The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
6


__ADS_3

CLICK!


Mary menekan tombol enter pada laptop itu sesuai arahan sang koreografer. Sudah sejam lebih ia duduk disana. Di pojok ruang dance dan membantu sang koreografer menyala-matikan lagu yang diputar. Itu adalah lagu debut BEYOND. Mereka sedang menyempurnakan gerakan agar terlihat tidak ada cacat dan menampilkan aksi panggung yang baik.


Wajah BEYOND memerah karena kelelahan, keringat mreka juga bercucuran. Agust berusaha mengatur nafasnya. Jimmy terus menatap pantulan dirinya dicermin. Tiba tiba suara dering ponsel mengisi ruangan.


“Ck! Suara apa itu?!” Protes sang koreografer karena ia mendengar suara selain lagu BEYOND. Mary mencoba


meraih asal suara. Ponsel hitam itu tergeletak di meja. Ia mengambilnya. “Matikan.” Koreografer memerintahnya.


“..ibu?” Mary menggumam pelan sambil memiringkan wajahnya dan membaca nama yang tertera pada ponsel


itu. Sang ibu dari pemilik ponsel sedang menelpon anaknya. Ia sebenarnya tak tega telah memutus sambungan telepon itu, namun apa boleh buat.


Mereka kembali berkonsentrasi pada gerakan yang sama. Mary mengamati Justin yang terlihat menonjol diantara member yang lain. Justin cukup baik dalam menari. Ia juga sering ditempatkan di tengah maupun di depan. Mary mengamati mereka secara keseluruhan sambil berharap usaha mereka tak akan sia sia.


“Aaarrrh….” Agust mengerang saat koreografer memberi jeda untuk istirahat. Member BEYOND segera bubar kesana kemari. Termasuk Hope yang berjalan mendekati Mary. Hope tiba-tiba membuka kaos basahnya, aksi tersebut dilakukan dihadapan Mary yang terlihat salah tingkah. Hope juga meraih ponsel yang ada digenggaman Mary.


“Ibuku…” Ujarnya pelan sambil mengatur nafasnya. Rupanya sang pemiliki ponsel adalah Hope.


Sepertinya aksi buka baju itu rutin dilakukan BEYOND setiap setelah selesai latihan dance. Kini ia melihat Victor dan Jimmy merebahkan dirinya di lantai dance yang dingin dengan bertelanjang dada.


“Maarioooo…” Justin menghampirinya. Ia ingin merebahkan diri pada Mary yang duduk disebuah bangku


panjang. “Aku lelah sekaliii…” Justin meletakkan kepalanya pada paha Mary.


Wajah Mary memerah. Bukan karena aksi Justin. Tapi karena pria-pria di ruangan ini sangat tidak peka dan


main buka baju seenaknya.


“Hei.” Agust menghampiri Mary. Ia mengacak acak rambut basahnya. Keringatnya membuat kaos putihnya


tampak transparan. “Sejin memanggilmu.”

__ADS_1


++++++++++++++++++++


Mary menghampiri Sejin di depan koridor yang menghubungkan ruang latihan dance dengan studio musik. Wajah Sejin terlihat serius.


“Mmmm…” Mary mengangguk angguk setelah Sejin menceritakan semuanya. Beberapa hari yang lalu Mary telah mengajukan ide pada PD Bane dan tim manager bahwa mereka perlu menyewa fotografer untuk pemasangan foto di fansite yang ia buat. Namun, Sejin baru saja mengatakan bahwa The Hit tidak menyiapkan dana untuk itu, biasanya sang fotografer –yang merupakan fans suatu idola- datang sendiri dan menjadi masternim secara otomatis, bukan dibayar untuk menjadi masternim. Namun apa boleh buat, BEYOND yang belum mempunyai fans tentu belum mempunyai fotografer yang tertarik untuk mengabadikan setiap kegiatan mereka.


Mary kemudian menjentikkan jarinya, “Kalau begitu biar aku saja!”


“Ha? Kau jadi masternim?” Sejin mengeryitkan dahinya. Sejin merasa adanya fancafé yang dibuat tim iklan sudahlah cukup. Belum banyak memang yang menjadi member fans BEYOND, tapi ia tidak berfikir untuk segera membuat fansite. Fansite adalah web yang biasa dibuat oleh fans idol, sedangkan fancafe merupakan web resmi dari agensi idola itu sendiri, jika fancafe saja masih sepi, BEYOND tentu tak segera memiliki fansite.


