Tidak Ada

Tidak Ada
delapan


__ADS_3

~Mafia dan hijab


Will lagi-lagi mencengkram rahang Sela.


"Hidup mu, kini di tanganku,Kau tidak bisa bebas tanpa se izinku.Jadi, apa kau bisa menikah dengan pria pilihan mu nantinya? Aku ragu dengan itu."


"Tak apa aku mati di tangan mu tuan. Asal jangan nodai tubuhku,Aku mohon... Hiks."


Prak!


Will menamparkan ponsel yang ia pegang ke pipi Sela dengan kencang hingga pusing terasa di kepala Sela. Pandangan gadis itu mengabur.


Setelah itu, gadis cantik berhijab itu pingsan.Di susul dengan kepergian Will yang tak lupa untuk mengunci pintu kamar Sela hingga sebanyak 3 kali.


"Jaga kamar ini dengan ketat,Perintahkan juga mereka untuk menjaga di luar kamar gadis itu." ucap datar Will pada Ansel.


"Baik,Tuan." ucap Ansel.


×××××××××


Sesuai janji pagi tadi, Will akan menemui Sela untuk memuaskan kerinduannya akan sex. Setelah melewati hari yang panjang dengan dokumen dokumen. Namun, Will kembali di sore hari dan bukan malam hari.Will,masih lengkap dengan setelan tuxedo yang melekat di tubuhnya. Berjalan dengan gagah menuju lantai 2 mansionnya,Tempat dimana kamar Sela berada.


Cklek!


Will membuka pintu tersebut Betapa terkejutnya ia saat melihat Sela tergeletak di lantai kamar yang di lapisi karpet tersebut.Segera pria itu menuju gadis yang tengah kehilangan kesadarannya itu.


"Sela." panggil Will dengan menepuk pelan pipi Sela.


Will mengambil posisi menggendong Sela, kemudian mengangkatnya dan membaringkan di ranjang. Menyelimuti tubuh Sela dengan lembut.Dapat ia lihat, luka memar di pipi kanan gadis tersebut.


"Ini akibat jika kau membangkang pada ku, baby." gumam pelan Will.


"ANSEL!"


Tak lama, Ansel datang."Siap, Tuan."


"Ambilkan air es dan air hangat dalam wadah. Juga handuk kecil."


"Baik, Tuan." Ansel keluar dan menutup pintu.


Will mengamati wajah Sela yang pucat dan nampak lelah. Tangan Will membuka hijab milik Sela dan menaruhnya ke sembarang tempat.


"Kau cantik, ternyata." gumam Will yang masih mengamati wajah ayu Sela.

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk."


Ansel masuk dengan dua buah wadah berisikan air hangat dan dingin. "Silahkan, Tuan."


Ansel kembali keluar.


Will,dengan teliti membersihkan wajah dan tangan Sela agar bersih Di lanjut dengan mengompres lebam dan luka di sekitar wajah gadis itu.Hingga,


"Nghh..." lengguhan kecil Sela terdengar oleh Will.


Perlahan, mata indah itu terbuka. Sayu, masih sangat terlihat di mata itu. "Kau sudah sadar?" tanya Will yang masih mengompres luka Sela dengan tersenyum.


"Minum lah,dulu." entah mengapa, Will seperti tersihir harus menjadi lembut saat menghadapi gadis di depanya ini.Bahkan Will membantu Sela untuk minum.


"Aku, mohon..Jangan,sakiti aku..." gumam Sela dengan tanpa suara.


"Sudah ku bilang bukan?Jangan bermain dengan kesabaran ku."


"Kau, yang melepaskan hijabku,Tuan? Jika iya, kembalikan."


"Why? Kau cantik tanpa kain itu."


"Sudah ku bilang, aku akan menyerahkan tubuhku untuk suami sah ku kelak." gumam Sela yang masih lemas di ranjang.


"Tidak. Aku tidak akan mengikuti ucapan mu."


Will kembali fokus mengobati Sela.


"Aku tidak pernah sebaik ini dengan barangku. Aku tertarik dengan mu."


Sela menyentuh handuk kecil tersebut dan menjauhkan dari wajahnya. Will, mengkerutkan keningnya.


"Terimakasih,Apa kau bisa tinggalkan ku di sini? Aku tidak ingin menimbulkan fitnah dan dosa saat kita hanya berdua saja di sini."


Will terkekeh remeh.


"Kau dengan seenaknya menyuruhku.Berapa nyawamu,sampai berani melakukan Ini smua?"

__ADS_1


"Tuan.Tolong, jangan libatkan aku terlalu dalam dengan masalah ini."


"What? Kau menganggap ku sebagai apa saat ini, jika ku tanya."


Sela menunduk takut.


"K-kau Majikan ku. A-aku di jual padamu untuk-"


"Menjadi jalangku." selah Will.


Sela menggeleng dengan kepala tertunduk.Will menghela nafas, kemudian bangkit dan melepas sepatu juga tuxedo yang ia kenakan.


"Hahh! Kau sangat menyusahkan!"


Sela diam diam memperhatikan gerak gerik Will. Sela mulai waspada saat Will melepas kemeja biru yang pria itu kenakan.


"Ku mohon Tuan,Jangan lakukan ini padaku." Sela berucap dengan menangis tanpa melihat mata Will.


"KAU KU BELI UNTUK ITU!" sentak Will kemudian menjambak rambut panjang Sela.


"Awhhssstt... Sakit. Lepas ku mohon..." raungan pilu dari mulut Sela tak membuat pria itu berhenti.


"Apa susahnya hanya melayaniku, HAH?!"


Sela terus menangis.


Plak!


"BERHENTI MENANGIS, BODOH!"


"****! *****! Kau sungguh pembangkang!"


Will mengambil syal yang ada di dekatnya. Kemudian, mengikat kuat kedua tangan Sela. Pria itu juga melepas kasar dasinya yang ia kenakan dan mengikat kaki Sela menggunakan itu.


Will menarik paksa tubuh Sela dan mendorongnya hingga terjerembab ke lantai yang tidak terlapisi karpet. Hingga terasa cukup sakit, apalagi Sela jatuh dengan lutut sebagai tumpuan


hanyalah bercinta dengan mangsa barunya,Sela.Namun, gadis itu malah terang terangan menolaknya.Ia merasa harga dirinya jatuh di depan wanita dan Will benci itu,Tidak ada gadis yang pernah menolak untuk bercinta dengannya. Will sudah kalap dengan emosi.


Pria itu melepas sabuk yang ia kenakan dan seringai muncul di bibirnya.


"Kau tahu? Aku belum pernah melihat ada wanita yang menolak saat ku ajak bercinta. Kini, kau melakukanya."


PLAK..

__ADS_1


__ADS_2