![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
POK!
Hope baru saja menampar pelan pipinya. Ia tersenyum terlalu lebar. Hal itu tidak boleh dilakukannya, karena ia tersenyum sambil menatap Mary dari kejauhan.
Suara tawa Mary masuk ke telinga Hope yang sedang menyandarkan dirinya di tembok sambil memandang Mary yang sedang bermain piano bersama Agust. Hope sesekali berdehem pelan saat senyum itu akan dibentuk lagi oleh bibirnya.
“Apa yang kulakukan?!” Hope memarahi dirinya sendiri. Ia masih tidak percaya degup jantungnya dan senyum lebarnya itu ditujukan pada Mary yang dimatanya masih ‘Mario’. “Sadarlah, Hope!” Hope kini menggeleng pelan kepalanya.
“Ahahaha..”
Suara tawa renyah itu lagi-lagi menghampiri telinga Hope. “Sejak kapan Agust jadi begitu humoris sehingga membuat orang yang didekatnya tertawa seperti itu?” Hope menggigit bawah bibirnya. Ia merasa mereka terlalu dekat. “Ah! Tidak!” Hope menampar pelan pipinya lagi. “Aku kenapa, sih?! Agust kan ingin membantu Mary menjadi song-writer?!”
“Hope,”
“Ha? Ya?”
“Sedang apa kau?” Tanya Agust datar. Mary ikut menatapnya. Membuat Hope salah tingkah.
“Ah.. ini.. nyamuk,” Hope berpura pura ada nyamuk di pipinya dan menamparnya lagi. Tingkah bodoh Hope
tadi membuat Mary tertawa ringan. “Sadarlah, Hope! Itu senyuman pria! Kau normal, kan?!” Hope memaki jantungnya yang berdegup kencang karena senyuman Mary.
++++++++++++++++++++
CLICK CLICK CLICK!
Suara cetikan mouse Justin terdengar keras. Mulutnya terbuka tanda konsentrasi penuh dengan layar di depannya. Ia bermain lagi di warnet. Kali ini game yang ia mainkan sedang mengadakan perang besar-besaran. Justin tentu tak mau kalah.
“Ck!” Justin berdecak pelan. Jari-jarinya terus bergerak cepat. Ia harus menyelesaikan permainan ini
dalam waktu singkat sebelum Mary menjemputnya. Mary baru saja menelpon Justin dan mengatakan bahwa dalam beberapa menit lagi ia akan menjemputnya di warnet.
“Arrgghh!!!”
“Yeeeaaay!!”
Justin mencopot headset nya. Ia baru saja mendengar sorak sorai dari seseorang. Ia yakin sosok itu adalah seseorang yang membuatnya kalah dalam game ini. Justin berdiri. Ia melihat Jane berdiri dan bersorak
sorai dari meja kasir.
“Wuuhu!” Jane mengepalkan tangannya diudara, ia tertawa riang dan tidak memperdulikan keramaian warnet
yang dijaganya. Justin tetap menatapnya kaget. Lalu mata mereka bertemu. Jane terdiam. Ia merapikan celemek hitam yang agak kusut. Sambil berdehem, Jane duduk kembali.
Justin berjalan menuju Jane. Ia kemudian melihat layar komputernya. “Kau i0605u?!” Justin menyebutkan
nama dari akun game Jane. Jane menjawab dengan anggukan. “Loh! Aku JGolden109!” Justin menunjuk nunjuk layar komputer Jane.
“Benarkah?! Ahahaha! Kau kalah!” Jane tertawa lega. “permainanmu payah!” Jane memegang perutnya yang
agak sakit karena tertawa terlalu lepas.
“Yaah! Menyebalkan! Jangan tertawa.” Justin mendorong pelan lengan Jane.
“Ah..ha..haha.. maaf, maaf, hehe.” Jane mengipasi wajahnya yang agak panas. Ia lalu memandang Justin
yang sedari tadi senyum senyum menatapnya. “apa,” Mata Jane menjadi galak kembali.
“Sudah lama tidak melihatmu tersenyum.”
Pernyataan Justin membuat Jane menutup mulutnya dan salah tingkah. Pupilnya bergerak kesana kemari
menghindari kontak mata dengan Justin.
“Sudah lama juga kita tidak ngobrol seperti ini,” Lanjutnya.
__ADS_1
“Apaan, sih!”
“Bagaimana kabarmu?”
“Apa sih? Kau bicara seakan-akan kit..”
“Kita masih berteman, kan?” Justin tersenyum menatap Jane. Berharap ada anggukan dari kepalanya.
Namun Jane masih saja menghindari kontak mata Justin. “pinjami aku buku catatanmu, boleh kan? Teman?” Justin mengadahkan tangannya pada Jane, membuat Jane menatap balik kearahnya. Jane kemudian menahan senyumnya sambil menggeleng pelan.
++++++++++++++++++++
“Marioooo…”
Mary merasakan ada yang menusuk-nusuk pipinya. Ia terbangun. Jhony rupanya yang melakukannya. Ia
barusaja tertidur saat membaca kumpulan lirik lagu yang dibuat BEYOND.
“Ah..maaf,” Ucap Mary sambil membetulkan posisi tidurnya yang hampir terjatuh diatas sofa empuk dan
nyaman di dalam studio itu.
“Kau ini..” Jay menggelengkan kepalanya menatap Mary.
“Tidak apa-apa.. kau pasti kelelahan.” Jhony merapikan kertas lirik yang ada di depan Mary dan
mengambil satu di tangannya.
“Ah.. yaah..” Mary tersenyum masam. Ia menatap Jhony yang kini duduk di sebelahnya.
