The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
1


__ADS_3

KREEEK…


Itu adalah suara pintu usang di atap sekolah. Ia membukanya perlahan, berharap tak ada guru yang memergokinya disana. Murid ini memilih menuju atap sekolahnya disela-sela pelajaran. Tertera jelas nama yang ada pada name tag di dadanya. Justin J.


Justin melangkah pelan menuju pagar yang berdiri membatasi atap ini, ia menyandarkan badannya dan


melihat pemandangan kota dari atap sekolah. Ia tak peduli dengan kelas matematika yang sedang berlangsung. Pikirannya sudah terlalu kacau untuk berkonsentrasi pada kelas yang membosankan. Ia menatap langit, seakan menanti awan untuk bergerak dan menutupi sinar matahari.


Suara langkah kaki membuyarkan pandangan kosongnya. Suara itu semakin mendekat. Justin otomatis


memandang sosok yang akan datang dari sampingnya. Gadis itu kaget sambil masih mengunyah makanan di mulutnya. Tangan kanannya memegang kotak makan kecil, sedangkan tangan kirinya menggengam sendok dan sumpit.


“Ah! Mengagetkan saja!” Ia mengelus dada sambil berkedip pelan. “Aku kira guru!”


Justin tak menghiraukannya. Ia memalingkan wajah dan kembali menatap awan senja. Gadis itu memilih untuk menyandarkan diri di pagar atap bersama Justin.


“Aaah… pemandangan dari atap sekolah memang bagus,” ia menatap ke arah kota, seluruh bangunan tampak


kecil. “kau bolos juga, ya?” Tanyanya mencoba akrab sambil menatap sisi samping Justin.


Justin hanya diam. Ia menghela nafas menatap bawah, tentu gadis ini mengganggunya. Justin ingin sendiri di tempat favoritnya, namun sepertinya itu tempat favorit gadis itu juga.


“Aku Jane.” Gadis manis berambut panjang dan berpipi agak tembam itu menyebutkan namanya tanpa ditanya. Ia tetap menatap ke penjuru kota.


++++++++++++++++++++



Mary merebahkan diri dikasurnya. Menatap atap kamarnya sambil berusaha mengingat kejadian di hari yang terasa panjang dan melelahkan. Ia mengingat ‘target’nya. Itu adalah sekelompok pemuda yang tampak putus asa untuk menjadi sosok idola. Mary bingung mengapa mereka tampak begitu patah semangat? Debut mereka kan sebentar lagi.


Ia terduduk dan meraih laptopnya, ia harus merelakan HP nya yang rusak total karena kejadia tadi siang. Malam ini Mary berniat begadang untuk mencari tau tentang BEYOND di internet. Yap. BEYOND adalah nama idola yang menjadi sosok yang harus Mary selamatkan.


Mary menatap telapak tangannya yang tadi terdapat wajah para anggota BEYOND disana. Sosok itu


kemudian pudar dan Mary tidak dapat melihatnya lagi. “…Beyond?” Gumamnya. Ia merasa tak ada yang aneh dengan sekumpulan pria yang akan debut menjadi boyband itu, namun karena sumber informasinya sangat sedikit, Mary memutuskan untuk pergi ke kantor nya besok.


++++++++++++++++++++


Mary belum tau apa yang harus ia lakukan. Ia kini sudah berdiri tepat di depan pintu perusahaan Entertaiment yang menaungi BEYOND, The Hit. Kantor yang tampak kecil tanpa penjagaan sedikit pun itu membuatnya ingin menerobos masuk dan melihat wajah ‘target’nya.


“Oh, siapa ya?” Tanya suara dari belakang. Mary menoleh, membuat rambutnya sedikit terhempas. Itu adalah seorang pria tambun berbadan besar.


“Ha..hai…aku ingin bertemu BEYOND,”


“Oh! Apa kau fansnya?!” Pria itu tampak gembira. Dilihat dari sepinya lingkungan kantor ini dan sedikitnya informasi mengenai BEYOND di internet, Mary mengasusmsikan bahwa pria di depannya ini belum pernah bertemu satu pun fans BEYOND.


Mary tersenyum tipis. Pria itu memperkenalkan diri sebagai manager BEYOND. Pria itu kemudian tergesa-gesa masuk ke The Hit setelah berkata bahwa BEYOND sedang tidak ada di kantor.


Mary memutuskan untuk mempromosikan BEYOND sendiri. Ia mengambil foto pra-debut member BEYOND di internet dan mendesain flyer yang akan ia tempelkan diseluruh penjuru kota. Sambil memuji visual para member, Mary semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang dipendam seluruh member ini hingga membuat Pencabut Nyawa menyuruhnya untuk menyelamatkan mereka.


Satu persatu flyer di tempel. Ia juga membagikan di area yang padat dan terdapat banyak muda-mudi.

