Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 22. Reaksi Ruqyah dan Empat Herbal Sunnah


__ADS_3

بِسْمِ اللّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْعَيْنٍ حَاسِدٍ اللّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللّهِ أَرْقِيْك


"Bismillaahi arqiika min kulli syay-in yu'-dziika. Min syarri kulli nafsin au-'ayni haasidin. Allaahu yasyfiika. Bismillaahi arqiika."


Yang artinya, "Dengan nama Allâh, aku meruqyahmu dari setiap penyakit yang membahayakanmu dan dari kejahatan setiap jiwa yang jahat atau mata jahat pendengki. Semoga Allâh menyembuhkanmu. Dengan nama Allâh aku meruqyahmu."


(HR. Muslim no. 4056) 


Setelah sesi pengajaran ruqyah mandiri selesai. Kini, dilanjutkan dengan sesi ruqyah massal.


Semua orang sudah menunjukkan reaksi yang beraneka ragam. Ada yang merasa mual, menangis terisak-isak hingga kerasukan.


Reaksi yang paling berat terjadi pada Aya. Gadis itu langsung tak sadarkan diri secara total. Tubuh dan kesadarannya berhasil diambil alih oleh bangsa jin yang bersemayam di dalam tubuhnya sejak lama. Akan tetapi, Ali sudah menanganinya bersama dengan bantuan Husna, istrinya.


Untuk gejala ringan---seperti mual dan menangis tanpa sebab---akan ditangani oleh relawan yang berasal dari santriwan dan santriwati. Mereka membantu dengan cara menepuk-nepuk punggung, hati dan juga di setiap titik di dalam tubuh yang disinyalir menjadi tempat bangsa jin bermukim.


Santriwati membantu pasien wanita. Sementara santriwan menolong pasien pria.


Asya menangis dengan sejadinya-jadinya. Efek tersebut ditimbulkan akibat rasa sedih yang selalu terpendam dan berkarat di dalam hatinya. Kabar baiknya, dia masih setengah sadar dan mampu mengendalikan dirinya sendiri.


Ingatannya terlempar jauh pada beberapa tahun silam, saat di mana ia masih berstatus menjadi istri Danu. Mereka sangat bahagia dan juga harmonis. Namun, semuanya tak berjalan seperti yang diinginkan. Tak ada angin, tak ada badai, mendadak Danu berubah, tempramental dan berkhianat padanya.


"Apa yang sebenarnya salah?" Pertanyaan itu selalu saja berputar di otak Asya hingga sekarang.


Di sisi lain, Reino memberikan reaksi yang tidak biasa pula. Dengan mata yang tertutup rapat, dia menunjukkan beberapa gerakan bela diri di hadapan Fajri. Hal itu dilakukan oleh bangsa jin sebagai pertahanan dirinya sekaligus untuk menakut-nakuti sang peruqyah. Namun perbuatannya itu adalah sebuah kesia-siaan semata, sebab Fajri tidak menggubrinya sama sekali dan ia tetap melanjutkan bacaannya pada surat yang berikutnya.


Tak jauh berbeda dengan Reino, suaminya. Nike tak dapat menahan mual dan rasa panas yang sangat menyiksa di beberapa titik tertentu di dalam tubuhnya. Gejalanya masih terbilang ringan karena masih bisa diatasi oleh relawan yang lain.


بِسْمِ اللهِ الرّحْمَانِ الرَّحِيْمِ


"Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."


قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ {١}


1. Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,


مَلِكِ النَّاسِۙ {٢}


2. Rajanya manusia,


اِلٰهِ النَّاسِۙ {٣}


3. Sesembahan manusia,


مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ


4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang tersembunyi.


الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ


5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,


مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ {٦}


6. Dari (golongan) jin dan manusia. {QS. An-Naas ayat 1-6}


"Hentikaaan!" teriak Laila yang nyaris saja menyerang Fajri, namun segera ditahan oleh Nada dan beberapa santriwati lainnya.


Kebencian, amarah dan keputusasaan. Itulah yang tertangkap dari sorot matanya. Bisa dikatakan, jika tatapan itu adalah buah yang berasal dari emosinya yang terpendam selama ini. Dan berkat bantuan setan, emosi itu akhirnya meledak ... hingga Laila pun tak mampu untuk mengendalikan dirinya sama sekali.


"Siapa namamu?" Sama seperti yang dilakukan Ali. Fajri mencoba untuk mengajak makhluk tersebut untuk berdialog.


Makhluk itu tak menjawab. Dia masih berusaha sekuat tenaga untuk bisa melepaskan diri dari orang-orang yang sudah memegangnya dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Dari mana asalmu? Siapa yang sudah mengirimmu kemari?" Fajri beralih pada pertanyaan selanjutnya. Kemudian, ia memberikan isyarat pada Nada untuk menekan pucuk kepala Laila dengan menggunakan jari telunjuk kanannya.


