Tidak Ada

Tidak Ada
04 - Tentang Amarie


__ADS_3

"Hei, lo tau gak yang namanya, kalo gak salah ... Amarie?" Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang dapat memuat lebih dari satu orang.


"Tumben lo nanyain kayak gini, In?" Balas gadis lain yang tengah sibuk memainkan ponsel canggihnya. Kaca mata hitam yang duduk didepak matanya pun ikut memantulkan gelombang cahaya secara langsung.


"Namanya mirip gitu, deh, sama orang-orang luar. Apa dia dari luar, ya?" Ia memilin jarinya dengan tatapan kosong.


"Setau gue, sih. Dia itu orang yang paling jarang bersosialisasi, tentunya selain dengan Chaca." Tangannya bergerak mematikan daya ponselnya itu, lalu ikut membaringkan tubuhnya bersebelahan dengan gadis berambut panjang tadi.


"Nah, gini dong. Gue lagi pengen kepoin tentang dia," celetuknya dengan senyum yang melebar.


"Karna dia pernah berduaan dengan Andhi di UKS, ya?" Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah gadis itu.


"Mantep juga informasi lo!" Timpalnya diikuti dengan kekehan.


"Terserah." Ia memutar bola matanya malas.


"Lo diam-diam gini punya telinga yang tajam dan mata yang tajam, ya!"


Gadis itu berdecih. "Bilang aja kalo lo ada maunya,"


"Iya, iya, Nek."


"La\~lu?" Ia melepaskan kaca mata hitamnya, dan meletakkannya di atas nakas, tetapi wajahnya masih tetap datar.


"Jelaskan apa yang lo tau tentang gadis itu. Nanti urusan bayar-membayarnya itu akan gue urus besok." Gadis yang telah melepas kaca matanya itu memasang senyum miring.


"Gitu, dong!" Serunya merentangkan tubuh menatap lampu led yang menerangi kamar ini.


Senyum itu menampakkan perubahan sikapnya yang hampir seratus delapan puluh derajat dari sikap aslinya. Ia tertawa usil.


"Rin, lo memang aneh seperti kabarnya, ya?" Ia menatap Rin dengan alis yang bertautan.


"Kita mulai sekarang adalah rekan, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, kan, Indi?" Ia mengangkat alisnya ketika menatap gadis itu—Indi—sambil tersenyum rumit.


"Cukup basa-basinya, rekan,"


"Dan, gue bakal anggap ini sebagai persetujuan,"


"Dan sekarang ceritakan tentang gadis itu," pintanya melirik Rin dengan tampang yang sulit ditebak.


"Amarie. Dia adalah salah satu dari sekian siswi yang tidak kuketahui informasinya dengan jelas."


"Jadi lo gak punya informasinya. Percuma, deh."


"Tidak, bukan berarti gue nggak tau tentang dia sama sekali," ia bangkit untuk duduk meregangkan tubuhnya. "Hanya saja ... hah ... dia yang paling merepotkan."


"To the poin, Rin."


"Dia jauh lebih cerdik dari kalian semua, jangan berurusan dengannya," Rin meliriknya dengan tatapan peringatan yang berhasil membungkam Indi.


"Maksudnya? Bukannya dia adalah anak yang cupu gitu, ya? Kenya sering membullynya,"


"Gue menyesal menyetujui tawaran lo dengan IQ jongkok lo kayak gini."


"Adik kelas seperti dia itu adalah adik kelas yang paling kurang ajar. Lo bisa percaya seratus persen sama gue." Lanjutnya.


"Aish, dari awal kan gue percaya sama lo!" Indi menatap kesal Rin yang duduk di sebelahnya—yang terbaring.


"Who knows, kan?" Ia memiringkan kepalanya tanpa ekspresi.


"Tapi apa yang membuat lo sampai sejengkel itu sama dia?" Tatapan penuh rasa penasaran ia arahkan kepada Rin.


"Dia itu ... hanya menunjukkan apa yang orang-orang anggap biasa saja," Indi menatapnya sambil mengernyit.


"Misalnya lo bakal nggak pernah ngira, kan? kalo misalnya dia itu tau hubungan macam apa yang terjadi di antara Uci dan Andhi," Rin mengetuk-ngetuk ranjang empuk sehingga ketukannya itu sama sekali tidak membuat bunyi.


"Eh, lo tau?"


"Tuh, kan," ia membuat senyum lagi.


"Gue tau itu dari Uci sendiri. Tapi bagaimana dengan dia?"


"Makanya itu. Gue baru tau tentang itu setelah gue diberitahu oleh salah satu teman gue."


