Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 1. Cahaya Zahira Marwah


__ADS_3

“Jangan pergi, Mega! Aku takut sendirian,” rengek anak perempuan itu sembari memeluk teman wanitanya dengan erat.


“Kamu tenang saja, Aya. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Wanita muda itu menyambut pelukan si gadis kecil dengan hangat. Dibelainya rambut gadis itu dengan lembut, supaya ia merasa nyaman saat berada di dalam dekapannya.


“Terima kasih, Mega. Kamu baik sekali. Coba saja, papa dan mama sebaik dirimu. Mungkin, aku nggak akan merasa kesepian seperti ini.”


“Orang dewasa itu memang sangat egois, Aya. Makanya, aku sangat membenci mereka.”


“Apa kamu juga membenci Papa dan Mamaku?” tanya Aya yang masih setia melingkarkan tangannya pada tubuh Mega.


“Iya. Aku juga membenci Papa dan Mamamu, Aya.”


“Kenapa kamu membenci Papa dan Mama? Apa Papa dan Mama juga membuatmu sedih.”


“Iya, Aya. Aku sangat marah pada Papa dan Mamamu, karena mereka sudah membuatmu menangis dan sakit setiap hari.”


“Aya juga ingin membenci Papa dan Mama, seperti Mega membenci mereka. Tapi … Aya nggak bisa. Karena Aya sangat menyayangi Papa sama Mama.”


Cairan bening itu kembali jatuh dari telaga mata Aya yang suci. Hatinya hancur dan terasa tercabik-cabik setiap kali memikirkan pertengkaran orang tuanya yang tidak pernah mengenal waktu.


“Sssttt ….” Mega menghapus air mata Aya dengan lemah. “Jangan menangis, Aya. Anak sebaik kamu tidak pantas menangis. Orang dewasa tidak pernah suka melihat anak kecil seperti kita menangis.”


Aya melepaskan pelukannya dan memandang wajah wanita itu dengan lekat. “Jadi, apa yang harus Aya lakukan sekarang, agar Aya tidak menangis lagi?” tanya Aya, lugu.


“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, Aya. Aku yang akan melakukannya untukmu. Sebagai imbalannya, kamu harus menjadi temanku untuk selamanya.”


“Teman?” Aya menatap Mega dengan dahi yang tampak berkerut. “Tapi, kita kan memang teman. Aya suka sama Mega. Karena Mega selalu ada di saat Aya merasa sedih. Mega juga baik. Mega selalu membuat Aya senang dan bahagia,” ujar Aya sambil menyunggingkan senyum di bibirnya yang mungil.


Aya terlihat manis, jika sepasang kelopak matanya tidak sembab.

__ADS_1


“Hooaam.” Aya menguap dengan mulut yang terbuka lebar. Karena terlalu banyak menangis, dia jadi mengantuk sekarang. Berulangkali, ia terlihat menggosok matanya yang berkaca-kaca dengan lemah.


“Tidurlah, Aya. Sepertinya kamu sudah mengantuk sekali,” usul Mega penuh perhatian.


Kepala Aya tertunduk sayu seketika. Hatinya merasa sedih mendengar perkataan Mega yang begitu peduli padanya. Sementara orang tuanya sendiri, ke mana mereka sekaran? Mereka bahkan meninggalkan Aya---sendirian—di dalam rumah yang besar dan sunyi ini.


Mega tidak pernah bermaksud membuat Aya bersedih. Tapi, Ayalah yang terlalu terbawa perasaan. Dan itu wajar, untuk seorang anak seukuran Aya, yang terbilang masih belia.


Ia merasa telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Bahkan, tidak ada lagi yang mau menyempatkan waktunya hanya untuk membacakan sebuah dongeng---pengantar tidur---pada gadis belia itu. Apalagi, sampai harus mengecup keningnya—setiap malam---sebelum ia terlelap dalam mimpi panjangnya.


“Aku tidak bisa menceritakan satu dongeng pun pada Aya. Tapi, kalau Aya mau, aku bisa kok menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Aya.”


“Beneran? Mega mau nyanyi buat Aya?!” Sepasang mata Aya langsung membesar dengan sempurna. Mulutnya turut menganga, hingga menunjukkan deretan giginya yang berseri dan rapi.


Tanpa mengatakan apa-apa, Mega hanya mengangguk pelan. “Tidurlah. Aku akan menyanyikan lagu untuk Aya,” ujarnya kemudian.


Aya menurut. Dia segera menarik selimut tebalnya dan merebahkan diri dengan kepala yang berada di atas pangkuan makhluk tak kasat mata itu. Tak berselang lama kemudian, suara merdu Mega terdengar ke segala penjuru kamar Aya yang luas dan gelap itu.


