![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
“Hari ini merupakan hari yang melelahkan, namun, ajaibnya kita sudah mulai terbiasa. Inilah kita, BEYOND. Idola yang akan debut sebulan lagi. Aku selalu merasa tidak sabar untuk meraih mimpi kita yang selalu kita bicarakan bersama. Kalian adalah teman-teman yang kusayang. Kalian bagaikan keluarga baru bagiku.
Aku selalu senang melihat senyum lebarmu, Justin, si adik kecilku, aku selalu merasa kau bekerja lebih keras daripada aku, kau pergi ke sekolah tiap pagi, dan berlatih keras di sore harinya hingga tengah malam. Aku yang selalu menjemputmu dan membuatkanmu bekal ikut senang melihatmu tumbuh seperti sekarang.
Lalu Jimmy dan Victor. Kalian mengajariku arti sahabat sejati. Hal yang jarang aku bina. Persahabatan kalian mengajarkanku bahwa aku masih bisa memiliki seseorang yang dapat dipercaya dalam hidupku. Aku mengerti kalian memiliki segudang cerita dan rahasia yang saling kalian ketahui. Namun, aku percaya
kalian dapat mengatasinya, dan suatu hari nanti kalian dapat menceritakannya sambil tersenyum bebas.
Berbicara tentang senyuman tentu mengingatkanku dengan Hope, teman yang memiliki nama yang sama denganku. Aku senang kau memilih nama ‘Hope’ sebagai nama panggungmu, karena nama itu sangat mencerminkan dirimu. Kau adalah harapan. Namun mengapa kau selalu menyembunyikan rasa sakit dan kesepian dengan senyumanmu? Kau membuatku berfikir apakah dengan senyuman kau dapat menyembuhkan lukamu?
Dan kau, Jhony. Leader terbaik yang sangat tidak percaya diri. Kau hebat, kawan. Kau akan selalu menjadi yang terhebat. Mengapa kau selalu dan terlalu mementingkan kepentingan orang lain? Terkadang kita butuh menjadi egois. Aku tau kau akan memimpin BEYOND untuk berjalan menuju puncaknya.
Agust. Sahabatku. Aku selalu percaya dengan kerja kerasmu. Kau akhirnya akan meraih mimpimu. Aku akan selalu mendukungmu. Aku juga berterimakasih dengan semangat yang selalu kau berikan saat aku sedang susah dan letih.
Itu adalah sederet kata yang ingin aku ungkapkan. Masih banyak lagi yang ingin aku utarakan, tapi, dimana aku sekarang? Cahaya terang ini mengelilingiku. Yang aku ingat hanya aku yang sedang berjalan menuju The Hit di sore hari, hingga tiba-tiba aku disini. Dimana ini? Apa aku mati? Bagaimana dengan mimpi kita?
Kita berjanji akan melakukannya bersama-sama, bukan?”
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Mary berlari keluar ruangan. Ia meminta agar ia tidak diikuti oleh siapapun. Langkahnya menuju lift di ujung koridor. Mary memencet keras tombol yang membawanya ke lantai satu. Mary berlari lagi keluar lift dan menuju taman luas yang ada di belakang rumah sakit. Wajahnya yang memerah kini melihat sekeliling untuk memeriksa apakah taman itu sepi pengunjung atau tidak.
“Pencabut Nyawa!!” Serunya keras sambil menyapukan pandangan ke sekeliling –karena sang Pencabut
Nyawa mempunyai kebiasaan datang tiba-tiba. “Dimana kau!! Keluar kau sekarang!!”
__ADS_1
“Hei!!” Mary menatapkan suaranya ke arah langit. “Kau dengar, kan?! Keluar kau sekarang!!”
TAP.
Mary dengan sigap menoleh ke belakang.
“Jay!” Ia kaget melihat kemunculan Jay. Mary berjalan cepat menghampiri Jay. “Jay! Katakan! Bagaimana
bi…” kata-kata Mary terhenti kala tangannya dapat menembus lengan Jay. Ia benar-benar tidak dapat disentuh. “..Jay?”
Jay tersenyum pasrah entah apa artinya. Matanya menunjukan kesedihan, namun senyum kecilnya nampak
membuat wajahnya lebih tegar.
“Jay? Ada apa ini? Mengapa hanya aku yang dapat melihatmu? Ada apa denganmu?” Mary melontarkan
beberapa pertanyaan secara tiba-tiba.
“Kenapa kau harus menunggu? ‘Ia’ tidak memberikan misi padamu?”
