
Langit yang awal mulanya berwarna biru, kini terlihat menyatu dengan sembrutan kejinggaan. Sementara seorang gadis yang menatap sepi—Amarie—tengah berjalan melalui trotoar. Sementara mobil-mobil dengan jenis yang berbeda-beda melintas di jalan raya, memanggil asap kendaraan untuk singgah ke dalam indra pembaunya.
Tanpa peduli sedikit pun akan dirinya yang mulai terbatuk-batuk. Amarie tetap berjalan dengan pandangan kosong dan sekali-kali bergumam samar.
"Ah, malam ini aku akan tidur dengan siapa, ya?" Ia mendongak menatap langit kejinggaan.
Dalam hati ia merutuki Andhi—kakak kelasnya—karena telah membuat kesalahpahaman di antara dia dan Chaca. Syukur saja karena dia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak membongkar segalanya. Kalau tidak ia akan menambah masalah bagi dirinya sendiri.
Ia merogoh sakunya, mencari sesuatu yang mungkin masih tersisa di dalam saku celana olahraganya ini.
Tepat setelah Andhi membawa Amarie ke UKS. Rupanya salah satu guru wanita yang bertanggung jawab untuk menjaga di sana meminta Andhi meminjamkan baju ganti pada salah satu teman perempuannya. Dan tentu saja ia menurut dan meminjamkan pakaian milik orang yang ia kenal dengan nama Naya.
Amarie dari awal memang sudah tau, hanya saja ia ingin secara langsung menginterogasi Kakak kelasnya. Apakah orang itu akan jujur atau berbohong?
Amarie memandang uang yang telah ia ambil dari dalam sakunya. Dua lembar uang seratus ribu yang ia dapatkan dari bekerja paruh waktu di hari minggu.
Ia lantas memandangi jalan trotoar yang dilewatinya dengan tatapan hampa sembari berpikir. Apa yang harus ia lakukan?
"Apakah aku pergi ke sana saja, ya?"
"Tidak. Pria itu pasti akan memukuliku lagi karena telah melawan anaknya."
Sebenarnya, setiap langkah yang ia ambil dengan kakinya terasa sangat berat. Namun semua hal itu tidak ia rasakan lagi karena ia sudah terbiasa. Bahkan ia masih menyanggupi kelelahan yang lebih parah dari ini.
Ia berhenti tepat di depan sebuah minimarket yang berada di seberang jalan. Lalu dengan hati-hati ia menyeberangi jalan itu tanpa ekspresi.
Ia sampai pada satu kesimpulan; ia harus menginap di rumah satu-satunya temannya.
Yaitu Chaca
Mungkin gadis itu masih marah kepadanya, tetapi ia akan menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hidupnya penuh dengan drama, oleh karena itu ia sudah muak dengan drama.
Terdengar melodi dari sensor yang ia lewati saat ia masuk ke dalam minimarket itu. Lampu terang dari minimarket menyorotnya saat ia menginjakkan kakinya.
Susah payah ia menyeret kakinya untuk mencari keperluan minum yang paling ia butuhkan dari kulkas minimarket. Lalu berjalan balik ke arah kasir. Sebelum rencananya itu terjalankan, nampak seseorang yang berjalan riang dan tanpa sengaja menyenggol bahunya.
"I'm sorry,"cicitnya saat ia menundukkan kepalanya dengan tangan yang disatukan.
Orang itu mengenakan masker hitam dan hoodie kebesaran sehingga Amarie sama sekali tidak bisa melihat rupa sosoknya itu. Dan sekali lagi Amarie sama sekali tidak peduli. Sudah terlalu sering orang-orang menabraknya, tapi tidak meminta maaf. Itu tidak ada bedanya bagi dirinya.
"Hm," balasnya berlalu dari tempat itu dan segera menuju kasir, meninggalkan gadis itu yang mematung menatap Amarie dengan penuh tanda tanya.
