
Sakit.
Aya terbangun dengan kondisi kepalanya terus saja berdenyut perih seperti habis dihantam benda tumpul. Butuh waktu bagi gadis itu untuk merebut kembali kesadarannya.
Namun, saat gadis itu berhasil sadar, dia semakin dibuat terperanjat manakala mendapati dirinya di sebuah tempat yang asing dan juga menyeramkan ini. Tak ada apa pun yang tertangkap oleh indra penglihatannya, selain lorong yang sangat gelap dan tak memiliki ujung.
Perlahan Aya pun bangkit, berdiri dengan susah payah dan memutar tubuh sambil melemparkan pandangan ke seluruh tempat.
“Tempat apa ini? Kenapa dia bisa berada di tempat seperti ini? Aku bahkan tak menemukan setitik cahaya ataupun suara yang mampu digunakan untuk menuntunku pulang?”
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar-putar di dalam otaknya. Bagaimana tidak. Terakhir yang mampu Aya ingat, ia sedang berada di dalam kontrakannya. Mengemas seluruh barang dan tinggal menunggu kedatangan sang mama untuk membawa gadis itu pulang, kembali ke rumah.
Entah apa yang terjadi padanya saat itu? Tiba-tiba saja, kepalanya mendadak sangat sakit. Setelah itu, hampa. Dia tak mampu mengingat apa-apa lagi.
Aya terus menyusuri lorong itu seperti orang yang buta arah. Dia tak punya pilihan lain, selain mencari jalan keluar dengan meraba-raba permukaan dinding yang sangat kasar. Hingga rasa lelah itu pun hadir dan membuat Aya terpaksa menghentikan langkah kakinya dengan tangan yang masih menempel di atas permukaan dinding tersebut.
Bagaimanapun caranya, Aya harus bisa keluar dari tempat ini. Dia tak mau menghabiskan waktunya di tempat seperti ini, walau tak menutup kemungkinan, bila hidup yang selama ini ia jalani tak ubahnya seperti lorong gelap dan tak berujung.
Setidaknya, itulah yang Aya rasakan sampai akhirnya ia bertemu dengan Syifa. Seorang gadis yang sedikit berisik dan juga unik dengan segala tingkah konyolnya.
Ada sesuatu. Aya merasakan telapak tangannya basah dan lengket, seperti ada cairan yang merembes dari dalam dinding hingga keluar, menyentuh tangannya. Karena keadaan saat itu sangat kelam, dia tidak bisa melihat dengan jelas---apalagi sampai tahu---cairan kental apa yang sudah menempel di tangannya.
“Apa ini?” Aya bertanya-tanya sambil mengangkat telapak tangannya yang sudah dipenuhi oleh cairan berbau anyir itu. “I—ini da—rah,” ucap gadis itu dengan mata yang terbelalak. Sontak saja, ia pun melangkah mundur hingga menabrak dinding yang ada di belakangnya.
“Kamu tidak apa-apa, Aya?” tanya seorang gadis kecil yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Aya.
“Diin---da.” Aya memanggil gadis itu dengan suara yang terbata-bata. Penglihatannya yang semula lenyap, kini telah kembali lagi.
“Wah … ternyata Aya masih mengingatku, ya.” Anak bergaun putih itu tampak bersorak kegirangan. Membuat hati Aya terasa nyilu karena harus teringat dengan masa lalu saat gadis itu masih hidup.
Dinda. Dia masih terlihat masih terlihat sama seperti beberapa tahun yang lalu. Mungil dan banyak tersenyum. Hanya saja, wajahnya terlihat sangat pucat, berikut dengan bibirnya yang tampak membiru.
Mata Aya beralih pada gaun yang pada tubuh Dinda. Ia masih mengingatnya dengan jelas. Waktu itu---sebelum kecelakaan itu terjadi---Dinda mengenakan pakaian yang sama seperti yang Aya lihat detik ini. Sebuah gaun putih yang cantik dan mekar di bagian roknya.
“Aya kalau sudah besar cantik banget, ya. Dinda jadi iri,” celetuk gadis itu membuat lamunan Aya buyar seketika. Aya sontak mendongkak, namun ia tetap diam dengan mata yang mulai memerah dan tampak berembun. “Tapi sayang, Aya jadi pendiam dan tidak punya teman.”
