The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
24


__ADS_3

Jhony mengumpulkan seluruh member di ruang tengah dorm BEYOND. Mereka yang masih tampak kantuk mencoba bangun seutuhnya untuk saling berdiskusi mengenai Mary. BEYOND masih belum percaya bahwa Mary kabur dari rumah sakit tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


“Mungkin itu jalan terbaiknya,” Jawab Jhony pada Hope yang masih tidak percaya dan mencoba memikirkan penyebab Mary kabur.


“Pantas saja ia mempunyai insting yang baik,” Justin menggumam sangat pelan. Ia mengingat perjuangan Mary untuk menangkap Justin yang suka kabur kemana-mana dan pasti Mary dapat menemukannya. Justin juga akhirnya paham mengapa Mary begitu paham apa yang dipikirkan Jane. Itu semua karena manager pribadinya itu adalah seorang wanita.


Hope masih memegang posel Jimmy. Jimmy tadi menunjukkan wajah ‘Mary’ yang masih SMA. Foto yang


ditunjukannya merupakan foto saat sekolah mereka mengadakan Study Tour. Mary tampak cantikk mengenakan kuncir kudanya.


“Sepertinya aku pernah melihatnya…” Gumam Hope memiringkan kepalanya setelah berkali-kali memuji wajah cantik Mary.


“Aku juga baru sadar bahwa dia Mary dari cerita Jimmy. Ia anak kelas sebelah yang pernah bertengkar


denganku,” Ungkap Victor yang mengingat sosok Mary.


Jhony bersuara lagi. “Lalu apa yang harus kita perbuat? Sejin masih marah karena Mario, eh, Mary kemarin tidak datang ke rapat penting, sekarang ia malah tidak akan bertemu Mary lagi karena Mary sudah kabur.”


“Sebenarnya aku lebih khawatir pada Mary yang sedari tadi tidak mengangkat telpon,” Ucap Agust. Membuat semuanya ikut cemas.


“Aah.. padahal waktu itu aku pernah ke rumahnya. Tapi karena aku mabuk, aku tidak ingat dimana tempatnya..” Hope berkata putus asa.


“Aku mulai khawatir padanya,” Jimmy berjalan mondar-mandir. “Kita harus mencarinya.” Langkahnya


terdiam di depan Jhony.


“Iya. Aku akan memberitahu Sejin bahwa Mary memiliki masalah personal dan izin untuk pergi. Sementara itu, kita harus mencarinya. Aku khawatir ia akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak.” Perintah Jhony pada teman-temannya.


++++++++++++++++++++



Mary kaget begitu ia merasakan darah dalam mulutnya. Ia melihat kukunya lagi. Rupanya ia menggigitnya terlalu dalam. Mary menghisap ibu jarinya berharap agar darah itu berhenti. Matanya masih fokus menatap laptopnya yang menampilkan fansite BEYOND. Ia tak membiarkan cahaya mentari masuk, gorden pink itu masih rapi menutupi jendela dihadapannya. Tak terasa pagi menjelang. Semenjak kabur dari rumah sakit kemarin Mary sama sekali tidak berpikiran untuk keluar lagi.


Senyuman kecil diwajahnya menunjukan ia puas dengan pengunjung fansite BEYOND yang meningkat. Mary semakin berfikir bahwa ia dapat menyelesaikan misinya. Namun senyum kecil itu masih tidak bisa menutupi kepanikannya. Ia masih menggigit kukunya, matanya masih bergetar dan sesekali melirik layar ponsel yang sedari tadi sudah ia matikan.


TAP.


Mary merasakan ada yang berdiri di sampingnya. Suara sepatu fantofel itu menatap lantai kamar Mary. Ia


tau itu pasti sang Pencabut Nyawa. Namun Mary memilih berpura-pura tidak tau kehadirannya. Matanya masih menatap layar dan tangan kanannya masih tertata rapi diatas mouse.


“Kau punya waktu kurang dari dua minggu, sekarang apa yang kau lakukan?” Terdengar suara helaan nafas


berat setelah sang Pencabut Nyawa menyelesaikan kalimatnya.


Pertanyaan Pencabut Nyawa membuat Mary terhenti. Jari telunjuknya berhenti memencet mouse. Matanya berhenti fokus pada layar. Mary menjilat bibirnya dan ikut menghela nafas berat.