Jay menggeleng pelan. “Itu karena aku lebih ‘sekarat’ dibandingkan denganmu. ‘Ia’ memerintahkanku
untuk menemanimu selama kau menyelesaikan misi. Selain itu, takdirku juga tergantung kesuksesan misimu,” Jay tertawa renyah. Mary tidak menemukan hal yang lucu dari perkataan jay. Ia malah mengeryitkan dahinya. “Ah! Dia datang,” Jay menunjuk sosok di belakang Mary.
“Hei!” Mary yang dengan sigap menatap sosok itu segera menghampirinya. “Bunuh saja aku! Kau membuatku
melakukan semua ini! Namun sekarang apa?! Kenapa kau melukai Victor juga! Lebih baik kau membunuhku dari awal dari pada membuatku melihat Victor terluka karena aku!” Ocehnya dengan suara lantang. Mary baru saja menyadari bahwa nasib hidup dan mati Jay bergantung padanya, dan kini Victor juga terluka karenanya.
__ADS_1
“Tapi..” Mary menurunkan emosinya. “Biarkan Jay hidup.” Lanjutnya. Membuat Jay yang berdiri di belakangnya tersentuh hatinya. “Aku mengerti sekarang. BEYOND ingin debut bersama-sama dengan Jay disisi mereka. Mereka adalah satu. Debut bersama merupakan ‘sukses’ yang mereka inginkan. Tidak masalah dengan apa yang terjadi setelah debut, asal mereka dapat berlatih bersama, itu merupakan ‘kebahagiaan’ tersendiri bagi mereka.” Jelas Mary tegas. Kejadian hari ini membuatnya menemukan kesuksesan yang BEYOND cari selama ini.
Sang pencabut Nyawa menarik ujung bibirnya seperti biasa. Ia menyimak celotehan Mary. Suasana malam
di sekitar mereka sangat hening. Rupanya Pencabut Nyawa telah menghentikan waktu mulai dari saat dia datang. Ia mengeluarkan tangannya yang sedari tadi bersembunyi di dalam saku celananya.
“Yaah…” Pencabut Nyawa berjalan mendekati Mary. “Kurasa sekarang saatnya,”
“Baiklah.” Mary menyetujui perkataan sang Pencabut nyawa. Ia berusaha tegar dan berlagak sudah siap untuk menerima takdir yang akan dihadapinya. “Aku tidak butuh sisa 12 hari itu. Lakukan apa yang kau mau. ‘Toh aku sudah melakukan yang terbaik untuk BEYOND.”
“Oke. Karena aku belum melihat BEYOND terkenal, aku rasa misimu gagal.” Ucapnya enteng. Mary hanya
menahan air matanya. “Tapi terimakasih telah membantu BEYOND hingga tidak ada yang berfikir untuk bunuh diri lagi. Kau juga membantu mengatasi beberapa masalah pribadi mereka. Dan oh ya, selamat karena sudah menemukan mimpimu.”
“Yah itu sudah tidak ada artinya. Karena sebentar lagi aku akan mati.”
Tidak disangka sang Pencabut Nyawa bisa tertawa terkekeh seperti itu setelah mendengar ucapan terakhir Mary. “Tapi ‘Langit’ ingin memberikan penghargaan padamu,”
Tiba-tiba angin besar berhembus keras. Mary melihat sekeliling. Tidak ada yang berubah. Gerakan orang-orang yang nampak dari jendela rumah sakit masih terdiam. Yang bergerak hanya dedaunan yang disapu angin kencang yang kini menuju ke arah Mary. Mary melihat lengannya semakin memudar. Ia menatap Jay. “Sampai jumpa,” ucapnya pelan berharap Jay mendengarnya. Mary mendengar Jay meneriakkan ‘terima kasih’
pada Mary. Angin yang semakin kencang itu menutupi pandangan Mary, ia melihat cahaya terang diujung taman. Cahaya itu perlahan mendekat. Silau. Membuat Mary harus menutup matanya.
++++++++++++++++++++
“Dear
__ADS_1
God,
Sekarang apa yang harus kulalui? Mengapa begitu susah untuk ‘hidup’? Mengapa Kau membuatku melalui semua ini? Aku akhirnya menemukan sahabat, keluarga, cinta, mimpi. Hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sekarang begitu cepatnya aku harus merelakannya? Ini adalah pertama kalinya aku merasa ingin sekali hidup. Masih ada begitu banyak hal yang ingin kekatakan pada mereka. Aku masih ingin menjadi bagian dari mereka. Apakah aku benar-benar tidak dapat mewujudkannya?”