The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
17


__ADS_3

Justin mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Kini ia siap mendengarkan jadwal yang akan disampaikan


Mary. Debut stage BEYOND yang diadakan di salah satu stasiun TV itu tinggal menghitung hari. Hampir setiap hari, setiap jam, setiap waktu, BEYOND tak henti-hentinya berlatih untuk menyempurnakan penampilan mereka. Justin yang nampak baru saja mengganti baju seragamnya dengan kaos latihannya itu pun nampak sudah siap berlatih vocal usai rapat dengan Mary nanti.


“Jadi…” Mary membalik kertas yang ada di tangannya. “Kau akan menghadiri kelas sampai Jumat ini. Senin depan aku akan mengirim surat absent ke sekolah.” Jelas Mary.


“Jumat ini? Hanya seminggu?”


“Iya.” Mary mencoba men-cek ulang jadwal BEYOND. “Iya benar.” Ulangnya saat ia sudah yakin dengan


apa yang ia periksa. “Kau hanya masuk minggu ini saja. Kan syutingnya di hari Sabtu, dan setelah hari itu kau mempunyai jadwal latihan yang padat dan beberapa syting debut stage di stasiun TV lain.”


Justin langsung menempelkan pipinya keatas meja. Ia menggerutu pelan. Mary mengetuk ngetukkan pena yang sedari tadi ia pegang ke kepala Justin. “Hei.. fokus..”


“Iya.. aku tau..” Jawab Justin samar-samar karena pipinya terhimpit meja.


“Kau sudah hidup sebagai seorang idola sekarang. Jangan berfikir macam-macam..”


“Iya.. aku tau maksudmu…”


Kemudian Mary mengetuk lagi kepala Justin. Membuat Justin mengangkat kepalanya. Mary menyodorkan


sebuah kartu nama.


“Pergilah ke café itu dengan Jane.”


“Ha? Apa ini?” Justin mencoba membaca nama café itu dan tanggal reservasinya.


Mary tersenyum geli melihat wajah polos Justin. Matanya yang besar itu masih menebak apa yang hendak dilakukan Mary padanya. Berkat saran Jay, Mary dan Jay memesan sebuah paket dinner spesial di café yang nanti akan mereka gunakan sebagai perpisahan kecil-kecilan.


“Kalian memang akan ‘berpisah’. Namun perpisahan yang baik adalah perpisahan yang tidak meninggalkan luka, bukan?”


++++++++++++++++++++


Justin berjalan riang menyusuri koridor sekolah. Ia tak menghiraukan murid-murid yang berlalu lalang menuju tangga yang menghubungkan lantai kelasnya dengan lantai dua. Seluruh murid antusias untuk pulang, namun beda dengan Justin. Ia hendak menuju kelas Jane. Langkahnya tampak di lompat-lompatkan. Bibirnya bersiul membentuk nada yang merdu. Hari ini adalah hari dimana ia akan mengucapkan perpisahan dengan Jane. Justin membayangkan seperti apa café yang akan ia kunjungi dengan Jane. Hari ini haruslah berkesan di ingatan mereka. Justin berharap tidak akan ada air mata.


TRRING!


Ponsel Justin berbunyi tanda ada pesan masuk. Justin membacanya. Kemudian ia memiringkan sedikit


kepalanya.


GREEEK


Justin membuka pintu atap sekolah. Perintah Jane yang menyuruhnya ke atap sepulang sekolah membawanya


kini dihadapan Jane.


“Jane?” Panggil Justin karena Jane yang tidak bereaksi mendengar suara pintu dibuka. Jane masih


memandang langit sore. “Kenapa kau masih disini?” Justin berdiri disamping Jane dan menatapnya. “Ayo kesini nih!” dengan riang Justin menunjukkan kartu reservasi itu ke wajah Jane.


Jane menatap Justin. Wajahnya terlihat sendu. “Aku lebih suka disini.” Ia kembali menatap langit.


“Ada langit oranye yang indah…awan….matahari sore….” Jane lalu memejamkan matanya. “Anginnya juga segar,”


Justin menatapnya. Ia menurunkan tangannya dan menyaku lagi kartu itu.


“Sudahlah, Justin. Aku tau hal ini akan terjadi..”


