Tidak Ada

Tidak Ada
17


__ADS_3

mafia dan hijab


***


Dengan menggunakan kursi roda, Mia mengantarkan Sela menuju ruang perawatan Will. Semalam, Ansel tidak sengaja membawa Will ke rumah sakit yang sama dengan Sela. Karena rumah sakit ini yang paling dekat juga lengkap alat alatnya.


Ruangan Will di khususkan di lantai yang sama dengan Sela namun ada ruangan khusus yang di persiapkan untuk Will.Mia berhasil membuk Sela agar mau sekedar menjenguk Will.Sela tidak benci dengan Will atau para anak buahnya,Tapi Sela juga trauma dengan kejadian baru baru ini juga kejadian tempo minggu.


Mia membawa Sela masuk ke dalam ruangan tempat Will. Banyak pria berpakaian serba hitam berjejer di depan ruangan Will.Perlahan kursi roda itu Mia dorong menuju blangkar Will. Sela dapat melihat pria yang biasanya memiliki wibawa tinggi dengan wajah yang selalu garang, kini berbeda. Will terbaring lemah di kasur dan wajahnya pucat sayu.


"Tuan Will sempat kehilangan denyut nadinya." ucap Mia dengan sorot mata sayu melihat Will.


Sela mendongak ke atas melihat wajah Mia saat wanita paruh baya itu mengatakan kalimat tersebut.


"Namun beruntung mereka berhasil menyelamatkannya." ucap Mia dengan senyum kecil di bibirnya.


"Dia seperti itu karena mu. Karena kau wanita yang spesial di matanya."


"Tidak. Dia hanya menganggapku sebagai barangnya. Karena memang seperti itu kenyataannya dan aku tidak mengharapkan lebih." ucap datar Sela dengan mata yang terus memperhatikan wajah Will.


Mia mendorong kursi roda Sela untuk sedikit lebih mendekat ke blankar yang Will gunakan.


"Apa... Semua cerita yang ku ceritakan


padamu tidak bisa membuat mu berhenti untuk takut atau benci tetap tuan Will?"


"Kenapa kau seolah memaksaku, Mia! Dia menakutkan, pria ini psikopat, pria ini membuat ku gila karena ketakutan!" luapan perasaan yang Sela rasakan selama bersama dengan Will diiringi dengan air mata yang turun.


"Karena selama ini hidup tuan Will tidak berwarna. Dengan kehadiran mu, yang mungkin kurang mengenakan di awal tapi, cobalah lihat! Dia seperti ini karena melindungi mu."


"Lalu kenapa aku yang salah? Dia menembakku, lalu dia bertanggung jawab, itu memang sudah sepatutnya dia seperti itu."


"Bukan kah Alex telah menceritakan semua padamu? Maafkan lah tuan Will sebagai mana agama mu mengajarkannya."


Sela terbungkam. Masih dengan air mata yang turun dengan deras.

__ADS_1


"Aku tau Islam bukan agama yang mengajarkan umatnya pen dendam. Semua agama mengajarkan itu. Kau mengimani agama mu dengan baik bukan? Lantas, mengapa kau tidak mau dengan lapang dada memaafkan seseorang? Tuhan saja sangat mudah memaafkan dosa para hambanya." ucap Mia dengan lembut.


Setelah beberapa saat diam dengan menangis,Sela akhirnya mengangguk.


"Ya.Walaupun pria itu mungkin memiliki kesalahan padaku dengan nama Allah SWT tuhanku aku memaafkan tuan Will,Aku tidak akan dendam dengannya.Lagi pula, aku pun tidak tahu alasan kenapa tuan Will melakukan itu semua padaku." ucap Sela dengan senyum manis di bibirnya, sembari menggenggam tangan Mia yang berada di bahu kanannya.


Tangan Sela menyentuh tangan Will yang terasa dingin. Menggenggamnya dengan erat.


"Aku minta maaf jika membuat mu seperti. Alex dan Mia mengatakan jika selama aku koma, kau yang menjagaku. Kau selalu mendampingi ku bahkan sampai kau pun ikut koma seperti ini."


