Tidak Ada

Tidak Ada
sembilan


__ADS_3

~Mafia dan Hijab~


Satu pukulan dari ikat pinggang milik Will.


"Argghh!" jerit tertahan Sela dengan tangisan pilu.


Lagi.


PLAK!


"Argghh!"


Terus begitu. Hingga beberapa pukulan berikutnya, Darah sudah mengalir dari tubuh Sela. Sela sudah tidak kuat untuk menahannya, apalagi kembali menerima pukulan dari Will. Pandangan Sela mengabur. Tenaganya habis dan tubuhnya benar benar lemas. Namun,


PLAK!


Satu pukulan kembali Sela terima dengan frekuensi yang terasa lebih keras. Tubuh Sela limbung ke belakang ditambah kepala terasa pusing dan gadis itu pingsan dengan luka luka di tubuhnya.


Will terkekeh puas.


"Kau harus tahu akibatnya, baby."


Will meninggalkan Sela dengan keadaan seperti itu


~Mafia dan Hijab~


***


Will turun dan berjalan menuju dapur. Di sana terdapat Mia,kepala asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan Will semenjak pria itu kecil.


Mia menunduk hormat saat Will datang.


"Selamat sore tuan."


"Urus wanita di kamar atas,Obati semua luka lukanya.Panggil Lery jika perlu." ucap Will datar kepada Mia.


Mia menunduk paham. "Mengerti tuan."


Will pergi dan langsung Mia mengambil kotak obat di dalam kitchen set. Segera dengan berlari kecil ke, ia menaiki tangga.


Tok!


Tok!


Tok!


Mia membuka pintu tersebut pelan,Berapa terkejutnya ia saat melihat seorang gadis yang asing baginya tergeletak pingsan di lantai.Segera Mia menghampiri gadis itu


"Nona? Nona! Bangunlah." Mia mulai panik,Pelan pelan Mia melepas segala kain yang Will ikat di tubuh Sela.


Mia menganga tidak percaya saat melihat baju di punggung Sela yang sudah berlapis darah segar


Mia mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.


"Segeralah datang! Saat ini juga." wanita berusia setengah abad lebih itu, panik sangat saat ini.


Mia keluar dari kamar mencari bodyguard Will yang sedang lewat,Hingga ia menemukan Alex.


"Ah. Alex! Kemari dan bantu aku." Mia nampak tergesa gesa hingga membuat Alex penasaran.


"Ada apa, Mia?"


Mia menarik lengan Alex dan mereka masuk ke kamar Sela.


Sama dengan Mia, Alex pun sama terkejutnya.


"Siapa wanita ini?"


"Entahlah,Bantu aku mengangkatnya ke ranjang."

__ADS_1


Alex mengangguk dan mulai mengambil posisi.


"Hati - hati dengan punggungnya." ucap Mia yang dibalas anggukan oleh Alex


Kelopak mata Sela perlahan terbuka. Dengan pandangan sayu,Sela menatap nanar ruang kamar ini. Pening di kepalanya mulai terasa Rasa perih dan sakit di sekujur tubuhnya, membuat Sela merasa lemas.


Mia, yang di tugaskan Will mengobati Sela sadar jika gadis malang itu sudah siuman."Nona? Bagaimana perasaan mu?"


Sela memejamkan matanya sesaat.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Tapi, siapa kau?" ucap Sela dengan lemas.


Mia tersenyum.


"Aku Mia. Mulai sekarang, kau tanggung jawabku."


"Kau yang mengobatiku?"


"Bahkan aku menggantikan pakaian mu."


"Ah,,, terima kasih."


"Sama-sama."


Mia mengambil gelas berisi air putih di atas nakas."Minumlah."


Perlahan Mia, membantu Sela menenggak air putih tersebut hingga tandas.


"Kau sungguh malang.Berapa usia mu,gadis manis?"


"20 tahun."


Mia meletakan kembali gelas tersebut.


"Sebenarnya mudah membuat tuan Will menjadi bersahabat.Cukup mematuhi setiap ucapannya.Buktinya, aku masih hidup hingga detik ini."


"Aku paham.Kau muslim?"


Sela mengangguk.


"Dan pasti kau bukan dari Spanyol."