__ADS_1


Ada yang menerimanya, membacanya, dan tertarik. Ada juga yang membacanya sambil tertawa sinis seakan meremehkan mereka. Lebih parah lagi ada yang membuangnya setelah menerimanya dari tangan Mary.


Sudah hampir satu minggu berlalu, ia tak yakin apakah ini dapat membantu BEYOND untuk terkenal. Mary


berfikir bahwa member BEYOND putus asa karena sepertinya debut mereka akan gagal


Kini ia tiba di salah satu klub fotografer. Mary memberikan flyer itu pada anggota di dalam ruangan.


Mary meminta para fotografer untuk menjadi fotografer BEYOND yang nanti akan mengunggah foto terbaik mereka di situs internet (atau yang biasa disebut masternim). Hal itu tidak berjalan mulus, mereka berharap imbalan dari Mary maupun dari pihak BEYOND. Mary menghela nafasnya dan keluar dari satu klub fotografer ke klub fotografer lainnya. Langkah kakinya membawanya menuju The Hit lagi. Masih sepi disana, tidak


seperti perusahaan Entertaiment lain, disini tidak ada ada gadis yang menunggui idola mereka keluar kantor untuk sekedar menyapa. Tiba tiba ada yang mengambil flyer yang masih Mary pegang di tangannya.


“Oh!” Pria terlihat terkejut saat membaca isi flyer. “Ini yang aku lihat di tembok-tembok.”


Gumamnya. Wajahnya ada di flyer itu. Itu adalah salah satu member BEYOND. “Kau yang menempelnya?”


Mary hanya menatapnya pria berbadan tinggi dan kurus itu sambil menggaruk kepalanya. Masker yang menutup mulut dan hidungnya tidak bisa memperlihatkan senyum Mary yang tersipu malu.


“Atau…kau juga yang membuatnya?” Tebakannya tepat sasaran. Belum sempat Mary menjawab pertanyaan member BEYOND yang ternyata bersuara berat, kini ia sudah beralih pandang dan menyentuh pundak pria yang berjalan melewatinya. Mary menguping pelan.


“Bagaimana soal manager tambahan?” Mary mendengar mereka berbincang pelan dan berlalu pergi.


++++++++++++++++++++


Setelah membulatkan salah satu angka yang merupakan tanggal ‘kematian’nya, Mary memangkas habis rambutnya menjadi pendek. Sangat pendek. Keputusannya sudah bulat. Ia tak mungkin terus-terusan menyebar flyer BEYOND dalam tiga bulan. Ia harus tahu sendiri kehidupan BEYOND seperti apa agar misinya dapat selesai sebelum sang Pencabut Nyawa ‘menjemput’nya.


Seperti yang ia dengar kemarin. The Hit sedang mencari manager tambahan untuk BEYOND. Itu adalah


kesempatan bagus bagus bagi Mary. Namun seorang manager yang mereka butuhkan tentu seorang pria.


++++++++++++++++++++


“Aku Sejin.” Sambut sang manager utama BEYOND yang sudah pernah Mary temui. Mereka berjabat tangan


setelah Mary dengan berani mendatangi The Hit dan menyatakan ingin menjadi manager mereka.


Sejin tidak curiga sama sekali dengan tampilan Mary. Mary sudah sempurna, ia tampak seperti pria pada


umumnya. Walaupun Mary agak sesak nafas karena harus membalut dadanya dengan perban, ia kini harus terbiasa dengan semua alat penyamaran itu dan dengan member BEYOND yang sekarang ada di depan mantanya. Mary berkata kecil dalam hatinya, “ooh… jadi ini BEYOND,”


Sambil menatap seluruh member yang terlihat tak peduli dengan kehadiran seorang manager baru, Mary tersenyum kecil saat Sejin menyebutkan namanya, Mario. Salah satu member menatap matanya, mulutnya tersenyum, namun matanya seakan tak yakin bahwa pria yang lebih pendek darinya ini akan menjadi manager baru.


“Aku Jhony,” pria itu menyebutkan namanya, Mary masih ingat wajah pria yang berbadan kurus tinggi itu.


Ia adalah pria yang kemarin melihat flyer nya.


Sejin menjelaskan bahwa Jhony akan menjadi pemimpin atau leader untuk BEYOND. Mary hanya mengganguk pelan. Senyum Jhony yang ramah membuatnya ingin membalas senyumannya juga.


“Dia terlihat lemah.” Salah satu member memotong suasana hangat di ruang olah vokal itu. “maksudku… badannya kecil sekali,” dia mengangkat kedua bahunya sambil melirik Mary.


“Padahal badannya sendiri juga kecil,”Mary ikut mencaci pria bermata kecil dan berkulit pucat yang barusaja mencibirnya. Terlihat jelas badan pria itu hanya beda 5cm dengan Mary. Bahunya juga tidak selebar bahu

__ADS_1


Jhony.