Nampak dari balik hoodie gelap itu, iris biru safir yang bersinar penuh kecemerlangan dan sedikit rasa bingung. Ia lantas menari busur penuh jenaka. Ia rasa keputusannya untuk melarikan diri dari kakak sulungnya sangatlah tepat.
Ia menyadarkan dirinya kembali ke kenyataan dan mengejar langkah Amarie yang terlihat tertatih-tatih. Ia sampai tidak sadar bahwa tudung kepalanya yang kebesaran terlempar ke belakang. Rambut hitam legamnya yang halus nampak di saat bersamaan. Membuat ilusi yang menarik banyak mata.
"Hey, namamu siapa?" Gadis itu menepuk pelan pundak Amarie yang berjalan menjauh.
"Hm?" Amarie berbalik dengan mata yang menyipit penuh waspada.
"Na-ma?" Ejanya ulang dengan dahi yang mulai mengerut kesal.
"What for? And who are you?" Tatapan lurus terasa menusuk bagi Amarie.
"Stop talking like this, and answer my quetion!" Cegah orang itu.
"Entahlah," Amarie bergegas pergi, tetapi kekeras kepalaan gadis berhoodie itu tidak ingin membiarkan Amarie pergi begitu saja.
"Saya tidak punya urusan denganmu. Jadi jangan mengikuiku!" Sergah Amarie yang mulai mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Kamu ini bodoh atau idiot, sih?!" Berkat latihan bela diri yang diajarkan khusus oleh kakak keduanya. Ia memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk menahan Amarie dengan menarik salah satu tangannya.
"Kenapa?" Amarie merasakan emosinya akan hilang kendali sebentar lagi. Ia menatap dingin gadis bermata biru safir di hadapannya.
"Kakimu itu cedera parah, loh. Kamu mau kaki kamu diamputasi?!" Tatapan gadis itu berada di tempat kedua kaki Amarie terpijak.
"Bukan urusanmu,"
"Aish, aku tidak pernah melihat orang yang lebih keras kepala seperti ini dalam hidupku."
"Tapi aku tidak peduli," potong Amarie blak-blakan.
"Kalau saja Vio ketemu sama kamu, dia pasti akan mendapatkan pencerahan sesegera mungkin!" Amarie meliriknya jengah, tetapi entah mengapa ia tetap merasa bahwa tingkah gadis ini begitu lucu.
"Kekanakkan," cibirnya yang masih bisa di dengar. Gadis itu terkekeh riang di belakangnya.
Meskipun langkahnya terlihat tanpa arah pada awalnya, ia masih pun ingat arah tujuannya sejak awal.
"Kamu masih mau mengikutiku?"
"Iya!" Dengan kepalan tangan yang terangkat ke udara ia menjawab Amarie dengan riang.
Gadis itu tau bahwa staminanya sejak awal walaupun dia berjalan dari tempat terpencil ke kota besar dengan berjalan kaki. Tapi dia juga tau kalau Amarie tidak akan sanggup lagi jika mereka terus melanjutkannya. Ia melirik kaki Amarie dengan tanda tanya.
Ia lantas menarik lengan Amarie menuju ke tempat lain. Meskipun pencahayaan yang remang remang di jalan trotoar ini, ia tetap dapat menuntun dirinya dan Amarie ke tempat nongkrong yang tidak jauh dari sana.
"Untuk apa kamu membawaku ke sini?" Amarie menatapnya dengan tatapan penuh ketidaksetujuan.
"Kamu mirip banget deh, sama Vio, tsundere banget!" Ia memijit pelipisnya saat Melirik Amarie dengan penuh humor.
"Sia-"
"Dua es teh manis ya, mas!" Seru gadis itu menoleh ke arah seorang lelaki yang berdiri di depan gerobak.
"Untuk apa kamu menarikku ke sini, hah?!" Tatapan tajamnya menginterupsi gadis yang sedang sibuk dengan pikirannya itu kembali pada kenyataan.
"Gak, kok. Hanya saja, kaki mu itu yang tidak ingin melanjutkan perjalananmu ini," ia tersenyum ramah menunjuk kaki Amarie yang nampak kebiruan.
