Tidak Ada

Tidak Ada
sepuluh


__ADS_3

~Mafia dan Hijab~


"Ya.Aku tidak ingin di repotkan dengan aturan aturan agama.Selama ini,tanpa Tuhan dan agama aku bisa menjadi aku yang sekarang. Bebas dan sukses."


"Tapi itu semua tidak ada artinya."


"Jangan diperpanjang.Makanlah."


Sela menerima suapan dari Will karena ia sangat lapar dan terasa lemas tubunya.


"Tuan,"


"Panggil aku Will."


"Baiklah.Will?"


"Ya?"


"Awalnya aku hanya akan terfokus untuk bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini.Namun,melihat keadaan mu yang seperti ini membuatku prihatin." ucap Sela sembari menelan makanan di mulutnya.


"Maksudmu?Aku tidak butuh belas kasihan."


"Ya,Aku tahu.Tapi, sekarang kau telisik kebelakang selama ini,usia yang sudah kau habiskan itu untuk apa saja? Maksudku, kau melakukan kejahatan ini semua tidak hanya sejak kemarin sore,bukan?Dengan itu kau menyia-nyiakan usia mu."


Will bungkam dan nampak mendengarkan Sela dengan baik.


"Dengarkan aku.Usia manusia, umat nabi Muhammad itu terbatas. Hanya sampai sekitar 63 tahun saja. Selebihnya itu hanya bonus. Aku dan kau itu sama sama memiliki usia yang terbatas.Maka dari itu jangan cari banyak dosa, tapi carilah pahala sebanyak mungkin." ucap Sela sangat lembut dengan menatap wajah Will yang tampan.


"Siapa itu... Nabi Muhammad?" tanya Will.


Entah mengapa dan kerena dorongan apa, Will merasa tenang mendengar ucapan demi ucapan religi dari Sela.


Sela tersenyum mendengar pertanyaan Will, yang terdengar begitu antusias.


"Kau tertarik dengan Islam? Jika begitu, mari belajar di negaraku. Di sana kau akan belajar banyak hal tentang Islam."


"Tapi dengan syarat.Kau harus Istiqomah di jalan Allah,ikhlas dari dalam hati mu,harus mau menerima segala aturan dari Allah, tinggalkan semua maksiat yang pernah kau lakukan dan yang terpenting...Taubat dengan sungguh sungguh." ucap Sela dengan senyuman di setiap katanya.


Will nampak berkir keras dengan rahang yang mengeras pula.


"Argghh! Kau menceramahiku hanya untuk cara agar bagaimana kau bisa keluar dariku,Bukan?!"


"Tidak. Aku berkata jujur. Kau sendiri tadi sangat khidmat mendengarkanku. Mengapa sekarang kau kembali seperti ini? Dengarkan aku, sebentar saja."


"Baiklah! Akan ku dengar ocehan mu.Tapi, aku tidak akan terpengaruh dengan doktrin doktrin yang kau berikan ke otakku."


Sela mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Kau tahu, dengan kita yang hanya berdua di kamar ini saja... Kita sudah berdosa. Apalagi petmintaan mu untuk berzina dengan ku. Aku selalu tolak dengan keras walaupun tubuhku pasti menjadi samsak tinjumu."


"Karena itu perbuatan dosa, bahkan hingga keturunan mu nanti juga akan terkena dampak perbuatan mu." lanjut Sela.


"Aku berhijab seperti ini, agar auratku tidak ada yang melihatnya, kecuali mahromku nanti atau suami sah ku nantinya."


Will menatap Sela dengan arti tatapan entah apa.


"Lalu bagaimana dengan statusku yang pemimpin pasar gelap ilegal dan juga pemimpin Mafia jangkauan Eropa dan Spanyol? Apa masih bisa mendapatkan agama Islam?"


Uhuk!


Uhuk!


Uhuk!


Sela sedikit tersedak dengan air putih yang sedang ia minum.Mendengar ucapan serius dari pria di depannya ini, membuat Sela pun melongo tidak percaya di buatnya.


"M-maksud mu?"


"Sekarang gunakan akal pikiran mu dengan baik.Mana ada, pria baik baik yang akan melakukan jual beli wanita. Termasuk kau,kau ku beli untuk menjadi budak sex-ku."


Sela bingung.


"Jadi... Tidak hanya aku yang menjadi korban?" tanya Sela dengan gumam kecil di mulutnya.


