
~mafia dan hijab~
Rasa bersalah langsung menyelimuti pikiran dan hati Will. Tidak pernah ia merasakan seperti ini. Rasa enggan untuk di tinggalkan oleh gadis itu saat ini, dapat Will rasakan.
Will melangkah dengan rahang mengeras menuju Sela di sana,Menggendong tubuh Sela yang lemah dengan luka tembak di perut bagian bawah diafragma kanan Membawa gadisnya masuk menuju mobil.
"Cepat kita ke rumah sakit dalam waktu kurang dari 20 menit. CEPAT!"
Mobile Will melaju dengan kencang. Menuju rumah sakit terdekat di tempat yang cukup terpencil ini.
Mobil masih terus berjalan menuju rumah sakit terdekat.Will mati - matian menahan darah yang mengalir keluar dari luka tembak Sela, agar gadisnya tidak mati kehabisan darah.Wajah yang selalu ayu dan kemerah - merahan Sela kini berubah menjadi pucat.
"Cepat Sedikit Lagi Bodoh!" sentak Will kepada sopir pribadinya.
Tuxedo Will ia gunakan untuk jaket bagi Sela dan kain kasa bersih yang Will selalu simpan di kotak P3K dashboard mobilnya, ia gunakan untuk menutup luka Sela. Darah masih terus mengucur.
Ia sungguh merasa bersalah.
"Bertahan lah untukku. Jangan pernah berani meninggalkanku tanpa se-izinku.Mengerti?" ucap Will pada Sela yang tengah memejamkan mata karena pingsan
Will membopong tubuh Sela yang tengah sekarat menuju Unit Gawat Darurat saat mereka sudah sampai di rumah sakit.Tergesa-gesa,Will menaruh Sela di blankar yang rumah sakit sediakan saat para perawat dan dokter mulai berdatangan.
Will mencengkram kerah salah satu dokter dan mengarahkan revolver miliknya ke kepala dokter tersebut. Dokter yang di ketahui bernama Benjamin, itu bergetar ketakutan.
"Selamatkan nyawanya dan berikan pelayanan yang terbaik.Jangan sampai ada kesalahan medis yang membuatnya mati,Mengerti?!"desis tajam Will di depan wajah dokter Ben.
Mengangguk dengan takut, dokter Ben menyanggupi.
"Aku percaya padamu.Ingat,aku selalu mengawasi mu."ancam Will dan dokter Ben mengangguk.
Will mendorong tubuh dokter setengah baya itu hingga hampir terjatuh. Namun, dokter Ben cepat- cepat masuk ke ruang tindakan.Will mengusap kepalanya kasar,Will memukul tembok tersebut berkali kali dengan keras.
Tak memperdulikan saat tangannya terasa nyeri,Terus begitu hingga tanganya tak terasa terluka dan darah Will mulai mengotori tembok putih rumah sakit.
Masih tidak peduli dengan itu semua, Will terus memukul tembok keras itu bagai samsak tinju.
Tangan Will mulai mati rasa dan pria itu mulai merasa sakit di kedua tanganya.Tangan Will gemetar dan lututnya mulai lemas.Will tidak pernah berada di titik selemah ini hanya karena menangisi seorang gadis yang juga hanya berstatus budaknya.
Ansel datang dengan tergesa gesa dan betapa terkejutnya ia saat dari kejauhan melihat noda merah di tembok putih itu.Saat ia mendekat, justru tangan Will yang terluka.
"Tuan.Kurasa anda harus mengobati luka di tangan anda. Jika terlambat itu akan infeksi."
"Jangan ingatkan aku untuk itu,Kau tahu nasib gadis yang tidak bersalah itu kini tengah dipertaruhkan antara hidup dan mati.Aku tidak mau dia mati." gumam Will dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Saya tidak pernah melihat anda seperti ini hanya karena wanita tuan. Harga diri anda bisa di pandang remeh atau bahkan di injak-injak oleh gadis itu,Anda bisa saja di manfaatkan tuan."
Will secepat kilat berdiri dan mencengkram kerah Ansel dengan kuat."Sela berbeda! Dia bukan gadis seperti yang kau pikirkan! PERGI DARI SINI,SEBELUM AKU MEMBUNUH MU!" Will mudah sekali terpancing emosi saat-saat ini.
Ansel pamit untuk pergi.
Will sendiri pun bingung mengapa ia seperti ini,Saat pikirannya mulai sadar jika mungkin saja ia salah melakukan seperti ini semua hanya untuk seorang gadis budaknya saja.
Namun,hati nuraninya selalu tak sejalan dengan pikirannya Atau mungkin Will sudah mulai menemukan cinta sejatinya? Maybe..
Lampu ruang operasi mati setelah kurang lebih setengah jam mereka melakukan tindakan terhadap Sela. Dokter dan perawat mulai keluar dari ruang tindakan tersebut.
Doket Ben,melepas masker medis yang ia kenakan juga penutup kepala operasi yang ia kenakan pula.
Will segera bangkit dan berjalan menuju dokter Ben. "Bagaimana, dia?! Kau berhasil menyelamatkannya, bukan?!" tanya Will dengan mencengkram kerah baju operasi dokter Ben,Sorot mata yang Will berikan penuh penyesalan dan juga amarah.
Dokter Ben yang melihat tangan Will terluka menyarankan agar Will mengobatinya bersama dirinya.