"Ya. Aku dari suatu negara yang sangat jauh dari sini."


"Di mana itu?"


"Indonesia."


Sela masih sangat lemas Hingga berbicara pun,gadis itu hanya bisa bergumam.


"Benarkah? Tuan Will memiliki cabang perusahaan parfume di sana."


"Ah, aku tidak pernah tahu itu."


"Sebentar. Akan ku ambilkan makan untuk mu."


Mia turun dari kamar Sela menuju dapur,Menyuapkan makanan untuk gadis itu.Hingga,


"Bagaimana?"


Mia terkejut saat suara Will mengagetkannya.Spontan,Mia langsung menunduk hormat.


"Nona telah siuman,Tuan. Namun,"


Will menunggu ucapan Mia sambil duduk dan meminum air putih.


"Lary mengatakan,nona mungkin akan sedikit mengalami trauma jika melihatmu kembali seperti kemarin."

__ADS_1


"Maksud mu?"ucap Will dengan menaruh gelas di sampingnya.


"Nona mungkin akan sedikit terguncang psikisnya karena kejadian kemarin.Hal itu menyebabkan sedikit rasa trauma di otak nona Sela. "


Will mengangguk dengan wajah yang tidak peduli.


Mata Will melihat ada baki yang sudah penuh dengan makanan dan juga minumnya di situ.


"Untuk gadisku?"tanya Will dengan menunjuk objek itu menggunakan dagunya.


Mia mengikuti arah dagu Will.


"Benar tuan."


Will bangkit.


"Biar aku yang menyuapi gadisku. Kau,siapkan saja pakaian bersih untuknya."


Mia menunduk paham.


"Baik tuan."


Will membuka pintu putih kamar Sela,Kepala Will menyelip di antara pintu kamar Sela.Dapat dilihatnya,kamar yang mulanya ia datang berantakan dan memiliki hawa yang sangat tidak enak.Kini berbeda, semua telah rapih dan suasananya tenang.Will masuk dengan perlahan,Menutup pintu menggunakan kakinya perlahan.


Mata mereka berdua bertemu.


Will melempar senyum yang nampak manis namun dengan tanda kutip di dalammya,Sedangkan Sela jantungnya sudah berdetak lebih kencang.


"Hi, baby?"


Sela mulai menitikkan air mata yang sedari tadi mengumpul di pelupuk matanya,Nafas Sela mulai tidak teratur.


Will, yang awalnya sibuk dengan baki tersebut, teralihkan fokusnya kepada gadis itu. "Ada apa?" tanya Will memastikan.


"Kumohon jangan sakiti aku lagi." gumam Sela kembali.


Will diam tidak menggubris ucapan Sela dan lebih memilih merapihkan sendok di atas baki tersebut.


Sela menengokkan kepala dengan menahan isak tangis.


"Itu akibat kau membangkang padaku.Aku, tidak suka dibantah. Hanya itu."


Sela menangis sembari mengangguk.


Will dengan santai mengusap air mata di kedua pipi Sela dengan bibir sedikit tersenyum.


"Dengarkan aku.Kau menginginkan apa, agar aku bisa mencoba tubuh mu?"


Sela menggelengkan kuat.


"Tidak ku mohon... Hiks."


Will menghela nafas dan mulai menatap tajam Sela.


"Ah... Kau sangat jual mahal kepadaku. Kenapa?"


"Tidak, aku akan mematuhi semua perintahmu.Tapi tidak dengan perintah yang satu itu."


"Tapi aku membelimu untuk itu." ucap datar Will.


Sela mencoba duduk dan Will spontan langsung membantu dengan memegang kedua lengan atas Sela.


"Dengarkan aku tuan,agamaku islam. Insyaallah akan seperti itu terus hingga akhir khayatku.Selalu memegang teguh nilai nilai murni keislaman."


Sela menatap Will.


"Sekarang, aku bertanya pada mu. Apa agama yang kau peluk? Sehingga kau nampak sangat tidak takut akan dosa berzina."


"Tidak ada. Mengapa?" ucap Will dengan tegas.

__ADS_1


"Kau tidak percaya Tuhan?" Sela sedikit terkejut


__ADS_2