Sejin menengahi dengan mengatakan bahwa si pembicara itu bernama Agust. Mary memberinya senyuman kecil. Ia membalas dengan anggukan kepala.


“Sudah, jangan dengarkan dia..” Tangan Mary tiba-tiba terjabat. “Aku Hope.” Ia tersenyum lebar sambil


mengguncang jabatan tangannya. Senyum yang lebar dan ceria, sampai-sampai Mary dapat melihat seluruh susunan giginya. Mary merasa Hope-lah member yang paling bersahabat.


“Tapi aku merasa pernah melihatnya,” potong seseorang sambil menghadap Sejin. Ia lalu menatap Mary. “Kita


pernah bertemu, kan?” Ia mendekatkan wajahnya pada Mary, bibir tebalnya yang terlihat merah sedikit membuat Mary iri.


“Hei hei, hentikan Jimmy.” Jhony menengahi. Si sok akrab itu bernama Jimmy. Mary menatap seseorang


di sebelah Jimmy. Ia berharap member itu memperkenalkan diri juga. Lalu mata mereka bertemu, ia hanya menunduk dan berkata, “Victor”. Dengan kedua tangan masih di dalam saku jaketnya. Suaranya


lebih berat dari Jhony, matanya juga terlihat dingin, hal itu semakin mengguatkan dugaan Mary, tak ada yang menghiraukan kehadiran manager baru disini.


Sejin menepuk pundak


Mary. “Nah, ini belum semua, sebenarnya kau adalah manager yang membantuku dan


juga mengurus salah satu member BEYOND. Dia masih siswa SMA, jadi jadwalnya agak berbeda dengan yang lain,”


“Siapa namanya?”


“Justin”


++++++++++++++++++++


Hal pertama yang Mary harus lakukan sebagai manager adalah: Menemukan Justin. Justin seperti anak muda labil yang gampang naik darah dan bertingkah seenaknya. Sejin tadi mengatakan bahwa Justin semakin sering bolos latihan, dan kini ia sudah tidak ke The Hit selama dua hari. Ia juga tidak pulang ke apartment tempat tinggal BEYOND yang dihuni bersama.


Itu adalah misi yang konyol. Mary belum pernah bertemu Justin, dengan berbekal satu foto, ia diperintahkan


untuk menemukan Justin di seluruh penjuru kota. Untung saja Jhony menyarankan untuk mencari di beberapa tempat favorit Justin. Seperti di warnet yang sedang Mary masuki saat ini.


Benar saja. Setelah mengunjungi sekolahnya, taman kota, rumah baca, dan toko jajanan langganannya, Mary akhirnya menemukan Justin di warnet yang cukup besar ini. Mary berjalan mendekati seorang pemuda yang masih duduk di kabin warnet dengan mengenakan headsetnya, ia meyakinkan sekali lagi bahwa ia tidak salah orang. Justin masih memakai seragam sekolah. Mejanya penuh dengan mi cup dan beberapa botol air. Benar-benar anak muda yang menyusahkan.


“Hai, Justin,” Mary berdiri di samping meja Justin. Justin tidak menghiraukan dan memandang layar komputer


sambil menggerakan jarinya pada keyboard. “aku manager barumu, Mario.” Mary juga tetap bicara. Keheningan Justin sedikit membuatnya naik darah. “Hei. Semua orang mencarimu. Pulanglah! Kau juga tidak


latihan dua hari ini.”


“Dia juga belum membayar tagihan gamenya.” Sahut seseorang yang rupanya berdiri di belakang Mary. Gadis


muda itu juga memakai seragam yang sama dengan Justin, bedanya, sebagian seragamnya tertutup oleh celemek hitam. Rupanya ia salah satu penjaga warnet ini.  “Hei Justin, pulanglah…”


Justin tiba-tiba melepas headphonenya lalu berdiri dan menyenggol pelan pundak Mary. Ia berjalan keluar warnet. Mary meneriaki namanya. Gadis itu juga ikut berteriak. Membuat Mary menoleh. Gadis itu tersenyum, dan mengadahkan tangannya serta mengulangi pembicaraanya, “ia belum bayar.” Ulangnya lagi.


Mary mengeluarkan dompetnya untuk membayar tagihan warnet Justin yang tidak sedikit. ABG itu semakin merepotkan kala Mary mengejarnya dan Justin malah mempercepat jalannya. Mary mengikuti Justin dari belakang. Justin tetap tak mau bicara hingga ia tiba di apartment, Mary menunggunya sampai pintu tertutup kemudian disambut oleh beberapa suara ricuh dari dalam.

__ADS_1


“Hhh.. apa-apaan sikapnya itu?!” Mary Menggeleng pelan, tidak percaya dengan tingkah laku anak SMA yang


baru saja dijemputnya. Ia lalu berbalik pergi.


__ADS_2