Sela menggelengkan kepalanya mengusir segala pikiran buruk dan kotor di pikiranya


"Atau, kau ingin melihat bagaimana caraku mengeksekusi para pengkhianat dan musuhku?"


Sela menggenggam gelas yang ada di tangannya dengan kuat.


"Kau akan melihat sisiku yang lain dan ku pastikan lebih menyeramkan dari yang kau alami." ucap Will dengan tatapan mata gelap.


"A-apa itu pasar gelap?"


"Kau ingin tahu? Akan ku tunjukan nanti, pulihkan tubuh mu dan makan."


***


Beberapa hari kemudian, setelah kejadian yang menakutkan kemarin. Sela mencoba untuk selalu patuh dengan Will seperti ucapan Mia tempo hari.Tapi, tidak untuk keinginan Will yang satu ini, sex.


Sekeliling rumah Will, selalu di jaga pria tinggi dengan pakaian hitam di sana. Sela pun selalu mendapati pria pria itu hanya berdiri diam mematung ditempat.


Seperti saat ini, Will memanggil Sela untuk naik ke ruang kerjanya.Sama, pria-pria itu tengah berdiri diam.


"M-maaf,Tuan Will, menyuruhku masuk."

__ADS_1


Dia Ansel.Paham dengan yang Sela katakan,Ansel menggeser posisi awal untuk memberi jalan Sela masuk.


"Silahkan."


Sela mengangguk kecil.


Cklek!


Sela masuk perlahan,Ansel menutup pintu tersebut dari luar. Dapat Sela lihat, Will tengah duduk menggunakan kaca mata baca, tuxedo lengkap dan laptop di depannya.Tak dapat Sela pungkiri, Will memang pria matang yang tampan.


Bulu - bulu lembut dan halus tumbuh di sekitar dagunya,Rambut yang sedikit berantakan namun membuat ketampanannya berlipat ganda.Namun sayang,Will yang dari luar nampak seperti pria yang baik dan juga penyayang tidak seperti itu aslinya


"Assalamualaikum," ucap lembut Sela kepada Will. Pria itu tersadar dan mengalihkan fokusnya kepada pemilik suara tersebut.Will terpaku pada Sela kali ini,Gadis mungil itu berpakaian panjang serba nuansa pink dan itu malah membuat Will bergairah. Entah mengapa, padahal Sela saat ini menggunakan hijab yang besar. Tidak seperti pertama datang yang hanya menggunakan scraf biasa.


Sela yang merasa di perhatikan intens oleh pria di depannya itu, canggung dan dalah tingkah. "Ah... K-kau melihat apa, Will?"


Will tersadar dan langsung melelas kaca mata kemudian mengusap wajahnya. "Duduk lah."


Will merasa sangat bodoh saat ini di depan wanita.Baru pertama kali seperti ini ia ingin marah,namun seperti ada yang mengerem.


Sela perlahan duduk di kursi depan meja Will.Seperti biasa, Sela enggan bertatap mata lebih dengan Will yang bukan mahromnya.Itu salah satu dosa yang biasa manusia awam lakukan


"Seperti janjiku tempo hari. Aku akan mengajakmu ke markas utama black market."


"Oh? Apa di sana aku akan melihat pembunuhan, mayat, darah, dan-"


"Aku rasa kau ini memang benar benar bodoh.Bukan kah aku sudah pernah mengatakan ini, jika aku akan membunuh orang yang berkhianat dan menganggu hidupku, maupun orang terdekatku."


Sela mengangguk dalam diam.


"Kau tahu pria yang berjaga di depan sana?" ucap Will sambil menunjuk pintu utama ruangan ini. Sela mengikuti arah tunjuk Will, seketika menggeleng.


"Pria-pria menakutkan di luar sana, aku pikir semua sama saja. Mereka berpakaian sama, bertingkah sama, dan juga... Berwajah sama, maybe?"


Will seketika terkekeh. Ucapan Sela tadi, membuat ia tertawa walaupun kecil untuk pertama kalinya karena seorang gadis.


"Mereka berbeda. Jadi, kau sudah siap?"


"Ahh... Ya. Bismillah."


Keduanya hendak beranjak namun,


"Wait!" sentak Sela yang mengejutkan, membuat Will kembali ke posisi duduknya.


"Why ?"


"Disana, kau tidak akan menjualku bukan? Atau membunuhku? Atau-"

__ADS_1


"Stop it ! Mari kita berangkat.". ucap datar Will dan langsung melangkahkan lakinya keluar dari ruang kerjanya


__ADS_2