The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
9


__ADS_3

DDRRRDD…


Getaran ponsel Mary mengganggu makan siangnya. Nomor itu merupakan nomor tak dikenal. Biasanya Mary


tidak akan mengangkat panggilan seperti itu, namun mungkin saja itu adalah panggilan dari seorang staff TV yang berniat mengundang BEYOND untuk tampil di suatu acara mereka.


“Halo?”


“Iya. Selamat siang.” Suara dari seberang terdengar berat. “saya Mr. Jo, guru Justin.” Terangnya. Membuat Mary agak kecewa.


“Ah iya. Ada apa, Pak?”


“Begini, apa Justin sedang sakit? Dia tidak masuk hari ini. Biasanya jika ada jadwal syuting ‘kan pihak Anda memberi surat terlebih dahulu.”


Mary mengeryitkan dahinya setelah mendengarkan penjelasan dari guru yang biasa ia temui itu. Mary


berfikir keras mengulang kejadian tadi pagi. Ia masih ingat Justin sudah memakai seragam sekolah dan ia juga mengantarnya sampai ke gerbang seperti biasa.


“Justin bolos lagi!” Serunya dalam hati. Namun beda dengan yang dicakap Mary. Mary berkata bahwa Justin ada jadwal mendadak hari ini dan ia juga belum sempat memberitahukan hal tersebut pada wali kelasnya itu. Setelah perkataan Mr. Jo yang penuh pengertian dan tidak curiga sama sekali usai, Mary menutup panggilannya.


++++++++++++++++++++


Mary menghela nafas. Justin disana lagi. Ia bermain game lagi. Entah apa yang membuatnya kecanduan


game! Mary kemudian berjalan mendekati mejanya.


“Justin!” Mary meninggikan suaranya hingga Justin yang sedang menggunakan headset itu mendengarnya. Justin menatap Mary dengan mata bundarnya itu sambil melepas headset yang ia kenakan.


“A..a..”


“Bolos lagi?!” Mary menyilangkan tangannya bagai bu-ibu yang memergoki anaknya bermain di warnet


hingga larut. “setidaknya bilang aku dulu. Aku ‘kan bisa membuatkanmu surat. Jangan tiba-tiba menghilang seperti ini,” omel Mary. Namun yang diomeli nampak tidak fokus. Pupil matanya bergerak kesana kemari seperti berharap agar orang-orang di warnet ini berhenti menatapnya dan berpura-pura tidak mendengar


ucapan Mary.


Justin membuka mulutnya, “Maa..”


“Dan lagi..” Mary nampaknya tidak mendengar suara Justin. Ia menggaruk rambutnya hebat. “dari


pada kau main disini, lebik baik kau berlatih, kan?!!” Suaranya meninggi dan wajahnya memerah. Kondisi kantor dan pekerjaannya sudah membuat lelah. Belum lagi misi yang harus diselesaikan dalam waktu kurang dari tiga bulan cukup untuk membuat Mary semakin stress. Sekarang ia harus menghadapi ABG yang


lagi-lagi membuat masalah.


Warnet itu menjadi hening. Suasana juga menjadi tegang setelah teriakan Mary tadi. Justin mengeryitkan dahi. Tak mengerti mengapa Mary sebegitu marah padanya. Bentakan Mary ikut membuat Justin malu dan naik darah. Ia fikir tingkah Mary sedikit berlebihan. Justin lalu berdiri dan tidak menyelesaikan gamenya.


“Hei!” Mary menatap Justin yang baru saja menyenggol bahunya dengan sengaja. Justin keluar warnet


begitu saja. “Justin! Hei!” Mary mengekori, ia lalu melihat seorang gadis di meja kasir. Dia ingin menagih tagihan Justin lagi. “Kau?!”


“Dia belum bayar lagi, Paman,” Jawabnya sambil mengangkat kedua bahu.


“Kau temannya Justin kan? Siapa namamu?” Mary mengeluarkan dompertnya.


“Jane. Kenapa?”


“Kau bolos juga?” Mary memandangi gadis itu dari atas sampai bawah. Jane tidak memakai seragam seperti


Justin.


