Tidak Ada

Tidak Ada
12


__ADS_3

~mafia dan hijab~


Sela terkejut dan membelalakkan matanya saat wajah Will dan Sela bertemu sangat dekat.


"Jangan coba coba mengalihkan pembicaraan, baby..."


Wajah Sela mengkerut dan terlihat imut nan lucu.


"Mau mencoba nanti malam? Setidaknya, jika kau hamil anakku nanti, akan memperbaiki keturunan mu yang mungkin akan memiliki otak yang bodoh." ejek Will kepada Sela.


"Enak saja. Aku bukan wanita seperti itu berkali kali ku bilang bukan?"


Di tengah obrolan ringan antara Will dan Sela, ada kutu pengganggu yang datang. Dengan kepercayaan diri yang sungguh luar biasa untuk berani menemui Will secara langsung.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk." ucap Will dari dalam.


Siapa lagi jika bukan Mark.


"Selamat siang tuan." sapa Mark dengan ramah justru membuat Will merasa jijik.


Sela terkejut dan takut


Gadis itu yang awalnya berada di samping Will,duduk dengan manis, kini Sela langsung berdiri dan berlari di belakang Will.


"Kita sepertinya kedatangan tamu tidak di undang, baby." ucap Will yang melirik sekilas Sela kebelakang. Sela yang menggenggam erat tuxedo Will bagian pundak, merasa ancaman bahaya kembali padanya.


Mark itu sumber bahaya untuk Sela.


Will beranjak Langsung menggandeng tangan Sela dan menuntunnya untuk berdiri di belakang kursi meja kerjanya. Sementara Will duduk dengan melipat kakinya.


"To the point saja,Aku benci basa basi" Will berkata dengan datar sembari menyalakan rokoknya.


Setelah terjadi perdebatan yang cukup sengit dan terlihat sangat aura di sekitar ruangan ini memanas.


Mark kembali datang dengan sombong menantang Will untuk beradu thander besar yang akan di meeting kan esok lusa.


Celetukan - celetukan Mark membuat Will naik pitam. Namun, pria itu mengingat jika ada Sela di belakangnya saat ini. Situasi tidak memungkinkan untuk ia membunuh Mark di depan gadis itu.Will Khawatir Sela yang akan kembali mendapatkan trauma.Sedangkan,Sela sudah memiliki rasa trauma di pikirannya terhadap Will.


Jadi pria itu selalu mengantisipasi menyakiti seseorang agar rasa trauma gadis itu tidak bertambah.


Berkali-kali Will mencoba mengusir asumsi tersebut.Asumsi jika mungkin saja Sela akan kembali menjadi korban amarah Will atau kebringasan Mark.Namun tidak bisanya ia tetap ingin gadis itu aman bersamanya.


"Ku tawarkan sebuah opini.Jika aku lah pemenang thander itu,akan kuserahkan semua padamu,tapi dengan satu syarat." ucap Mark dengan nada yang sangat mengesalkan.


Sela yang berdiri di belakang kursi yang Will duduki,merasa muak dengan Mark.Ingin sekali manusia seperti itu segera punah dari bumi atau setidaknya hilang dari kehidupan Sela saja.Will sedari tadi, mendengarkan ucapan Mark dengan satu telinga saja. Tidak Will ambil pusing ocehan pak tua itu.

__ADS_1


Tiba-tiba, Mark mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku tuxedonya. Sela membelalakkan matanya terkejut dan takut. Spontan, tangan mungil Sela mencengkram erat tuxedo di bahu Will.


Tahu jika gadisnya tengah ketakutan, Will menggenggam salah satu tangan Sela.


Menariknya pelan hingga tubuh Sela terbungkuk dan telinga Sela berada sejajar dengan mulut Will.


"Tenang. Aku ada di sini,Itu senjata murahan yang intensitas tembakan pelurunya, hanya seperti gigitan kalajengking." bisik remeh Will di telinga Sela.


"Kau berusaha mengancam ku dengan itu?"tanya Will dengan menunjuk pistol di meja kerjanya.


"Aku benci ada sampah yang mengotori ruanganku apalagi meja kerjaku." ucap datar Will.


Mark terkekeh


"Syarat yang ku inginkan hanya dia." maksud Mark adalah Sela.


Mata Will melirik sekilas kebelakang di mana Sela berada.


"Tenang lah putriku,Aku akan membawa kau pulang bersamaku." ucap Mark dengan senyuman licik.


"Aku akan membebaskan mu dari kekangan dan kekejaman pria ini."


Will menyeringai.


"Mari kita tanya langsung kepada pihak yang bersangkutan.Aku tidak mau meributkan seorang gadis lugu."


Pandangan Mark beralih ke Sela yang tengah membuang pandangannya kearah jndela sana


"Tidak!" sentak Sela.


