The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
19


__ADS_3

Mary terbangun di kamarnya. Tidurnya tidak lelap. Ia menyibakkan gorden serta membuka jendela. Hari masih pagi. Hembusan angin dari jendela kamar Mary membuat kalendar yang berdiri rapi diatas meja telungkup jatuh.


Mary mengambilnya dan tak sengaja menatap tanggal di kalendar itu. Ia membalik kalendernya untuk melihat


bulan selanjutnya dimana Mary harus sudah menyelesaikan misinya. Bulan dimana sang Pencabut Nyawa memutuskan nasibnya.


WUSSS….


Angin kencang berhembus lagi memberantakkan rambut cepaknya. Mary terkejut saat menyadari bahwa itu


adalah pertanda kedatangan Nya.


“Pe..Pencabut Nyawa?” Mary mengucek matanya. Ia tak dapat melihat jelas wajah sang Pencabut Nyawa.


Poni panjang nya menutupi raut wajahnya yang tampak suram. Sosoknya yang tinggi membuat Mary mengangkat dagunya lebih tinggi dibanding saat menatap Jhony.


“Sudah kau hitung waktumu?” Ia mengeluarkan suara. Suara berat yang sudah lama tidak ia dengar. Suara itu selalu membuatnya menyadari bahwa waktunya hampir habis.


“Tu..tunggu dulu! Lihat ini,” Mary menunjuk salah satu tanggal. “BEYOND akan segera debut di stasiun


TV! Setelah itu mereka pasti sukses. Ini langkah awal mereka!” Serunya bersemangat.


Sosok tinggi itu terdiam. Ia menyaku kedua tangannya. “Berhati hatilah.” Lanjutnya. “Kau akan mulai menjalani hari-hari yang buruk, bahkan sial, jika kau tidak kunjung membuat kemajuan tentang BEYOND. Hari-hari buruk itu akan terus berlanjut hingga hari dimana aku akan mengecek keberhasilan misimu tiba.”


Sang Pencabut Nyawa hilang begitu saja saat ia telah selesai menakut-nakuti Mary. Kaki Mary kini lemas. Ia kemudian terduduk. Ia masih bingung mengolah informasi dari sang Pencabut Nyawa.


“Hari sial?”


DRRRDD…


Getar ponsel Mary mengagetkannya. Ia merangkak menuju kasur dan merebahkan di atasnya sambil mengangkat panggilan.


“Halo?”


++++++++++++++++++++


Mary turun dari sebuah bus dengan penumpang tak banyak. Panggilan yang berasal dari hacker yang ia


temui itu membawanya ke pedesaan kecil di pinggir kota. Ia menepuk nepuk bajunya yang dirasa bau amis ikan dan darah sapi menjadi satu. Hampir seluruh penumpang bus tadi membawa barang belanjaannya di sebuah keranjang besar. Mary hanya bisa bernafas kecil untuk menghurangi hirupan udara yang bercampur aduk di dalam bus.


Mary kini benar-benar sendiri. Ia membiarkan Jimmy, yang akhir-akhir ini selalu bersamanya, berlatih


untuk penampilan debut stage besok hari. Suasana yang masih cukup pagi itu membuat Mary berhadapan dengan para petani yang sudah siap bekerja.


“Waa!!” Terdengar jeritan seorang anak dan diiringi suara teriakan pria tua. Mary menoleh karena suara


itu berasal dari belakangnya. “Permisiii!! Maafkan aku!!”


BRUK!


Mary berusaha menghindari sepeda tua besar yang dikendarai oleh anak berumur sekitar 10 tahun. Ia hampir


saja menabrak Mary. Kakek dan ayah anak itu mengejarnya dari belakang.


“Maafkan aku, kau tidak apa-apa, anak muda?” Sang kakek membantu Mary berdiri. Mary menggeleng pelan

__ADS_1


sambil tersenyum sopan. Ia melihat sang ayah sudah berhasil menangkap anak laki-lakinya yang nakal itu.


Mary berjalan kembali menyusuri ladang yang luas setelah kejadian tadi. Anak lugu itu meminta maaf


atas tindakannya, sang ayah juga memberinya jus apel sebagai tanda permintaan maaf. Mary dengan senang hati menerimanya dan meminumnya sambil berjalan.


Kemudian Mary berhenti di lokasi dimana si hacker mengatakan bahwa disanalah kakak Victor terakhir kali


menggunakan nomor ponsel itu. Mary melihat kesana kemari. Ia melihat toko kecil dan rumah makan disana. Mary juga menemukan CCTV di setiap tiang yang berjejer di desa itu. Mary kemudian maju beberapa langkah sesuai arahan si hacker di telpon tadi.


Belum sampai di lokasi yang diduga rumah dari Virgo, kakak Victor. Mary sudah dikejutkan dengan wanita


paruh baya yang keluar dari ladang jagung. Ia membawa keranjang besar yang penuh dengan jagung.


“Itu dia! Itu kakak Victor!”


++++++++++++++++++++


“Aaah…” Hope menyandarkan punggungnya pada kursi di ruang studio. Ia baru saja puas setelah membantu


Agust mengedit sebuah lagu yang mereka ciptakan.


“Akhirnya…” Agust ikut menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata.


“Oh iya, kau tak ada kelas piano lagi dengan Mario?” Tanya Hope tiba-tiba.


