The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
23


__ADS_3


Seminggu sudah Mary menjalani hari-hari sialnya. Ia semakin sering terluka. Mary juga takut untuk sekedar memejamkan mata dan tidur. Bahkan Mary baru saja mengganti plester luka di lututnya karena tadi pagi ada pesepeda yang menabraknya sehingga membuat Mary tersungkur di aspal yang kasar.


Lingkaran hitam dibawah mata Mary terlihat jelas. Pancaran matanya juga tak secerah dulu. Langkahnya


yang selalu lemah membuatnya tidak dapat bergerak lincah.


GREEEK..


Mary membuka pelan pintu staff yang terdapat beberapa meja dengan fasilitas komputer disana. Sudah


hampir menjadi rutinitas Mary untuk selaku mengecek fansite miliknya. Mary tersenyum kecil kala mengetahui bahwa fansitenya sudah memiliki banyak pengunjung. Ia juga telah menginformasikan ke beberapa penggemar bahwa ia akan ‘mewariskan’ fansite itu pada penggemar BEYOND sebelum ia ‘pergi’.


Mary mematikan komputer itu. Ia berjalan lemas menuju ambang pintu.


WUSS..


Rambut Mary sedikit berkibar karena angin yang tiba-tiba datang di ruangan tertutup itu. Ia baru saja berjalan dan menembus sesuatu. Mary menoleh untuk memastikannya. Itu adalah sang Pencabut Nyawa.


“Kau tampak buruk sekali,” Komentarnya. Membuat mood Mary semakin turun.


“Terserah.” Jawab Mary singkat dan lemas. “Fans BEYOND semakin banyak. Mereka sudah sukses.


Berhentilah menyiksaku..” Lanjutnya dengan kedipan mata yang ia lakukan perlahan.


“Benarkah?” Tanyanya dengan nada datar. “’Sukses’ seperti apa yang kau maksud?” Ia sedikit melepaskan tawanya.


“Ck. Dengar,” Mary tidak menghiraukan pertanyaan sang Pencabut Nyawa. Ia kini menatapnya dengan tatapan lemas. “Aku akan hidup kembali dengan menyelesaikan ‘misi’ konyol ini. aku bahkan sudah merencanakan apa yang akan kulakukan. Aku akan berhenti jadi manager BEYOND dan mulai melanjutkan bakat seniku. Haha. Bagaimana?”


Sang Pencabut Nyawa tersenyum lebar tanpa menunjukan giginya. “Kau bahkan sudah memiliki rencana.


Wah… Kau yakin ‘misi’ mu akan berhasil?”


“Kau meremehkanku? Fans BEYOND…”


“Mario?” Suara Victor terdengar. Ia memegangi gagang pintu yang baru saja ia buka. “Kau berbicara dengan siapa?”


“Ha?” Mary berbalik dan berjalan mendekat. “Ah.. tidak.. bicara sendiri..”Sangkalnya. “Bagaimana? Hari


ini kau ada jadwal apa?”


“Kan kau yang memegang datanya, makanya aku ingin bertanya.”


“Ah iya ya..” Mary menepuk dahinya dan berjalan mendekati Victor. “Kuletakkan dimana ya?” Ia bertanya pada diri sendiri dan menggaruk kepalanya.


“Akhir-akhir ini kau tidak fokus, Mario.” Komentar Victor sambil menggelengkan kepalanya. “Kau juga nampak lelah. Ada apa?”


DDDRRRDD


Getaran ponsel Mary membuatnya tak sempat menjawab pertanyaan Victor. Mary mengangkat panggilan


dari Sejin. Sejin barusaja memberitahu Mary untuk segera datang ke stasiun TV karena ia sudah disana. Seorang produser reality show telah membaca proposal mereka dan ingin mendiskusikan reality show pertama untuk BEYOND. Mary tentu senang mendengarnya, ia sudah tidak sabar menunju ke stasiun TV untuk mendengar kabar baik! Namun badan lemas Mary membuatnya tidak dapat meloncat senang atau mengeluarkan nada tinggi tanda ia gembira. Mary kemudian mematikan ponselnya.


