
~Mafia dan Hijab~
"Teman tuan Will masih muda, jauh di bawah tuan Will.Awalnya putriku menolak dan menangis selama beberapa hari,namun tidak berani sampai tuan Will tahu. Tapi, pria itu ternyata sungguh sungguh dengan putriku Ia melamar Sasya dan memberi penjelasan secara perlahan Hingga mereka akhirnya menikah. Tuan Will sangat menjaga dan melindungi keluargaku,Aku sangat berterima kasih kepadanya."
Dokter Sena nampak tidak percaya.
"Ternyata, tuan Will seperti itu? Hanya pria sejati yang menyayangi keluarganya. Di balik itu semua, aku kagum dengan tuan Will." ucap dokter Sena.
"Aku berharap, nona dan tuan Will berjodoh. Aku berharap, nona Sela bisa membawa perubahan besar di kehidupan tuan Will yang selama ini hampa."
××××××××××××
Malam hari, sekitar pukul sebelas malam Alex mendapat telfon dari Ansel. Kabar buruk yang sebenarnya biasa bagi Alex, yaitu Will tertembak beberapa kali di tubuhnya. Itu biasa, bahkan satu hari setelah operasi Will sudah pulang dan bekerja mendaji CEO seperti biasa. Seperti tanpa ada rasa sakit.Namun,Will hanya ingin di operasi saat telah sampai di Cordoba.Will enggan di operasi di Madrid, itu pesan Will sebelum benar benar kehilangan kesadarannya. Setelah Ansel mengetahui jika tuanya, Will, tertembak Ansel langsung membawa Will ke hellypad yang berada di atas gedung.
Gedung tersebut adalah tempat di mana terjadi perselisihan antara kubu Black Market yang Will pimpin dengan kubu yang di pimpin oleh Mark.Tak di sangka,walau pria itu sudah mati,ternyata menggaet beberapa tokoh yang terkenal juga kejam dan penjahat ulung kelas kakap.
Will di jebak dengan begitu konyol dan bodohnya Will langsung saja berangkat ke Madrid untuk menyelesaikan masalah yang berkedok meeting biasa.Mereka telah merencanakan itu semua dengan rapih,bahkan sampai sampai Will tidak menyadari jika di sekitar gedung itu sudah di pasang berbagai jebakan.Will tak biasanya hanya membawa sedikit pengawal,kalang kabut saat menghadapi mereka semua
Will tak biasanya hanya membawa sedikit pengawal,kalang kabut saat menghadapi mereka semua. Beruntung,Will masih bisa menyadari di detik detik terakhir jika ada yang aneh di situasi ini. Will berhasil keluar dari gedung tersebut namun,pria itu di tembak dari arah tersembunyi.Hingga tubuh Will kini bersarang 3 perlu di tempat berbeda,lengan atas perut bawah dan kaki sebelah kiri.Ansel yang berada di parkiran terkejut sekaligus panik saat melihat Will tertembak Walau ini situasi yang sudah pernah mereka berdua alami, bahkan pernah ada yang lebih parah dari ini.Segera Ansel melajukan mobil menuju Will yang tengah terkapar dengan darah yang mulai mengalir.
Di bantu dengan bodyguard lainnya,Ansel membopong tubuh Will masuk ke dalam mobil.Di saat itu pula,mobil Will masih di berondong peluru Dengan sigap Ansel menembak satu persatu yang tertangkap di pengelihatannya,untuk melindungi Will agar tidak kembali tertembak, hingga pria itu benar benar masuk ke dalam mobil.
Begitulah informasi yang Alex dapat dari anak buah Ansel.
Alex masuk ke dalam ruang perawatan Sela. Ada Mia juga dokter Sena di sana yang tengah menyantap makan malam.
"Ah,kau. Sudah makan malam? Suruh anak buah mu untuk mengisi perut mereka dahulu." ucap Mia sembari memberikan cup teh hangat pada Ansel.
"Tuan tertembak saat menghadiri pertemuan di Madrid." ucap Ansel.
Mia termenung sejenak. Mencoba mencerna kalimat Ansel.
"Apa? Siapa yang tertembak?" kini dokter Sena berbicara.
"Tuan Will.Beliau tertembak di Madrid saat akan menghadiri pertemuan yang ternyata itu jebakan."
Mia terkekeh garing.
"Tuan Will sudah biasa menghadapi itu.Dia kuat bukan? Jangan terlalu di pikirankan."
__ADS_1
"Masalahnya bukan itu,Mia. Dia memaksakan diri untuk di operasi di Cordoba. Padahal jarak kedua kota itu memakan waktu kurang lebih 4 jam,sedangkan tuan Will saja mendapat 3 luka tembak."