Jane kini dengan sempurna menghadapkan tubuhnya pada Justin. “Tapi ini yang terbaik, kan? Tidak akan ada


yang terluka.” Kini Jane menyentuh kerah seragam Justin. Ia merapikannya. Jane juga menepuk bahu Justin. “Yang semangat, dong. Kau sudah menjadi idola sekarang,” ia mengakhirinya dengan senyuman.


“Tapi aku masih ingin menemuimu.” Justin berbicara pelan. Ia sudah tak menutupi perasaannya.


“Haha..apa bisa?” Jane tertawa kecil. “Kau akan terus sibuk. Karena kau pasti sukses, kau akan mempunyai jadwal yang saaangat padat. Kau pasti sibuk.” Justin terdiam. Ia tidak menyanggah maupun mengiyakan kalimat Jane. “Ini yang kau impikan kan? Cerialah, teman.” Jane terus memasang senyum diwajahnya.


Jane kemudian mengulurkan tangannya. Sama seperti pertemuan pertamanya, atau pertemuan keduanya di atap ini. Justin menyambut tangan Jane. Mereka bersalaman dengan sedikit guncangan mantab dari Jane. “Semoga beruntung!” Ucap Jane. Justin tetap diam. Matanya tetap membesar dan kaku. Lalu Jane mengayunkan salaman mereka dan sedikit memainkannya. “Hei! Aku juga punya mimpi, tahu!” Serunya. “Aku akan tinggal bersama pamanku di luar negeri. Aku akan melanjutkan studiku disana tahun depan.”


“Apa?!” Justin baru membuka suara.

__ADS_1


“Terlalu sulit hidup disini seorang diri. Kalau tinggal bersama pamanku ‘kan enak. Aku bersekolah gratis. Tidur dan makan pun ditanggung,” Jelas Jane. Justin hanya menatap Jane lagi. Ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi mengenai jalan hidup Jane yang barusaja ia utarakan. Kemudian Jane memeluk Justin. “Kau harus sukses, oke?” Ia kemudian melepaskannya sambil memamerkan senyum terindahnya. Jane kemudian


berjalan mundur. Jelas terlihat kuping dan wajahnya memerah. “Aku duluan ya?” Sapanya tanpa menatap wajah Justin.


“Jane!” Justin berteriak pada Jane yang berada diambang pintu. Jane tidak menoleh. Jane hanya menyeka


air matanya. “A..aku belum menang darimu!” Serunya. “Kita harus bermain game itu lagi! Kau pasti akan kukalahkan!”


Jane menunduk dan tertawa kecil mendengar Justin yang tiba-tiba memambahas kekalahannya dalam game yang mereka mainkan. Ia kini menyeka air matanya lagi, dan menoleh menatap Justin dalam diam.


“O..oleh karena itu!” Justin melanjutkan ocehannya. “Sampai saat itu tiba, kita pasti akan bertemu lagi! Aku akan mencarimu!” Justin mengakhiri teriakannya dengan suara yang sedikit bergetar. Jane hanya menganggukkan kepalanya. Ia lalu pergi dari atap itu.



++++++++++++++++++++


Mary merasa seluruh pegawai café itu memandangnya. Mary dan Jay kini ada di café tempatnya mereservasi


kursi untuk Justin dan Jane. Mary dan Jay menyamar bagai orang bodoh. Mary mengenakan topi dan kaca mata hitam lengkap dengan jaket kulit yang terlihat kebesaran, sedangkan Jay mengenakan hoodie, kaca mata hitam dan kumis palsu yang didapatnya entah dari mana.


Mereka berdua sedari tadi menunggu kedatangan Justin. Mary dan Jay penasaran seperti apa perpisahan


mereka. Meja yang sudah disiapkan tampak menggunakan taplak pink sebagai pembeda dengan meja lain. Lilin disana juga sudah dinyalakan. Tembok yang ada di belakang meja yang disiapkan khusus untuk Justin dan Jane juga sudah berhias balon kecil dan bunga, mirip seperti pesta ulang tahun. Jay tadi sempat


bertanya kepada Mary apakah hiasan itu tidak terlalu norak, namun Mary setuju-setuju saja dengan ide si pemilik resto.


“Dasar bodoh,” Seseorang melepas topi Mary dari samping.


“Ju! Justin!!” Seru Mary kaget.


