Tidak Ada

Tidak Ada
|R E L A T I O N|


__ADS_3

Setiap orang di dunia ini punya satu benang merah yang menghubungkan mereka. Ini bukanlah karanganku semata, atau imajinasi yang tidak pernah mungkin menjadi nyata. Tetapi, memang manusia itu pada dasarnya saling berhubungan walaupun mereka lahir secara individu.


Dalam konteks yang baku. Manusia adalah homo homini socius, yang berarti manusia adalah sahabat bagi manusia lainnnya.


Bahkan ratusan buku lainnya yang pernah kubaca tentang ikatan manusia memiliki makna yang sama:


Manusia itu adalah makhluk yang memiliki ketergantungan kepada makhluk lain.


Kuakui itu, kuakui teori itu.


Tetapi yang namanya hubungan itu ...


Bagiku takkan pernah bisa mengikat selama-lamanya.


Hubungan induk ayam dan anak ayam. Mereka akan berpisah dan terpecah hubungannya ketika anak ayam telah beranjak menjadi ayam dewasa.


Atau yang lain, dikarena salah satu dari pemilik ikatan telah mati, atau ada yang berkhianat dengan alasan bahwa mereka tidak memiliki ketergantungan lagi untuk terikat.


Terkadang mempertahankan hubungan juga akan menyakiti diri sendiri. Sama seperti aku dan Mama.


Kami saling menyakiti sejak aku datang sebagai bayi ke rumah tangga Mama. Mama merawatku sebagaimana ia merawatku sendiri, namun ego anak kandungnya lebih tinggi dibandingkan diriku. Ia memberontak, menginginkan kasih sayang.


Pada akhirnya, wanita itu terus berusaha melindungiku dengan segala cara yang tanpa sepengetahuannya sendiri adalah cara bagiku untuk terjebak lebih dalam ke dalam skema konyol ini.


Yang satu ingin melarikan diri dan yang satu ingin yang lain untuk senantiasa mendampinginya, memenuhi egonya.


Sesungguhnya ...

__ADS_1


Aku tidak terlalu peduli dengan mereka


Dengan Mama yang memberikan cinta palsunya padaku ...


Atau anaknya yang melampiaskan segala rasa bencinya kepadaku


Memang aku siapa?


Setiap hari, setiap detik, hingga hari ini aku masih merasakan kesendirian. Meskipun sahabatku yang tertawa bersamaku, atau terkadang mendiamkanku. Kami bermain selayaknya anak kecil yang tidak tau bagaimana keadaan dunia ini.


Lalu kusembunyikan diriku di antara orang-orang itu. Mencoba beradaptasi dalam setiap waktu yang kujalani.


Menambah ilmu yang kumiliki hari demi hari, dan mencoba lalu terus mencoba. Kucoba segala hal untuk menguji apakah mereka mengetahuiku? Mengetahui keberadaanku?


Rupanya tidak ada yang mau berhubungan denganku lebih dari sekedar kenalan.


Ah, tidak


Aku memiliki satu sahabat yang setia menemaniku di saat duka maupun suka.


Meskipun ia tidak mengetahui banyak rahasiaku seperti bagaiman yang dilakukan orang-orang itu kepada sahabatnya. Tetapi aku tetap menyukainya karena dia baik.


Senyumnya hangat tidak sepertiku. Ia benar-benar tulus untuk menjadi sahabatku, sedangkan aku tidak. Dia sering menceritakan tentang dirinya kepadaku, sedangkan aku?


Dalam hati aku bertanya memang ada hal-hal baik yang bisa aku ceritakan kepadanya?


Mungkin dalam satu sudut pandang yang kuambil dari berbagai buku yang kubaca. Aku bisa mendapati bahwa diriku adalah orang yang munafik.

__ADS_1


Kau percaya itu?


Ya, aku sama sekali tidak percaya.


Tidak sepertimu.


Ketika aku menulis ini rasanya seperti aku sedang tertawa seperti orang gila dalam kegelapan. Seperti badut-badut yang biasanya hadir di hari ulang tahun Kakak angkatku; Kenya.


Semakin dalam kalian tenggelam dalam ceritaku, semakin kalian dibuat bingung dengan tingkah gilaku, kan?


Aku tau, aku hanya berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa semuanya biasa saja tanpa tanjakan ataupun turunan. Tetapi apakah kalian tau?


Aku tidak seperti kalian?


Seperti rasa sakit ketika memasuki tubuh kalian. Ketika itu kalian pasti menolak, bukan?


Tapi aku tidak


Aku tidak menolak apapun


Tetapi aku menyatu dengan rasa sakit itu sendiri


Kemudian menderita sendirian di bawah bayangan itu


Akankah mereka tau?


Terkadang ...

__ADS_1


Aku merasa ingin menghilang dari dunia ini


—Amarie Siskayla—


__ADS_2