Dokter Sena bangkit."Dengan tanpa pertolongan pertama,tuan Will akan terancam bahaya."
"Dasar pria tua keras kepala itu. Selalu membuat orang khawatir." ucap Mia.
Tanpa mereka sadari, perlahan jari telunjuk Sela bergerak.Lalu beberapa saat kemudian,perlahan kedua kelopak mata Sela terbuka. Masih menyesuaikan cahaya yang masuk juga pandangan yang masih sediki kabur Sela rasakan saat ini.
Hingga dokter Sena lah yang pertama kali menyadari itu.
"Astaga! Nona?!" antusias dokter Sena.
Semua mendekati blankar yang Sela kenakan.
Dokter Sena segera mengecek seluruh tubuh Sela Setelah di nyatakan stabil, semua orang yang ada di ruangan itu mengucapkan syukur.
"Syukur lah kau telah melewati masa kritis mu nona." ucap dokter Sena.
Pandangan sayu Sela,terpancar kecantikan saat bibir pucat itu mulai bergerak membentuk senyuman tipis.
"Kau membuat seisi rumah khawatir." ucap Mia.
"Maafkan aku..." gumam lembut Sela.
Sela menjawab melalui kedipan mata.
***
Pagi hari,semua alat di tubuh Sela telah di lepas kecuali infus di tangan kanannya.Tubuhnya masih lemas dan rasa sakit di luka jahitan masih terasa sesaat setelah Sela benar benar sadar semalam. Mia kini tengah menyuapi Sela sarapan pagi menggunakan bubur.
"Walaupun sakit,kau tetap menjaga hijab mu,aku bangga pada mu."
Sela terkekeh malu.
"Masyaallah,terima kasih..." ucap Sela dengan senyum malu malu.
Tiba tiba, Alex datang dengan membawa kursi roda.
"Nona?"
__ADS_1
"Ya?"
"Kau belum mengetahui jika tuan Will pun baru saja di operasi karena tertembak bukan?"
Sela diam dan menatap Mia juga Alex bergantian karena bingung.
"Tapi,dia yang menembakku lalu mengapa dia juga di operasi karena luka tembak? Apa papah tiriku yang menembaknya?"
Alex menggeleng.
"Papah tiri anda telah mati seketika di tangan tuan Will ini semua lain cerita lagi."
"Lalu,aku harus apa? Apa hubungan nya dengan aku?"
Sela nampak acuh dengan orang orang di sekitar sini kecuali Mia. Acuh dalam artian Sela waspada, siapa tahu ia akan kembali di tembak atau bahkan di bunuh secara kejam. Takdir tidak ada yang tahu.
"Asal kau tahu. Selama kau tak sadarkan diri tuan Will selalu menjaga mu. Memang kemarin dia tidak menjaga mu dan karena itu lah dia saat ini sekarat. Bahkan Ansel menjadi sasaran emosi tuan Will karena dia mengingatkannya." ucap Alex yang nampak kesal.
"Lalu kau salah kan aku karena tuan mu sekarat?! KAU HARUS TAHU, DIA BERUSAHA MEMBUNUH KU!"
Sela emosi dan dengan sigap Mia langsung memeluk Sela agar tenang.
"Tenangkan diri mu. Luka jahitan mu masih basah. Berbahaya jika kau seperti itu." ucap Mia.
Kini, Sela menangis mungkin hanya itu yang Sela bisa. Sela tak menduga ternyata Will lebih kejam di bandingkan ekspetasinya.
"Tapi aku kira kau salah. Bisa saja saat ini tuan Will mungkin mulai menyayangi mu." ucap Mia
"Konyol Mia." ucap Alex.
"Perhatikan saja. Apa tuan pernah melakukan semua ini kepada wanita lain? Hanya Sela yang mendapat itu."
Mia masih berusaha menenangkan Sela. "Keluar. Biar ku tangani ini."
Alex mengangguk dan kemudian pergi.
"Hiks! Dia mencoba membunuh ku padahal sebisa mungkin aku tidak membantah perkataannya..."
"Hey. Menurut ku, tuan tidak sengaja melakukan itu. Pasti ada sesuatu yang membuat tuan tega menembak mu. Tapi kau tahu? Tuan Will mati matian membawa kau dari daerah terpencil itu menuju kerumah sakit. Menutupi luka di tubuh mu agar kau tidak mati kehabisan darah."
__ADS_1
"Tuan Will tidak pernah melakukan itu kepada siapa pun sebelumnya. Jika ia ingin membunuh seseorang, maka ia akan membunuh orang itu tanpa ampun dan tuan Will tidak akan mengantarkan orang itu kerumah sakit." ucap Mia dengan kekehan kecil.
"Apa itu masih kurang untuk mengartikan bahwa tuan Will mulai menyayangi mu?"