
Pagi yang sama seperti pagi sebelumnya. Sinar kekuningan yang menyorot tanah yang masih terasa lembab. Lantas awan-awan yang perlahan mengepul menjadi satu. Membatasi hangatnya sinar yang belum pun terik.
Kedua gadis yang saling bercengkerama dengan akrabnya. Saling merangkul satu sama lain dengan senyum lebar yang terlukis jelas pada raut keduanya.
Gadis satu yang memiliki rambut ikal panjang dan yang lain memiliki rambut pendek dengan potongan yang nyaris tidak rapi. Juga seragam putih-abu yang sinkron satu sama lain.
"Eh? Emang lo langsung nembak gitu, ya? Wah, gila!" Seru gadis berkulit pucat itu heboh.
"Hmph, Chaca gitu, loh," ia membusungkan dadanya bangga.
"Tsk, gitu doang sombongnya selangit." Ia menolehkan kepalanya ke arah lain.
"Mencibir itu kecilan woy!" Gadis berambut ikal itu —Chaca—lantas mendekatkan wajahnya sampai nyaris hidung keduanya bertemu dengan wajah gadis itu.
"Minggir," ia mendorong wajah Chaca menjauh. "Mulut lo bau!"
"Amarie, muka lo itu kayaknya Seratus persen gak mirip deh dengan si Kenya itu!" Chaca yang sempat melemparkan tatapan tajam kembali merenung dalam diam.
"Kepo lo!" Amarie sontak memundurkan tubuhnya dan menatapnya main-main.
"Ish! Kali ini serius,"
"Dan kenapa bisa Kak Andhi bisa-bisa aja nerima lo yang notabenenya cewek ngenes kayak gini? Udah gitu masih kelas sepuluh juga," sama seperti Chaca, Amarie pun memesang air muka penuh selidik.
"Jangan alihkan pembicaraanku, Siskayla!" Chaca semakin mengembungkan pipinya.
"Entahlah\~" kakinya mulai bergerak sedikit lebih gesit setiap langkahnya ketika menjauhi Chaca yang tampak melambat. Melihat Chaca yang menghentikan langkahnya, Amarie mulai mendekatinya dan menarik tangannya.
"Cepat coklat Chaca! Nanti kita bisa-bisa dihukum sama cekgu besar, loh!" Serunya tanpa peduli dengan tatapan aneh dari berbagai orang.
.
"Aaric, sampai kapan kamu terus bersikap seperti itu," suara berat itu terdengar fasih.
Pembicaraan dengan bahasa Inggris yang dilakukan keduanya sedari tadi seakan menyalakan percikan api yang siap membakar sembentar lagi. Ketegangan meraup keduanya untuk melupakan wanita yang terbaring tak berdaya di atas ranjang putih tulang.
Nampak seorang pria tua yang duduk di atas kursi roda sambil mendorong kedua roda itu untuk bergerak mundur. Lantas ia mendorong pintu bercat putih itu dengan segala upaya tepat setelah ia menarik gagang pintu itu.
Tatapan tegasnya itu seakan menarik pria paruh baya yang tengah menatap kosong itu untuk memperhatikan dirinya. Dan dengan sigap pria paruh baya di seberang sana itu merespon isyarat bisunya.
"Siska, wanita itu takkan pernah bisa bangun lagi dari komanya. Sudah 15 tahun lamanya setelah kecelakaan tragis itu. Dan kalau pun dia masih berhasil bangun, dia pasti akan kesulitan untuk menangani masalah keluarganya. Belum lagi setelah mengetahui ternyata anaknya yang lain telah meninggalaknnya. Itu sangat menyulitkannya, Aaric, biarkanlah dia pergi, setelah itu, ia tidak akan menderita lagi."
Pria peruh baya itu—Aaric—memberikan tatapan jengah. Lalu menarik nafas panjang, "Ayah pasti bercanda! Via, Vio, Ken, juga Charlie. Kami tidak bisa hidup tanpa Siska, Ayah! Belum lagi Via dan Vio, mereka belum pernah sekali pun berbicara kepada Mommynya!" Suaranya naik lebih dari satu oktaf ketika membicarakan istri kesayangannya.