Mark mengerutkan keningnya bingung sementara Will terkekeh mengejek.


"Lihat?! Dia sudah nyaman denganku."


"Sela?!" sentak Mark meminta penjelasan.


"Sudah cukup kau menjualku pada tuan Will. Beruntung dia mau menyelamatkanku dan berbaik hati hingga aku masih hidup sampai saat ini. Aku bersyukur kau tidak menjual ku pada pria lain yang... Mungkin lebih dengan kurang ajarnya dia akan menjadikan ku *******." ucap Sela yang mulai menangis.


Will dengan santainya berdiri dari kursinya dan tangan yang sibuk mengancing tuxedonya.


"Apa kau akan menginap di sini? Kami akan pulang." Will menarik lengan Sela dan menggandengnya berjalan pergi keluar dari ruangan itu.


Saat sudah setengah perjalanan,Mark berteriak dari sana. "KURANG AJAR SEKALI KAU WILL! DASAR PRIA ******** GILA!"


Di sana,Will mengerang penuh kebencian."Ku habiskan kau saat ini juga."gumam sengit Will.


Tangan Sela seolah menjadi peredam amarah Will. "Jangan biarkan emosi menguasaimu Will." suara lembut Sela, sesaat bisa menenangkan emosinya.Tapi,jika Will sudah emosi tidak ada yang bisa menenangkan pria itu.


Will mengeluarkan revolver HS 2000 Pistol koleksi Will rata rata buatan Rusia yang hanya di produksi untuk militer dan badan intelegen lainya dan tidak mudah mendapatkan itu.Namun, Will mendapatkan revolver itu tak lebih dari 2 hari.


Berjalan perlahan menuju pria tua tersebut di sana.Mark sadar jika ia telah salah untuk menantang Will secara terang-terangan,Will berhenti beberapa langkah saja di depan pria itu.Tinggi Will yang melebihi Mark, membuat Will dengan mudah nantinya untuk menembuskan pisau berlapis racun tepat di jantung Mark.

__ADS_1


"Kau bermain - main dengan Anjing Serigala Spanyol,Mark? Apa aku tidak salah tentang itu?"ucapan Will memang terdengar tenang.Namun, suara berat yang pria itu miliki membuat kesan aura gelap Will bertambah berkali-kali lipat.


"Kau menginginkannya?" Sela adalah objek yang Will maksud.


Mark sudah bergetar ketakutan disana.


DOR!


Mark terkejut bukan main.Sela tertembak,bukan! Will menembak Sela dengan santai dan gadis itu langsung terjatuh dengan darah yang mulai mengalir keluar.


Saat itu,Sela masih sadar dan bisa mendengar apa saja yang Will dan Mark katakan.Namun,setelahnya Sela sudah tidak kuat menahan rasa sakit dan ia akhirnya kehilangan kesadaran.


"Sayang,Anak mu telah mati di tangan ku." ucap remeh Will.


"K-kau...Ke-kenapa..."


Mark terduduk karena lututnya lemas,Mulutnya bergetar ketakutan melihat sang putri tirinya mati begitu saja di tangan Will.


"ARRGGHHH!" Mark mengerang kesakitan saat kaki Will menginjak dada Mark dengan keras.


Wil mengambil dasi milik Mark yang pria itu kenakan,Mark sulit bernafas dan mencoba menarik kaki Will.


"Kau selalu mengusik ketenanganku.


Aku sudah terlalu muak melihat wajah mu dan mendengar berbagai omong kosong yang kau berikan." ucap datar Will.


Will menarik dasi Mark dengan kasar Menyumpal mulut Mark dengan dari itu hingga benar benar rapat dan kencang.Hingga,


Crug!


Will menusukkan pisau kecilnya itu ke kepala Mark. Mata Mark terbelalak, hanya erangan keras yang tertahan dari mulut Mark.


"Sakit?" tanya Will dengan wajah mengejek.


DOR!


DOR!


DOR!


Will memberondong peluru dari senjata revolvernya hingga beberapa kali ke beberapa titik vital di tubuh Mark tanpa ampun. Darah mengalir saat tubuh pria itu mulai terbaring lemas.


"Good Bye Mark.Hahahahaha....!"


Suara tawa Will menggelegar di gudang besar ini.Semua pekerja yang ada di sini ketakutan,namun mencoba tidak memperdulikannya.


"Menjijikan.Ansel! Bersihkan ini semua." perintah Will pada Ansel yang sedari tadi menyaksikan semua.


Ansel menunduk. "Baik tuan."


Will melihat tubuh Sela dari kejauhan yang sudah tidak berdaya,Darah mengalir di samping tubuh mungil nya.Will berjalan menuju Sela dengan wajah datar.

__ADS_1


__ADS_2