Mary mengangguk yakin, “kau tau, fancafé BEYOND masih sangat sepi,” Mary mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang memamerkan seluruh giginya.


“Kau sih! Kenapa harus repot membuat fansite segala. Biarkan para fans saja.” Sejin meletakkan kedua tangannya di pinggang.


Mary memang terkesan terburu-buru untuk membantu mempromosikan BEYOND. Namun semua itu ada


alasannya. Itu karena waktu Mary tidak banyak! Dan hanya itu yang dapat ia perbuat.


“Tapi kau tetap jadi manager, loh!”


“Iya iya….” Jawab Mary malas. Sejin tersenyum tipis sambil menggerakan telunjuknya di hadapan Mary seolah


berkata awas-jika-kau-tidak-melakukan-pekerjaanmu-dengan-benar-! ia lalu berlalu pergi.


Mary menggenggam kedua tangannya. Semoga idenya kali ini berhasil! Semoga ia dapat membantu promosi


BEYOND. Saat semua sudah tau tentang BEYOND, maka fans akan bertambah dan mereka akan meraih kesuksesan!


“Ow..” Mary hampir bertabrakan dengan Hope yang tiba-tiba membuka pintu ruang dance. Ia telah mengenakan kaosnya kembali. Mata Mary mengikuti Hope. Hope terlihat mematikan ponselnya.



“Sudah lama aku tak bertemu dengannya.” Ujar Hope sambil menggoyangkan ponselnya. Ibunya yang dimaksud. Hope tampak menelpon ibunya lagi. Rupanya sedari tadi ibunya tak mengangkat panggilan dari Hope.

__ADS_1


“Tidak diangkat?” Mary bertanya penasaran.


Hope menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya. “Susah sekali menghubunginya, hehe.” Hope memaksakan senyumnya. Mary mendekat padanya. “Ibuku sedang di luar negeri bersama kakak ku, mungkin jaringannya buruk ya?”


Mary terdiam. Ingin rasanya ia menyuruh Hope untuk berhenti tersenyum.


“Mmm… sudah beberapa bulan ini ibu memilih menemani kakak perempuanku yang bersekolah di sana.


Berapa bulan ya…” Ujarnya sambil berfikir sendiri. Hope mulai menceritakan keluarganya pada Mary. “..mungkin ayah dan ibu ingin bercerai, jadi ibu tak kunjung pulang.” Hope menggaruk kepalanya dan tertawa pahit.


“Ayahmu?”


“Oh! Ayahku baik kok!” Serunya tiba-tiba. Ia berharap Mary tidak membayangkan sosok ayah yang jahat


hingga membuat sang istri ingin bercerai darinya seperti yang ada di film-film. “Hanya agak canggung saja saat bersamanya, hehe.” Jawabnya. Membuat Mary mengerti mengapa Hope dulu memilih tidak pulang ke rumah dan malah ingin bertemu Mary. “Oh iya. Masakan ayah juga enak! Dia memang sangat sibuk, namun


jika ada waktu luang dia akan memasak untukku. Kau harus mencobanya juga!” Hope tersenyum sambil memegang pundak Mary.


“Oh ya?” Mary tersenyum dan mencoba berekasi pada cerita Hope.


++++++++++++++++++++


Hari ini adalah hari pembuatan MV untuk debut BEYOND. Suasana di set MV tentu sangat sibuk. BEYOND


sedang dirias oleh tim tata rias yang tidak banyak. Mereka duduk menunggu giliran untuk dirias.


Mary membuntuti Sejin yang sibuk menjalin relasi dengan banyak orang. Sejin yang sepertinya sudah kenal akrab dengan banyak orang di set itu tak lupa memperkenalkan Mary sebagai  manager muda di The Hit. Mary menyapa sopan mereka sambil memperkenalkan diri. Kamera besar yang dikalungkannya membuatnya berhati hati saat membungkuk.


“Hufft…” seseorang membuang nafas berat di samping Mary. Dia adalah Agust.


“Kau gugup?” tanya Mary sambil menatap Agust yang sedang mengenakan topi beanie hitam serta make up  yang membuat wajahnya seperti gangster.


Agust menyentuh dadanya. Ia mengangguk pelan. Belum pernah ia melihat Agust segugup ini. Mary lalu menepuk pelan pundak Agust.

__ADS_1


__ADS_2