"Lalu?"
"Kamu mau ke mana?"
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
"Baiklah sudah kuputuskan!" Amarie meliriknya dengan tatapan aneh.
"Aku akan mengikutimu!"
.
"Vio, di mana Via?" Tatapan mengintimidasi itu menyerang Vio yang sedari tadi tidak pernah membuka mulutnya.
"Tidak tau," dengan ekspresi sealami mungkin, Vio membalas Kakak tertuanya tanpa ekspresi.
"Ken, apa kamu tau di mana anak itu?" Lelaki itu melemparkan tatapan yang sama kepada adik laki-lakinya yang tidak lain adalah Kendrick.
"I do not have idea about her location, and if you want to know. I never saw her, since she entered her bedroom by her self. Gue gak tau kak, sumpah!" Kendrick menatap kakaknya itu—Charlie—dengan tatapan yang sebisa mungkin ia berikan.
"Tamat sudah kalau sampai Ayah tau kalian tidak menjaga anak perempuan satu-satunya dengan baik." Suara dingin itu penuh kecemasan ketika ia menunduk dengan tangannya yang mengelus dagunya bingung sekaligus kesal.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita meminta salah satu dari mereka untuk mencari Via saja." Usul Kendrick setelah berpikir lama.
"Tidak bisa, kalau kita memberitahu mereka apa yang terjadi, mereka pasti akan melaporkannya kepada Ayah dan kita semua akan kena akibatnya." Kendrick juga ikut mengernyit ketika mendengar penjelasan kaknya yang begitu logis hingga ia tidak bisa menyangkalnya.
"Jangan mencarinya, dia akan kembali, kok" Vio beranjak pergi menuju dapur meninggalkan kedua kakanya yang mematung mendengar penjelasannya.
"Apa maksudmu, Challies?!" Tanya Kendrick dengan terburu-buru mencegah Vio melanjutkan langkahnya.
Vio mendesah pelan mendengar kakak keduanya yang tidak bisa menyembunyikan emosiny dengan begitu baik.
"Dia cuma berjalan-jalan dan kembali sebelum tengah malam. She promised alredy." Sebelum Vio kembali menikmati kedamaiannya kembali Charlie mulai memberikannya tatapan dingin.
"And you believe her without her fucking reason?!" Amarah Charlie semakin pecah. Apalagi Vio yang tiba-tiba tertegun dengan ucapan kasar yang pertama kali ia dengar dari kakaknya.
"Lebih baik kita meminta security Ayah saja untuk mencari Viandra!" Usul Kendrick yang kemudian diangguki oleh Charlie begitu saja.
Beberapa ide untuk membuat adiknya jera mulai berputar di otaknya. Ia menggigit bibir bawahnya tanpa daya ketika melihat keputusan akhir dari sang Kakak. Yang berarti ia harus rela berakhir di tangan Ayahnya tanpa perlawanan.
Vio tanpa sadar menggerakkan tungkai kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Dengan berbagai pikiran berjalan dengan linglung sembari memegangi pegangan tangga saat ia naiki.
Ketika ia tiba di dalam kamarnya. Buru-buru ia membuka laptop kesayangannya yang merupakan hadiah dari Daddynya. Bisa gawat kalau saja Daddynya mengetahui bahwa ia membiarkan Via keluar dari rumah begitu saja. Oleh karena itu hal yang pertama kali ia lakukan setelah membuka laptopnya adalah membobol sistem dari SMS dari salah satu security yang ditugaskan oleh Daddynya.
Dia merusak beberapa hal dengan cerdik hingga tidak menciptakan satu pun celah untuk membuatnya ketahuan. Angka serta huruf-huruf dengan pola yang rumit terus bermunculan di laptopnya. Gerakan tangannya yang gesit sedari tadi lalu berhenti dan berakhir pada tombol 'enter' keyboard laptopnya.
Ia menghela nafas. Tetapi tiba-tiba ada banyak pemberitahuan yang muncul di layar laptopnya, nafasnya tercekat. Buru-buru ia membalas serang itu dengan meluncurkan virus lain kepada penantangnya itu.