Aya bobo


Oh, Aya bobo


Kalau tidak bobo digigit nyamuk


***


Beberapa tahun kemudian.


Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang Aya untuk bisa menerima kehidupannya yang penuh dengan duri dan luka. Jika dulu, ia hanyalah anak kecil yang selalu menangis di bilik kamarnya, namun berjalan dengan seiringan waktu, ia pun berubah menjadi remaja cantik yang berhati dingin.

__ADS_1


Selama bertahun-tahun itu pula, ia sudah banyak belajar dari rasa sakit, air mata dan pahitnya kekecewaan yang setia membuatnya jatuh tersungkur. Akan tetapi, bukanlah Aya, bila ia tidak bisa bangkit dari keterpurukannya. Dan, satu-satunya hal yang membuat Aya bertahan sampai detik ini adalah Mega.


Wanita itu selalu ada untuk Aya. Ia selalu mampu mengobati semua luka Aya. Bahkan, ia tidak pernah meninggalkan Ayah dalam kondisi sesulit apa pun.


Dan persahabatan mereka adalah salah satu dari sebuah hubungan beda dunia yang mampu bertahan cukup lama. Bahkan, ikatan itu semakin terasa kental dan juga erat sampai detik ini.


“Selamat pagi, Aya,” sapa Mega yang masih bertahan dengan wajahnya yang dulu. Dia tak bertambah tua sama sekali.


“Selamat pagi juga, Mega,” balas Aya dengan mengulum senyum simpul di bibirnya yang ranum.


“Kamu selalu cantik dengan seragam sekolah itu, Aya. Andaikan saja, aku masih hidup. Aku ingin sekali memakainya dan kita bisa pergi ke sekolah bersama-sama.


Aya baru saja selesai mengenakan dasi sekolah. “Entah sudah berapa kali kamu mengatakannya, Mega. Kalau kamu memang mau merasakannya, kamu bisa masuk ke dalam tubuhku sekarang."


“Kami ini sama seperti manusia. Kami tidak bisa masuk ke dalam tubuh manusia dengan segampang itu, Aya. Kami membutuhkan tenaga yang cukup kuat untuk bisa masuk ke dalam tubuh makhluk lain. Jika kami sudah masuk ke dalam tubuh kalian, maka tubuh yang kami rasuki itu tenaganya akan terkuras habis dan ia akan merasa lemah setelahnya. Dan aku tidak mau menyakitimu.”


“Iya-iya, deh. Kamu memang hantu yang baik,” kata Aya dengan nada yang sedikit mencibir. “Mari kita akhiri percakapan kita hari ini. Karena aku sangat buru-buru sekarang,” pungkas Aya, lalu menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di atas ranjang. Kemudian, ia pun meninggalkan kamarnya dengan Mega yang menyusul dengan cara yang tidak biasa. Memang apalagi, kalau bukan dengan kekuatan menghilang yang makhluk itu miliki.


Ayana Zehira Maharani hanyalah seorang gadis biasa yang menginginkan kebahagiaan. Tapi sayangnya, semua itu tidak akan pernah terjadi setelah orang tuanya sibuk dengan kehidupan mereka setelah berpisah.


Sejak orang tuanya memutuskan untuk bercerai, hidup Aya semakin berantakan dan tidak teratur. Danu—ayahnya—diketahui telah menikah dengan wanita yang lebih mudah sepuluh tahun darinya. Setelah sang ayah memiliki keluarga yang baru, dia pun lupa, jika masih mempunyai seorang anak dari pernikahan sebelumnya, yaitu Aya.


Tak jauh berbeda dengan Asya—ibunya. Setelah resmi menyandang gelar sebagai seorang single parent, Asya memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan—tempat dia bekerja sewaktu muda dulu dan mengorbankan kebahagiaan Aya dengan materi duniawi, sebagai gantinya.


Aya jelas menolak. Siapa yang membutuhkan materi atau uang yang bergelimang, jika waktu dan perhatian dari orang tuanya tak lagi ia dapatkan. Akan tetapi, semuanya percuma saja. Seberapa sering ia memberontak, ia hanya semakin menyakiti hatinya sendiri.


Pada akhirnya, Aya pun memutuskan untuk bersikap tidak peduli dan masa bodo.


Dan setelah ia menginjak usia remaja, ia mulai membuat keputusannya sendiri. Dengan memilih hidup secara mandiri---tinggal sendirian di sebuah kosan putri yang jauh dari orang tuanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2