
Udara pagi berhamburan menyapa seorang gadis berambut ikal yang diikat dua. Gadis itu melangkahkan kakinya kebingungan dan sekali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri. Awan nampaknya tak ingin kulit gadis ini menjadi kecoklatan karena terik matahari. Sehingga langit pun terlihat mendung.
Gadis itu menemukan pohon beringin yang menurutnya cukup menyeramkan. Tetapi ia tetap mendekat dan mendekat dengan rasa penasaran yang membuncah. Ia melihat bunga cantik yang masih bisa tumbuh di bawah bayangan itu.
Bunga merah dengan warna yang semakin muda di ujungnya. Dan daun-daun hijau yang masih memiliki titik-titik air di atasnya. Ia penasaran siapa kira-kira yang tega menanam bunga cantik ini di sini sendirian.
"Mau apa?" Suara itu memasuki pendengaran gadis itu ketika ia mendekat. Seperti pencuri kecil yang ketahuan, rasa panik mendorong hatinya untuk berbohong.
"T-tidak ada," ia tersenyum canggung ketika melihat gadis seumurannya yang duduk di bawa pohon beringin itu sedang menatapnya datar.
"Penasaran?" Ia melirik ke arah bunga merah menyala itu lalu memiringkan kepalanya.
"Bukan ... kok"
"Itu namanya Bromelia, aku yang menanamnya," balasnya acuh saat ia menyipitkan matanya dan kembali melakukan rutinitasnya.
"K-kenapa kamu mau memberitahuku?" Gadis itu tergerak untuk maju sedikit lebih dekat.
"Tsk, karena kamu mau tau," ia memutar matanya.
Gadis itu kembali menatap Bromelia merah itu. Mendekat lalu menyentuh daunnya dengan hati-hati. Ia berbalik, tetapi seolah dapat membaca pikirannya gadis di seberang sana menjawab.
"Boleh."
Ia mengamati tumbuhan itu baik-baik. Menggali dan menggali ide-ide yang diam-diam terlintas dalam pikirannya.
Waktu SD dia pernah menjuarai Olimpiade IPA tingkat nasional. Alasannya untuk belajar IPA dengan giat adalah karena ketertarikannya kepada makhluk hidup. Kenapa mereka bisa hidup? Bagaimana cara mereka berkembang? Mengapa?
"Tipe orang yang selalu ingin tau, ya?" Gadis itu tersentak kembali ke dunia nyata ketika mendengar gumaman gadis itu. Rupanya ia masih setia membaca buku tebal—yang menurut gadis berambut ikal itu—sedikit ... kuno?
"Kenapa, gadis aneh?" Tanyanya sarkastik tanpa menoleh sedikit pun.
Ini pertama kalinya dia dibilang aneh oleh orang lain. Biasanya Bundanya sendiri mengatakan bahwa dirinya itu adalah jenius. Terus kenapa orang ini mengatakannya aneh?
"Rambutmu, cara berpakaianmu, semuanya menunjukkan kalau kamu adalah gadis ekstrovert tulen. Tetapi sepertinya ketika orang-orang lebih teliti ... mungkin kamu ini lebih terlihat seperti kutu buku." Suaranya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu pasti. Tetapi terdengar tegas ketika ia yang mengatakannya.
"Eh? Aku seaneh itu, ya?" Ia buru-buru menutup wajahnya yang memerah padam dengan kedua tangannya.
Ia terkekeh, "tidak, kok."
Ketika ia perhatikan gadis berwajah pucat itu baik-baik, entah bagaimana ia berpikir bahwa wajahnya benar-benar mirip dengan teman-teman lamanya yang berdarah campuran.
"Kamu blasteran, ya?" Tanpa sadar ia membuka suaranya. Ia mengutuk dalam hati, kenapa refleks penasarannya benar-benar tidak bisa ditaha sedikit pun?!
"Entahlah," ia terlihat mengangkat bahunya.
Rasa penasaran sekali lagi mengendalikan tubuhnya. Ia mendekati gadis pucat itu dan duduk tepat di sebelahnya. Mendapatkan tanggapan fisik yang tiba-tiba gadis itu sontak berbalik, lantas menatapnya aneh.
"Bagaimana caranya kamu menanam tanaman itu? Bisa kamu ceritakan padaku?" Mata gadis ikal itu bercahaya dengan sinar keingintahuan ia mendekatkan wajahnya.
Gadis pucat itu mengernyit, lalu membangkitkan senyum tulus. Dengan senang hati ia menceritakan apa yang ia tau, dari mana ia mendapatkan benih tanaman itu, dan yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana ia merawatnya.
Tidak ada yang pernah mempedulikannya sejak kelas tujuh, atau mungkin karena dirinya yang tidak menampakkan diri di permukaan. Ia seperti gadis kebanyakan. Gadis yang merasa sepi ketika tidak ada satu pun orang yang sudi berbincang baik dengannya.
"Aku Chaca, kalau kamu?" Gadis itu mengulurkan tangannya ketika ia telah selesai menepuk-nepuk roknya dari kotoran.