“Dengar,” Ia menggerakan kursinya menghadap samping untuk menatap Pencabut Nyawa. Mary sedikit


mendongakkan wajahnya. “Aku sudah melakukan semuanya. Aku membantunya hingga mereka memiliki panggung debut di stasiun TV, aku membantu kisah cintanya, aku membantu hubungan keluarganya, aku bahkan berkata padanya bahwa aku akan selalu disampingnya, aku yang meyakinkannya bahwa mereka akan sukses! Tapi…tapi ‘sukses’ apa yang kau maksud? Kebahagiaan seperti apa yang ingin mereka raih?” Suara Mary sedikit bergetar. Matanya mulai berair.


“Ini semua percuma!” Serunya sambil berdiri dari duduknya. Ia menahan tangisan yang ingin keluar. Ia hanya membiarkan emosi marahnya terluap. “Kenapa kau membuatku melakukan misi ini?! Aku belum ingin


mati! Ini tidak adil!” Lanjutnya. Mary kemudian mengatur nafasnya pelan. Ia cukup tersengal-sengal setelah meluapkan emosinya pada Pencabut Nyawa. Ia berharap luapan emosinya terdengar langit agar mereka mengerti apa yang Mary rasakan.


Mary mengepalkan kedua tangannya. Kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan air matanya yang tidak bisa ditahan. “Aku juga tidak ingin berpisah dari BEYOND…” Lirihnya sambil mengusap air mata. “Aku menemukan keluarga. Aku menemukan mimpi,”


Menatap tingkah laku Mary, sang Pencabut Nyawa hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Kau rasa kau


dapat menyelesaikan misimu dengan kabur dari mereka dan berada di rumah seharian?”


Mary mendongakkan kepalanya untuk menatap sosok jakung itu. Ia mengeryitkan dahinya hingga alisnya hampir bersatu. “Hah?! Aku tidak hanya ‘berada di rumah seharian’! Aku mengendalikan fansite BEYOND,”


Tegasnya sambil menunjuk layar laptop dengan tangan kirinya. “Fansite BEYOND semakin memiliki banyak


pengunjung. Dan kau tau? Pada akhir bulan ini mereka akan memiliki reality show pertama mereka.”


Pencabut Nyawa meninggikan salah satu ujung bibirnya. Ia menggeleng pelan lagi. “Tidak,” ujarnya. “Kau kabur,”


CRACK.


PRANG!


Bohlam lampu Mary pecah tiba-tiba. Serpihan kacanya terjatuh menabrak kepala dan kulit Mary. Ia menatap


lantai yang sudah penuh dengan serpihan-serpihan kaca bohlam. Mary berusaha diam agar kakinya tidak terluka karena menginjaknya.


Mata sang pencabut nyawa juga ikut menatap lantai. Bagaikan sihir, ia membuat serpihan kaca yang


berserakan itu menghilang. Mary kaget dengan apa yang dilihatnya. Serpihan kaca itu perlahan memudar dan menghilang. Tangan Mary menutup mulutnya yang menganga melihat aksi sang Pencabut Nyawa.


“Jika kau begini terus..” Sang Pencabut Nyawa bersuara lagi. “maka ‘misi’mu dapat menjadi ‘kutukan’ bagi


mereka.”


WUSS..


Hembusan angin ikut mengiringi kepergian sang Pencabut Nyawa. Gorden dikamar Mary ikut terbuka

__ADS_1


karenanya. Cahaya mentari mulai masuk dan menerangkan kamarnya. Mary masih mencerna perkataan terakhir Pencabut Nyawa.


“Kutukan apa yang ia maksud?”


DING DONG!


Terdengar seseorang memencet bel kamar Mary. Pundak Mary sedikit terangkat kaget.


DOK DOK DOK!!


Sang tamu menggedor keras pintu apartment Mary.


“Mary!” Terdengar samar-samar suara dibalik pintu. Mary berjalan mendekat dan mulai memegang gagang pintu sambil menerka siapa sang pemilik suara. “Aku tau kau di dalam.”


“Suara itu..…Jimmy?”