Kakinya melangkah maju. Tangannya berada diatas tangan Victor yang masih menggenggam gagang pintu.


Tiba-tiba kaki Mary terasa lemas dan tak mampu menopang tubuhnya. Mary terjatuh dan tak sadarkan diri.


“Mario!” Victor kaget pada Mary yang tiba-tiba jatuh dan menimpa badannya.


++++++++++++++++++++


Seisi ruangan sangat hening. Member BEYOND menatap Mary yang terbaring lemah di ranjang rumah sakitnya. Hope tak berhenti menggigit kukunya. Victor membasahi bibirnya sambil menggenggam tangan basahnya.

__ADS_1


Mary membuka matanya perlahan. Cahaya terang dari lampu kamar rumah sakit itu langsung mengganggu matanya. Sesosok wajah perlahan mendekat ke wajah Mary. Itu Jhony, wajah yang tampak begitu khawatir dengannya. Mary masih mengeryitkan dahinya. Dengan pandangan yang masih buram, ia mencoba melihat siapa yang berdiri tepat dibelakang Jhony.


“Mary?” Mata Jimmy membulat. Rupanya ia yang berdiri di belakang Jhony.


Jhony memegang pundak Mary dengan penuh rasa khawatir. Ia berdiri tepat di samping ranjang Mary, sedangkan Jimmy menempelkan badannya pada punggung Jhony.


“Kau tak apa?” Suara itu membuat Mary mengarahkan kepalanya ke kanan. Agust menyaku tangannya dan


menatap Mary. Kini pandangan `Mary sudah jelas. Ia menatap Jhony, Jimmy dan Agust di dekatnya.


Mary menggerakkan badannya agar dapat melihat siapa yang berdiri jauh dari ranjang. Tangannya berusaha menopang badannya.


“Tidur saja dulu,” Saran Jhony sambil menyentuh mundur pundak Mary agar ia tetap di posisi berbaring


lagi. Badan Mary yang masih lemah itu setuju dengan saran Jhony. Ia menidurkan badannya. Ia melihat infus yang tertancap di punggung tangan. Seketika itu juga pandangan Mary langsung tertuju pada lengan bajunya.


“Seragam pasien?”  Pikirnya. Ia mengecek lagi apa yang dikenakannya. Mary melihat lengan kanan dan kirinya, melihat ke dalam selimut, lalu memandang Jhony dengan panik. Petugas rumah sakit telah mengganti bajunya. Tatapan Mary yang penuh tanya itu hanya dijawab anggukan oleh Jhony.


“Mereka semua sudah mengetahuinya!” Serunya dalam hati. Mary lalu terduduk cepat dari kasurnya. Walaupun pandangannya masih oleng, Mary berusaha menatap ekspresi anggota BEYOND yang kini telah mengetahui identitas asli Mary.


Mata Mary membesar menatap Hope, Justin, Victor dan Jay yang berdiri agak jauh dari ranjang. Tatapan canggung mereka membuat Mary semakin paham dan dapat mengartikannya.


“Ka...kau baik-baik saja, Ma…Mary?” Victor membuka suara. Kata-katanya sedikit terbata-bata


Victor kemudian melirik Jimmy yang melotot menatapnya sambil mengatupkan mulut seakan meminta Victor


untuk diam saja dan jangan menyebutkan nama asli Mary. Jimmy menganggap Victor tidak peka dan memperburuk suasana.


Victor segera menutup mulutnya setelah mendapat pelototan tajam Jimmy. Mary yang tak sanggup menjawab


kemudian mengganti pandangan matanya ke Justin, anggota BEYOND yang selalu bersamanya. Ia tampak paling shock melihat Mary. Mata besarnya membulat dengan mulut sedikit menganga.


