![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Ruangan itu hening dan gelap bagai tidak ada penghuninya. Mary yang duduk sendirian memang memutuskan tidak bersuara di dalam ruang meeting itu. Ia tidak menyalakan lampu. Kaki nya terlalu lemah untuk itu. Mary terus *** jari jemarinya yang basah. Ia gugup dan semakin gugup.
“Bagaimana ini? Sudah ada dua orang yang tau tentang identitasku..” Resahnya dalam hati. Semenjak kejadian di studio pribadi Jhony itu, Mary tak henti-hentinya memikirkan nasib nya dalam waktu kurang dari dua bulan. Ia melihat kalendar lipat yang ada di meja. Tanggal itu penuh dengan bulatan merah tanda dimana BEYOND akan melakukan debut stage pertamanya di berbagai stasiun TV. “Empat hari lagi…”
Mary kemudian menutup wajahnya dengan kedua kepalanya. “Haduuuuuh…. Waktuku semakin sedikiiit….”
Keluhnya dengan nada agak keras. “Semoga debut stage mereka dapat membawa kesuksesan! Semoga mereka mendapat job lain setelah ini! Aku harus terus membabtu Sejin dan tim iklan!” Mary menyemangati dirinya dalam hati. “Haduuuuh…”
GREK!
“Aduh! Kaget!” Badan Mary sedikit memantul mendengar suara pintu yang tiba-tiba dibuka.
Si pembuka pintu tak lain adalah Victor. Victor terdiam saat matanya bertemu dengan mata Mary. Ia lalu
berjalan masuk tanpa sepatah katapun. Victor menarik kursi yang ada di depan Mary. Ia meletakkan kepalanya diatas meja dan memejamkan matanya. Victor berusaha untuk mencuri tidur di sela aktifitas padatnya.
“Hei,” Mary mengetuk pelan kepala Victor dengan telunjuknya. Victor tidak bereaksi. “Pasti ada yang
kau sembunyikan, kan?” Ucapnya membuka percakapan. Namun Victor masih tetap tertidur. “Kau tau, aku akan membuatmu benar-benar ‘bicara’. Suatu sa…”
“Berisik,” Victor berkata pelan dengan nada lesu. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan mengacak hebat
rambutnya. “Kau berisik sekali. Biarkan aku tidur,” Ucapnya. Mata mereka pun bertatapan. Victor menghela nafas, ia lalu melanjutkan, “Aku sudah berusaha melupakannya! Dan kau? Kau tiba-tiba datang dengan segudang rasa penasaranmu itu dan berlagak ingin memecahkan masalah yang aku hadapi?!” Suaranya meninggi. Suara berat Victor itu sedikit membuat Mary takut. “Biarkan aku bernafas..” Victor kemudian memelankan suaranya. “Biarkan aku debut dengan tenang,”
“Apakah buruk jika aku mengetahuinya?” Mary tak henti mengeluarkan pertanyaan meskipun Victor sudah
memintanya untuk berhenti. “Apa akan berpengaruh terhadap hidupmu sebagaiseorang idola?”
Victor yang lelah menghadapi Mary itu kemudian memilih untuk diam dan bangun dari duduknya. Ia berjalan lemas membuka pintu.
“Kau tau..” Victor bersuara pelan sambil memunggungi Mary. “Mungkin lebih baik jika aku tidak usah debut,”
BLAM!
Victor menutup pintu ruangan itu agak keras. Kata-kata terakhirnya terdengar agak samar dikuping
Mary. Kemudian Mary mendengar seseorang mengetuk pintu ruangan dan membukanya. Kepala Jimmy muncul dibalik pintu.
“Kalian bertengkar?” Tanya Jimmy yang kemudian menutup pintu ruangan dan duduk dihadapan Mary.
“Tidak,” Jawab Mary bohong.
“Sudahlah Mario..eh, Mary..”
“Mario saja. Kau pasti nanti keceplosan,”
“Iya. Mario.” Jimmy membenarkan kata-katanya. Jimmy menarik maju kursinya. “Soal Victor..”
Mendengar nama Victor membuat mata Mary bersinar lagi.
“Victor membunuh ayahnya,”
“Hah?! Apa kau bilang?!”
“Ssst!!” Jimmy menempelkan telunjuknya didepan bibirnya. “Kecilkan suaramu!!” Serunya. “Dengarkan dulu! Aku akan memberitahumu cerita sebenarnya. Setelah itu tolong berhenti mencari tau tentang kehidupan Victor!” Pinta Jimmy yang sudah membocorkan rahasia terbesar Victor.
“Lanjut-lanjut!” Mary menarik maju kursinya.