"Charlie telah berusia 22 tahun, dan itu lebih dari cukup baginya untuk mengurus perusahaan keluarga kita. Belum lagi Ken, Usianya sebentar lagi 19 tahun! Dan dia sudah lulus dari pendidikan lanjutannya! Mereka berdua butuh dibimbing olehmu! Oleh dirinya yang lebih memahami masalah Philiew's Corp. Bukannya duduk dan menunggu Siska untuk bangun dari tidurnya," rahang pria berwajah penuh keriput itu semakin mengeras.
"Berhenti, Ayah! Berhenti!" Aaric semakin lama semakin jengkel dengan sikap Ayahnya terhadap Istrinya yang sedang koma di atas ranjang rumah sakit.
"Seharusnya dari awal aku memberikan tanggung jawab ini kepada Hanry!"
"Ayah tidak akan mengerti! Ayah bahkan menceraikan Ibu hanya karena Ayah menganggapnya tidak becus! Apa Ayah pikir segalanya akan berjalan sesuai rencana Ayah?!" Sulur-sulur api semakin menyala-nyala kala Aaric tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Siska tidak membutuhkan lelaki temparamental sepertimu, Aaric!"
"Ayah tidak perlu menasehatiku tentang apa yang Ayah paling tidak tau," ujarnya geram, lalu bergegas menuju pintu keluar.
Jujur saja, dalam hati ia merapalkan segala jenis sumpah serapah yang ia tau. Kalau saja pria tua ini bukanlah Ayahnya, pasti ia sudah mati dari tadi.
. .
Udara sejuk melintas akibat hawa dari air conditioning yang tengah menyala di sepanjang lintasan. Ramainya orang-orang yang berlalu-lalang ikut serta menambah polusi suara yang telah tersedia sejak kala.
Seorang gadis remaja berparas feminim, bergegas dengan nafas tersengal-sengal menuju seorang lelaki yang nampak sedikit mirip dengannya. Seolah telah berlari panjang, gadis itu pun mengumpulkan nafas dalam-dalam.
"Via, dimana Vio?" Suara berat itu menyadarkan gadis itu—Via—dari hayalannya.
"Di-dia lagi ... itu." Ia memegang dadanya yang masih naik turun. Lalu lelaki itu menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh jari telunjuk Via.
Dilihatnya seorang lelaki tampan yang memiliki paras yang tidak kalah dari dirinya. Tetapi juga ia memiliki detail-detail yang begitu mirip dengan adik perempuannya.
"Astaga, Via," Via terkekeh sembari menggaruk tengkuknya, "how many items did you bring!?" Sentaknya menoyor kepala Adik bungsunya itu.
__ADS_1
"Are you kidding me? You never worrying me anymore! At the very least, you asked your sweet sister to help me," ia menunjukkan rentetan koper berwarna merah mudah di kedua tangannya.
Lebih tepatnya, Via membawa 4 koper sekaligus ke Indonesia dan Vio hanya membawa tas ransel raksasa berwarna dominan navy di punggungnya. Manik safirnya seketika dipenuhi oleh kekesalan. Ia merapikan rambut coklat tuanya, lalu melanjutkan jalannya penuh dengki. Tentunya, setelah meninggalkan koper-koper bawaan Via begitu saja.
"Gunakan bahasa Indonesia di sini, Challies!" Serunya ketika bayangan Vio mulai mengecil.
"Biasa, kak. Vio kan tsundere." Via membalas dengan senyum, tetapi berkata dengan nada yang amat datar seolah itu bukan urusannya sama sekali.
"Syukur, lo pada itu adik-adik gue. Kalau gak sudah gue getokin kepalanya satu-satu," desisnya menatap Via yang mengejar Vio.
Ketiganya berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Berjalan menuju mobil yang dibawa oleh lelaki ini. Kendrick namanya.
Lelaki berambut hitam tebal sedikit gondrong dari rambut orang-orang Indonesia rata-rata. Manik safirnya yang terkadang dipenuhi oleh kekhawatiran kepada adik-adiknya. Ia menatap keduanya yang menjauh, seakan meninggalkan dirinya sendiri untuk selama-lamanya.