“Ckckckck…Kalau menyamar yang pintar dong!” Justin menggelengkan kepalanya.


“Hehehe..” Jay melepas kumis palsunya.


“Kok sendirian? Mana Jane?” Tanya Mary sembari celingukan.


“Tidak datang,” Jawab Justin pelan. Ia lalu duduk disamping Mary. Membiarkan meja yang sudah di pesan itu tetap kosong.


Mata Mary mengikuti gerakan Justin yang berjalan dibelakangnya lalu duduk disampingnya. Kini Justin menyembunyikan wajahnya diantara lengannya yang diletakkan diatas meja. Mary bingung harus berkata apa. Kemudian Jay memerintahkan Mary untuk berbicara pada waitress agar mereka membersihkan semua hiasan dan lilin yang sudah disiapkan. Yap. Reservasi itu batal.


samar-samar. Pundak Justin bergerak naik turun. Mary tidak berbicara apa-apa. Ia tetap menenangkan Justin yang baru saja merasakan patah hati.


++++++++++++++++++++


Pupil mata Jimmy bergerak tak terarah. Ia tidak ingin menatap Mary yang kini ada di depannya. Mary tetap


menatap Jimmy dengan serius. Jimmy tampak tidak mendengarkan perkataan Mary.


“Kau menyusahkanku, tau!” Mary mengeryitkan dahinya. Ia berseru keras setelah memastikan tidak ada


siapapun yang melintasi tangga di lantai tiga. “Bisa tidak sih bersikap biasa saja?!”


“Ha? Te..tentu tidak bisa! Aku tau kau siapa! Kau menipu kami!”


“Apa?! Ak..”


“Dan lagi! Ke..kenapa kau yang marah?! Harusnya aku yang marah padamu!”


“Kalian berdua..” Jhony tiba-tiba muncul dari arah bawah tangga dan berdiri begitu saja di belakang Jimmy.


“Jhony?!”


“Jhony?! Sejak kapan kau disitu?!” Jimmy menutup mulutnya kaget karena suara Jhony tiba-tiba ada di belakangnya


“Kalian..berisik sekali…” Jhony berjalan melewati mereka. “Ayo ikut aku,” Perintahnya.


Mary dan Jimmy saling bertukar pandang. Mereka lalu melihat punggung Jhony yang semakin menjauh. Mary


dan Jimmy berlari kecil membuntuti Jhony. Mereka dibawa Jhony ke sebuah studio yang tidak pernah mereka masuki. Studio itu lebih gelap dari studio yang ada di lantai dua. Ia melihat satu foto dengan Agust dan Jhony di dalamnya, lalu satu foto lagi kali ini Jay dan Jhony, dan beberapa foto dengan seluruh member


BEYOND yang tampak masih muda, serta ada satu foto Jhony bersama keluarganya. Mary mengangguk pelan. Sepertinya ruangan studio itu milik Jhony.

__ADS_1


Jhony mempersilahkan Mary dan Jimmy untuk duduk. Mary dan Jimmy duduk di sofa secara sejajar, sedang


Jhony duduk di kursi nya dan menghadap mereka berdua.


“Kalian..” Telunjuk Jhony bergerak ke kanan dan kiri menunjuk Mary dan Jimmy secara bergiliran. “Ada


apa?” Tanyanya yang mulai curiga terhadap hubungan tidak akur dua orang didepannya itu.


Jimmy terdiam. Ia tidak mungkin melaporkan begitu saja mengenai identitas asli Mary. Jimmy menatap Mary


seolah memerintahnya untuk segera menjawab pertanyaan Jhony. Mary hanya memelototkan matanya pada Jimmy.


Jhony seketika itu berdiri. Ia menuju ke sebuah rak yang berada di samping meja kerjanya. Ia mengambil sesuatu. Mata Jimmy dan Mary mengikuti gerak-gerik Jhony yang kini mendekatkan diri ke Mary.


CLICK!


Jhony memasangkan jepit rambut di rambut Mary. Jepit itu sudah lama ia beli, namun Jhony hanya


menyimpannya dan menunggu waktu yang tepat untuk memberikan jepit itu pada satu satunya wanita yang menjadi manager BEYOND. Mary terkaget. Begitu juga Jimmy. Jepit itu tampak feminim dihiasi dengan bunga-bunga merah diatasnya. Jhony kemudian kembali duduk dikursinya.


