![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Kejadian sore tadi benar-benar membuat Jimmy tidak bisa tidur. “Siapa Mario sebenarnya?” Jimmy terus mengulang pertanyaan itu dalam otaknya. Ia terus mengingat wajah murid yang ada di kelas Mary.
“Ah!”Jimmy terduduk di kasurnya. Ia barusaja mendapat bayangan mengenai siapa Mary. Dan kini bayangan itu terasa jelas karena Jimmy pernah berbicara dengannya sebelumnya.
Saat itu Jimmy baru saja selesai bermain sepak bola dengan teman-temannya dihalaman sekolah. Langit
terlihat semakin sore, sekolah juga mulai sepi. Saat itu memang sudah jam pulang, namun kebanyakan para anggota klub masih berkumpul di sekolah dengan melakukan kegiatannya masing-masing.
Jimmy berkali-kali meneguk air mineral yang ia bawa. Victor sesekali mengecek keadaan Jimmy yang tampak
sesak nafas setelah berlari kesana-kemari, dan Jimmy juga selalu menjawab bahwa ia baik-baik saja, senyum lebarnya membuat pipi besar Jimmy ikut terangkat.
Victor mengambil tasnya yang ia simpan di laci. Tiba-tiba seorang gadis masuk ke kelas mereka tanpa
permisi. Jimmy ingat jelas gadis itu adalah Mary. Gadis itu tanpa basa-basi langsung berdiri dihadapan Victor dan menyilangkan tangannya.
“Sudah kau terima suratnya?” Tanyanya langsung. Angin sore yang masuk melalui celah-celah jendela
membuat rambut panjang Mary berkibar.
“Ya?” Victor menoleh ke kanan dan kiri. “Kau bicara padaku?” Victor balik bertanya. Mary mengangguk
yakin. “Surat apa?”
“Ooh..” Jimmy yang ada di ruangan itu mendekat dan berbisik pada Victor, “Mungkin surat cinta itu..”
“Hey! Kok kau yang tau sih?! Kau ikut membacanya juga ya?!” Seru Mary yang dapat mendengar suara
bisikan Jimmy. “Surat itu kan bukan buatmu!”
“Aku menyuruhnya membacanya. Kenapa?” Victor mengikuti pose Mary, menyilangkan tangannya di depan dada.
“Hah?!” Mary mengeryitkan dahinya. “Surat itu kan untuk Victor, mengapa ia menyuruh Jimmy yang membacanya!” Mary mengamuk dalam hati. “Dia sudah menunggumu di taman belakang sekolah.” Lanjut Mary sambil meredam emosinya.
“Kenapa aku harus kesana?”
“Dia sudah menunggumu dari tadi! Bukankah di suratnya tertulis jam lima. Kenapa kau malah bermain
sepak bola dulu?!”
“Kalau begitu suruh dia pulang. Aku juga akan pulang. Aku lelah.” Victor merangkulkan tali ransel di
pundaknya.
“Hei Vic..” Jimmy berbisik lagi. “Temui sajalah..”
“Permisi, gembul, bisa nggak kau diam saja? Jangan ikut campur.” Mary menatap Jimmy.
__ADS_1
“Apa kau bilang?” Victor melepas tasnya dan membantingnya ke lantai. “Kalau dia gembul kau apa? Pesuruhnya gadis itu? Sadar dong kalau bicara!” Victor mendekatkan diri pada Mary.
“Hah?!”
BUK.
Mary menjotos pipi Victor hingga ia menabrak beberapa tatanan meja dan kursi disana.
“Hei hentikan!!” Jimmy hendak melerai. Ia membantu Victor agar berdiri sempurna.
“Dengar ya,” Mary menata nafasnya. “Mungkin aku memang pesuruhnya, tapi setidaknya aku mencoba membantu temanku sendiri! Dan apa yang kulihat sekarang? Kau hanya orang sombong, kasar dan sok tampan!” Mary lalu membalik badannya. Ia lalu berhenti tepat di pintu kelas. “dan lagi!” Mary menatap Victor penuh emosi. “Kau tidak setampan itu!”
CLICK!
Jimmy menjentikkan jarinya di tengah malam ketika ia berhasil mengingat siapa Mary. Semenjak hari itu, Mary mempunyai kesan jelek dimata Jimmy dan Victor. Namun Jimmy mengerti, Mary hanya ingin membantu seorang gadis pendiam di kelasnya. Setelah Mary keluar dari kelas dengan emosi, Jimmy masih ingat bahwa Victor pergi menemui gadis itu. Victor bersyukur ia menemuinya. Katanya, gadis itu akan berhenti sekolah sejenak dan fokus berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Mengutarakan perasaannya adalah salah satu wish list dari gadis itu.
“Haha.. aku tidak habis pikir..” Jimmy mengacak acak rambutnya dengan tertawa kecil. “Mario adalah Mary, si
gadis seram dari kelas 2-2. Gadis yang dengan beraninya memukul Victor… dan satu-satunya gadis yang berkata bahwa Victor tidak tampan.”