“Tidak. Dia sedang konsentrasi membuat lagu.” Agust mengucek matanya yang tampak kering karena


telah seharian memandangi layar komputer. “Dia juga sudah mulai mahir bermain piano,”


“Tidak tahu,”


“Wah.. aku jadi penasaran ingin mendengarnya…” Hope bertepuk tangan pelan.


“Akhir-akhir ini kau membicarakannya terus. Kau menyukainya ya?” Ucap Agust datar sambil memejamkan mata.


“Iya.”


“Mmm.. dia memang anak berbakat. Perlu kita dukung,”


“Bukan! Bukan yang seperti itu,” Hope menyibakkan poninya kebelakang.


Agust terdiam sebentar sambil mengulang perkataan Hope dalam hati. Ia lalu tersadar. Agust membuka


mata sepenuhnya dan menatap Hope.


“Aneh ya?” Hope menggaruk kepalanya. “Ku...kurasa aku menyukainya. Bagaimana ini?”


“Tidak mungkin,” Agust menggelengkan kepalanya menatap Hope dalam-dalam.


“Aku tau. Ini aneh! Aku yakin aku normal! Tapi perasaan ini..” Hope memegang dadanya. “Perasaan ini ada


saat Mario ada di dekatku!”


Agust mengubah posisi duduknya. Ia duduk tegak sambil menatap Hope disampingnya. “Dengar. Aku akan

__ADS_1


menghormati setiap perasaan yang kau punya. Tapi kau harus menyadarkan dirimu dulu. Bisa saja perasaanmu itu salah. Bisa saja karena Mario sudah kau anggap seperti adik sendiri,” Agust berusaha meyakinkan Hope bahwa ia tidak ‘menyukai’ sosok Mario.


++++++++++++++++++++



Justin mematikan lagu yang diputar keras menggunakan speaker. Kali ini hanya ada Jhony, Jay, Victor, Jimmy dan Justin diruang dance. Justin bergegas terlentang di tengah ruangan. Aksi itu diikuti Jay yang berbaring di sebelah Justin.


“Kemana Jimmy?” Tanya Jhony pada Victor yang ada disebelahnya. Ia menatap Jimmy yang berjalan keluar


ruangan.


“Ia sedang menerima telpon,” Jawabnya sambil berjalan mendekati Justin. Victor ikut berbaring di samping Justin yang nampak sudah tertidur.


Jhony mengikut gerak-gerik Victor. Ia berbaring disampingnya. “Kau tau, Jimmy terlihat aneh akhir-akhir ini. Apa dia sedang melakukan sesuatu?” Tanyanya pada sahabat dekat Jimmy.


“Entahlah.” Victor memejamkan matanya. “Aku sudah memintanya untuk menghentikan Mario, tapi sepertinya mereka malah lebih akrab,” Gumam Victor. Ia sudah tahu tentang usaha kedua temannya untuk menyelesaikan masalah Victor apapun caranya. Namun Victor memilih diam saja dan berpura-pura tidak tau. Ia tidak ingin bertengkar dengan Mary maupun dengan Jimmy.


“Apa?” Jhony ingin Victor mengulang kalimatnya yang tak jelas di telinganya.


Victor hanya menggelengkan kepalanya. Ia berharap Jhony melupakan saja apa yang ia dengar barusan.


“Hei Vic.”  Jhony ikut memejamkan mata. Namun mulutnya masih bergerak. “Kadang aku berfikir, kapan kau akan membuka hatimu?” Lanjutnya. Lagi-lagi Jhony mengetahui bahwa sebenarnya Victor sedang menghadapi


masalah masalah serius. Jhony bersyukur Jimmy selalu ada untuk Victor, karena hanya pada Jimmy lah Victor nyaman menceritakan masalahnya.


“Maafkan aku,” Victor berucap pelan. Ia masih tidak ingin berbagi ceritanya pada Jhony.


“Tidak apa, ceritakan saja pada Jimmy. Tidak baik memendamnya sendiri,”


“Iya…” Victor membuka matanya pelan. Ia merasa Jhony menyadari bahwa Victor sedang dalam masalah.


“Tapi kau harus tau, Vic. Aku disini untuk mendukungmu, aku akan berdiri bersamamu, aku akan mendengar


semua ceritamu,”


Kalimat Jhony membuat Victor memandangnya. Jhony masih memejamkan mata. Ia melihat sosok pemimpin


grupnya yang peduli padanya, yang menunggunya bercerita, yang nanti akan selalu siap mendengarkan ceritanya.


++++++++++++++++++++


“Apa?!” Sejin berkacak pinggang sambil mengeryitkan dahinya. Suaranya pun ditinggikan.


“Ya? Sekali iniiii saja,” Mary memohon dan mengacungkan tenjuknya. “Ini permintaan terakhirku!” Ia menepuk dadanya. “Setelah itu aku tidak akan meminta yang aneh-aneh lagi.”


“Ck! Baiklah!” Sejin membuang muka. “Tapi ingat! Aku akan menjemputmu dini harinya. Awas kalau Victor sampai sakit dan tidak bisa tampil prima. Dia sudah cukup lelah sekarang!”


“Iya-iya. Terimakasih!” Mary tersenyum senang. “Sekarang mana Victor?”


DRAP DRAP DRAP!!


Suara langkah kaki Mary terdengar hingga ruang dance, ia hampir menabrak Jimmy yang berdiri diambang pintu.


“Vic!” Seru Mary. Membuat seisi ruangan yang tertidur menoleh padanya. “Aku menemukannya!”

__ADS_1


__ADS_2