![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Mary dan Jay berbincang-bincang di pantry. Mary meneguk segelas air dingin saat Jay membuka pembicaraan, “Justin habis berkelahi?” Tanyanya. “pipinya membiru.”
“Yap.” Mary menyeka mulutnya dan menatap Jay. “Teman disekolahnya mengatakan hal buruk padanya.
Justin membalas dengan perkataan buruk juga. Hal itu membuat temannya marah dan memukul Justin,” Mary menjelaskan apa yang Justin ceritakan kemarin.
“Waah..” Jay mengeryitkan dahinya seolah membayangkan apa yang terjadi.
“Kau tahu? Justin tidak membalasnya. Mereka tidak saling pukul,” Mary menyilangkan tangannya di depan
dada sambil tersenyum bangga. “Anak itu tau kalau berkelahi akan merugikannya dalam proses debutnya nanti. Aku tidak tahu ia punya sisi dewasa seperti itu.”
Jay menatap Mary. Ia terdiam dan diakhiri oleh senyuman.
“Oh,” Agust tiba tiba datang ke pantry dan membuka kulkas kecil disebelah Mary. “sedang apa?” Agust memunggungi mereka dan meneguk segelas air dingin.
Mary menunggu Agust menutup pintu kulkasnya untuk menjawab. Namun jawabannya terpotong oleh
pertanyaan Agust lagi, “Justin berkelahi ya?”
“Iya, temannya memukulnya,” jawab Mary. Sebenarnya ia ingin melanjutkan ceritanya. Namun Agust
kini memandangnya dengan kedua tangan disilangkan di depan dadanya.
“Kau awasi dia dengan benar.” Ujarnya. “dia sedang masa pubertas. Jadi emosinya labil.”
Mary belum sempat menjawab ‘iya’, Agust sudah keluar dari tempat itu seenaknya. Jay pun
membuntutinya dari belakang berharap Agust berhenti dan menunggunya
++++++++++++++++++++
Mary mencatat semua yang Sejin bicarakan. Hari itu adalah hari meeting untuk seluruh tim yang akan
membantu proses pembuatan MV (Music Video) untuk debut BEYOND. Disana juga ada tim kostum, make up, tata panggung, iklan, sosial media dan banyak lagi. Mereka mulai membicarakan konsep MV dengan sang
sutradara yang melakukan presentasi di depan. Di tengah rapat, Mary yang duduk bersebelahan dengan Sejin mencondongkan badannya agar berdekatan dengan Sejin.
Mary berbisik padanya, “Bagaimana dengan kegiatan promosi yang dilakukan? Kita juga perlu memiliki masternim seperti idol-idol lain, kan?” tanyanya pelan.
Sejin seperti terganggu konsentrasinya dengan pertanyaan Mary, “Kau tidak usah pikirkan itu. Itu bukan
bagianmu.” Jawabnya singkat dan kembali memfokuskan pandangan ke arah layar LCD. Mary sedikit mengerucutkan bibirnya.
Rapat kedua kali ini dihadiri oleh sang produser yaitu, PD Bane, serta sang sutradara MV, seluruh
anggota BEYOND dan tentu Sejin sebagai pemimpin rapat. Sejin menjelaskan mengenai keseluruhan yang akan dilakukan dari mulai pembuatan hingga hasil akhir dan aktivitas setelah MV rilis. BEYOND terlihat antusias dan sedikit gugup pada rapat kali ini. Namun sebuah ketukan pintu mengganggu mereka. Pintu
pun terbuka. Itu Mary. Ia datang dengan membawa dua tas jinjing yang sangat besar. Mary melepas tas di kanan kirinya hingga tas itu membuat suara seperti barang jatuh. Itu adalah tas yang berisi kostum BEYOND yang akan mereka gunakan. Sejin memerintahkan Mary untuk membantu mengangkatkan tas itu karena
__ADS_1
tim kostum hanya dua dan keduanya wanita. Ingin rasanya Mary berteriak, “Aku juga wanita!” pada wajah Sejin.