“Mungkin kau bekerja terlalu keras…”
Perkataan Jhony membuat Mary memikirkan apa saja yang sudah ia lalui bersama BEYOND dan apa saja yang
“Kau membantu Sejin dan ikut mengerjakan apa yang tim promosi lakukan. Kau juga membantu pekerjaan para stylist dan tim make-up yang hanya beberapa orang.” Jhony seakan mengingatkan kerja keras Mary. “kau hebat, Mario.”
“Iya, kau pasti lelah, Mario” Jay yang duduk dikiri Mary juga bersuara.
“Ah tidak.. itu sudah jadi tugasku.” Mary menunduk malu mendengar pujian dari mereka berdua. Ia
memainkan jari jemarinya. “mm… Jhony.”
“Ya?”
Mary menatap Jhony lekat-lekat. Senyum Jhony yang masih ada disana itu membuatnya nyaman untuk
mengutarakan isi hatinya. “BEYOND harus sukses. Aku dan Sejin akan berjuang agar kalian memiliki panggung debut di stasiun TV! Semua orang harus mengenalmu! Hanya itu yang aku mau. Aku juga punya mimpi yang sama sepertimu, Jhony, yaitu mensukseskan BEYOND apapun yang terjadi! Jadi… semangat!” Mary
mengepalkan tangannya. Ia tidak hanya ingin BEYOND sukses, namun ia butuh itu demi masa depannya!
Jhony tersenyum lembut. “Terima kasih. Kami akan berjuang untuk itu, jangan khawatir.” Jhony mengacak
–acak rambut Mary. Namun ia kemudian menghela nafas dan menatap langit-langit. “Hhhaahh…sukses ya?…”
Mary menatap Jhony dan menunggu kalimat selanjutnya yang ingin ia keluarkan. Jhony seakan memiliki
segudang lanjutan pembicaraan untuk dibahas.
“Mario,”
“Hmm?”
“Menurutmu kami butuh sukses yang seperti itu?”
__ADS_1
“Ha? Jika bukan?” Mary menatap tak mengerti. Sukses seperti apa yang Jhony inginkan? Mary semakin tak
mengerti kala Jhony menjawab pertanyaannya hanya dengan senyuman.
++++++++++++++++++++
Mary kini berada diruang staff berdua dengan Jimmy. Ia sudah nampak jauh lebih baik. Jimmy sudah mulai
beraktifitas seperti biasa, Sejin melarangnya untuk diet dan mewajibkannya makan dengan teratur. Mary juga membantu membuat jadwal olahraga untuk Jimmy yang masih bersikeras untuk mengecilkan badannya.
“Siapa?” Tanya Mary sambil menopang kepalanya diatas meja. Mary sedari tadi berhenti dan menahan
bicara saat ponsel Jimmy tiba-tiba berdering dan seseorang diseberang sana mengajaknya ngobrol lama sekali.
“Hmm?” Jimmy mematikan ponselnya dan meletakkannya diatas meja. “Ah! Ini? Sean! Ingat? Teman
sekelasmu!” Jimmy menjentikkan jarinya. “Ah! Aku lupa menawarkannya untuk bicara padamu!” Justin menepuk dahinya.
“Ah tidak.. tidak perlu..” Mary menolak cepat. Si Sean itu tentu saja tidak mengenal ‘Mario’.
Mary harap suatau saat Jimmy tidak bertanya tentang ‘Mario’ pada Sean.
“Ia sedang di bandara, ia akan bersekolah di luar negeri.” Jelas Jimmy tanpa ditanya. “wah.. makin hebat
saja dia!”
Mary mengangguk pelan bereaksi pada setiapp perkataan Jimmy.
“Ah kau pasti lupa dengan Sean.” Tebak Jimmy tepat sasaran. “Dia kan kapten sepak bola. Masa’ kau tidak
mengenalnya?!”
Mary mengeryitkan dahinya dan memiringkan sedikit kepalanya. Ia berusaha mengingat. Wajah si Sean itu
muncul perlahan dalam ingatan Mary.
“Ah.. Sean.. Sean yang itu… Benar juga. Jimmy kan ikut klub bola, pasti kenal dekat
dengan Sean. Victor juga selalu bersama Jimmy, jadi Victor juga ikut…Ah!”
GREK!
Suara kursi yang digeser Mary untuk bangkit dari duduknya mengagetkan Jimmy. Mary kemudian membulatkan mata besarnya. “Mana Victor?” Tanyanya pada Jimmy.
“Ha?” Jimmy tidak segera menjawab. Mary yang tidak mau menunggu jawaban Jimmy itu berlari keluar
ruangan. Ia terus mengecek satu persatu ruang latihan yang biasa digunakan BEYOND.
“Ah!” Mary akhirnya menemukan Victor yang hendak berjalan menuruni tangga di ujung koridor. “Vic!”
Serunya sambil berlari.
Victor menoleh pelan dan kaget melihat Mary berlari kearahnya. Mary kemudian membalik badan Victor
hingga sepenuhnya menghadap Mary. Mary mengatur nafasnya.
“Kau kenapa sih?”
“Aku ingat…kau.. Victor. Victor dari kelas 2-4!” Mary yang sudah mengingat Victor itu heboh mengetahui
kenyataan yang dihadapannya.
“Ya. Kurasa kita sudah berkenalan,”
“Bukan! Bukan itu!” Mary menelan ludahnya. Ia menarik nafas. “Kau adalah Victor! Victor yang ‘itu’!”
__ADS_1
Mary semakin heboh. “Mengapa kau masih hidup? Aku kira kau sudah tiada karena insiden itu!”