Syukurlah serangan itu berhenti. Tetapi karena serangan yang berhenti mendadak itu membangkitkan rasa penasaran Vio lebih dalam. Ia mencoba melacak IP pengguna yang menyerangnya itu. Tetapi penyerang itu lebih keras kepala dibandingkan dirinya. Lantas dengan sigap menarik flash disk—yang terpasang pada laptopnya sedari tadi—sebelum menemukan apa yang dicarinya.
Ia memegang dadanya dan menghela nafas. "Hampir saja," nyaris lokasinya berhasil dilacak.
Ia mengambil flash disk lain yang terletak di dalam laci nakas yang berada di samping ranjangnya. Ia mencolokkannya, meregangkan jari-jemarinya, kemudian menggerakkan jari-jemarinya sekali lagi dengan gesit.
Ia membuka file yang tersimpan di dalam flash disknya itu. Ia mendapati beberapa angka dan huruf sekali lagi. Ia mencoba untuk membobol CCTV yang berada tidak jauh dari mansion Philiew itu sendiri.
Ia mencari rekaman jam 06.01 yang menampakkan minimarket yang memang tidak jauh dari mansion ini. Seorang gadis berambut hitam dengan potongan yang tidak rapi sedang berjalan masuk dengan langkah yang terlihat kurang baik, tetapi satu hal yang tidak bisa Vio pastikan karena wajahnya tampak kabur. Setelah itu masuk sesosok yang dikenal oleh Vio, Via.
Orang yang mengenakan masker dan tudung kepala yang besaran. Orang itu terlihat begitu mencolok dan mencurigakan di antara orang-orang yang masuk ke sana. Tetapi bisa Vio pastikan dalam sekali pandang kalau orang itu adalah adik kembarnya.
Lalu ia pindah ke CCTV yang letaknya di arah berlawanan, kali ini adalah rekaman sepuluh menit setelahnya. Nampak gadis pucat yang Vio lihat tadi dan Via—dengan tudung hoodie yang tidak menutupi kepalanya lagi—mengejar gadis itu dengan raut yang tidak bisa ditebak.
Vio mengernyit bingung, kenapa Via harus mengejar orang ini dengan ekspresi seaneh itu? Biasanya kan orang-orang yang akan mengejarnya dan meminta Via untuk menerimanya menjadi teman.
Tanpa pikir panjang pun Vio menghentikan rekaman itu dan menyimpannya. Ia mengambil detik ke 06.13.32.01 yang mana saat itu gadis itu mendongak dan menampakkan seluruh wajahnya.
Ia menaikkan resolusi gambar itu juga menurunkan kontrasinya hingga struktur wajahnya terlihat dengan jelas. Dan gambar itu berhasil membuat Vio membulatkan matanya.
Penampilan gadis ini ... nyaris sama persis dengan adiknya!
Apakah ini kebetulan semata?
. .
Nampak dua orang gadis yang sedang berdiri di depan pintu dengan ukiran yang amat indah. Yang satu memiliki wajah yang pucat seperti kapas yang lain ditutupi oleh masker hitam. Tetapi warna gandum kulitnya nampak terlihat jelas.
"Ada yang bisa saya bantu?" Senyum terukir di wajah wajah itu ketika ia membukakan keduanya pintu.
"Bisa panggilkan Chaca, tidak, Bi?" Balasnya ramah dengan senyum yang tersemat indah di kedua sudut bibirnya.
Wanita paruh baya yang bekerja sebagai pelayan itu sudah mengetauhi sejak dahulu kala, bagaiman hubungan putri rumahnya dengan gadis pucat ini. Terkadang ia juga merasa kasihan ketika melihat bekas penyiksaan yang tidak sengaja terungkap dari balik pakaiannya. Dengan pengalamannya, ia dapat mengerti dengan jelas bagaimana situasi Amarie sejak awal.
__ADS_1
"Baiklah saya akan memanggilkannya."
. . .