++++++++++++++++++++


Justin menatap Sejin yang berjalan mondar-mandir sambil menatap ponselnya. Member BEYOND satu persatu muncul di ruang latihan itu dan berdiri sejajar menyamping, sedangkan Sejin masih berusaha menelpon seseorang sambil tetap berjalan kesana kemari dihadapan BEYOND. Suasana pagi ini cukup kacau karena ulah Mary. Kemarin Sejin sudah cukup kesal karena Mary tidak ikut rapat dengan produser reality show yang akan dibuat untuk BEYOND, sekarang ia juga tidak bisa menghubunginya.


“Ah… anak itu!” Sejin menatap ponsel lagi. Sudah jelas ia baru saja menghubungi ‘Mario’. Kehilangan


Mary membuat Sejin memerintah staff  The Hit untuk membantunya mengurus hal yang biasa Mary kerjakan.


Hope sedikit menyenggol lengan Justin saat ia baru tiba. “Sejin sepertinya marah besar..” Justin berbisik pelan pada Hope. Hope mengeryitkan dahinya sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena ia barusaja berlari dari lantai satu ke lantai tiga.


“Siapa nama lengkap Mario?” Kali ini Agust berbisik pada Jhony yang berada di sebelahnya. Jhony menatap Agust yang masih mengutak-atik internet di ponselnya. Jhony membalasnya dengan gelengan kepala.


DRAP DRAP DRAP!


“Hhhh..Hhh..” Victor memasuki ruangan dengan berlari. Ia membungkukkan badannya dengan kedua lengan


disanggah lututnya. “..mm.. maaf telat.”


“Dari mana saja kau!” Bentak Sejin sambil menatap Victor yang berada di ambang pintu. “Ah? Halo!” Sejin kemudian berbicara dengan seseorang di telepon. Ia berjalan keluar ruangan.


Victor sedikit bernafas lega karena Sejin tidak jadi memarahinya. Ia berjalan lemas menghampiri teman-temannya.


“Dari mana saja kau?” Tanya Hope melihat keringat di dahi Victor.


“Kau cari Mario dimana?” Pertanyaan kedua berasal dari Jay.


Victor menelan ludahnya berat sambil menggelengkan kepala. “Aku coba mengunjungi tempat yang sekiranya


dikunjungi Mario.” Jawabnya, sambil berdiri disamping Justin. “Tapi..” Victor mengangkat kedua bahunya. “Mana Jimmy?”


“Di luar. Masih menerima telepon.” Jawab Justin yang menunjuk arah pintu. Seketika itu juga Jimmy muncul


“Hei!” Jimmy melangkah antusias dan mendekat. “Akhirnya kutemukan tempat tinggal Mary!” Serunya.


“Oh ya?!” Suara kaget itu hampir diserukan secara bersamaan oleh BEYOND.


“Ya!” Jimmy mengangguk yakin. Ia menggoyang-goyangkan ponselnya. “Aku bertanya pada guru sekolahku.”


“Wah! Boleh juga kau.” Puji Jay sambil menatap Jimmy yang tersenyum senang hingga matanya tertutup


“Bagus juga idemu, Jimmy.” Jhony mengacak pelan rambut Jimmy.


“Ah! Kenapa tidak dari tadi kulakukan? Kita kan satu sekolah!”


“Dasar…” Justin menyenggolkan lengannya ke lengan Victor.


“Oke, kalau begitu aku akan…”


“Tunggu.” Victor menghentikan Jimmy yang hampir berbalik badan. “Aku saja yang menghampirinya,” Ujarnya.


Membuat seluruh member BEYOND menatapnya. Victor meyakinkan mereka sekali lagi agar ia saja yang menemui Mary. “Biar aku saja,” Ulangnya sambil menatap satu persatu member BEYOND.


“Baiklah,” Jhony mengangguk mantap. “Jim, beri alamatnya ke Victor,”


“Cepat kembali,” perintah Agust sambil menyaku ponselnya. “Kau tak perlu membawa Mary kembali. Hanya


berbicaralah seperti biasa. Kau kan temannya.”


“Oke. Aku mengerti,”


Victor kemudian berlari kecil. Ia hampir menabrak Sejin yang berjalan memasuki ruangan.