++++++++++++++++++++
Canggung. Kata yang paling bisa mendiskripsikan keadaan Mary dan Jimmy. Jimmy selalu menghindari
Kali ini Jimmy sedang bersama Hope, mereka membicarakan gerakan dance yang dibuat Hope. Jimmy lalu melirik ujung koridor. Terdapat Mary disana. Sendirian. Jimmy ingin membalik badannya, namun Hope malah berlari menghampiri Mary.
“Maariiooo!!!” Hope berlari menuju Mary. Jimmy melihat jelas Hope sedang memeluk Mary.
“Ya ampun! Hope!” Jimmy berseru dalam hati. “Ia tak seharusnya melakukan itu pada wanita!”
Jimmy masih kaku ditempatnya. Ia tidak menghampiri mereka berdua, namun juga tidak pergi meninggalkan mereka. Mulutnya masih terbuka. Ditambah lagi ia melihat Hope kini mengacak-acak rambut
Mary. Kemudian bercanda bersamanya. Ia juga merangkul pundaknya dan membawa Mary berjalan mendekat kearah Jimmy yang mematung.
“Ada apa, Jimmy?” Tanya Hope yang telah memperhatikan tingkah diam Jimmy.
“Eumm…” Jimmy melirik Mary pelan lalu menatap Hope lagi. “Ah tidak.. tidak apa-apa.”
++++++++++++++++++++
Mary melirik jam yang ada di layar ponselnya. Sudah hampir tengah malam, namun semangatnya masih membara. Mary saat ini sedang membuat kue kering ditemani Jay. Mereka meminjam dapur The
Hit yang memang jarang digunakan. Jay hanya berdiri disampingnya sambil memerintah Mary untuk melakukan ini dan itu. Mary akan memberikan kue kering yang bertabur kacang almond diatasnya itu untuk Agust.
“Kurang…aduk lagi…” Komentar Jay yang melihat adonan Mary masih berair.
__ADS_1
“Aah..” Mary menggoyang goyangkan kedua tangannya. “Kok masih encer sih? Kau yang aduk, dong!” Pintanya.
“Enak saja!” Tolak Jay dengan segera. “Kau harus merasakannya. Aduk terus. Nanti juga teksturnya benar.”
Mary memajukan bibirnya. Jay menolak untuk membantu Mary. Jay memang sedari tadi membantu dengan
mulutnya. Perintah-perintahnya membuat Mary harus bergerak kesana-kemari dan melakukan ini dan itu.
Mary menutup pintu oven kecil itu. Ia merapatkan tangannya dan berdoa semoga hasilnya bagus.
“Untuk Agust?” Tanya Jay tiba-tiba.
“Ha? Da..dari mana kau tahu?”
“Lah. Dia kan guru pianomu. Ini sebagai tanda terimakasih, ‘kan?” Terang Jay. Mary baru saja salah tangkap. Ia mengira Jay tau perasaan Mary terhadap Agust.
“Oh iya. Iya. Benar. Hehe..”
TING!
Mary bertepuk tangan heboh melihat kuenya yang sudah jadi. Ia menawarkan pada Jay untuk mencobanya,
namun Jay menolak dengan alasan tidak suka makanan manis. Mary lalu membungkus semua kue itu ke plastik berwarna transparant dengan gambar-gambar bernuansa pink dan menghiasnya lagi dengan pita pink.
Mary berjalan sambil bersenandung dengan kuenya yang sudah ada di dalam tas. Ia menuju ke tempat
Agust berada. Mary mencoba ke studio, namun tidak ada Agust disana. Saat ia ke ruang piano pun Agust juga tidak disana.
“Hei,” Sebuah tangan hangat menepuk bahunya dari belakang.
“Aduh! Kaget aku!” Mary menoleh dengan spontan. Sosok itu membuatnya otomatis tersenyum lebar. “Agust?”
“Mencariku?” Tanyanya datar sambil matanya sibuk dengan lembar-lembar kertas di tangannya. Sepertinya
itu kertas lirik.
“Ah..tidak. Eh, iya..” Mary terbata-bata. “Ngomong-ngomong… kau suka makanan manis tidak?”
“Ha? Kok tiba-tiba?”
“Tidak.. hanya saja aku..”
“Dari pada memikirkan hal itu, lebih baik kau pikirkan lagu buatanmu.” Agust menurunkan lengannya dan menatap Mary. “Bagaimana? Sudah sampai mana?”
Mulut Mary seakan tidak bisa menutup. Ia kecewa dengan jawaban Agust yang tampak tidak antusias dengan
pertanyaan Mary. Semua yang dibahas Agust memang tentang pekerjaan. Mereka tidak pernah membahas selain itu. Obrolan mereka tidak pernah santai dan keluar dari topik musik. Mary hanya membuang nafas beratnya.
__ADS_1