“Aku bekerja disini,” Jawabnya tegas sambil memberikan uang kembalian pada Mary. “hari ini aku


mengambil full shift disini, jadi..” dia memasang ekspresi seperti ‘aku terpaksa membolos’.

__ADS_1


“Ckckck….” Mary menggelengkan kepalanya. Ia lalu berjalan keluar sambil tetap menetap Jane. “Hei, itu tidak baik. Kau harus kembali ke sekolah. Tugasmu itu belajar,” Mary menunjuk Jane.


“Tidak Paman. Aku perlu bertahan hidup!” Jane meninggikan suaranya agar terdengar Mary yang sudah


berjalan keluar warnet.


Mary mendengar jawaban Jane dari luar. Kakinya berhenti. Ia hanya memandang punggung Justin yang sudah


berjalan menjauh. Mary mulai berpikir.


“Gadis itu satu-satunya teman Justin? Apa mereka akrab? Kenapa Justin tiba-tiba membolos? Apa untuk menemui gadis itu? Untuk menemaninya?”


“Ah!” Seru Mary keras sambil menjentikkan jarinya. Membuat beberapa orang yang berlalu lalang di sebelahnya menoleh menatapnya. Lalu Mary terkikik pelan. Orang yang tidak mengerti apa yang


dipikirkan Mary pasti merasa ia sudah gila. “Ahaha… dasar bodoh kau, Mary! Benar. Justin menyukai Jane,”


++++++++++++++++++++


Mary tidak bisa mengikuti Justin yang berjalan dengan lengkah panjangnya. Dengan yakin, ia berjalan menuju The Hit dan berharap Justin sudah ada disana. Tiba tiba langkah kakinya terhenti setelah menatap dua pria yang baru keluar dari rumah klinik di pinggir jalan.



“Jimmy! Victor!” Mary menyapa mereka. Membuat kedua pria itu menoleh. Mary mempercepat langkahnya


hingga kini ia berada di kanan Victor. “ada apa? Siapa yang sakit?” tanyanya sambil melihat ulang papan nama tempat itu.


“Klinik operasi plastik?” Mary membaca papan nama klinik itu dalam hati.


Mary melihat Victor dan Jimmy yang saling bertukar pandang untuk memutuskan siapa yang bicara. “Aku


menjenguk ayahku,” Jawab Jimmy. “dia dokter disana,”


“Benarkah? Wuah.. keren,” Mary berkomentar berlebihan. Membuat Victor yang berjalan disebelahnya tertawa kecil.


mary. Membuatnya berkomentar dalam hati bahwa Victor memiliki visual yang sempurna.


“Hah?” Mary memundurkan wajahnya.


“Iya kan?” Jimmy merangkul pundak Victor. “Kau kelas apa dulu?”


“Aku murid pindahan saat kelas 2. Kelas apa ya??” Mary sok lupa.


“Apa kau mengenalku?” Jimmy yang antusias tiba-tiba berjalan mundur di depan Mary. Ia seperti ingin


menatap Mary dekat dekat. “Aku ‘Jimmy si mochi’ dari kelas 2-4!” Ia memperkenalkan diri dengan bangganya.


Mary sedikit berfikir. “’Jimmy si mochi?’ Berarti dia merupakan murid tambun di kelas 2-4,” Mary mencoba mengingat, “Ah iya!” Ingatannya kembali. “Aku ingat! Kau si gembul berkulit putih itu ya!” Mary yang benar-benar ingat bertepuk tangan pelan.


Jimmy tersenyum puas dengan ingatan Mary. Ia lalu memilih berjalan di kanan Mary sambil merangkul pundaknya. “Wah! Kau jadi kurus begini!” Mary mengamati Jimmy dari atas sampai bawah.


“Iya dong! Aku diet keras, tahu!”


“Tapi kau…” Mary kini menatap Victor yang ada si samping kirinya. “aku seperti tidak pernah melihatmu..”


“Ha?”


“Kalian dekat sejak SMA kan?”


“Ya ampun! Ini sudah sore!” Jimmy tiba-tiba berseru sambil melihat jam tangan mewahnya. Kini Mary


semakin yakin bahwa Jimmy adalah anak orang kaya. “Kita harus cepat kembali ke The Hit!” Jimmy mengajak mereka berjalan cepat.