Sejin mengeryitkan dahi menatap Mary yang tiba-tiba datang dan menarik perhatian, keringat di dahi Mary
membuat rambutnya sedikit basah. “Hei! Mengapa dibawa kemari?!” Ia meninggikan suaranya. “Letakkan di ruang dance sana!” Perintah Sejin sambil membentuk gesture mengusir pada Mary.
“Biar kubantu,” Jhony berdiri dari kursinya.
“Hei, hei, leader!” Seru Sejin. “Biarkan saja dia. Ini lebih penting”
Jhony kembali duduk. Ia melirik ke arah Mary yang menutup pintu dan mengangkat tas berat itu.
BRUK!
Mary akhirnya sampai di ruang dance dan melepas genggamannya pasa kedua tas berat itu. Tim kostum belum datang, mereka masih mengurus surat-surat mengenai pembelian maupun peminjaman kostum-kostum itu.
Mary terduduk. Ia meluruskan kakinya sambil mengatur nafasnya. Tiba-tiba Jay masuk. Sepertinya rapat sudah selesai.
“Wooo! Ini kostum kita ya!” Ia terlihat antusias.
“Yey yey!” Sorak sorai Hope mengikuti dibelakang. Hope langsung membuka resleting kedua tas itu.
Jimmy dan Victor mendekat. Ia juga melihat apa yang ada di dalam tas seolah isi tas itu adalah
harta karun.
“Yang lain kemana?” Tanya Mary.
“Ah iya. Aku juga harus kesana!” Seru Jay. Ia lalu bergegas menuju studio.
Tak ada yang menghiraukan Mary yang duduk dan meluruskan kaki karena kelelahan. Hope, Jimmy dan Victor
asyik sendiri dengan kostum MV debutnya. Victor tiba-tiba berkata ingin mencoba kostum-kostum itu. Ia pun membuka bajunya, lalu diikuti kedua member lainnya.
Mata Mary terbelalak. “Kenapa tiga pria ini tiba-tiba membuka baju?!” Mary mencoba melihat ke arah lain. Namun tidak bisa, itu adalah ruang dance yang dipenuhi kaca. Mary merasa canggung. Namun ia juga penasaran bagaimana bentuk tubuh pria-pria ini. Mary melirik sedikit.
++++++++++++++++++++
Mary akhirnya dapat merebahkan badan di kasur rumahnya. Sejin memberitahunya bahwa ia akan sibuk
dalam beberapa hari dan mungkin saja ia akan tidur atau mandi di kantor. Sejin menyuruh Mary untuk mengambil beberapa barang dan istirahat sebentar di rumah.
Mary menatap langit-lagit kamarnya lagi. Ia berfikir. Apa yang ia lakukan sekarang sudah benar? Apakah ia
bisa menyelesaikan misi itu? Bagaimana jika tidak? Apa yang akan terjadi? Jika ia berhasil pun, sampai kapan ia mau menjadi Mario? Mary memejamkan matanya sebentar berharap saat ia membukanya semua adalah mimpi. Tentu itu akan menjadi mimpi yang panjang sekali.
DDRRRRRDD…..
Ponsel Mary berbunyi. Tidak ia sangka panggilan pertama di ponsel barunya datang dari Hope. Ia ingat, Hope
__ADS_1
adalah satu-satunya member yang tidak pulang ke rumahnya. Hope berkata bahwa ia kesepian di apartment. Ia ingin mengunjungi apartement milik Mary.
“Ha?!” Pekik Mary dalam hati. Yang benar saja. Seluruh kamarnya berisi barang-barang wanita. Mary tidak sempat membersihkannya sekarang. Dan ia juga sedang tidak mau! Mary menolak karena ia ingin istirahat sebelum memulai aktivitas sibuk kedapannya. Namun, jawaban Mary sepertinya membuat Hope kecewa.