"Kalau Uci itu pacarnya Andhi?"


"Bukan. Kalau Amarie lebih rumit daripada yang terlihat," ia mendesah ringan mengingat apa yang pernah ia lihat oleh mata kepalanya sendiri.


"Dan lagi ... untuk apa lo cari tau tentang dia?" Rin memasang senyum miring yang membuat nafas Indi tertahan.


"Lo dari tadi ngewanti-wanti gue mulu, supaya gue menghindari anak itu. Memangnya ada apa dengannya?" Indi mencibir saat ia memalingkan pandangannya.


"Ini kan tugas gue sebagai rekan. Kalau lo dikeluarkan dari sekolah, susah lagi kan gue dapat uangnya?" Ia menatapnya dengan tatapan memelas.


"Lo ngga jawab pertanyaan gue dari awal."


"Astaga, ribet banget, sih berurusan sama rekan baru gue ini! Sudah jelas ini peringatan besar! Informasi tentang dirinya saja nyaris nggak bisa gue lacak!" Desisnya menggaruk kepalanya seperti orang gila dari sisi pandang Indi.


"Amarie itu ... tipe yang tidak dapat dilacak oleh orang seperti dirimu. Dia cerdas dalam bidang apa pun, tetapi tidak menunjukkannya. Menurut lo apa yang sebenarnya dia inginkan dengan melakukan itu? Lucu, bukan?" Lanjutnya dengan gelak tawa, membuat Indi menatapnya dengan pandangan aneh.


"Gue juga tidak mengerti, makanya gue tanyanya ama lo. Lo terlalu pintar atau apa sih!"


"Orang biasa pasti akan melawan ketika dia dibully, bukan? Lantas kenapa dia tetap diam seperti orang bodoh?"


"Tidak bisa menjawabnya, kan?" Rin mendekatkan wajahnya dengan alis yang terangkat penuh semangat. Persis seperti anak kecil yang menemukan mainan baru untuk ia mainkan.

__ADS_1


"Kalo gue jadi dia. Gue bakal melakukan perlawanan secara langsung. Tapi karena dia itu lebih cerdik ... gue bakal melawannya secara tidak langsung. Lebih tepatnya dengan bantuan tangan orang lain," balas Indi mengelus dagunya berpikir. Ia memutar otaknya sebisa mungkin, berusaha berpikir sekritis mungkin.


"Tapi dia tidak melakukannya, kan?"


"Hm," balasnya dengan otak yang masih tak tentu arah. Setiap rekaman ingatan yang ia punya tentang bagaimana Amarie dibully, itu semua menghacurkan segala hipotesanya.


"Itu bukan hanya karena dia tidak bisa. Tetapi dia juga tidak perlu melakukannya,"


"Kenapa?" Indi sontak berbalik ke arah Rin yang tersenyum penuh misteri.


"Amarie memiliki perspektif yang lebih dalam tentang anak-anak di sini daripada lo atau gue sendiri. Dia tau kalau dia dibully, maka dia akan diacuhkan dalam pergaulan, tidak, lebih tepatnya dilupakan. Lo lihatkan penampilannya? Dia itu cantik, pasti bakal banyak orang yang mengerumuni dia. Oleh karena itu dia menghapus keberadaannya sendiri.


Satu lagi, dia itu terjebak dengan sesuatu sehingga dia tidak bisa membuat Kenya menyerah untuk membullynya, dan gue pun gak tau pasti apa itu,”


Indi mengangguk-angguk mendengar penjelasannya, sambil sekali-kali mencari alasan yang paling logis. Hal apa yang bisa menahan Amarie untuk ngelawan Kenya. Hasilnya adalah mustahil. Jika dia berada di tempat Amarie, makan dia tidak akan sesabar itu untuk dibully hanya untuk sebuah alasan.


“Dia seperti karakter pendukung, ya?” Ia menatap Rin segan-segan seolah meminta jawaban.


“Tidak. Tapi dia yang menjadikan dirinya sendiri sebagai karakter pendukung dan secara tidak langsung membuat Kenya dijauhi. Padahal Kenya membully hanya karena rasa dengki yang ia simpan dari jauh hari untuk Adik angkatnya, Amarie.”


“Oh, gue mengerti. Intinya Amarie itu tipe yang seperti itu, ya.” Sekali lagi Indi mengangguk.


“Dan sepertinya lo mau memanfaatin seorang Amarie, betul, kan?” Rin menatapnya dengan sorot jenaka yang tidak bisa ditutup-tutupi.