“Kau tidak menjemput Justin?” Tanya Victor.

__ADS_1


Pertanyaan Victor membuatMary memikirkan Justin lagi. Mary menggeleng pelan lalu tersenyum kecil


membayangkan tingkah Justin. “ah…Justin.. dasar bocah lugu…”


++++++++++++++++++++


“Mario!” Agust memanggil Mary dari ujung lorong. Mary yang sedang berjalan pelan dengan Hope pun menatapnya. Kini Agust menggoyangkan telapak tangannya tanda memanggil.


“Ada apa?” Tanya Hope pada Mary yang berlari kecil menuju Agust. Hope melirik Mary yang memperlihatkan senyuman kecil.


“Wuaaaah….” Kagum Mary pada apa yang dilihatnya. Itu adalah ruangan yang berada di pojok lorong. Ruangan itu hanya diisi oleh sebuah piano klasik. Dulu ruangan yang tidak begitu lebar itu digunakan untuk latihan vokal beberapa trainee yang memiliki kemampuan vokal yang lebih menonjol dari pada yang lain. Namun para trainee dan guru vokal The Hit kini memilih menggunakan ruang latihan yang luas –yang kini digunakan BEYOND untuk berlatih.


“Oh!” Hope yang mengikuti Mary ikut terkagum pada ruangan yang masih bersih dan wangi itu.


Mary mengelus-elus piano itu. “Tapi aku lupa cara memainkannya, hehe,”


“Loh? Ada apa ini? Kok tiba-tiba main piano?” Hope bingung sendiri. Ini merupakan percakapan yang tidak ia mengerti.


“Aku akan mengajarinya main piano.”


“Hah?!” Seru Mary dan Hope bersamaan.


“A..Agust.. tunggu..”


“Kau berlatih menggunakan ini saja.” Ujar Agust seenaknya. Ia lalu duduk di kursi piano itu sambil mengecek setiap tutsnya.


“Terimakasih..” Gumam Mary. Ia lalu menatap Hope yang kebingungan. “Agust ingin membantuku menemukan passion ku.” Terang Mary sambil melempar senyum indahnya.


Hope terdiam dengan mata dan mulut terbuka. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ia terus mengelak


dalam hati jika debaran jantung itu disebabkan oleh senyum manis Mary. Sang manager prianya.


“Hei Hope!” Agust tiba-tiba membuyarkan lamunannya. “Kau tak apa? Sepertinya kau demam” Agust bingung


menatap wajah Hope yang memerah.


++++++++++++++++++++


Mary melihat van milik BEYOND sudah tiba. Ia dan tim stylist sedari tadi menunggu tibanya BEYOND di taman yang akan dijadikan panggung terbuka itu. Van pun berhenti. Member keluar satu persatu. Ia melihat BEYOND sudah mengenakan kostum santai yang cocok digunakan untuk acara terbuka seperti open stage ini.


PUK


Mary menyentuh pundak Agust. Membuat langkah Agust terhenti. “Hari ini pasti berbeda dengan yang


dulu,” bisiknya. Agust berusaha mengolah perkataan Mary. Ia lalu tersenyum setelah memahaminya.


Mary lalu berjalan mendekati Justin. Justin dampak diam saja.


“Mmm… Justin, kau tahu..”


Justin berlalu melewati Mary, namun Mary tetap menyamakan langkahnya sambil menuju tenda kecil yang


disiapkan untuk mereka ber make-up.


“Hei, kau marah padaku? Maaf. Kemarin aku memang keterlaluan, tapi aku…”


“Open stage ini..” Justin bersuara pelan. “Apa kau bilang padanya?” Justin menghentikan langkahnya dan menatap Mary. “Jane,”


“Ha? Ah.. iya” Angguk Mary. “karena dia temanmu, jadi aku mengundangnya untuk datang sore ini.”


Jawaban Mary membuat Justin menoleh kebelakang dan menyapu pandangan. Mary tersenyum kecil melihat tingkah Justin.


“Justin menunggunya…”Mary terkekeh dalam hati.

__ADS_1


Mary merapikan tatanan rambut Justin. “Dia pasti datang..”


__ADS_2