![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Mary membungkuk. Lagi dan lagi. Ia meletakkan sebuah minuman energi ke setiap staff yang ditemui Sejin.
“Mohon bantuannya..” Sejin tersenyum ramah. Ia baru saja memberikan mini album BEYOND kepada salah
satu staff yang terlihat sibuk.
Mary menyapu pandangannya. Ia berada di ruang kerja di salah satu perusahaan penyiaran TV. Sejin membagikan album BEYOND yang baru saja dicetak. Hal ini juga sebagai salah satu pertimbangan agar stasiun TV ini mengundang BEYOND untuk melakukan debut stage pada salah satu acara musik
mereka. Mary mengangkat satu kotak penuh dengan minuman energi itu lagi. Entah sudah berapa kotak yang ia angkat hari ini. Ia berjalan mengekori Sejin yang tiba-tiba terlihat ramah pada semua orang.
“Letakan dimeja saja,” seorang staff berbicara pada sejin. Ia tak mendengarkan ucapan Sejin sama
sekali. Matanya terfokus pada layar komputer.
++++++++++++++++++++
Justin sengaja datang agak telat hari ini. Ia menghindari percakapan pagi yang biasa dilakukan murid
sebelum pelajaran pertama. Namun hari ini pun tak ada bedanya. Tidak ada yang menganggap bahwa di kelasnya baru saja ada murid yang baru debut. Semua nampak biasa saja. Selalu seperti itu. Bahkan murid yang lain tidak sadar bahwa Justin tengah masuk sekolah.
“Wow.. lihaat.. siapa ini?!” Kericuhan mulai saat bel istirahat baru saja berbunyi dan seorang guru sastra keluar dari kelas.
Justin terdiam dan merapikan bukunya. Ia tau Leo sedang menatap kearahnya diikuti cekikikan anak buahnya.
“Selamat atas debutmu!” Teriak Leo. Ia tepuk tangan diiringi tiga dayang-dayang pria nya. Mereka
memasang muka menyebalkan penih sindiran. “Hei kawan-kawan!” Leo kini berteriak. “Mengapa tak ada yang mengucapkan selamat?! Ada yang…”
GREK!
Justin berdiri dari kursi. Ia memotong suara keras Leo dan berjalan keluar. Justin melihat Jane baru saja melintas di depan kelasnya. Ia memilih menghampiri Jane dan pergi dari kelas yang berisik itu.
“Jane!” panggil Justin. Mary yang sudah hafal dengan suara Justin itu menoleh pelan. Ia memandang
Justin yang menghampirinya. Justin mengatur nafasnya dulu sebelum berbicara. Mulutnya terlihat ingin mengatakan sesuatu namun kata-kata itu tak kunjung keluar.
“Selamat atas debutmu,”Jane mendahului bicara. “aku ingin mendengar lagu debutmu, jadi aku datang.” Tambahnya.
Justin masih tergagap. “Mmm.. a…”
“Apa? ‘Terimakasih?’” Jane menebak apa yang ingin dikatakan Justin. Ia tepat sasaran. Jane tersenyum
dengan salah satu sudut bibir yang meninggi. “mulai sekarang kau harus bekerja keras, Mr. Idol,” godanya sambil menepukkan punggung tangannya ke dada Justin.
Kemudian Jane berlalu pergi. Justin hanya melihat sisi belakangnya. Sebenarnya ia ingin berbincang lebih lama. Namun hanya untuk mengucapkan terimakasih telah menjadi satu-satunya teman yang datang pada acara penting nya saja ia tak mampu untuk mengucapkannya.
“Ada apa dengan ku hari ini?” Justin masih memandang punggung Jane yang berjalan menjauh
++++++++++++++++
Mary berjalan pelan. Ia mendang-nendang kerilik yang menghadang kakinya. Ia melihat taman yang ada di
sampingnya mulai ramai di siang hari. Mary menuju taman itu dan hendak duduk-duduk santai. Hingga ia tiba-tiba mendengar riuh tepuk tangan. Kakinya melangkah ke arah sumber suara.
“Wuuuu!”
