
~Mafia dan Hijab~
Berada di dalam satu mobil dengan pria asing membuat Sela lagi lagi canggung. Mereka duduk berjauhan.
Sela di sisi kanan dan Will di sisi kiri. Sela melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota Cordoba ini lewat kaca mobil di sampingnya.
Hingga ia menangkap sosok objek.
"Bisa kita berhenti?!" ucap Sela tergesa-gesa.
"Kenapa? Kau mengalami sesuatu?"
Mobil mulai menepi saat sang pengemudi pribadi Will mendapat perintah dari sang atasan.
Ada apa dari sorot mata pria itu?
Apa dia khawatir?
Kepada gadis ini?
"Di sana. Aku ingin menemuinya. Hanya sebentar."
Kepala Will menengok kebelakang,Melihat siapa yang Sela maksud? Kini pria itu paham, Mark tengah berdiri di sana sembari berbincang bincang dengan seseorang,Rahang Will mengeras.Ia tahu, apa maksud Sela ingin bertemu dengan Mark.
"Tidak. Aku tidak mengizinkan mu. Ayo kita jalan." ucap Will yang kembali dingin.
"Will... Ku mohon," rengek Sela.
Will dalam sekejap langsung menatap Sela dengan tajam.
"Jangan buat aku untuk melakukan hal yang sama seperti kemarin pada mu." ancam Will dengan suara rendahnya.
Tangan Will yang semula memegang tab, kini di gunakan untuk memegang tangan Sela dan menariknya kuat. Hingga tubuh gadis itu terjerembab ke tubuh Will.
Dengan sigap Will langsung memeluk Sela dari samping,Tubuh Sela spontas menegang.Tak biasanya Sela mendapatkan perlakukan seperti ini dari seorang pria. Pria dalam arti bukan pria mahromnya.
"Kini,aku tuan mu.Kau harus patuh denganku jika tidak mau tubuh mu menjadi korban,Mengerti?" tanya Will dengan suaranya yang terdengar lebih tenang.
Sela mengangguk dengan ragu campur takut.
"Bagus." gumam puas Will
Mobil sedan Lexsus hitam mewah milik Will, berhenti sesaat setelah memasuki sebuah gudang besar yang berada di sekitar laut. Ini, nampak seperti dermaga barang yang sukup aktif dengan kegiatan ekspor impor barang.Namun, orang orang di sini nampak seperti robot yang hanya bergerak tanpa ada interaksi dalam bentuk apapun. Satu alat besar yang di gunakan untuk memindahkan barang ke kapal pun, berdiri tegap di sebelah bangunan besar tersebut.
__ADS_1
Sela melihat keadaan sekitar. Matahari nampak menyilaukan mata gadis itu,Hijab dan gamis yang Sela kenakan bergerak kesana kemari karena tiupan angin yang cukup kencang wajar, karena ini di pesisir pantai.
Will turun dari mobilnya,Kaca mata hitam bertengger di pangkal hidungnya.Jas yang ia kenakan seolah menari beterbangan karena tiupan angin Dengan gagahnya, Will menghampiri Sela.
"Tempat apa ini?"
Will menatap sekitar dengan kening mengkerut menahan silau dari cahaya matahari. Mulut yang selalu bergerak mengunyah permen karet. Menjadikan aura gelap Will bertambah berkali kali lipat.
Will menatap Sela yang hanya memiliki tinggi sebatas bahu Will. Membuat pria itu menunduk untuk dapat melihat wajah ayu Sela.
"Kau tahu? Berapa lama dan seberapa sulitnya aku membangun semua ini?"
Sela bungkam.
Will memasukan ke dua tangannya ke dalam saku celana biru dongker yang kini ia kenakan. Pandangan Will kembali menatap gedung besar yang nampak kumuh dan berantakan di luarnya.
"Kurang lebih 2 tahun aku membangun semua ini. Mulai dari pembangunan yang gedung yang penuh sengketa, crane itu pun ku beli setelah pasar ini berjalan kurang lebih setahun."
"Ku pikir kau sudah kaya sejak lahir." gumam Sela.
Will terkekeh.
"Baru baru ini saja aku bisa menikmati kekayaan ku."
Sela mengangguk bingung. Will Mulai melangkahkan kakinya menuju gedung tersebut.Sela sesekali berlari kecil untuk menyamakan langkah kaki Will yang panjang.
Will berhenti mendadak dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu yang membuat Sela menabrak dada Will. Memanfaatkan kesempatan itu, Will mendekap Sela dengan erat.