“Bisa dibilang seperti itu,”


“Ah, gue belum beritahu lo satu hal lagi,” ia menjitak kepalanya sendiri dengan gaya abnormalnya. “Dia itu mustahil dimanfaatin sama gue buat dapat informasi baru. Bahkan mungkin dia lebih tau banyak hal daripada gue.”


“Sebanyak apa?” Indi mengernyit.


“Semuanya. Bahkan sampai ke akar-akar masalah yang ada di sekolah ini—SMA yang paling bermasalah.”


.


Jarum jam telah pun menunjukkan angka dua belas. Sementara beberapa anjing mulai melolong tanpa sebab. Dan awan bagaikan asap hitam yang menyelimuti cahaya keperakan dari sang bulan.


Seorang remaja perempuan berjalan dengan hati-hati. Menghindari wilayah-wilayah yang terjangkau oleh CCTV. Ia berdoa dalam hati dengan nafas yang berderu amat pelan. Semoga ia tidak tertangkap oleh Kakak sulungnya.


Sampai di tempat tujuan. Remaja itu pun meraba-raba semak-semak setinggi dirinya. Ia menarik seutas tali yang didapatinya dengan perlahan. Secara ajaib muncul tangga naik ke atas—lantai dua—yang terbuat dari kayu. Tanpa mencukupkan waktu untuk menghargai hasil karyanya, ia buru-buru naik ke atas. Naik sampai ke balkon kamarnya.


Ia menarik rentetan tangga itu perlahan lalu meletakkannya di tempat semula. Remaja itu menghela nafas dalam gelap. Dikeluarkannya sebuah kunci dan membuka pintu itu.


Baru saja ia ingin tersenyum lebar. Lampu pun telah menyala, nampak seorang lelaki dewasa yang menatapnya dingin. Dalam hati ia merutuk diri sendiri, mengapa ia seceroboh ini? Kakaknya kan cukup cerdas untuk mengetahui akal-akalannya!


“Ka-kak?” Ia menoleh dengan senyum kikuk.


“Dari mana saja kamu, Viandra?” Tatapan menyelidik itu menusuk relung terdalam dari akal cerdik Via. Seketika otak gadis itu menjadi kosong.


“D-dari ... mana?” Beonya dengan wajah yang memucat.


“I’m looking for Something, brother.” Matanya berkeliaran tak tentu arah, membuat Charlie semakin menyipitkan matanya penuh intimidasi.


“What are you looking for? But don’t tell me because it’s not important now,”


“Jangan bicara pakai Bahasa Inggris, Kak. Bukannya Kakak Ken ngelarang, ya?” Ia mencoba membuat senyum ceria.


“Do not divert this topic,” Via mengangguk kecil di bawah tatapan dinginnya.


“Kakak akan memberikan kamu hukuman. Kamu tidak bisa keluar sekali pun tanpa izin dari Kakak atau Ken selama kita berada di Indonesia,” Via membeku, lalu mendongak menatap Charlie dengan tatapan tak percaya.


“T-tapi kak, aku kan mau beli oleh-oleh juga.” Rengeknya dengan tatapan memohon.


“Nanti belinya bareng,” selasai. Tidak bisa diganggu gugat.


“Dan kamu Vio,” Charlie menatap ambang pintu. “Kamu juga dihukum karena membantu Via. Kamu tidak bisa menyentuh gadget selama liburan.”


“Kakak bercanda, ya?”


“Sayangnya tidak.” Balasnya dingin lalu berbalik keluar.


“Semua pergerakan kalian mulai sekarang akan dipantau. Kalau kalian berani macam-macam ... kalian akan home schooling selamanya di New York.” Suaranya semakin kecil bersama bayangannya yang akhirnya lenyap.


Manik sebiru safir milik Vio berkeliaran menyapu dinding kamar bercatkan warna merah muda. Juga beberapa barang yang terlihat kekanakan masih tersimpan rapi. Seperti boneka Barbie, atau rumah-rumahan Barbie.


“Sekarang aku kena masalah karena kamu!” Desisnya dengan aksen yang masih kaku.


“Aku juga gak bisa ketemu dia lagi, deh.” Sesal Via menjatuhkan tubuhnya yang sudah tak bertenaga ke atas kasur empuk berwarna magenta miliknya.


“Dia? Maksudmu yang mirip denganmu itu?” Vio menarik segala kemarahannya saat mendengar topik yang sudah ditunggu-tunggunya.


“Dia dingin banget deh! Dia juga banyak bohongnya,” ujar Via mencari posisi nyaman di atas kasurnya.


