![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Victor mengikuti langkah Mary dari belakang. Mereka baru saja tiba di sebuah pedesaan kecil yang belum
pernah dikunjungi Victor. Mary yang berkata sudah menemukan kakak Victor itu dengan antusias membawanya kemari sebelum Victor melakukan syuting perdananya esok hari.
Mata Victor melihat kesana kemari. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Desa ini akan memasuki malam
yang gelap karena pencahayaannya hanya sedikit dan remang-remang. Mary mengetuk pintu sebuah rumah kecil yang berseberangan dengan ladang jangung. Ia lalu mendorong pintunya.
“Kak Virgooo…” Panggil Mary sok akrab. Mary yang sudah terlebih dahulu bertemu Virgo itu memang sudah
berjanji untuk membawa adik yang sudah lama tidak ditemuinya itu.
Jantung Victor berdegup kencang. Ia bingung harus mengatakan apa terhadap kakaknya. Lalu terdengan
suara wanita menyahut sapaan Mary. Langkah kakinya mendekat. Wanita itu menggulung tinggi rambutnya. Lehernya yang kecil tampak terlihat jelas. Badannya yang kurus tetap berlari mendekat. Mereka beradu tatap. Virgo tidak dapat menyembunyikan air matanya dibalik senyumannya yang sedari tadi menggantung diwajanya.
“Victor!” Virgo berlari memeluk adiknya yang mematung di ambang pintu. Victor sempat terhempas mundur
karena dorongan kuat dari pelukan Virgo. “Victor!” Serunya lagi. Kali ini tangan kaku Victor mencoba merangkul kakaknya yang tampak jauh lebih kurus itu. Ia menepuk punggung Virgo.
“K..kak..” Victor menangis. Mary mencoba menahan air matanya melihat drama keluarga di depannya.
Ia memilih memasuki rumah Virgo.
“Victor, aku sudah dengan dari Mario. Kau sudah debut!” Virgo memegang kedua pipi Victor. “Selamat!”
Mata Victor masih berair. Ia memandang wajah Virgo yang tampak kusam dan tak seputih dulu. Rambut yang
dulu selalu ia banggakan juga nampak kusut tak bercahaya.
Virgo membawa masuk Victor dengan menggandeng tangannya. Victor melihat berbagai macam masakan
telah tersedia diatas meja. Sepertinya Virgo langsung memasak semua bahan makanannya setelah Mary pulang dari rumah Virgo pagi tadi untuk menjemput Victor dan membawa Victor ke hadapannya.
Virgo mempersilahkan keduanya untuk makan. Mary menyambut gembira. Ia memuji masakan yang dibuat
Virgo. Virgo tentu puas dengan hasil masakannya yang menuai pujian. Virgo menatap adiknya. Tangan Victor masih rapi diatas paha. Victor belum menyentuhnya sama sekali.
“Vic? Ada ap..”
“Mario.” Victor bersuara. “Aku perlu kembali. Aku harus latihan untuk besok.”
“Iya, kau habiskan waktu disini dulu, nanti Sejin menjemput kita di halte depan. Ia tidak mungkin kesini.” Mary sibuk menjejalkan makanan ke mulutnya.
“Iya Vic, kau makan dulu saja..”
“Besok merupakan hari penting bagiku! Ingat?!” Victor meninggikan suaranya, membuat Mary behenti
mengunyah. Ia merasakan bahwa Victor sedang marah. Kini Victor mulai berdiri dari duduknya.
“Ah iya benar!” Virgo menepuk tangannya. “Besok kau debut stage ya? Waah.. hebat adikku!” ia melanjutkannya dengan bertepuk tangan.
“Iya kak! Besok kau bisa datang ke stasiun TVnya! Rekamannya jam 6 sore,” Ucap Mary setelah meneguk air
__ADS_1
dingin disampingnya.
“Hentikan..” Gumam Victor. “Aku bilang hentikan!!” Serunya lantang. Membuat Mary dan Virgo yang berbincang-bincang diam seketika. “Kau!” Victor mengacungkan telunjuknya kearah Mary. “Apa maumu sebenarnya hah?!”
Mary ikut berdiri, diikuti Virgo. Virgo terlihat bingung melihat adiknya yang mendadak naik darah. Wajah Victor memerah karenanya.