Di tempat parkiran Via nampak menoleh ke sana ke mari dengan raut kebingungan.
"Kita mau ke mana Vio?" Via mengerjap kebingungan.
"Mungkin di sana," Vio berjalan setelah merangkul tangan Via ke arah yang telah ia tatap lamat-lamat sedari tadi.
"Mungkin?"
"Hm"
"Membosankan," bisik Via sekali lagi memecah keheningan.
"By the way, what did you bring in your suitcases?" Tanyanya tanpa berbalik sedikit pun.
"Nothing," langkah Vio terhenti seketika.
"Go,"
"Hah?"
"Go back and take your suitcases. Or no, i'll throw away your suitcases by myself." Vio berbalik dan menatap Via horor.
Dia benci dipermainkan seperti ini oleh adik kembarnya sendiri. Walaupun Via adalah adiknya yang paling polos dan menyebalkan satu-satunya. Adiknya yang lebih multi talented dibandingkan dirinya.
"Kak Ken\~! Vio mengggunakan bahasa inggris lagi, loh!" Serunya tatkala melihat Kendrick yang tengah berjalan cepat ke arah keduanya dengan susah payah.
"Percuma, Kak," bisik Vio. "Itu kosong, gak ada isinya."
Kendrick seketika memelototi Via. "Calm down, kak, calm down."
"Bisa Via jelasin, kok. Sebenarnya Via itu mau membawa oleh-oleh buat teman-teman Via di New York." Via buru-buru tersenyum canggung dan tanpa sadar mundur satu langkah ke belakang.
"Teman Via sebanyak apa, Vio?" Kendrick berbalik menatap Vio dengan antisipasi.
"Banyak. Mungkin bahkan teman Kakak dan temanku masih tidak cukup untuk sebanding dengan banyak teman Via." Vio mengangkat bahunya acuh.
"Memangnya Vio punya teman, ya?"
"Mungkin," Vio kini merogoh sakunya dan menyalakan ponsel pintarnya.
Lantas Kendrick mengembalikan pandangannya kepada Via, "ada berapa," nampak Via yang masih menghitung dengan kedua tangan gandumnya.
"Dua ratus ..." Kendrick menarik alisnya ke bawah. "Tiga ratus satu, kak!"
"As you know, kak." Vio menimpalinya dengan manik yang masih terfokus pada ponsel pintar miliknya.
"Dengan kemampuan bersosialisasimu yang ekstrim itu memang bukan hal yang mustahil," balas Kendrick mulai berjalan dengan koper di kedua tangannya.
"Kakak yakin tetap mau bawa itu?" Vio menunjuk keempat koper itu setelah meletakkan ponsel pintarnya kembali ke dalam sakunya.
"Hm, sayang kalau dibuang."
. . .
Kedua gadis itu—Amarie dan Chaca—tengah berjalan menuju kelas dengan damai. Tanpa satu pun suara yang bergema. Apa lagi suara cempreng milik Chaca yang tak pernah absen itu kini tak terdengar.
"Tumben lo tenang banget kali ini, Cha." Amarie melirik gerak-gerik Chaca yang sedari tadi terlihat aneh di mata gadis itu.
__ADS_1
"Udah sore." Chaca masih menatap kosong ke depan. "Lagi mikirin cucian gue,"
"Widih, acak banget dah!"
"Lagi mabic," sorot mata Amarie melengkung ketika melihat perhatian Chaca yang kembali ke dunia nyata.
"Malas cingcong?"
"Malas cincang, eh bukan. Lagi pengen cincang orang maksudnya." Senyum Amarie semakin lebar.
"Oh, I know! Lo lagi pengen ngecincang pelako, ya, kan?"
"Nah, pinter!"
"Pelakor ada di mana-mana\~" keduanya kembali terkekeh.
"Menurut lo, orang-orang agak aneh gak sama lo?" Chaca menatap lurus sahabatnya sejak SMP ini.
"Aneh kenapa?"
"Mereka kayak gak tau gitu kalo lo ada di samping gue tiap kali gue jalan bareng lo." Chaca sekali-kali mengernyit ketika mengingat beberapa kejadian yang menurutnya terlihat janggal.
