Tidak Ada

Tidak Ada
14


__ADS_3

~Mafia dan Hijab~


***


Will telah memindahkan Sela dalam keadaan koma ke Cordoba Bukan untuk di pindah rawat ke rumah sakit yang lebih baik tapi, untuk Will rawat sendiri di rumah.Will pikir, justru jika Sela di rawat di rumah sakit kan lebuh bahaya.


Will memerintah Ansel agar mengurus itu semua dengan pihak rumah sakit Santa's Consina. Agar mereka memindahkan sebagian alat penunjang hidup sela ke mansion Will yang cukup jauh dari pusat kota.


Pihak rumah sakit menyetujui dan mereka pun memberi pendampingan dokter dan juga perawat untuk memantau perkembangan kesehatan Sela. Masih dengan alat yang menempel di tubuhnya, Sela di pindahkan menuju kamarnya. Dengan menggunakan tenaga Will sendiri, pria itu membopong tubuh Sela perlahan menuju kamarnya di lantai dua.Ya,Kamarnya dalam arti kamar Will. Will putuskan seperti itu agar ia lebih mudah memantau perkembangan Sela.


Suara alat dan juga tiap tetes cairan infus yang masuk ke tubuh Sela adalah tiap tetes penyesalan yang Will rasakan saat ini. Ruang kamar Will yang hanya memiliki cahaya dari lampu tidur, seolah terasa lebih mendukung perasaan bersalah Will.Sinar rembulan yang masuk dari jendela kamar Will,sedikit menyinari wajah Will yang kini nampak di tumbuhi sedikit rambut rambut.Will duduk dengan jegang kaki dan mengusap rokok lewat cerutunya.


2 botol wine sudah Will habis akan sendiri,Seharian ini tidak ada yang Will lakukan selain duduk di kursi santai yang menghadap ke arah ranjang, merokok, dan meminum wine saja. Will selalu memandang gadisnya yang tengah terkulai lemah karena perbuatannya.Mata tajam Will selalu menatap tubuh Sela dengan datar,Will menaruh cerutunya di meja juga gelas winenya.Will beranjak dari kursi santai tersebut menuju ranjang,Will kembali duduk di tepi ranjang yang Sela tempati.Mengusap pipi Sela yang tetap merah merona meskipun kini terlihat lebih pucat,Alat deteksi detak jantung yang mengesalkan itu masih saja berbunyi dan menganggu kedamaian Will


Setiap dentingan suara alat tersebut, bagaikan teka teki menegangkan.Will takut jika kemungkinan buruk itu terjadi suatu saat nanti alat tersebut berbunyi panjang,maka saat itu juga Will tidak tahu harus melakukan apa. Namun,Will selalu menepis pikiran buruknya itu.


"Kau akan selamat.Kembali ceria seperti dulu Meskipun aku tidak pernah melihat mu ceria saat bersamaku."gumam Will.


Kembali Will menghembuskan nafas lelah Sebelum ia beranjak untuk keluar dari kamarnya itu.Dengan wajah lelah,Will menuruni anak tangga menuju dapur mansionnya. Ansel datang masih dengan tab yang selalu setia menemani di tanyanya.


"Siapkan makan malam untuk ku. Siapkan semua di kamarku." ucap Will pada Mia yang baru saja datang.


"Baik tuan."


Mia pergi, tinggal Ansel dan juga Will. Will yang sempat pergi meninggalkan Ansel beberapa langkah, kembali berbalik badan menghadap pria itu.


"Kau... Aku kecewa pada mu."


Ansel segera menunduk.


"Maafkan saya tuan Bukan maksud saya seperti itu."

__ADS_1


"Kau masih memiliki hubungan darah denganku,Aku tidak akan tega untuk membunuh mu."ucap datar Will dan langsung pergi.


"Terimakasih tuan."


***


Will kembali duduk di kursi santai. Tanganya sibuk untuk membuka tutup botol wine lagi.Di tuangkannya wine tersebut pada gelas kecil Suara alat itu masih terdengar dengan nada teratur.


Drrttt!


Drrttt!


Drrttt!


Tiba tiba, getaran ponsel Will di saku jasnya tiba tiba terasa.Segara tangan Will meraihnya dan melihat siapa yang menelfon.Terdapat nama Alex terpampang di layar ponsel Will,Will menggeser tombol hijau ke arah kanan.


"Ada apa?"Kening Will tiba tiba berkerut.


"********! Kau gila, Hah?!" umpat Will.


Tok!


Tok!


Tok!


Mia masuk dengan membawa troli penuh dengan piring makanan dan juga minumannya,Mulai menata satu persatu di meja samping Will


Will mengangguk.


"Di sini tertulis bahwa, kau akan mendapatkannya juga. Account email ini sudah tidak bisa di buka tuan."

__ADS_1


"Tunggu! Maksudnya aku pun akan di buat mati secara tragis seperti itu? Cih! ******** gila! Lacak siapa pemilik account itu! Bunuh sampai akar akarnya yang ikut terlibat dengan ini semua!" emosi Will mulai membuncah.


"Baik, tuan. Kami permisi."keduanya menunduk hormat.


Ansel dan Edward pergi secara terburu buru.


Begitu pula Will,ia segera menuju kamar nya.Di perjalanan,Will kembali bertemu dengan Edward, si pria strategis.Edward lah yang pandai mengatur formasi serta membantu Wil merencanakan strategi.


"Perketat penjagaan terhadap Sela. Kita akan pindah ke apartemen di kota."


Edward menunduk paham."Baik, tuan."


Pria itu masuk ke dalam kamar Sela sebelum menuju kamarnya.


Will dengan segera memasukan beberapa stel pakaian milik gadisnya ke dalam koper. siapkan semua?


Karena ia tak akan rela gadisnya di perhatikan oleh orang lain.


*


"Siapkan mobil yang cukup besar dan nyaman untuk gadisku. Jangan mobil sedan, karena itu akan menyulitkan." ucap Will pada seorang bodyguard nya.


"Baik, tuan."


"Pindahkan gadisku dengan aman dan selamat ke alamat ini. Mia akan bersama mu." ucap Will pada dokter wanita itu.


"B-baik, tuan."


"Pindahkan gadisku dengan aman dan selamat ke alamat ini. Mia akan bersama mu." ucap Will pada dokter wanita itu.


"B-baik, tuan."

__ADS_1


Dokter,di bantu perawat juga Mia mulai menata alat alat yang menempel pada Sela agar mudah di bawa kembali.Will dengan siap membopong gadis itu menuruni anak tangga menuju mobil yang ternyata sudah terparkir rapih di depan dengan pintu terbuka.


Will memapankan tubuh gadisnya. Dokter dan perawat itu segera masuk mengecek keadaan Sela setelah oksigen di lepas sesaat tadi.Will masih di luar mobil bersama Mia."Ku percaya dia padamu,Hanya kau Aku menitipkan dia pada mu hanya sebentar.Setelah semuanya kembali kondusif." ucap Will dengan nafas tak kruan


__ADS_2