“Maksudmu?”


“Masa dia bohongin sahabatnya sendiri, sih? Beda banget waktu dia bicara sama aku, waktu itu dia bicaranya tanpa pikir panjang.”


“Dan dia bohongnya tanpa berkedip atau pun merasa gelisah,”


“Mungkin karena dia ingin menjaga perasaan sahabatnya. Dan siapa kamu sehingga dia harus menanggapinya dengan sikap yang hati-hati?”


“Betul juga, ya. Tapi aku kan pengen untuk nanyain di mana tempat beli oleh-oleh yang bagus, tapi, eh, sudah diusir duluan.”


“Kamu pasti datangin rumahnya jam setengah dua belas malam, kan?” Via mengangguk dengan polosnya.


“Viandra kurasa kamu harus segera meminta maaf sama dia. Masa kamu maksa dia buat diikutin sama kamu, sih?” Vio memijat pelipisnya pelan.

__ADS_1


“Dia nggak bilang tidak, kok.”


“Daddy pasti marah kalau tau kamu pergi ke luar tengah malam, loh.”


“Gak bakal, kok. Tapi pasti membosankan kalau di rumah terus tanpa melakukan apa pun. I want to leave home and go to amusament parks!”


“Don’t you know why we cannot go to anywhere? It’s because of your fault!”


. .


“Hey, apa menurutmu kalau langit malam itu sangat indah?” Tanya suara kekanakkan itu.


“Entahlah,” balas yang lain dalam sunyinya malam.


“Itu karena ada banyak bebintangan di sana yang terus menemani bulan,”


“Aku tidak peduli, Andrian.” Suara miliar itu terdengar sedikit serak, membangkitkan kecurigaan yang lain.


“Apa kamu sakit?”


“Tidak,”


“Mama kamu nggak memberikan kamu obat, ya?”


“Aku bukan anak kandungnya, dan dia tidak mempedulikan apakah aku sakit atau tidak.”


“Hahahah ... kamu sangat lucu! Mamamu kan menyayangimu,”


“Sok tau,”


“Kita kan teman. Aku akan selalu tau tentang apa yang terjadi pada temanku!”


“Lalu kenapa kamu tidak menghentikannya?”


“Karena Ayahmu menyayangimu, makanya dia terus melakukan itu padamu.”


“Kamu terlalu positif,”


“Seseorang yang tidak menyayangi yang lain. Bukankah cara yang paling efektif adalah menjauhinya dan melupakan keberadaannya.”


“Ayahku membenciku, makanya dia melakukan itu,”


“Membenci adalah sayang,”


“Pft, konyol.”


“Kamu pasti sudah mati kalau memang ia membencimu.”


“Tsk, kamu tidak mengerti ini. Ayah tidak membunuhku karena ia ingin menyiksaku selama hidupku, dan itu juga karena Mama.”


“Berarti dia menyayangi Mamamu. Dan mamamu menyayangi dirimu.”


“Aku tidak merasakannya.”


“Karena kamu tidak membuka hatimu,”


“Itu bukan arah pembicaraan kita sejak awal.”


“Aku hanya mengikuti alurnya,”


“Terserah.”


“Tapi, apa yang kukatakan itu benar, loh.”


“Tapi aku tidak percaya.”


“Kepercayaan itu didapatkan setelah melaluinya.”


“Itu tidak mungkin.”


“Kamu bisa memulainya dengan menghargai bentuk kasih sayang dari Mamamu. Sebelum ia pergi dari dunia.”


“Kalau itu terjadi Ayah pasti akan membunuhku segera.”


“Tidak akan. Karena ia Menyayangimu dan Mamamu,”


“Kesimpulan yang tidak masuk akal.”


“Itu masuk akal. Karena kasih sayang itu tumbuh secara bertahap setelah diberi bibit.”


“Maksudmu karena Mama menjagaku makanya dia juga ikut menjagaku?”


“Bukan. Astaga, kamu sangat keras kepala Amarie. Mama mu itu Menyayangimu, makanya dia menerima tanggung jawab untuk mengurusmu.”


“Lalu apa yang perlu aku lakukan.”


“Menjadi salah satu dari bintang-bintang di angkasa. Dengan begitu tidak akan ada yang meninggalkanmu lagi. Semuanya akan berakhir bahagia.”


“Kenapa tidak menjadi bulan saja.”


“Karena bulan terlalu besar sinarnya, dan itu bukanlah cahaya yang berasal dari bulan, melainkan matahari.”


“Aku tidak mengerti.”


. . .

__ADS_1


__ADS_2