"Tangan anda terluka, tuan. Sebaiknya, mari kita obati di ruangan saya sembari kita berbincang tentang nona Sela."
Will melepas cengkraman itu dengan kasar dan mengangguki setuju,Will berjalan mendahului dokter Ben.Will memasuki ruang rawat inap Sela setelah menjalani operasi tadi. Mendengar ucapan dokter Ben jika kemungkinan setelah menjali operasi, Sela akan mengalami koma untuk beberapa saat.
Rencana awal, setelah kunjungan dari gudang black market, Will akan mengajak Sela untuk berbincang bincang lebih pasal agama yang gadis itu yakini.
Will berjalan pelan mendekati blankar rumah sakit yang kini di tempati gadisnya.Bukan maksud Will untuk menembakkan pelurunya di sekitar bagian vital tubuh Sela.Will pikir, peluru yang keluar dari revolvernya hanya mengenai perut Sela saja.
Tapi,,,,,
≈ Flashback ≈
Will duduk di sofa tamu, ruang kerja dokter Ben. Tangan Will sudah di obati bahkan dokter Ben memberikan gips di telapak tangan kiri Will untuk penopang jari jari Will yang memar agar tidak terlalu banyak bergerak.
Dokter Ben duduk dan memberi minuman kaleng untuk Will.
"Peluru itu memang tidak mengenai organ vital nona Sela secara masif. Namun, sedikit goresan saja di bagian hatinya yang nantinya pasti akan menimbulkan efek, tuan."
"Aku menembakkan peluru itu tidak ke arah hatinya." desis tajam Will.
Dokter Ben mengangguk, tak di pungkiri saat ini dia sangat takut berhadapan langsung dengan Will. Takut takut salah bicara dan beberapa detik kemudian ia pasti sudah menjadi mayat.
"Peluru itu belum pernah saya lihat selama saya menangani operasi karena senjata api."
"Ya. Peluru itu memang cukup besar dan lancip di salah satu ujungnya. Tak biasanya aku memakai itu semua." gumam Will dengan melamun.
__ADS_1
"Peluru tersebut bersarang di dekat hati nona Sela setelah menimbulkan gesekan di hati."
"Apa hatinya akan bermasalah?" tanya datar Will.
"Kita belum bisa memastikan secara lebih. Kita harus menunggu nona Sela sadar dan kembali melakukan pengecekan organ vitalnya."
"Lebih penting lagi, perkembangan nona Sela tergantung anda saat ini."
Satu alis Will terangkat.
"Tergantung bagaimana cara anda merawat nona Sela."
"Aku paham. Berikan semua yang terbaik untuk gadisku. Jangan sebarkan berita ini. Jika berita ini tersebar, kau mati." maksud ancaman Will adalah, agar hanya dokter Ben yang menangani Sela dan memastikan keamanan benar benar terjaga hanya untuk Sela.
≈ Reality ≈
Will duduk di samping blankar Sela. Gadis itu dengan kurang ajarnya masih saja menutup matanya. Will mengusap kepala Sela yang masih saja tertutup oleh hijab.
"Maafkan aku membuat mu seperti ini"
Will terdengar berdecih.
"Cih! Kau selalu membuatku nampak terlihat konyol."
Will menggenggam tangan Sela yang di infus. Membawanya ke wajah pria itu.
"Kau tahu, jika aku mencintaimu? Terlalu cepat kah aku mengungkapkannya? Atau, aku terlalu pecundang karena mengungkapkan perasaan di saat kau seperti ini?"
"Aku sendiri tidak tahu. Mungkin, pria dewasa yang tak kenal cinta ini mulai luluh hanya karena seorang wanita berhijab seperti mu."
"Kau selalu bisa membuat ku kalap oleh emosi hanya karena masalah sepele, hingga kau selalu menjadi korban seperti ini. Sudah berapa lama kita selalu bersama sejak pertemuan pertama yang buruk itu?"
"Kau gadis hebat yang bisa menjadi pawang seorang pria keras kepala tak kenal ampun sepertiku. Aku, tidak tahu kenapa aku bisa mengatakan semua ini, secepat ini, dan setidak masuk akal ini. Intinya, karena bertemu dengan mu, aku mulai belajar tentang komitmen dan juga mulai mengenal apa itu agama dengan perlahan."
Will mengecup tangan Sela yang ia pegang.
"Aku tahu bahwa sejak awal aku memang mencintai mu. Kau bukan sekadar budakku saja. I love you, baby." Will kembali mengecup tangan Sela sembari menitikan air mata.
Makasih untuk semua yang antusias suport cerita dan makasih yang selalu koment😘♡
Nb : untuk cerita ana yang ini,ana kagak terlalu menekankan di bagian yang kekerasannya ya... Jadi di sini ana bikin ulang untuk fokus di masalah percintaan tokoh 1 dan tokoh 2 nya aja Yang memang tadinya ana mau buat tokoh 1 itu over kejam sampe tokoh 2 itu menderita,terus tokoh 1 menyesal sampe akhirnya nanti ungkapin perasaan,ana rasa ana udah kasih itu di before part.
Jadi ana brpikir yang kayak gitu justru mudah ketebak alurnya (menurut ana ya) nah! Jadi ana bakal kasih kejutan mainstream di tengah cerita atau hmpir epilog crta yak
__ADS_1