“Apa karena itu?” Arah telunjuk Jhony sedikit ambigu. Antara menunjuk Mary dan menujuk jepit yang ia kenakan.


“Jho..Jhony?” Mary berusaha menyentuh jepit yang ada di kepala Mary. “Ka..kau tau?”


“Biarkan aku bertanya. Sekali lagi.” Jhony mencondongkan badannya pada Mary. “Mengapa kau begitu bersikeras membantu BEYOND? Hingga berpenampilan seperti ini.” Jhony mengulang pertanyaan yang pernah ia ajukan pada Mary.


“Tapi.. Jhony,” Jimmy ikut nimbrung. “Sejak kapan kau tau?”


“Tentu sejak awal!” Jhony menepuk padanya sendiri. “Sudah kelihatan jelas dari awal. Dari badannya, cara


berjalannya, cara bicaranya. Semua sudah kelihatan.” Terang Jhony yang rupanya berotak encer dan memiliki kemampuan analisis yang hebat. Ucapannya barusan membuat wajah Mary merah padam. “..Tapi aku membiarkannya saja. Toh Mario tidak berbuat macam-macam. Benar kan? Siapa nama aslimu?”


“Mary. Dia teman ku satu sekolah,” Jimmy menjawab pertanyaan Jhony setelah Mary memutuskan untuk diam


dan semakin menunduk.


“Maafkan aku,” Mary berkata pelan. Ia ingin menangis karena malu dan gugup bercampur aduk menjadi


satu. Namun air mata itu ia tahan.


“Kenapa kau meminta maaf? Kau kan sudah membantu kami dan Sejin. Seharusnya kami yang berterima kasih padamu, Mary.” Jhony berpindah tempat duduk menjadi di sisi kiri Mary. Ia tetap menatapnya. “Tapi pasti ada alasannya kau mengenakan semuai ini, kan?”


Mary tetap menunduk. Ia benar-benar tidak bisa mengatakan siapa dia sebenarnya. Ia takut dengan apa


yang terjadi jika ia membongkar misinya.


“Kau Mary dari kelas 2-2, kan?” Jimmy menusukkan telunjuknya pada bahu Mary. “Aku mengingatmu loh. Maaf


kemarin aku canggung, habisnya, aku tak tahu harus berbuat apa padamu. Aku juga malu sudah kasar dan sempat melukaimu.”


“Memang apa yang sudah kau lakukan, Jimmy?”


“Aku sempat mendorongnya hingga jatuh ke aspal. Aku juga hampir mencekiknya.”


“Ya ampun! Cepat minta maaf.”


“Iya ini juga sedang kulakukan, Jhony!” Jimmy sedikit memajukan bibirnya. Ia malu malu menyodorkan


tangannya pada Mary. “..Maafkan aku.”


Mary menyambut tangan Jimmy. Ia tetap diam saja. Kemudian suasana hening menyelimuti ruangan itu. Jhony menunggu Mary bicara. Namun Mary tetap konsisten mengunci mulutnya.


“Oke.. baiklah..” Jhony mengacak rambut Mary pelan. Ia juga melepas jepit rambut itu. “Apapun itu, aku


menghargai alasanmu.” Jhony menggenggam tangan Mary. Ia membuka telapak tangannya dan meletakkan jepit rambut itu diatasnya. “Namun kau tidak bisa seperti ini selamanya, kan?”


“I..iya.”


“Hei Jimmy. Jaga dia,” Jhony memundurkan badannya untuk menatap Jimmy yang duduk di kanan Mary. “Kau


kan temannya,”

__ADS_1


“Apa? Tidak! Kami bahkan tidak sedekat itu disekolah!”


“Aku juga tidak ingin dijaga olehmu!” Mary menyambar tolakan Jimmy. “Jhony..” Mary kini menatap Jhony. Sorot matanya sudah beda. Lebih tegas. “Dengar, Jhony. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menipu kalian. Tapi biarkan aku disini lebih lama lagi, aku punya alasan yang jelas untuk itu. Aku akan pergi. Pasti. Namun jangan memintaku pergi. Aku akan pergi sendiri. Ya?”


__ADS_2