"Hahahah ... itu karena gue-nya aja yang terlalu pintar. Makanya, swing, mereka gak tau kalo gue ada di sana." Chaca memiringkan kepalanya bingung sambil mengelus dagunya.
"Atau karena elo nya yang terlalu cuantik sampai gue dilupakan."
"Atau ... jangan-jangan ..." Ia mendongak ke langit-langit dengan tatapan menerawang.
"Lo itu hantu!" Amarie buru-buru menjitak kepala sahabatnya, menimbulkan ringisan dari Chaca.
"Buset! Gue itu masih manusia, coklat."
Mereka kembali senyap tanpa suara ketika melewati koridor-koridor yang ada. Sampai ketika seseorang yang menabrak bahu Amarie. Amarie tidak perlu susah paya mendongak hanya untuk mencari tau siapa pelakunya, karena dari awal ia sudah tau siapa itu.
"Ada apa, Kenya?" Amarie menatap datar gadis yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
Gadis yang mengenakan switer dan rok pendek abu-abu. Dengan rambut panjang yang telah dicat merah menyala oleh dirinya sendiri. Tatapan benci pula yang ia sodorkan tatkala tatapan keduanya beradu.
"Heh, elo itu, ya! Udah gue bilangin kalo jalan itu pakek mata!" Kenya mendorong tubuh Amarie ke belakang. Tetapi Amarie tetap berhasil menjaga keseimbangannya meskipun tubuhnya agak lemah.
"Gue jalannya pake kaki, kok. Mana ada orang jalannya pake mata, mau mata lo buta? Atau biar gak susah-susah, biar gue aja yang bolongin mata lo?" Amarie melemparkan tatapan dingin diiringi senyum yang semakin mengembang di wajahnya.
"Begitulah orang ketiga, Kenya. Selalu menjadi orang pertama yang membalikkan hitam menjadi putih untuk memusuhi lo." Sinis gadis yang berdiri tepat di belakang Kenya. Amarie menebak gadis itu adalah salah-satu dari dayang-dayang Kenya.
"Seorang ****** harus tetap setia, dan menggonggong ketika majikanmu meminta." Amarie memilin jarinya tanpa menatap gadis itu sekali pun.
"Lo bilangi gue ******!?" Gadis itu segera maju dan mendorong Amarie hingga tersungkur.
Oh tidak.
Amarie merasakan lukanya yang kembali terbuka dan perutnya yang semakin perih. Perutnya yang telah disayat tanpa belas kasih oleh Ayah dari Kenya. Darah itu semakin banyak dan banyak hingga berhasil lolos dari seragam putih yang telah susah payah Amarie beli dengan uangnya.
Kenya yang melihat kejadian itu segera memberikan kode kepada teman-temannya yang lain untuk mengangkat tubuh Amarie yang masih menggeliat di atas lantai.
"Kalau ada yang berani laporin kejadian ini kepada guru, awas lo semua gue pantauin! Mati lo pada kalo berani laporin!" Kenya mengangkat tangannya ke atas.
Beberapa orang terlihat menatap Amarie dengan sorot prihatin. Mereka merasa kasihan dari lubuk hati mereka yang terdalam. Tetapi untuk apa mereka membantunya? Toh, tidak akan memberikan manfaat bagi mereka. Sebaliknya justru penderitaan yang mereka akan terima.
Bagi mereka Amarie tidaklah penting. Dia bukan orang yang terlalu pintar di bidang akademik atau non akademik, atau pun pandai bergaul dengan banyak orang. Atau bukan pula kutu buku yang terlampau akut. Ia hanyalah salah satu siswi dari ratusan siswa-siswi di sekolah ini.
Terlalu biasa
. . . .
Amarie merasakan perih yang menghantam perutnya ketika ia mencoba membuka mata. Kelopak matanya yang masih terasa berat dan matanya yang kabur. Ia tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.
"Amarie? Sudah bangun?" Tanya suara yang tidak diketahui Amarie pada awalnya.
"Kak Andhi?" Ia membuka suaranya yang masih serak dan samar-samar.
"Iya. Sekarang kamu lagi ada di UKS. Jangan banyak gerak, perutmu benar-benar terluka, loh."
__ADS_1
. . . . .