Mary mencoba menggeser orang-orang yang menutupinya. Ia kini ada di tengah kerumunan pemuda yang mengelilingi suatu titik. Mary kini berada paling dengan. Oh, pertunjukan tari rupanya. Ia
melihat para street dancer yang sedang unjuk kebolehan menari mereka. Dengan sound yang besar, suara musik itu terdengar hingga hampir ke sluruh penjuru taman. Orang-orang yang semulanya
hanya lewat itu lambat laun berhenti untuk melihat pertunjukan oleh segerombolan pemuda yang mengenakan hoodie hitam itu. Mereka juga bertepuk tangan, bahkan merekam aksinya. Hal itu membuat Mary menjentikkan jari.
__ADS_1
++++++++++++++++
“Open Stage?” Sejin mengeryitkan dahinya berlebihan. Ia dapat melihat keriput di ujung matanya dan dahinya keluar.
“Iya.” Angguk Mary mantap. “jadi BEYOND akan melakukan aksi di taman, seperti yang aku ceritakan
tadi!”
Ide itu membuat Sejin dan Jhony saling bertatapan.
“Terdengar seru sih…” Gumam Jay yang juga sedang ada di ruang kerja manager.
“Nggak ah, dana kita sedang mepet nih!” tolak Sejin.
“Loh? Kita tidak perlu panggung. Hanya sound dan alat alat menyanyi saja. Ini benar-benar di taman.”Mary sedikit frustasi karena Sejin tidak bisa membayangkan apa yang ia ceritakan mengenai yang dilakukan street dancer yang ia lihat.
“Benar juga,” Jhony mengelus dagunya. “kalau tidak ada panggung kan tidak perlu keluar dana lagi. Selain itu kita tinggal bernyanyi saja kan. Tidak perlu mengurusi masalah panggung dan lainnya.”
Mary mengangguk mantap lagi. Ia lalu menggenggam tangannya dan menatap Sejin dengan tatapan penuh
harap seakan memohon untuk mengjinkan idenya itu. Ini sudah keberapa kalinya Mary memohon yang ujung-ujungnya untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran sang Pencabut Nyawa!
++++++++++++++++
Ide Mary tersebar luas dengan cepat entah dari siapa ke siapa. Yang jelas kini BEYOND sudah mengetahui
salah satu jadwal yang berasal dari ide Mary.
Mary kini mengekori Agust, ia baru saja diminta Agust untuk menemaninya ke studio. Sepertinya ia
akan menunjukan suatu lagu pada Mary, seperti yang dilakukan Jhony padanya.
“Nah..” Agust membuka suara. Ia kini duduk di kursi depan meja yang penuh dengan alat rekaman. Ia
“Ah itu… beberapa hari yang lalu aku melihat muda-mudi melakukannya,” Jawab Mary jujur. Agust hanya
menganggukkkan kepala. Matanya tidak terlihat fokus. “kenapa?”
Agust menatap Mary lagi. “Ah.. tidak.. hanya saja, aku dulu pernah melakukannya juga.”
“Oh benarkah? Kau membuat pertunjukkan apa?”
Mata Agust menerawang. “Saat itu aku menampilkan lirik rap yang aku buat. Sama seperti idemu. Aku
melakukannya di suatu tempat terbuka. Namun kau tau? Aku berbeda dengan street dancer yang kau lihat kemarin.”
“Kenapa?”
“Saat itu hanya satu orang yang menontonku.” Agust meringis kecil sambil menunduk. Mary terdiam membuat suasana menjadi canggung. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap mary lagi “itu adalah sebuah kenangan baik.” Ia tersenyum seakan bangga dengan apa yang ia kini lakukan dan apa yang ia telah lalui.
“Kau… kau selalu berbeda saat berbicara tentang musik.” Mary membuka suara. Ia mengabaikan debaran
jantung yang kencang. Mary semakin kagum atas semangat Agust.
“Ha?” Agust sedikit memiringkan kepalanya.
“Kau seperti hidup untuk musik. Passion mu terlihat jelas sekali. Bakatmu juga ada.”
“Ah..” ia tampak tersipu malu. Agust seperti orang yang salah tingkah saat menerima pujian. “kau kan lulusan sekolah musik, kau tentu punya bakat juga.”
“Iya. Namun aku masih bingung dengan apa yang akan kulakukan.” Mary menghela nafas. Entah mengapa ia
__ADS_1
ingin mencurahkan masalahnya pada Agust. “aku tak bisa menari, suaraku pun biasa saja. Aku bukan murid yang menonjol disekolah. Hehe..” Mary meringis pelan.