“Aku sudah bilang untuk berhenti mencampuri urusanku, kan! Sekarang apa?! Kau bangga karena sudah tau
semuanya?! Kau mempertemukanku dengan kakakku agar aku semakin merasa bersalah melihat hidupnya yang sekarang?!”
“Vic.. aku..”
“Lalu selanjutnya apa?!” Victor masih meninggikan suaranya. “Kau akan memasukkanku ke dalam penjara?”
“Dengar dulu Vic, kau salah paham. Aku hanya..”
“Aku tau aku memang pengecut,” Victor menyela perkataan Mary lagi. “Aku yang membuat hidup kakak ku
menderita. Aku..” Victor membuka kedua telapak tangannya yang bergetar dan menatapnya. “Seandainya aku tidak membunuh ayah…”
“Hentikan, Victor.” Virgo akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar sesak karena ia sedari tadi menangis
sesenggukan. Virgo berjalan mendekati adiknya. Ia menggenggam kedua telapak tangan Victor yang tak berhenti bergetar. “Akulah yang membunuhnya.”
+++
Virgo mengungkit ulang kenangan buruk itu. Tepatnya jauh di beberapa bulan yang lalu. Malam itu Virgo
berjalan pulang sendirian menyusuri gang gelap dengan pencahayaan seadanya yang menghubungkan jalan utama dengan rumahnya. Kakinya sedikit sakit karena heels yang digunakannya seharian tampak tidak nyaman. Virgo juga melepas kuncir rambutnya yang sedari tadi menarik rambutnya terlalu kuat. Virgo lembur lagi. Badannya terasa sangat lelah setelah seharian bekerja di kantor. Kakinya melangkah kaku menaiki anak tangga yang berbahan semen yang sudah rompal.
“Ah! Victor!” Virgo segera mempercepat langkah kakinya menuju rumah saat mengingat bahwa adiknya kini sedang berada dirumah sendirian.
Tanpa mengucap salam, Virgo membuka kasar pintu rumahnya. Ia kemudian mematung. Ia memandang punggung Victor yang berdiri di ruang tengah, Virgo segera menggerakkan badannya agar ia dapat melihat sosok yang sedang dipandang Victor.
“K..kak..” Victor menoleh menatap Virgo yang menutup mulutnya yang terbuka lebar. Matanya juga tak kalah
melebar saat ia melihat ayahnya sudah terbaring lemah tak sadarkan diri. Virgo melihat tangan kanan Victor memegang botol soju yang sudah pecah. Sisa pecahannya telah bertabur kesana kemari. Victor semakin berkaca-kaca.
“Tu..tunggu disini,” Virgo bergegas menuju kamar utama dimana orang tua mereka beristirahat. Virgo membuka seluruh laci hingga lemari. Ia memberantakan isinya dan mengambil dompet, uang, hingga barang berharga milik keluarganya. Tak lupa Virgo mengambil sebuah tas besar yang cukup untuk menampung semua itu. Virgo kemudian keluar kamar dengan seluruh barang beharga milik keluarganya. Ia memberikannya pada Victor. “Pergilah,” Ujarnya.
Victor hanya meraih tas itu. Matanya masih penuh air mata. Bibir nya masih bergetar. Virgo berusaha menenangkan kepanikan adiknya. Ia memegang kepala dan menurunkannya ke pipi Victor. “Dengar. Pergilah. Pakai semua harta ini untuk bertahan hidup.”
“K..kak..”
“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya, oke?” Virgo berusaha tersenyum. “Pergilah, dan jangan mencariku. Aku pasti akan segera menemukanmu duluan. Jangan khawatir. Raih mimpimu. Berbahagialah.” Lanjut Virgo dengan pikiran kacau karena harus bertindak secepat mungkin sebelum polisi memperburuk masa depan Victor.
Kemudian Virgo membalik badan Victor yang masih menangis. Ia mendorong adiknya. “Sekarang, lari!”
Serunya. Victor menuruti perkataan saudara satu-satunya itu. Victor berlari kencang sambil mengusap air matanya.
“....Kalian….” Suara lemah dan berat itu milik ayah Virgo. Virgo menoleh kaget mendapati ayahnya yang
rupanya masih hidup. Pukulan keras dari Victor itu hanya membuatnya pingsan. Virgo juga tidak melihat ada darah disana.