“Sudah hampir setiap hari ayahnya melakukan kekerasan baik pada Victor, maupun pada kakak perempuannya. Victor saat itu mencoba membela diri saat ayahnya yang pemabuk hendak
memukulnya. Victor lalu tidak sengaja memukulkan salah satu botol soju (sejenis alkohol) kosong ke kepala ayahnya. Ayahnya langsung tidak sadarkan diri. Saat itulah kakak perempuan Victor datang. Ia segera menyuruh Victor berlari pergi.”
“Jadi? Kakak perempuannya lah yang membakar rumah mereka?”
“Sepertinya begitu. Mungkin ia melakukannya untuk melindungi Victor. Polisi dan warga disekitar
__ADS_1
menyimpulkan bahwa ayah mereka meninggal karena tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api,”
“Lalu? Dimana kakak Victor sekarang?”
“Entahlah. Mereka memutuskan untuk tidak bertemu lagi semenjak kejadian itu. Hei! Kau bisa berhenti bertanya tidak?!”
Mary menggosok dagunya. “Hmm.. ada yang aneh..” gumamnya. “Benarkah kau sudah memberitahukanku
semuanya?”
“Sudah. Hentikan saja rasa penasaranmu,” Jimmy bersandar di kursinya. “Tentu aku sudah memberitahukanmu semuanya! Ini kulakukan agar kau berhenti mengungkit masa lalu Victor! Ia sudah cukup terluka! Malam itu ia pergi ke rumahku. Ia menangis. Matanya seperti orang stress. Ia bahkan meminta ayahku untuk mengoperasi wajahnya agar polisi tidak menemukannya!”
“Benarkah?!” Mata Mary terbuka lebar. Kini ia mengerti mengapa Victor memilih mengubah wajahnya. “Tapi
Jim.. sebagai wanita, aku memiliki insting yang kuat,” Mary menempelkan telapak tangannya di dadanya. Baru kali ini ia memamerkan jati dirinya. “Aku harus menemukan kakak perempuannya!”
“Hei! Kau ini! Sudah kubilang hentikan. Urusi saja pekerjaanmu yang menumpuk itu,”
“Tidak, tidak,” Mary menggelengkan kepalanya. “Ada yang salah dengan ceritanya. Aku harus menemukan
kakak perempuannya,”
“Tapi.. Bagaimana?”
++++++++++++++++++++
Sore menjelang malam. Mary masih saja berkeluyuran ditempat antah berantah seperti ini. Kakinya membawanya masuk ke gang kecil yang kumuh. Ia melihat tembok yang kotor penuh dengan bekas
tempelan phamflet dan grafiti yang berbentuk asal asalan. Mary melewati beberapa preman yang mabuk dan berbicara seenaknya. Toko tatto illegal yang baru buka berjajar disana sini. Kucing-kucing kampung juga saling berkelahi dan berkejar kejaran.
Mary masih memegang erat kertas ditangannya. Langkah kakinya pun berhenti di depan toko. Mary melihat ke dalam kaca. Toko itu penuh dengan komputer rusak dan TV lama yang tersusun tidak rapi. Lampu LED yang dipasang di papan nama toko itu nyala-mati, membuat toko itu semakin tampak suram.
Tiba-tiba seseorang menarik tudung jaket Mary. Mary terbawa mundur.
“Jimmy!” Seru Mary dengan suara bisikan. Ia berusaha tidak membuat gaduh gang suram itu. “Kau tidak
latihan?! Sana kembali!” Perintahnya.
“Aku akan kembali bersamamu,” Jawabnya. Jimmy kemudian mengetuk pintu. Mary bisa melihat tangan Jimmy sedikit bergetar.
Mereka berdua kemudian memasuki toko yang gelap dan berantakan itu. Jimmy dan Mary semakin masuk ke
dalam dan menemukan sekelompok orang yang sibuk mengklik mouse nya. Itu adalah lokasi dimana para hacker berkumpul. Pengguna jasa mereka terdiri dari kalangan pebisnis, artis, hingga pejabat. Hacker dan
ahli komputer ilegal ini tentu tidak bekerja dibawah pimpinan polisi. Biasanya mereka membantu menyembunyikan aset korupsi para petinggi, membantu mencari dan menyembunyikan orang penting yang hilang, serta lain sebagainya.
“Ada apa?” Salah satu paman seram bertato itu mematikan rokoknya. Mary dan Jimmy mendekatinya.
“Sa..saya ingin mencari orang yang hilang.” Ia memberikan nomor ponsel terakhir yang digunakan oleh
kakak perempuan Victor. Mary mendapatkannya tentu dari data di sekolah. “Itu nomor terakhirnya,”
Jimmy juga meletakkan sesuatu diatas meja paman itu. Itu adalah nama kakak perempuan Victor, Virgo.