Mary malu dengan keadaannya. Ia malu karena identitasnya ketahuan. Pikiran liarnya mulai masuk ke otaknya. Ia juga takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Baik masa depannya dengan BEYOND, maupun dengan nasib ‘misi’nya.


dan sedikit berair. “ck..” Ia berdecak.


Jimmy lalu meminta Jhony untuk mundur perlahan agar ia dapat mendekati telinga Mary dan berbisik,


“Tenang saja, hanya BEYOND yang tahu,” bisiknya, berharap Mary sedikit tenang dengan fakta bahwa managernya, Sejin, belum mengetahui identitas Mary yang sesungguhnya.


Mary tetap terdiam dibalik selimut tipis milik rumah sakit itu, Jhony mengarahkan BEYOND untuk keluar kamar karena sepertinya Mary membutuhkan waktu untuk sendiri.


Member yang berada jauh dari ranjang Mary –Justin- mengangguk dan keluar terlebih dahulu.


“Aku akan berada diluar,” Kata Agust pelan sambil menyentuh badan Mary yang tak terlihat karena tertutup


oleh selimut.


“Tidak perlu,” Mary menjawab lemas dibawah tutupan selimut itu. Suaranya sedikit bergetar. “Pulanglah. Aku ingin sendiri,”


++++++++++++++++++++


Mary memastikan seorang suster yang baru memeriksanya dan mencabut infus di tangannya adalah suster


terakhir yang ia temui malam ini. Mary kemudian menarik lagi selimutnya. Ia terdiam dibawah selimut yang menghangatkannya itu. Sudah hampir satu jam Mary masih betah dengan posisinya.


Mary menangis sendiri. Ia memang tidak meminta ditemani. BEYOND pasti juga terlalu sibuk untuk mengintrogasi Mary. Mary berharap Jhony dapat menenangkan member BEYOND yang sudah pasti dikerumuni oleh berbagai pertanyaan.


“Bagaimana ini?” Kepanikan Mary tidak dapat dihentikan. Pikiran liar itu ikut menjadi semakin parah. “Mereka semua sudah tau aku wanita. Apa yang mereka pikirkan tentang aku nantinya? Mereka pasti membenciku. Mereka pasti mengira aku adalah penipu atau wanita mesum dan aneh yang mengikuti para lelaki dengan menyamar sebagai manajer!”


“Justin tadi terlihat sangat shock.. dia pasti kecewa denganku. Bagaimana jika kabar ini sampai ke Sejin? Aku tau aku memang tidak bisa selamanya menjadi ‘Mario’ dan hidup mengelilingi BEYOND, tapi bagaimana ini? Misiku belum selesai!”


Air mata Mary sudah keluar diiringi sesenggukan panik.

__ADS_1


“Bodoh, Mary! Dasar bodoh! Kenapa harus ketauan sekarang?! Kenapa?!”


Mary kemudian menata nafasnya, ia juga mengusap air matanya dengan lengannya. Mary membuka selimut


yang sedari tadi menemaninya. Ia turun dari ranjang sambil berjalan lemah menuju lemari kayu dipojok ruangan. Tangannya mengambil baju yang sudah dilipat rapi. Mary mengganti pakian rumah sakit dengan baju yang ia kenakan saat pingsan. Mary juga melihat perban panjang yang biasa ia gunakan untuk melilit


dadanya.


“Hhhh…” Mata Mary memandangi perban yang dipegang oleh tangan kanannya. “Betapa memalukannya…”


Mary berkata lirih. “Kau bodoh, Mary.”


BRAK!


Mary tak sadar membanting pintu lemari itu. Kejadian hari ini membuatnya cukup malu untuk bertemu BEYOND lagi. Mary juga terlalu takut untuk berada di sisi BEYOND meskipun ia tau mereka akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


“Bodoh..” Air mata itu datang lagi. Kali ini diiringi oleh makian. “Kau bodoh, Mary..”