“Anak tidak tau diuntung!!” Ayah Virgo berusaha berdiri. Ia terus memegang kepalanya yang nampak kesakitan setelah dihantam botol soju. “Mana Victor?!” Serunya sambil bergerak maju. “Akan kuhabisi dia! Anak sialan!”
__ADS_1
Tangan Virgo bergerak mengambil barang yang ada di lantai. Emosinya sudah memuncak. Hampir setiap hari
ayahnya pulang dalam keadaan mabuk dan merusak suasana rumah. Entah sudah berapa luka lebam di badan kedua anaknya yang disebabkan oleh tingkah laku ayahnya ini. Kelakuan liarnya semakin menjadi-jadi setelah ibu mereka tiada. Ibu Virgo kala itu mengalami pendarahan otak yang hebat karena kepalanya
terlalu sering dihantamkan ke tembok oleh ayah mereka. Semua ingatan kejam yang dilakukan ayah Virgo itu kini bermain di otaknya.
Virgo mendekat. Ia membalik bahu ayahnya agar menatapnya.
“Kau yang seharusnya dihabisi!!” Seru Virgo. Ia menusukkan pecahan soju yang dipegang Victor tadi ke perut ayahnya.
“Argh!” Ayahnya mengerang. Darah segar segera keluar dari perutnya. Luka tusukan yang dalam itu membuat darah ayahnya keluar lagi dan lagi.
Virgo mengatur nafasnya. Ia terasa sesak. Virgo harus berfikir cepat. Ia kemudian berlari menuju kamar
penyimpanan di dekat dapur dan mengambil bensin dari sana. Ia membawa dirigen yang berat itu dan menumpahkannya ke lantai. Seisi rumah menjadi becek dan licin karena cairan yang sudah tersebar luas di lantai rumahnya.
“Argh..to..tolong aku..” Ayahnya masih mengerang kesakitan. Kuping Virgo bagai sudah tertutup oleh bisikan iblis. Ia malah membasahi badan ayahnya dengan sisa bensin. Ayah nya hanya memandang wajah Virgo yang tampak berbeda. Dingin, tak berekspresi.
Virgo kemudian menarik rambut ayahnya yang dirasa sudah lemas tak bernyawa. Ia mulai menyalakan api
dari pematik milik ayahnya itu.
BOOM
Api mulai membakar tubuh ayahnya. Ia membiarkan api itu bergerak dan melahap isi rumahnya. Virgo yang
telah memiliki barang untuk dibawa itu kemudian keluar diiringi senyuman dinginnya.
+++
Saatnya Victor dan Mary berpamitan. Mata Victor sedikit sembab karena menangis terlalu lama. Kisah sebenarnya yang telah dialami Virgo membuatnya tadi menangis tak henti-henti.
Virgo mendekat dan memeluk Victor. Tak lupa ia juga menepuk kepala adiknya. “Senang dapat bertemu denganmu lagi. Kau juga sehat seperti ini, terimakasih ya. Dan maafkan aku..”
Mary kemudian berjalan keluar rumah sendirian untuk memberikan ruang privasi bagi keluarga yang baru
bertemu setelah sekian lama itu.
“Katakan pada Jimmy aku berhutang budi padanya.” Lanjut Virgo yang menggenggam erat kedua tangan
Victor. “Kau harus sukses!” Ia mengguncangkan genggamannya. Victor hanya mengangguk pelan. “Maaf, seharusnya aku yang mencarimu.”
Mary mengintip dari balik tembok. Victor dan Virgo kini berjalan mendekatinya. Virgo tak henti-hentinya
mengucapkan terimakasih pada Mary. Mereka lalu berpamitan untuk pulang. Mareka memang harus segera pulang karena Sejin tidak mengijinkan mereka untuk menginap di rumah Virgo. Victor harus pulang malam itu juga untuk mempersiapkan penampilannya esok hari. Dan Sejin berharap Victor tidak terlalu lelah untuk itu.
“Ah itu dia!” Seru Mary saat melihat cahaya terang mendekat di kanannya. “sepertinya Sejin akan marah
besar, hehe,” Mary terkekeh dan siap menerima amukan sang manager senior.
“Hei Mario..” Victor menunduk dan bersuara pelan.
“Hmm? Kau berbicara?”
“Maafkan aku,” Ucapnya. Membuat Mary memperhatikan Victor yang masih menunduk di sampingnya. “..dan..
__ADS_1
Terimakasih.”