Sela menggapai rambut Will dan mengusapnya. "Tenanglah, aku akan menjaga mu. Walau aku tahu kau pria menakutkan yang seharusnya ku hindari, tapi-"


"Kau pun berjasa di dalam hidupku. Jika papah tiriku menjual ku pada pria lain yang menakutkan walau tidak semenakutkan dirimu, entahlah sudah jadi apa diriku."


"Pasti menyakitkan mendapat banyak luka tembak. Aku saja yang hanya mendapat satu di perut sangat sakit, apa lagi kau."


"Aku akan terap di sini menjaga mu, tapi bersama Mia. Agar tidak menimbulkan dosa seperti yang pernah ku katakan tempo hari padamu." ucap Sela dengan kekehan kecil.


Mia dan Sela sama sama terkekeh. Hingga suara lengguhan kecil terdengar dari mulut Will.


Sela menatap Will dengan terkejut.


"Kau... Sudah... Sadar?" ucap Will yang terbatas bata juga terdengar kurang jelas karena terhalang alat oksigen.


Sela mulai menitikan air matanya saat tangan Will membalas gengaman tangan Sela.


Lengguhan kembali terdengar dari mulut Will.


"Apa terasa sakit? Di mana?" rasa khawatir Sela justru mengundang kekehan kecil dari mulut Will.


"Apa?" tanya polos Sela.


"Kau menggemaskan baby." gumam Will.


"Akan saya panggilkan dokter tuan."

__ADS_1


Mia pamit pergi.


"Kau seperti ini pasti karenaku. Alex dan Ansel pun menjelaskan itu pada ku."


"Benarkah? Mereka sepertinya ingin merasakan bagaimana terbaring di sini."


"Jangan terlalu banyak bicara. Luka jahitan mu belum kering."


"Sebenarnya, aku akan menikah dengan siapa itu bukan masalah bagiku. Intinya, siapa pun yang ingin melamar ku untuk menjadi istrinya dia harus seiman dengan ku. Aku tidak mau memiliki suami beda keyakinan denganku apalagi... Ekhem!"


"Ya aku paham. Aku memambg tidak percaya Tuhan awalnya. Tapi kini aku berbeda, saat kau sekarat aku benar benar tidak tahu harus meminta tolong pada siapa selain kepada Tuhan. Aku menyadari bahwa selama ini aku pun hanya manusia lemah. Jadi, aku akan masuk islam." ucap Will dengan lugas.


"Jangan masuk Islam hanya karena kau akan menikahi-"


"Tidak."


Sela mengerutkan keningnya.


"Aku akan menjadi mualaf karena kesadaran diri. Bukan karena cinta atau hanya masalah wanita. Aku mendapatkan ini dari dalam hati dan pikiranku."


Sela tersenyum.


"Di Cordoba ini, cukup banyak orang yang memeluk agama Islam, banyak juga peninggalan sejarah Islam di sini. Tapi selama ini aku dibutakan oleh dunia terhadap itu semua."


"Jangan mengatakan itu. Kau termasuk orang yang beruntung karena mengenal Islam belum terlambat."


"Biarlah, orang mulai menganggap ku remeh dan mulai tidak menghormati ku. Mungkin pria tuan kejam ini harus pensiun dari kehidupan gelapnya selama ini. Melalui gadis yang kubeli dari ******** Mark, yang enggan saat akan ku jamah tubuhnya, lalu kemudian aku tertarik pada gadis itu hingga akhirnya aku melamarnya."


"Orang mungkin akan tetap menghormati dan menghargai mu, jika kau pun bisa melakukan sebaliknya kepada mereka. Ciptakan image baru bahwa kau kini berbeda dan telah di upgrade ulang menjadi lebih baik."


Will terkekeh pelan.


"Jangan lupa kau pun pernah memukulku dengan sangat kejam dan brutal."


Keduanya terkekeh.

__ADS_1


"Aku tidak akan lupa, tapi aku akan menyimpan di otak ku. Jadi, kau menerima lamaranku?"


__ADS_2