![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Victor berjalan dengan langkah gontai. Ia menyusuri jalan gelap itu lagi. Ia berjalan sendirian dengan memegang dompet hitam di tangan kanannya. Ia membuka dompet itu. Ditatapnya foto keluarga kecilnya. Itu adalah foto mereka yang sedang berlibur di ladang nenek. Victor mengeluarkan senyuman kecil saat ia menatap ibunya yang tersenyum lebar menghadap kamera sambil menggandeng Victor yang tampak masih kecil disana. Kakak perempuannya yang manis juga mengeluarkan senyum bahagia dengan tangan ayahnya yang memegangi pundaknya. Benar-benar sebuah foto keluarga yang sederhana dan indah.
“Maafkan aku..” Gumam Victor pelan. Kakinya masih melangkah maju, namun pandangannya masih menatap
foto itu, pikirannya juga melayang entah kemana.
Kemudian langkah kakinya berhenti. Ia memandang bangunan itu lagi dari kejauhan. Bangunan yang sekarang sudah hancur dan sedang ada pembangunan ulang diatas tanah itu. Victor menggeser langkahnya menjauhi kerumunan ibu-ibu yang duduk bersama di depan sebuah toko sembako.
“Ah! Itu dia!” Salah satu dari kelima ibu-ibu itu berseru, membuat seluruh temannya memandang ke arah
telunjuk ibu itu tertuju, yaitu pada Victor. “Dia yang aku maksud!”
“Hei anak muda!” Salah seorang lagi berteriak memanggil Victor.
Victor sedikit memiringkan badannya dan menghadap ibu itu. Wajahnya masih tertutup masker hitam, namun bedanya kali ini ia tidak memakai hoodie.
“Ah!” ibu itu menepuk tangannya. “Kau Victor?!” tanyanya dengan suara keras karena tempat mereka berjauhan. Tebakan ibu itu membuat teman nya memandang Victor sambil mengangguk angguk setuju.
Mata Victor seketika itu membelalak. Ia kaget dengan tebakan ibu tadi. Kemudian kakinya berjalan mundur.
Ia berlari pergi. Terdengar teriakan ibu itu memanggil nama Victor, namun ia tak menghiraukannya. Victor menyusuri gang gelap itu lagi untuk kembali pulang.
BRUK!
Victor menabrak pejalan kaki. Tabrakan yang terlalu keras membuat seseorang yang ditabrak terjatuh.
“Aw! Argh…” Ia mengerang kesakitan. Telapak tangannya terlalu kecil untuk menahan badannya yang jatuh.
Ia kemudian menatap Victor dan hendak memarahinya.
Mata mereka pun bertemu. Betapa terkejutnya Victor saat mengetahui bahwa yang ditabrak adalah Mary.
“Sedang apa Mary disini?”Victor terlihat membelalakan matanya.
“Vic?” Mary masih terduduk, ia memastikan bahwa yang menabraknya adalah Victor. Mary tak terlalu
hafal bentuk mata Victor, namun kali ini dia yakin bahwa yang ada di depannya kini adalah Victor.
Victor tidak berkata apa-apa. Ia yang hendak melangkahkan kakinya untuk lanjut berlari itu sempat
dihentikan Mary dengan genggaman tangan yang kuat. “Ada apa?” tanya Mary. Victor belum menyiapkan jawaban yang pas. Ia kemudian menghempas tangan Mary dan berlari pergi.
__ADS_1
++++++++++++++++++++
Mary semakin penasaran tentang sesuatu yang disebunyikan Victor. Sebenarnya Mary bukan orang yang selalu ingin tahu tentang kehidupan pribadi oarang lain, namun jika itu bisa menjadi petunjuk dan membantunya menyelesaikan misinya mengapa tidak?
Kini Mary ikut duduk Manis di ruang latihan vocal. Biasanya Mary tidak ikut masuk ke ruangan yang sempit itu, untung saja jadwal laihan hari ini hanya Jimmy, Victor dan Agust, jadi ruangan sempit itu masih muat jika dimasuki Mary.
Mary melirik sang pelatih vocal yang barusaja memberi mereka waktu untuk istirahat dan meminum air
mineral yang disediakan Mary. Mary kemudian memberanikan diri berdiri dan menarik lengan Victor saat sang pelatih keluar ruangan.
Victor dengan cepat menggoyangkan lengannya agar genggaman Mary terlepas. “Aku ingin bicara,” Ujar
Mary yang tidak terima genggamannya dihempaskan begitu saja. Ia menarik lengan Victor lagi.
“Apa maumu?!” Victor menghempaskannya untuk kedua kali.
“Ha?! Aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau berlebihan sekali?!”