Mary kemudian berbalik badan. Ia dikagetkan dengan sosok Jay dihadapannya. Kepanikannya membuat Mary


tidak sadar Jay telah memasuki ruangan.


Mary menatapnya dalam. Rasanya tangisannya akan semakin meluap. Jay juga merupakan anggota BEYOND yang dekat dengannya, Jay merupakan tempat Mary bercerita segala hal, Jay selalu mendengarkan Mary yang seakan memiliki segudang keluhan dengan Sejin, Jay juga yang membantu Mary dalam mengatasi Justin yang sedang puber, ia juga yang mengajari Mary membuat kue kering untuk Agust, dan tentu masih banyak kenangan-kenangan bersama Jay. Kenangan itu seakan muncul satu persatu di otak Mary seakan menghalanginya untuk pergi meninggalkan BEYOND.


“Agust dan Jhony masih di luar,” Jay berkata pelan. Jay yang sedang memandang Mary –yang sudah tidak mengenakan pakaian rumah sakit, mengerti apa yang hendak dilakukan Mary.


Mary tertunduk. Ia juga sedikit tersentuh pada teman-teman yang masih menunggunya diluar. “Maaf..” Mary


berkata sangat pelan. Ia mengusap air matanya dan mencoba menghentikannya.


“Kau ingin pergi?” Jay bernada lembut.


Mary hanya menjawab dengan anggukan. Mary tidak berani menatap Jay. Ia terus menunduk. Akhirnya Jay


menggeserkan badannya yang berdiri di depan pintu itu agar mempermudah jalan Mary untuk pergi.


GREEEK


Mary membuka pintu kamar dengan perlahan. Ia melirik dua orang yang tertidur di kursi depan kamar Mary.


Tanpa memperdulikan Agust dan Jhony yang tampak lelap, Mary belari sekencang kencangnya.


DRAP DRAP DRAP


Langkah berisiknya membuat siapapun yang berpapasan dengan Mary mengeryitkan dahi. Mary tidak


menghiraukan tatapan mengganggu yang ditujukan untuknya. Ia hanya ingin segera keluar dari rumah sakit ini. Ia hanya ingin menjauh dari BEYOND.


“Sial! Misi ini tak akan pernah berakhir!” Suara hati Mary berseru keras. Kakinya sudah membawanya jauh dari rumah sakit ini. Ia masih berlari. Bahkan semakin kencang hingga membuat angin malam yang dingin tak


terasa lagi.


“Aku bahkan tidak mengerti arti ‘sukses’ untuk BEYOND!” Mary berteriak sendiri di taman yang ia lewati. Ia bagai gadis mabuk. Mary sedikit bersyukur karena taman ini sepi. Semoga saja tidak ada orang tua yang tiba-tiba datang mengusirnya, geng liar yang menyeramkan, maupun polisi yang siap menangkapnya karena ia dikira mabuk berat.


“Argh! Persetan dengan misi ini!!” Mary mengacak-acak rambutnya dengan hentakan kaki yang hebat. “Aku


sudah melakukan semuanya! Aku menyarankan ini dan itu! Tapi apa sekarang?! Debut kan sudah menjadi mimpi mereka! Aku harus membuat mereka ‘sukses’ atau ‘bahagia’ yang seperti apa?!!” Mary menatap langit malam gelap tanpa bintang. Tangannya mengacungkan telunjuk kesana. “Mengapa kau membuatku seperti ini? Mengapa melibatkanku?”



+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++


“Aku melihatmu pergi. Aku melepasmu pergi. Kau terlihat begitu hancur dan tertekan. Maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa membantumu. Tidak. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantumu. Aku begitu bergantung padamu. Aku telah melihat kerja keras dan pengorbananmu. Namun jika ini merupakan akhir dari segalanya, apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku hanya berharap yang terbaik untuk BEYOND, dan dirimu,”

__ADS_1


__ADS_2