layaknya keluarga pada umumnya. Victor bahkan meminta Mary mengantarnya ke rumah Virgo lagi suatu hari nanti.


“Mario!” Sejin mendorong pelan bahu Mary dari belakang. “Kau ini! Cepat panggil tamu VIP!” Sejin sedikit


kesal karena Mary sedari tadi tidak menghiraukan panggilannya.


Mary celingukan. Ia lalu bergegas berdiri di lorong untuk mengarahkan keluarga BEYOND ke back stage tempat BEYOND berada.


“Jane!” Seru Justin setelah melepas rangkulan ayahnya dan beralih menyambut Jane. Suara Justin yang


lantang dapat didengar hampir semua orang di ruangan.


Jane yang malu-malu karena semua orang menatapnya itu berjalan mendekat. “Ssst!!” Jane menempelkan


telunjuknya ke depan bibirnya. Ia menyapa orang tua Justin terlebih dahulu. “Nih,”


“Waah.. terimakasih..” Justin menerima rangkaian bungan itu.


“Ini juga,” Jane

__ADS_1


memberikan sebuah buku catatan pada Justin.


“Oh..” Justin kemudian berbalik badan dan berlari kecil untuk mengambil sesuati diatas meja dan kembali ke Jane. Justin membiarkan Jane tetap memegang buku itu. Justin lalu dengan usil mencorat coret sampulnya.


“Hei!”


“Tanda tanganku. Hehe,” Justin tersenyum bodoh setelah memberikan tanda tangannya diatas buku Jane.


Jane tertawa kecil. “Cih. Menyebalkan,”


Mary melewati suasana hangat antara Jane dan Justin. Ia berjalan pelan menuju Victor. Victor yang sudah terbiasa tidak dikunjungi siapapun itu tampak sedang merapikan rambutnya di depan kaca.


“Vic.” Panggilnya. Membuat Victor menatapnya dari pantulan kaca. “Kak Virgo datang,”


“Hah?!” Victor kaget. Ia membalikkan badannya. “Benarkah? Mana dia sekarang?” Badannya bergerak antusias


menatap ujung pintu.


“Ini,” Mary memberikan sepucuk surat dari Virgo itu untuuk Victor. “Ia memberikan ini,”


Victor meraihnya. “Apa ini? Mana dia?” Matanya terlihat bingung. Jawaban diam dari Mary membuatnya membuka surat itu


Untuk Victor,


Ini aneh. Aku tidak pernah menulis surat untukmu sebelumnya, Haha. Terima kasih telah membukanya. Rasanya aku tak sanggup bicara langsung padamu.


Sekali lagi selamat untuk debutmu! Mungkin ini sudah sangat terlambat. Aku bahkan tidak tau mengenai showcase yang kau lakukan. Kau pasti sedih karena keluargamu tidak ada yang hadir waktu itu. Tapi hari ini juga hari yang selalu aku dambakan, yaitu hari dimana akhirnya mimpimu terwujud. Kerja bagus, Victor. Aku ikut senang.


Maafkan aku, kau jadi harus menjalani hidup seperti ini. Sebenarnya dari awal aku ingin meninggalkan


ayah dan rumah itu setelah ibu tiada, dan tinggal berdua denganmu, namun apa boleh buat, aku takut aku tidak bisa menghidupimu. Kerja keras yang aku lakukan setiap hari saja belum cukup bagiku. Maaf, aku terlalu sibuk bekerja, aku tidak sadar bahwa kau mengalami hari-hari yang sulit karena ayah,


Terimakasih telah mencariku, terimakasih telah merindukanku. Kau harus menjadi lebih dewasa. Kau harus menjalani hidupmu dengan benar. Aku harap aku dapat melihatmu di TV.


Maaf,


Terimakasih.


Virgo


“Ahh..” Victor menahan tangisnya. Mulutnya terbuka-tutup mengatus nafas yang tak teratur. Ia maremas


surat itu. Victor mengerti apa yang dimaksudh Virgo. Ia tak akan bisa lagi berkunjung ke rumahnya. Ia tak akan bisa lagi memakan masakannya.


Mary mendekat dan menepuk pundak Victor. “Aku akan membuatmu menemuinya sebelum sidang pertamanya,”

__ADS_1


Wajah Victor semakin memerah. Ia berusaha menahan air matanya. Ditengah suasana riang dan haru diruangan, hanya Victor dan Mary yang bersedih. Mary berusaha menutupi Victor agar orang lain tidak dapat melihat wajahnya yang bersedih. Namun usaha Mary tak membuahkan hasil. Badannya yang lebih pendek dari Victor masih menyisakan celah untuk dapat melihat Victor dari balik punggungnya. Jay menatap mereka. Ia yang berdiri tak jauh dari kedua orang itu merasakan aura sedih dari sana. Jay menggigit bibir atasnya. Matanya menitikan setetes air mata.


__ADS_2