Jimmy juga memberikan foto KTP Virgo yang ia dapat dari internet setelah menjelajahi situs perguruan tinggi yang telah dijalani kakak Victor. Mary tersenyum pada Jimmy. Ia merasa terbantu dengan apa yang dibawanya.
“Dia?” Paman itu menatap foto kakak Victor. “Siapa dia?”
“Maaf?”
“Artis? Pebisnis?” Paman itu terus bertanya. “Kalian juga, siapa kalian?”
__ADS_1
BRUK!
Jimmy lalu meletakkan tas ransel yang sedari tadi dibawanya keatas meja hingga membuat asbak dan mouse paman itu sedikit terpental. Mary memperhatikan Jimmy. Ia membuka resleting tasnya.
“Wow,” Mary membulatkan mulutnya. Isi tas ransel Jimmy adalah berlembar-lembar uang kertas yang tidak
terhitung jumlahnya.
Sang paman itu berdiri kaget melihat isi tas anak kecil dihadapannya. Para hacker lain juga jadi menatap dua tamu kecil itu. “Baiklah,” Ia segera mengambil ransel Jimmy. Ia meletakkannya di lantai disamping kakinya. “Tunggu dua hari lagi.”
++++++++++++++++++++
Jay menghampiri Mary yang duduk disamping laptop dan membantu koreografer mengendalikan lagu.
“Hei Mario,” Jay berbisik pelan pada Mary. Mary masih menatap suasana istirahat di ruangan dance. Member BEYOND yang ada di ruangan hanya Agust, Jay dan Jhony.
“Hmm?”
“Apa kau sudah memberikan kue itu padanya?” Jay menggerakkan kepalanya menuju Agust yang duduk di tengah ruangan dan sibuk mengatur nafas.
“Belum. Tidak jadi deh! Hehe…”
“Loh? Kenapa? Kau kan sudah susah payah membuatnya!” Jay protes tak percaya. “Berikan saja, Mario. Itu juga tanda terimakasihmu padanya, kan?” Jay terus mengompori Mary.
Mary lalu berfikir sejenak. Hatinya ingin memberikan kue itu. Namun kakinya tidak dapat bergerak mendekati
Agust.
“Berikan saja…” Lanjut Jay sambil melakukan stretching sambil berdiri.
“Iya…iya..”
Mary dengan mantap berjalan menuju Agust. Ia ikut duduk dilantai tempat Agust bersantai. “Laguku hampir selesai..” Mary membuka percakapan.
“Benarkah?” Tanya Agust sembari menggoyang goyangkan telapak kakinya.
“Mmm.. terimakasih ya. Apa aku boleh memberikanmu hadiah?”
“Tidak usah repot-repot. Kurasa aku juga tidak banyak membantu,” Agust menatap Mary sambil menyeka keringatnya.
“Tapi kebetulan aku membuat kue kering beberapa hari yang lalu…”
“Ooh..” Agust mengangguk angguk. “Terimakasih kalau begitu,”
Mary memasang pose akan berdiri, “Aku ambil ya?”
“Boleh.” Jawabnya santai. “Letakan saja di lokerku. Aku akan memakannya nanti,” Pintanya. Membuat Mary
terdiam. Kata-kata Agust sedikit menyesakkan dadanya. Lagi-lagi Agust bertindak cuek terhadap Mary.
Mary yang tidak ingin bersikap berlebihan itu segera menuju ke loker Agust yang terletak tepat
didepan ruang dance. Ia memasukan kue itu ke sana, kue itu nantinya akan bersebelahan dengan tas dan sepatu Agust.
“Hhhhaahhh…” Mary menghela nafas panjang sambil menutup loker. Ia lalu dikagetkan dengan Jhony yang
tiba-tiba berdiri disampingnya. “Jhony…” Mary mengelus dada.
“Mungkin dia bersikap begitu karena kau lelaki,” Ucapnya.
“Apanya?”
“Kue itu.” Jhony menunjuk loker Agust. “Bayangkan seorang lelaki menerima kue dari seorang lelaki. Kau
tidak bisa terlalu senang karena itu ‘kan?” Lanjutnya.
__ADS_1
“Iya.. aku tau,” Mary tersenyum kecil.
“Benar juga,” Mary menyetujui perkataan Jhony. “Agust kan masih berfikir kalau aku wanita. Tentu dia akan bersikap biasa saja dengan kue yang aku berikan..eh! Tunggu! Apa Jhony juga menyadari perasaanku terhadap Agust?!”