__ADS_1
Ia menerima uluran itu dan membalas senyum, "aku Amarie, senang bertemu denganmu."
Angin berhembus, menampakkan matahari yang sejak lama telah bersembunyi dari bumi. Daun-daun berterbangan, juga sulur-sulur akar yang ikut bergoyangan. Juga aroma tanah yang menguar ikut meramaikan.
Setelah itu keduanya dihukum karena terlambat masuk kelas. Juga senyum usil yang masih membekas di ingatan Chaca ketika mereka di keluarkan dari kelas. Amarie mengajaknya untuk ke toko bunga yang menjual benih Bromelia.
Chaca tidak pernah ingat kapan lagi ia sebahagia itu ketika bersama orang selain Amarie.
.
Chaca merasakan hatinya menjadi batu hari ini, tepat sebelum Amarie yang menenangkan suasana hatinya. Sekarang moodnya kembali lagi. Tetapi ia tiba-tiba ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil. Sampai ia lupa untuk pamit dan langsung berlari menuju toilet.
Setelah panggilan alam tersebut, Chaca buru-buru kembali ke kelas karena jam pelajaran kesukaannya akan dimulai tidak lama lagi. Dan kalau saja ia terlambat, bisa-bisa gurunya—Bu Ida—akan mengamuk.
Nama wanita itu memang sedikit unik membuat Chaca salah paham pada awalnya. Ia pikir wanita itu adalah penjual kuaci yang ada di dekat rumahnya.
Kini ia telah duduk di tempat duduknya. Tetapi orang yang ditunggunya tidak kunjung datang bahkan sampai Bu Ida yang mengabsen.
"Amarie Siskayla?"
"Dia mungkin lagi di toilet, Bu!" Chaca buru-buru mencarikan Amarie alibi agar gadis itu tidak dihukum lari lapangan karena setau Chaca tubuh Amarie agak lemah.
Guru Biologi tapi hukumannya lari lapangan. Bu Ida ini guru olahraga atau guru biologi sih? Atau mungkin karena lemaknya yang berlebihan, jadi dia ingin melampiaskan rasa frustasinya dalam bentuk hukuman.
Chaca terkekeh.
"Chaca, lanjut!" Tegur wanita paruh baya itu ketika melihat murid kesayangannya yang tiba-tiba tertawa seperti orang gila.
Karena Chaca memiliki konsentrasi yang cukup baik, jadi dia masih dapat mendengar kalimat terakhir dari teman sekelas yang membaca sebelum dirinya.
Setelah bel listrik berdering, Chaca buru-buru beranjak untuk mencari keberadaan Amarie. Bagi orang lain sangat sulit untuk menemukan Amarie di tengah keramaian atau pun tidak. Tapi bagi Chaca itu semudah menemukan bakteri di bajunya dengan mikroskop.
"Lo ngelihat Amarie, gak?" Chaca bertanya pada salah satu kenalannya. Lebih tepatnya remaja lelaki—Abimanyu—yang menempati kelas X IPS 3.
"Tadi gue lihatnya sih, Kak Andhi yang buru-buru mengangkat Amarie ke UKS." Dengan kaku ia menjelaskan hal-hal yang ada dalam otaknya.
"Thanks,"
Padahal pada awalnya ia berharap bahwa ia tidak akan bertemu dengan Kak Andhi yang resmi telah menjadi mantan pacarnya setelah berpacaran belum genap dua hari. Rekor tercepatnya ketika pertama kali pacaran.
. .
"Ini buat lo," lelaki itu—Andhi—menyodorkannya sebungkus makanan.
"Tidak, terima kasih." Amarie menatapnya datar tanpa ekspresi.
Tanpa Amarie duga, rupanya Andhi bergerak satu langkah darinya. Dengan gesit jemarinya itu melepaskan karetnya. Lalu mengisi sendok plastik itu dengan nasi dan berbagai lauk-pauk.
"Sini gue suapin kalau begitu," ia meletakkan lututnya sebagai penopang lalu menyuapi gadis itu sesendok nasi.
Tapi sebelum sampai ke dalam mulut Amarie, atau Amarie yang belum bergeser sedikit pun. Seseorang membuka pintu, menimbulkan bunyi decitan.
Amarie tertegun, tetapi ia berhasil menetralkan wajahnya, lalu menoleh, lalu tersenyum. "Halo Chaca!"
Tetapi tetap saja tubuh Chaca nampak sama sekali tidak merespon, ia tetap mematung di depan pintu dengan mulut yang terbuka tanpa sebab. Tatapannya kosong ketika melirik Andhi yang bersikap terlalu dekat dengan Amarie.
__ADS_1
Amarie pun melirik Andhi sinis sekaligus jengkel. Ia tidak suka situasi ini! Sekarang Karena pria berengsek ini, ia harus terjebak ke dalam drama konyol yang seharusnya tidak seharusnya pernah ia pijaki sampai sekarang.
"Coklat Chaca, ada apa?" Ia menetralkan wajahnya untuk tersenyum.
Amarie melihat pelupuk mata Chaca yang kini basah karena air mata. Seolah menyadari arah pandang Amarie pada dirinya. Chaca buru-buru keluar dengan langkah lebar.