“Apa kau bisa bermain alat musik?”
“Iya. Hanya itu yang aku bisa. Gitar, beberapa alat tiup seperti rekorder, flute.” Mata Mary menerawang.
“Aku hanya baik dalam hal itu saja. Aku bahkan lulus karena aku dapat bermain alat musik dengan baik.”
“Bukan hanya. Tapi ‘kau baik dalam hal itu’” Agust membenarkan kalimat Mary. Ia lalu sedikit mencondongkan badannya ka arah Mary. “selain itu? Apa kau bisa bermain piano?”
Mary melihat kearah atas. Ia berfikir. Piano? Sudah lama sekali ia tak bermain piano. Ia juga sudah tidak
memiliki piano lagi setelah ibunya menjual piano pemberian ayah. “Entahlah. Sepertinya aku sudah lupa cara memainkannya.” Mary mengangkat kedua pundaknya.
Penjelasan Mary membuat Agust menatapnya lekat. Agust mengangguk sambil sedikit tersenyum. Tidak! Hal
itu membuat wajah Mary panas lagi!
++++++++++++++++
Mary duduk sendirian di sofa yang terletak dekat dengan ruang dance. Ia mengangkat salah satu kado di tangannya. Lucu sekali. Boneka anjing berwarna pink. Mary menata beberapa kado yang diterima hari ini. Para fans meninggalkannya di depan halaman kantor seperti biasa. Mary semakin senang mengetahui bahwa kado yang diterimanya semakin banyak. Apakah fans BEYOND semakin bertambah juga?
“Hei..” Seseorang berjalan ke arahnya. Itu adalah Jay. Jay terlihat terlalu tampan untuk seseorang yang baru saja berlatih tari selama berjam-jam. Ia tidak melihat setetik keringatpun mengalir di wajahnya.
Mary menatap Jay yang sedang berdiri di depan meja yang penuh dengan kado. “sudah selesai latihannya?” Mary tetap mendongakkan kepala.
“Masih istirahat.”Jay melihat seluruh kado, matanya tidak fokus pada Mary.
“Kau tau? Tidak ada kado untukmu. Ehehe…” Ujar Mary tanpa merasa berdosa. Ia memang sedari tadi membaca kartu yang selalu ikut disertakan pada setiap kado. Namun ia tidak menemukan nama Jay disana.
“Yyah.. mungkin aku memang tidak punya penggemar…”Jawabnya pasrah sambil menatap Mary.
“Oh!!” Mary mengangkat satu topi pink yang dibungkus rapi di dalam kertas kado plastik transparant. “Jay! Jay!” ia menggerak-grakkan kado itu. Mary membaca ulang isi kartunya. “untuk Jay…”
“Wuah!” Jay ikut kaget sambil menepukkan tangannya pelan.
“Hai Mario!!” Hope melangkah dengan gembira. Hope mendekati mereka dan melihat seluruh kado yang berserakan di sofa dan meja. “wuuuaaaa!!!” Hope sedikit menyeka keringat di dahinya sambil menyapu pandangan pada seluruh kado. Ia lalu meraih kado yang di pegang Mary.
“Topi yang lucu ya. Itu untuk…”
“Wuah! Untuk aku!” Seru Hope memotong perkataan Mary. Hope membaca ulang kartu yang juga berisi ucapan selamat itu.
“Hei, bukannya itu untuk Jay?”
“Iya, Hope!” Jay yang berdiri di sampingnya ikut menimpali.
Hope tiba-tiba membulatkan matanya menatap Mary. “Loh? Aku belum bilang ya?”
“Apa?”
“Nama asliku kan Jay. Hope itu nama panggungku.” Ujarnya sambil meletakkan kado itu ditumpukkan kado
yang lain.
“Ha?” Mary mengeryitkan dahinya seakan ia salah dengar.
Jay memajukan mulutnya kesal, “Tapi itu bisa saja untukku ‘kan!”
“Ah aku harus segera kembali!” Hope berlari kencang menuju ruang dance.
__ADS_1
Jay menghela nafas. “Kurasa aku memang tidak punya penggemar.”
Mary memiringkan kepalanya, “Aku tidak tau Hope adalah nama panggung..” Gumamnya