Sela membelalakkan matanya terkejut. Jujur saat ini jantunnya berdetak lebih kencang. Tubuh Sela menegang, saat merasakan pelukan dari tangan kekar dan keras Will.
Kepala Will menunduk, mencari telinga Sela yang berada di bawahnya.
Will tersenyum diam - diam.
Sela yang semula melamun tak percaya dengan keadaan ini. Cepat cepat untuk sadar dan melepaskan diri dari pelukan pria itu. Sela salah tingkah dengan rona merah di pipinya yang dapat Will lihat.
"K-kau, tak seharusnya me-melakukan itu." gumam Sela.
"Fine. Kita masuk."
Keduanya kembali berjalan dengan Sela yang lebih meringkuk saat ini san tidak bisa berdiri tegap saat berjalan karena ia sungguh malu.
Langkah Sela membawa tubuh mungil itu ke dalam sebuah gedung beratap tinggi dan luas itu. Sela menatap sekeliling dengan takjup.
__ADS_1
Peti peti tersusun dengan rapih di setiap sudut. Banyak pekerja yang lalu lalang di sini dan setiap kali berpapasan dengan Will, mereka pasti akan berhenti senejak untuk menunduk hormat pada Will.Sela memandang sekitar dengan ekspresi wajah yang bingung dan takut.
"Mereka membawa pistol?" tunjuk Sela pada sekelompok pria.
Will mengikuti arah tunjuk yang Sela maksudkan.
"Ya.Pistol itu akan di jual kepada seseorang yang kurang menyukai dengan kata legal dan memilih kata ilegal."
Sela bingung dengan ucapan Will.
"Hari hati,mereka semua membawa senjata tersembunyi yang kau tak duga sebelumnya."
Ucapan will membuat gadis itu cukup terkejut,Sela lebih merapat pada Will.Setidaknya pria ini bisa melindunginya meskipun ia pun lebih mengerikan sejujurnya.
"Ini lah, pusat dari segala perdagangan dari pasar gelap yang ku dirikan.Mengesankan? I, know." ucap percaya diri Will.
"Selamat siang tuan." ucap seorang pria yang tiba tiba datang.Mungkin dia salah satu bawahan Will
"Siang." ucap datar Will.
Will melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan kecil di sudut sana. Sela mengikuti dari belakang. Masih dengan kewaspadaan tinggi, Sela berjalan di menuju ruang itu.Mereka duduk di sebuah sofa yang menghadap langsung ke kaca besar yang menampakan pemandangan crane yang sedang berputar juga laut yang luas di sana.
Biru mengkilap pantulan cahaya matari ke air laut, membuat Sela sedikit mengerenyitkan keningnya, silau.
Will duduk dan langsung menuangkan vodka ke dalam gelas yang sangat cantik. Namun, lihatlah apa yang Sela lakukan saat melihat itu. "Tunggu!"
Will spontan menghentikan aksi tuang menuang vodka tersebut.
"Why?" tanya Will dengan satu alis terangkat.
Sela mengambil posisi duduk di samping Will dan menghadap langsung ke pria itu. "Menurut buku yang ku baca, minum minuman alkohol seperti ini, sungguh tidak baik untuk kesehatan mu."
Will melipat kakinya dan bersandar ke sofa sembari menyibak tuksedonya yang awalnya menutup bagian perut Will.
"Kita berbicara tentang ilmu saja, oke? Jika aku tidak salah, ini semua akan berpengaruh pada kualitas, ekhem! ****** yang kau miliki. Mungkin saja-"
"Kau mengira bahwa spermaku kualitas rendahan? Sungguh?" tanya Will dengan wajah yang mengesalkan bagi Sela.
"Owh... Tidak. Tapi, bisa saja karena kebiasaan buruk mu yang ku lihat dalam seminggu ini. Seperti merokok, meminum minuman seperti itu dengan intensitas yang cukup sering. Itu bisa saja bukan?"
"Ya mungkin saja. Tapi, jika kita tidak mencoba apa kita akan tahu seberapa tinggi kualitas ****** milikku? Jika kau menginginkannya, malam ini kita akan lakukan. Oh! Atau sekarang, maybe?"
Sela paham maksud Will.
__ADS_1
"Kita lihat satu minggu kedepan. Apa kau hamil anakku atau tidak." ucap santai Will sembari menyesap vodkanya
"Ah. Aku budak mu bukan? tidak seharusnya kita duduk dalam kursi yang sama." ucap Sela yang akan beranjak kemudian di tahan oleh Will dan gadis itu kembali terduduk.