"Tidak ada yang mengirimku. Aku sudah lama tinggal di tubuh anak ini. Jiwa yang kesepian dan selalu dirundung pilu. Aku sangat menyukainya. Karena jiwanya yang lemah dan rapuh itu selalu menjadi santapan yang sangat enak untukku," ucap makhluk itu dalam keadaan terancam dan tersudut. Namun, ia tetap berseringai sinis. Seolah-olah, dia ingin menunjukkan pada semua orang, bahwa dia tidak pernah takut dengan makhluk yang bernama manusia itu.


Apa yang dikatakan makhluk itu adalah benar dan Fajri tidak bisa membantahnya sama sekali. Perumpamaan tubuh manusia yang dihinggapi jin itu seperti benalu yang hinggap di pohon besar. Benalu merupakan tanaman parasit yang menumpang tinggal di tubuh inangnya. Tidak hanya sekadar tinggal saja, ia juga menghisap sari makanan dari pohon tersebut. Hingga lama kelamaan, seiringan dengan berjalanannya waktu, pohon tersebut akan kehabisan sumber energinya, kemudian mati.


Yup. Seperti itulah gambaran jin yang bersarang di tubuh manusia. Tak jauh berbeda dengan benalu.


"Ini bukan tempatmu. Segera keluar dari sini atau aku akan menyiksamu dengan kalimat suci Allah!" gertak Fajri dengan pandangan mata yang tajam lagi serius.


"Aku tidak akan keluar, kecuali kamu memberikan apa yang aku pinta!"


"Apa yang kamu inginkan?"


"Aku ingin darah kerbau putih."


"Kalau kamu mau. Kamu bisa keluar dari tubuh gadis ini dan mencari kerbau putih yang kamu inginkan itu," ujar Fajri sengaja mempermainkan jin itu dengan membalikkan tipuannya sendiri.


Bila pada saat menjalani sesi ruqyah dan ada jin yang dengan sengaja meminta tumbal atau sesuatu sebagai iming-iming agar ia mau keluar dari tubuh manusia dirasukinya. Maka, tolaklah dengan tegas dan jangan menuruti perkataannya. Sebab, saat manusia menuruti permintaannya, maka dia akan merasa semakin besar dan tidak akan mau meninggalkan tubuh manusia yang dihinggapinya itu.


"Aku tidak akan keluar dari tubuh anak ini, jika kalian tidak menuruti perkataanku!" serunya dengan sangat angkuh.


Fajri tersenyum kecil.


"Baiklah. Aku sudah mengajakmu untuk keluar baik-baik. Tapi sepertinya, kamu tetap enggan dan malah berlaku angkuh seperti itu," kata Fajri sembari mengambil sorban hijau yang tersemat di lehernya. Kemudian, sorban hijau itu pun dia gulung hingga menyerupai dadar gulung. "Kamu tahu apa ini?" sambungnya.


Makhluk itu tak menjawab. Dia hanya menggeram seperti seekor harimau yang mendapatkan buruannya.


"Jika kamu tidak mau keluar dari tubuh gadis ini, aku akan memaksamu keluar!" seru Fajri yang langsung disambut senyum sinis di bibir Laila yang sedang tidak sadarkan diri itu. Setelahnya, Fajri kembali melafazkan ayat sucinya yang terdengar merdu, namun sangat menyiksa bagi makhluk tersebut. Sembari melantunkan hapalannya dengan fasih, Fajri---pira itu---juga memukul-mukulkan sorbannya dengan lemah. Setiap pukulan yang makhluk itu dapatkan sudah cukup membuatnya sangat tersiksa dan menjerit kesakitan.


"Argh! Sakiit! Hentikaaan!" Bertubi-tubi teriakan mengema di sudut-sudut masjid pesantren.


"A'uudzubikaalimaatillaahi taaaamma ti min syarri maa kholaq." Fajri membaca zikir tersebut secara berulang-ulang kali. Sampai jin tersebut benar-benar tersiksa dan keluar dari dalam tubuh Laila.


Singkat cerita, setelah mereka berenam berhasil mendapatkan kembali  kesadarannya, Fajri meminta Laila dan Aya untuk mendekat pada orang tuanya.


"Peluklah keluarga kalian. Maafkan dan ridhoi segala kesalahan atau dosa yang telah mereka perbuat," ujar Fajri yang langsung mereka turuti.


Aya mendekap mamanya dengan sangat erat. Begitu pula dengan Laila yang juga memberikan pelukan untuk kedua orang tuanya. Tak mau kalah, Syifa pun memeluk abi dan umminya dengan hangat.


Hari itu adalah hari dimana terlepasnya semua keegoisan, sakit hati, dan juga kebencian di antara mereka.


Mereka saling berpelukan, menangis, dan saling mengucapkan kata maaf.


Tak cukup sampai di sana, ia juga meminta Aya, Laila, Syifa dan tersebut untuk mengangkat jari telunjuk kanannya ke atas langit.


"Kita akan melakukan ikrar pemutus perjanjian antara nenek moyang terdahulu dengan bangsa jin. Dengarkan baik-baik dan ikuti apa yang saya ucapkan ...."


Adapun bunyi ikrar pemutus perjanjian itu adalah sebagai berikut :


"*Audzubillahi minasy sayyitoonir rajiim ....


