The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
13


__ADS_3

Suasana hening dan canggung memenuhi ruangan. Mary membawa Victor ke ruang meeting tempat ia dan


Jimmy baru saja berbincang-bincang.


“..Nah..” Mary menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia menatap Victor yang duduk di depannya. Sedangkan Jimmy yang duduk disebelah Victor nampak kebingungan.


“Hei, ada ap..”


“Apa yang ingin kau tahu?” Tanya Victor pada Mary. Ia juga ikut menyilangkan tangannya.


“Ada apa denganmu, Victor dari kelas 2-4?”


“Hei. Kalian kenapa sih?!” Jimmy meninggikan suaranya ia bingung dengan aura dingin diantara kedua temannya.


“Aku sudah ingat, Jimmy.” Mary menatap Jimmy. “Kau Jimmy dari kelas 2-4, periang dan supel, disenangi


guru karena cukup pintar, anggota klub bola, namun selalu menjadi cadangan karena kau tak sanggup berlari lama.” Jelas Mary. Sebenarnya Mary pernah satu kelas dengan Jimmy saat pelajaran tambahan. Namun tentu saja ia tidak ingin membicarakannya agar rahasia tetap terjaga.


“Ka..kau?”


“Dan Victor..” Mary kini menatap Victor dalam. Ia tidak peduli dengan raut wajah heran yang ditunjukan


Jimmy. “Kau anak yang selalu bersama Jimmy itu kan? Seingatku kau sudah tiada di insiden itu. Rumahmu terbakar beberapa hari setelah upacara kelulusan, kan?”


“Nah itu sudah tau,” Victor meninggikan sudut bibirnya.


“Kau sudah ingat, Mario?” Tanya Jimmy yang terlihat membesarkan mata kecilnya.


“Ya. Aku bahkan masih mengingat wajahnya.” Mary terus berperang pandang dengan Victor.

__ADS_1


“Apa lagi yang ingin kau tau? Rumahku terbakar, aku dan kakak perempuanku lari menyelamatkan diri. Ia


lalu memilih bekerja dan hidup sendiri. Sedangkan aku, aku tinggal dengan keluarga Jimmy, puas?”


“Lalu orang tuamu?”


“Hey Mario! Untuk apa mengungkit masa lalu seseorang?” Jimmy menengahi rasa penasaran Mary.


“Hentikan..”


“Aku sudah tidak punya ibu. Ayahku meninggal di insiden itu.” Victor meladeni pertanyaan Mary.


“Lalu…” Mary membenahi duduknya dan mencondongkan badannya ke arah depan. “Mengapa kau operasi


plastik? Wajahmu tidak terbakar kan? Atau.. hanya ingin terlihat tampan saja?”


“Mario!” Jimmy berteriak keras. Ia berdiri dari duduknya. “Hentikan! Kau sudah berlebihan!”


Victor hanya memandang mereka berdua lalu berlalu pergi keluar ruangan.


“Hei Vic! Tunggu!” Jimmy mengekorinya.


Mary ditinggal sendirian di dalam ruang meeting itu. Pertanyaan terakhirnya belum sempat dijawab Victor.


“Apa insiden itu ada hubungannya dengan aksi operasi plastik Victor? Victor adalah salah satu murid tertampan disekolah, untuk apa ia menjalani operasi plastik lagi? Ditambah lagi hasil oprasinya itu membuatnya tak nampak seperti Victor,”


++++++++++++++++++++


“Jane?” Mary memanggil gadis yang barusaja berjalan melewatinya.

__ADS_1


“Ah, Selamat sore.” Jane berbalik badan dan menyapa Mary sopan dengan bungkukan badan.


“Sudah pulang? Tidak dengan Justin?”


“Ah..mm..” Jane menggeleng pelan. Mary kemudian mendekatkan diri pada Jane.


“Kau tau apa yang terjadi pada Justin akhir-akhir ini?”


“Justin? Dia kenapa?”


“Entahlah. Dia tampak suram. Jarang tersenyum. Tidak seperti biasanya saja.” Jelas Mary sambil mengingat tingkah laku Justin.


“Saya tidak tau.” Jane mengulangi gelangan kepalanya. “Dia terlihat baik-baik saja.” Jawab Jane jujur. Justin memang selalu terlihat riang dihadapannya.


“Ooh.. baiklah kalau begitu.” Mary mengangguk dan tersenyum pada Jane tanda akan berpisah.


“Tunggu,” Jane menghentikan gerakan Mary yang akan membalikkan badan. Mary menatap Jane lagi. “Jangan khawatir, paman. Saya bisa mengendalikan diri,” Ujarnya.


Mary menatap Jane dengan bingung.


“Saya tidak akan merusak mimpinya. Tidak akan ada ‘kita’ diantara saya dan Justin. Saya bisa menunggu


jika boleh. Saya juga bisa pergi jika kalian menginginkannya.”


“Jane…” Gumam Mary pelan. Ia hendak memeluk Jane, namun ia sadar bahwa ia adalah seorang pria, Jane juga menganggapnya begitu. Ia tidak ingin melewati batas.


“Maafkan saya,” Jane menunduk pada Mary.


“Tidak.. pasti berat buatmu. Tapi terimakasih sudah berusaha mengerti keadaan Justin. Aku juga mengerti

__ADS_1


perasaanmu. Jika diteruskan akan semakin melukaimu, kan? Tentu kau tidak ingin hal itu terjadi.” Jane hanya mengangguk pelan. Ia tidak melihat wajah Mary. Kemudian Mary menepuk nepuk pelan kepala Jane. “Hentikan saja, sebelum perasaan itu semakin dalam.


__ADS_2