“Hei! Mau kemana kau?! Victor!” Panggil Sejin. Seruannya sama sekali tidak menghentikan langkah Victor


untuk menemui Mary.


Victor mempercepat larinya setelah berlari menjauh dari The Hit. Alamat yang sudah tertera di ponselnya membuatnya semakin yakin bahwa ia akan menemukan Mary. Langkah kakinya yang kencang itu membuat orang-orang yang berjalan otomatis membuka jalan untuk Victor. Ia sesekali memegang topinya agar masih menempel di kepalanya dan menutup wajahnya.


“Aku belum berbuat sesuatu padamu, teman.” Ujarnya dalam hati. “Aku tahu kau sedang menghadapi masalah juga, aku juga ingin sepertimu, aku akan membantumu, Mary”


Victor menatap kembali layar ponselnya yang bertuliskan alamat apartment Mary. Kakinya masih stabil


berlari kencang. Namun tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh orang-orang yang ada di belakangnya. Suara itu sedikit menarik perhatiannya. Victor kemudian menoleh.

__ADS_1


DDIIIIN!!


BRUAK!!


++++++++++++++++++++


“Jimmy?” Mary membuka pintu yang baru saja digedor keras. Benar dugaannya. Suara itu berasal dari Jimmy.


Mary menatap Jimmy yang bernafas setengah-setengah. Air mata Jimmy terlihat jelas mengalir keluar membasahi pipinya yang memerah.


“Ji..Jimmy..a..aku…”


“Victor!” Jimmy berseru keras membuat Mary tersentak kaget. “Mary, Victor!!”


Mary dan Jimmy berlari kencang menuju rumah sakit. Ia benar-benar shock mendengar bahwa Victor baru saja tertabrak mobil. Jimmy mengatakan bahwa tubuh Victor sempat terpental beberapa meter. Mary menjadi semakin panik dengan hal buruk yang menimpa temannya.


“Ini pasti ’kutukan’ itu!” Seru Mary dalam hati. Ia memasuki taksi yang berhenti tepat di depannya. Mary terduduk dan menutup wajanya dengan telapak tangan. Jimmy segera mngerahkan supir taksi itu untuk segera ke rumah sakit tempat Victor berada.


“Ini semua karena aku!” Mary semakin menangis keras, membuat supir taksi sedikit melirik ke arah kaca untuk melihat kondisi penumpang dibelakangnya. “Kutukan itu menghampiri Victor dahulu.”  Mary merasakan tepukan pelan dipundaknya. Jimmy berusaha menenangkan Mary.  “Hari sial yang kualami juga akan dialami BEYOND!”


Perjalanan yang terasa lama itu akhirnya berakhir. Mary dan Jimmy segera turun dari taksi dan berlari ke lantai tempat Victor dirawat. Mary melihat Hope dan Agust yang berdiri bersebelahan. Ia mempercepat langkahnya karena tau bahwa ruangan kaca yang ada dibelakang mereka adalah tempat dimana Victor berbaring.


“Ah! Mario!” Hope terkejut melihat sosok Mario yang berhasil dibawa Jimmy.


Air mata Mary keluar semakin deras. Ia berlari kemudian memeluk Agust erat. Mary masih sesenggukan. Hope terdiam di sampingnya.


Agust ikut memeluk Mary sambil mengusap kepalanya. Agust meminta Mary untuk tenang. “Kami semua


mencarimu, Mary.” Agust melembutkan nada suaranya. Mary kemudian melepas pelukannya. Nafasnya masih tidak dapat diatur. “Tadi pagi Victor ingin menemuimu.”Lanjut Agust sambil menyeka air mata Mary dengan jari panjangnya. “Ia berlari menerobos lampu merah hingga tertabrak mobil.” Agust menjelaskan tanpa ditanya.


“Se..semua salahku…” Mary menutup wajahnya lagi. “Maafkan aku!”


“Hei..” Agust memeluk Mary lagi. Mary masih asing dengan nada bicara Agust berunah menjadi sedikit


lembut. “Bukan salahmu..” Ia menepuk pelan punggung Mary.


Agust lalu membawa Mary berjalan mendekat ke ruangan di belakangnya. Ruangan yang dikelilingi kaca


tembus pandang itu membuat Mary dapat melihat Victor yang berbaring di dalam lengkap dengan selang-selang dan mesin dokter lainnya.