“Hei-hei…” Agust menenangkan mereka sambil tetap menatap ponsel.
“Iya nih. Kalian kenapa sih sebenarnya?” Jimmy memandang kedua temannya satu persatu.
Victor kemudian berdiri. Ia menatap Mary dengan mata tajamnya itu. Mary juga tak mau kalah. Mereka kini
“Lebih baik kau keluar,” Victor memelankan suaranya berharap agar hanya Mary yang mendengarnya. “Urusi
urusanmu sendiri.”
Mary sedikit tertawa datar. “Baiklah.” Kini ia menyentuhkan telunjuknya pada dada Victor. “Suatu
hari nanti aku akan membuatmu bicara.” Lanjutnya sambil menusuk-nusukkan telunjuknya pada Victor.
++++++++++++++++++++
Mary memilih pergi mengunjungi Justin yang sedang mengambil les bahasa –yang termasuk salah satu
program di masa training Justin. Mary mengetuk pelan ruang belajar itu. Tak ada sautan dari dalam. Ia lalu membuka pintu. Ia hanya melihat punggung Justin. Sepertinya kelas sudah usai. Guru bahasa The Hit juga tidak ada di dalam.
Mary berjalan pelan di belakang Justin yang duduk sambil menatap buku di meja. Kelakuannya aneh,
Justin mengusap-usap buku itu sambil sesekali tersenyum dan tertawa pelan.
“Sedang ap…”
__ADS_1
“Aduh! Kaget!!” Badan Justin sedikit melompat dari kursi. Ia benar benar kaget. Justin menutup buku itu dan membalikkan badan menatap Mary. “Mario!”
“Mengapa kau mengusap-usap buku? Kau mirip orang mesum,” Komentarnya sambil menarik kursi di
depan Justin. “Buku apa itu?” Tanya Mary yang penasaran dengan buku yang membuat Justin bertingkah aneh.
“Ah! Bu..bukan apa-apa!”
“J..aa.ne.” Mary memberdirikan badannya berusaha membaca nama yang ada di sampul buku. “Ah.. buku Jane? Jadi ia mau meminjamkannya padamu…” Mary duduk kembali.
“I..ya. Begitulah.” Justin mencoba menahan senyumnya ia membuka lagi buku itu. “Sepertinya hubungan
kami hanya akan sebatas pinjam-meminjam buku saja..” Lanjutnya pelan sambil membalik lembar demi lembar.
Mary menatap Justin yang tampak galau dan patah semangat tentang hubungannya dan Jane. “Mmm…Kurasa tidak akan ada ‘kami’ diantara kalian berdua..” Ucap Mary, memperburuk suasana.
“Iya-iya, aku tahu. Aku juga tidak akan melakukan hal yang dilarang. Aku tidak ingin mengecewakan Jay, Jhony, BEYOND, semua, termasuk kau, Mario.”
Mary tersenyum simpul mendengar kebijaksanaan Justin. Ia mengerti apa yang dimaksud Mary. Seluruh
anggota BEYOND tidak boleh dan dilarang memiliki hubungan percintaan dengan siapapun sebelum waktu yang diperbolehkan oleh The Hit. Oleh karena itu Mary selalu bersimpati pada Justin yang baru saja merasakan cinta pertamanya.
“Terimakasih sudah mengerti.” Mary menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. “Perasaan
itu….jangan terlalu dalam. Itu akan melukaimu,” Nasihatnya.
Justin menjawab dengan menunduk dan tersenyum pada setiap tulisan di buku itu.
++++++++++++++++++++
“Ha?”
“Benarkah?”
“Apa?!”
Sautan-sautan ketidakpercayaan itu keluar satu persatu dari mulut BEYOND. Hal itu dikarenakan kabar yang baru saja disampaikan Sejin. Ia berkata bahwa BEYOND akan melakukan debut stage di salah satu stasiun TV
dengan rating acara musik yang tinggi. Member BEYOND pun tentu terkejut dengan hal itu. Mereka tidak percaya.
Begitu juga Mary. Ia yang diberitahu terlebih dahulu oleh Sejin itu kini ikut senang dan ikut bersorak sorai bersama BEYOND. Akhirnya kerja kerasnya berkeliling dari satu stasiun TV ke stasiun TV yang lain terbayarkan. Kemunculan BEYOND di TV tentu merupakan langkah awal dari kesuksesan BEYOND di mata penikmat musik. Mary tampak senang bagai ia yang akan tampil di TV.
Setelah sorak sorai yang heboh itu, Mary mengumumkan agenda rapat malam nanti yang akan mendiskusikan tampilan BEYOND di panggung pertamanya.
__ADS_1