Ya Allah wahai Engkau yang maha menyaksikan. Saksikan ikrar kami. Bahwasannya … saya, mewakili keluarga saya, leluhur saya dan seluruh keturunan saya, dengan mengucapkan ....


"Bismillaahir Rahmaanir Rahiim"


Saya putuskan seluruh perjanjian, ikatan-ikatan, sumpah antara kami dan bangsa jin baik sadar atau tidak ....


Ya Allah, yang Maha mengambil sumpah. Ambilah sumpah kami ....


Dengan memohon kekuatan dan perlindungan-Mu, saya ikrarkan, saya nyatakan ... bahwasannya iblis dan seluruh bala tentaranya adalah musuh saya ....


Ya Rabb, oleh karena kami telah bersumpah di atas Nama-Mu.

__ADS_1


Maka masukanlah kami ke dalam benteng-Mu yang kokoh.


Lindungilah saat kami lalai.


Bimbing kami dan ampuni kami saat kami melakukan maksiat lagi.


Jangan matikan kami sebelum kami mampu bertaubat. Jangan matikan kami kecuali dalam keadaan khusnul khatimah atau syahid di jalan-Mu, membela agama-Mu atau memerangi musuh-Mu."


Wallahu A'lam*


***


"Bagaimana perasaannya setelah diruqyah?" tanya Fajri sembari duduk bersila di depan ketiga gadis tersebut beserta orang tua mereka.


"Alhamdulillah. Rasanya, tubuh saya menjadi lebih ringan dan tenang, Paman Kyai. Seakan-akan, ada beban yang terangkat dari dalam tubuh saya ini," ucap Syifa menjawab pertanyaan Fajri.


Fajri tampak menarik kedua ujung bibirnya ke atas. "Alhamdulillah, kalau begitu. Tapi, kita belum selesai, lho."


"Belum selesai Paman Kyai?" tanya Syifa bingung.


"Iya," jawab Fajri sesaat sebelum adik perempuannya datang dengan membawa sebuah mangkok putih berukuran cukup besar yang berisi ramuan herbal.


Ramuan tersebut terdiri dari Habbatussaudah, Minyak Zaitun Daun Bidara, dan Madu.


- Habbatussauda


“Sesungguhnya di dalam Habbatussauda (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian” (HR Bukhori & Muslim)


- Daun Bidara


Al Qurtubi menceritakan daripada Wahab untuk mengubati Sihir: “Diambil 7 helai daun bidara ditumbuk halus lalu dicampurkan air dan dibacakan Ayat Kursi dan diberi minum pada orang yang terkena sihir tiga kali teguk dan baki airnya diguna untuk mandi, In syaa Allah akan hilang sihirnya. Dan diutamakan membaca surat Al-Falaq, An-Naas juga ditambah Ayat Kursi. Karena ayat-ayat tersebut dapat mengusir Setan.”


(Tafsir Ibn Katsir Jilid Satu Terjemahan Singkat Halaman 171)


- Zaitun


Zaitun adalah pohon yang diberkati. Allah Subhaanahu Wa Ta'ala telah bersumpah dengannya. 


“Demi tin dan zaitun. Dan demi bukit Sinai” surat At-Tin (95:1-2).


- Madu        


Baik dalam Al-Quran ataupun hadis Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam juga memberikan keterangan akan khasiat madu yang menyembuhkan ini. Dalam surah An-Nahl (lebah) ayat 68-69 Allah Subhaanahu Wa Ta'ala menyatakan: ''*Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ''Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.''


"Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya, pada yang demikian terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi mereka yang memikirkan*.”  


Kemudian Rasulullah juga menegaskan khasiat madu tersebut dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari: ''Madu adalah penyembuh bagi semua jenis sakit dan Al-Quran adalah penyembuh bagi semua kekusutan pikiran (sakit pikiran). Maka aku sarankan bagimu kedua penyembuh tersebut, Al-Quran dan madu.'' 


Keempat herbal di atas, in syaa Allah dapat mengobati segala macam penyakit, baik medis maupun non-medis.


Ramuan herbal tersebut kemudian dicampur ke dalam enam gelas air putih yang sudah diruqyah.


Pada saat mencampurkan herbal tersebut ke dalam gelas demi gelas, Fajri kembali membaca ayat ruqyah yang kemudian diembuskan ke dalam gelas berisi air minum tersebut. Surat yang ia pilih adalah suratul Fatihah.


Selanjutnya, ia pun memberikan keenam gelas itu pada setiap pasiennya.


Aya lantas mengambil air ruqyah tersebut. Kala ia meminum isinya hingga tegukan terakhir ... lagi-lagi, ia merasakan perutnya bergejolak---seperti ada sesuatu yang mengocok isi perutnya dengan sangat kuat. Hingga ....


"Weeek!"


Aya kembali muntah. Namun, cairan yang menyembur dari dalam mulutnya tampak berwarna merah kental dan disertai dengan bau amid. Gadis itu melotot dan memandang tak percaya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2