Amarie menatap Andhi datar, bahkan saking datarnya Andhi sendiri pun merasakan bulu kuduknya yang berdiri seketika.
"Keluar." Suaranya sekarang terdengar jernih, tatapi yang tinggal sekarang adalah benci.
"Keluar, Kak. Atau tidak ... aku akan mengatakan segalanya, loh." Sekarang senyum bangkit lebih dalam dan lebih menyeramkan.
"Apa ya\~ mungkin akan menyenangkan kalau gue akan mengatakan kepada ... siapa namanya? Ya! Kak Uci!" Amarie mulai menundukkan kepalanya lalu terkekeh.
"Lo! Lo gak tau terima kasih, ya?!" Ia mundur dengan langkah teratur secara refleks.
"Kan rasa terima kasih bakal habis kalau udah dibalas, kak. Apa Kakak tidak tau hukum tabu sesederhana itu? Dan Karna dari awal Kakak sudah berutang pada gue jadi tak ada yang perlu dihitung lagi!" Balasnya ceria dengan senyum cerah yang bersinar di kedua sudut bibirnya.
“Gue bakal beritahu ke Chaca kalo lo itu selama ini ngebohongin ingin dia. Apa lo gak takut?” Lelaki itu menajamkan penglihatannya menatap Amarie dengan wajah yang memerah marah.
"Hm? Gue? Takut? Hahahahah ... gak mungkinlah, kak. Apa Kakak bercanda? Lagipula dari awal gue tidak membohonginya,”
. . .
Warna hitam putih memenuhi tuanya ini dengan nuansa minimalis. Sementara seorang pria paru baya dan lelaki yang tidak jauh mirip Dangannya duduk berdampingan. Keduanya berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih. Tanpa ada lagi kedekatan akrab yang biasanya terasa di antara keduanya.
"Jadi saya harus menyusul Via dan Vio untuk mengurus beberapa urusan bisnis cabang kita yang ada di Indonesia, begitu?" Suara dewasa itu kini membalas dengan sedikit keraguan.
"Ya, kamu harus mengurusnya untuk sementara. Dan yah, bisnis kali ini lebih berorientasi di bidang pendidikan. Jadi tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan, kamu hanya harus datang sebagai tamu di acara akhir tahun yang akan digelar di sama. Karena kita sebagai pemilik yayasan sudah semestinya mengirimkan wakil ke sana."
"Tapi, Ayah, bukankah mereka secara tidak langsung meminta Ayah sendirilah yang akan menghadiri pesta itu, alih-alih saya?"
"Tidak, Charlie. Tidak ada syarat di berkas undangan itu sendiri. Mereka hanya meminta wakil dari pemilik yayasan yaitu kita sendiri." Wajah pria paru baya itu—Aaric—nampak serius ketika mengulangi apa yang tertera pada berkas yang dimaksudnya.
"Atau ... Ayah ingin saya bukan hanya karena status pewaris perusahaan kan? Tapi karena ada sesuatu yang Ayah ingin saya selidiki di sana. Karena tidak mungkin ayah hanya akan menyuruh saya untuk pergi berpesta, konyol." Charlie terkekeh ketika membayangkan hal semustahil itu terjadi.
"Betul. Selain untuk menyelidiki sesuatu untukku, ini juga akan menjadi salah satu peluang untuk mengawasi asik-adikmu. Kamu taukan bagaimana gaya sosial bebas yang dilakukan oleh adik perempuanmu satu-satunya? Atau hemat berlebihan yang dilakukan oleh Ken, dan Vio yang menghabiskan waktu malamnya untuk bermain laptop?" Aaric tersenyum simpul mengamati anak lelaki pertamanya yang sibuk berkecimpung dalam pikirannya.
"Oke, saya mengerti tugas ini dengan sangat baik, Ayah. Akan kuselesaikan tugas ini lalu kembali ke New York bersama dengan bocah-bocah ingusan itu."
. . . .
"So guys, Daddy bilang kalau Kak Charlie bakal tinggal bareng kita sampai selesai liburan," seru gadis itu—Via—dengan frekuensi suara yang semakin lama semakin kecil.
"I'm not free!" Seketika teriakan Via menarik perhatian Kendrick yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Diamlah, Via!" Balas lelaki jakung itu sambil melemparkan tatapan kesal dengan rahang yang mengeras.
"It's still night, Speakerman!" Sahut Vio dari lantai atas.
"I am women!" Balas Via.
“Sudah Kakak bilang, kalau di Indonesia, gunakan bahasa Indonesia, Via, Vio!” Suara Kendrick tidak mencapai telinga keduanya sekali pun. Mau bagaimana lagi Kendrick tidak mempunyai pilihan lain selain mengerjakan tugasnya.
Dengan begitu malam yang biasa Kendrick lewati dengan kedamaian. Kini dipenuhi dengan kebisingan dari kedua adiknya yang terus beradu verba menggunakan bahasa Inggris yang ia larang untuk digunakan di sini. Begitu pula semalaman wajahnya terus ia tekuk tanpa ekspresi.
__ADS_1
. . . . .