“Ba..bagaimana kalau kita makan malam bersama saja?” Mary mengusulkan ide yang disetujui oleh Hope. Hope yang terdengar riang itu lalu menutup ponselnya. Mary mulai mengepak beberapa keperluan pribadinya termasuk keperluan menyamarnya. Saat ia menarik laci mejanya, tak sengaja kalendar kecil di mejanya jatuh. Mary mengambilnya sambil melihat hari-hari yang tersisa sebelum kematiannya. Ia kini sadar. Ia harus segera membantu BEYOND untuk meraih kesuksesannya. Misi itu sepertinya benar-benar ada.
Setelah selesai mengepak semua keperluan, Mary meninggalkan tasnya di apartmentnya dan bergegas menuju lokasi dimana ia dan Hope akan bertemu. Mereka bertemu di sebuah rumah makan kecil. Hope melambaikan tangannya pada Mary. Ia terlihat senang sekali. Sudah terdapat salah satu jenis alcohol pada meja mereka.
“Sebaiknya kita tidak minum, kau akan lelah esok hari,” saran Mary.
“Ah.. sedikit saja..” Hope menurunkan alisnya membuat Mary iba. Akhirnya Hope lah yang meminum alcohol itu. Mary tak menyentuhnya sedikitpun karena tau akibat yang ditibulkan.
“Aaaa~” Hope mulai mabuk. Mukanya merah dan matanya tidak fokus. “Mario Mariooo..” Hope menepuk punggung Mario. Mary menyuruhnya memelankan suara. Hope lalu duduk tegak dan menatapnya, lengkap dengan kedua tangannya yang memegang pipi Mary.
“Kau tau? Harus kuakui wajahmu memang familiar..” ia tersenyum. “Maksudku…. Si Jimmy itu memang sok kenal padamu! Padahal aku lah yang pernah bertemu denganmu sebelumnya!”Hope memukul dadanya.
Menjauhkan wajahnya dari wajah Mary.
“Hah? Kapan?” Tanya Mary pada pria mabuk ini.
“Kau mirip dengannya. Dengan gadis itu!”
“Siapa?”
“Ada….gadis… gadis itu pernah menyelamatkanku saat aku mau jatuh ke sungai!” Serunya dengan mata
setengah terpejam. “ia miriiiiiip sepertimuu…”
Mary kaget. “Apakah ia pria yang membuatku jatuh ke sungai?!” Ingin rasanya Mary melabraknya sekarang, namun dilihat dari kondisinya tentu tidak mungkin ia mengeluarkan apa yang ia tahan selama
beberapa hari ini.
“Jatuh ke sungai? Apa yang kau lakukan hingga jatuh ke sungai?” Mary hanya bisa mengeluarkan
pertanyaan itu.
Hope tertawa pilu. Itu menunduk. “Waktu itu aku lagi kacau…” kepalanya terjatuh ke meja. “semua terasa
begitu beraat…haha..waktu itu, sekarang, sama saja..” Hope menjatuhkan kepalanya ke meja hingga terdengar suara benturan. “Ah!” Tiba-tiba ia berseru keras dan melanjutkan kalimatnya sambil menyentuh bahu Mary, “Aku mungkin bisa mengendalikannya…perasaan ini…..tapi Justin tidak, ia masih terlalu muda untuk mengalami ini semua...”
“Ha? Justin”
“Mmm..ck.. dasar bocah,” Ucapnya dengan nada lunglai. Hope kemudian benar-benar berhenti bicara. Ia
tertidur lelap dalam mabuknya.
Mary tertegun melihat Hope yang ceria menjadi terlihat sangat sedih. Ia bahkan waktu itu berpikir untuk bunuh diri. Apa yang terjadi padanya? Apa ada hubungannya dengan Justin? Tapi sebelum itu, Mary harus membawa Hope pergi dari rumah makan itu. Mary bersusah payah membawanya sambil merangkulkan lengan Hope pada bahunya.
__ADS_1
BRUK.
Mary melempar tubuh lemas Hope ke ataskasur. Hope masih tidak sadar. Mary mencoba merapikan posisi tidurnya. Setelah itu ia bergegas memasukan barang-barang ‘feminim’nya ke dalam lemari.