“Mana Jhony dan Justin?” Tanya Jimmy yang dari tadi menatap ke dalam ruangan Victor.


“Dia sedang ke ruangan Jay.” Agust berkata pelan.


“Jay..”Gumam Mary. “Benar juga… malam itu Jay lah member yang terakhir ku temui. Ia yang membiarkanku kabur dari rumah sakit…”


“Ha?” Hope yang berdiri di samping Mary menatapnya kaget. “Apa kau bilang?”


“Loh? Dia tidak cerita ya?” Mary balik bertanya sambil memundurkan badannya. Kini Hope, Agust dan


Jimmy menatapnya.


“Waktu itu kau di rumah sakit juga?” Tanya Agust pada Hope.


“Tidak,” Hope menggeleng yakin. “Kan hanya kau dan Jhony,”


“Loh, bukan. Bukan kau, Hope.” Mary menggaruk pelan kepalanya. “Jay. Jay yang asli.”


Ucapan Mary membuat ketiga member BEYOND dihadapannya ini membulatkan matanya. Mereka kompak tidak bersuara.


“K..kau kenal Jay?” Jimmy bertanya dengan suara pelan.


++++++++++++++++++++



TIIIT.


TIIIIT.


TIIIIT.


Suara mesin yang menandakan jantung Jay masih berdegup mengisi ruangan. Ia dan Agust baru saja tiba di ruang dimana Jay dirawat. Mary menatap Justin yang sedang membersihkan tangan Jay dengan air hangat.


Kaki Mary terasa lemas setelah ia mendengar cerita Jhony. Penjelasan Jhony mengenai Jay yang telah koma empat bulan lalu itu masih ada dalam kepalanya. Mary berkata ‘tidak mungkin’ berulang ulang.


“Jadi kau mengenalnya?” Tanya Jhony yang membawakan kursi untuk Mary duduk.


Mary terduduk diam disamping ranjang Jay. Ia menyentuh tangan kanan Jay yang masih basah karena


baru saja dibersihkan Justin. Tangan hangat itu digenggamnya. Mary masih tidak percaya.


Air mata Mary mulai mengalir lagi. “Tidak mungkin…” tangisannya pecah. Melihat Mary menangis, Justin yang duduk dihadapannya juga ikut menangis. “Aku berbicara dengannya,” Ia menatap Jhony dengan harapan Jay yang selama ini dilihatnya bukan Jay yang berbaring lemah dihadapannya. Mary mengangkat genggamannya dan menempelkan tangan Jay di pipinya. “Aku bahkan membuat kue bersamanya! Aku bercanda dengannya! Jay..aku…”


Agust menepuk pelan pundak Mary. “Kecelakaan itu terjadi tepat saat kami hampir debut. Bahkan sampai hari ini pun, aku merasa ada yang kurang dengan BEYOND,”


Justin mulai sesenggukan, air matanya mengalir deras, tangannya masih menggenggam tangan Jay, “Padahal


kita sudah janji untuk debut bersama…” Ucapnya. Sepertinya Justin lah yang paling terpukul atas kejadian ini. Jay yang mengasuh Justin bagai adik sendiri tiba-tiba ‘hilang’ dari hadapannya.

__ADS_1


Mary tentu saja tidak bisa tenang. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Ia masih bersedih dengan insiden Victor, sekarang ia melihat Jay yang biasa berbicara bersamanya dari awal ia menjadi manager hingga sekarang ternyata adalah seorang pasien rumah sakit yang telah koma selama empat bulan!


“Hanya aku yang dapat melihatmu, Jay..” Mary bersuara dalam hati. “Siapa kau sebenarnya?” Mary menatap wajah Jay yang tak asing baginya. Sudah hampir tiga bulan ini ia bertemu dan bercakap-cakap dengan Jay. “Pantas saja orang lain selalu nampak tidak menatapmu, kau selalu ada disana, namun mereka tidak menyadarinya. Kau juga tidak bisa menangkapku saat aku jatuh dari tangga,” Lanjut Mary sambil mengingat dimanapun Jay berada, tidak ada orang yang benar-benar menatapnya. Jay juga nampak tidak pernah menyentuh maupun memakan apapun.


__ADS_2