Apa yang Dinda katakan itu benar. Aya sudah banyak berubah sejak kematian sahabat masa kecilnya itu. Sejak itu pula, dia tak ingin berteman atau berurusan dengan siapapun lagi. Dia memilih menghabiskan hari-harinya yang sepi dengan ditemani oleh rasa bersalah dan penyesalan. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan seorang gadis bernama Syifa. Gadis itulah yang sudah mengubah pola pikirnya dan membuat Aya ingin memulai hidupnya yang baru.
“Dinda,” lirih Aya memanggil nama gadis kecil itu.
“Ada apa, Aya?”
“Maafkan aku.”
“Kenapa Aya minta maaf? Aya, kan, nggak salah.”
“Tetap saja. Aku ingin meminta maaf. Karena kamu mau menjadi temanku. Andaikan saja, waktu itu, kita tidak pernah berteman, kamu pasti masih hidup sampai sekarang,” ujar Aya dengan sorot mata yang penuh dengan penyesalan.
“Dinda nggak marah, kok. Karena Aya itu temannya Dinda. Dinda mau maafin Aya. Tapi, ada syaratnya?”
“Apa itu?”
Dinda menyeringai lebar hingga tampaklah gigi taringnya yang runcing.
“Dinda harus ikut bersama Aya.”
Mata Aya membulat dengan sempurna.
Ikut dengan Dinda?
Apakah maksudnya mati?
__ADS_1
“Dinda mau main bareng Aya seperti dulu lagi. Kita bisa main petak umpet, kejar-kejaran atau main masak-masakan seperti dulu lagi. Aya mau, kan?” iba gadis kecil itu dengan wajah yang memelas.
Selangkah Dinda maju, selangkah itu pula Aya mundur.
Dinda terus mengulurkan tangannya pada Aya. Bermaksud, mengajak gadis itu untuk ikut bersamanya. Tapi, Aya tidak mau melakukannya. Sebab, sekejam dan seburuk apa pun dunia yang ia jalani saat ini, tak lebih buruk dari kehidupan setelah kematian. Terlebih lagi untuk orang-orang yang mati karena bunuh diri.
“Maafkan aku, Dinda. Aku tak bisa ikut denganmu.”
Setelah mendengar penolakan Aya, gadis mungil itu tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya. Dia diam, menunduk sayu dan kemudian menangis dengan pilu.
Aya diterpa kebingungan. Dia tak pernah ingin menyakiti Dinda---sahabat kecilnya itu---apa lagi sampai membuatnya menangis. Sampai akhirnya ....
"Aya jahat! Nakal! Aku benci sama Aya!" Dia berteriak kuat dengan bola mata yang terus mengeluarkan cairan kental berwarna merah dan beraroma anyir. Dan, yang paling membuat jantung Aya nyaris copot adalah ... saat Dinda mengubah wujudnya menjadi sangat menyeramkan.
Wajahnya yang semula mulus, kini berubah penuh borok dan bekas gesekan aspal. Tangan dan kakinya terdapat goresan di sana-sini. Bahkan, sebagian gaunnya telah dipenuhi oleh bercak darah.
Tiba-tiba saja, Dinda terbang ke udara dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan.
Aya ingin lari dari sana, tapi tak bisa. Tubuhnya seakan mati rasa dan tak dapat digerakan sama sekali. Detik berikutnya, ia merasakan kuku-kuku yang tajam itu menancap di lehernya.
"Gara-gara Aya, aku mati! Aku benci Aya! Aku benciii!" Pekikannya membuat telinga Aya berdenging.
"Diiin---da," panggil Aya dengan suara yang keluh dan kesulitan untuk bernapas.
Pandangan Aya semakin lama semakin mengabur. Dadanya semakin terasa sesak. Dia hampir kehilangan nyawanya, jika saja tangan itu tak menyingkir dari lehernya.
Aya terduduk lemas.
"Bagaimana rasanya mati dalam keadaan takut, Aya?" Suara kali ini terdengar berbeda dan tak asing. Saat Aya mengangkat kepalanya, ia sontak kaget saat melihat sosok Mona tengah berdiri di hadapannya.
Darah terus mengalir dengan deras dari pelipisnya yang bocor. Pakaian yang wanita itu kenakan tidak lagi sama seperti terakhir kali mereka bertemu di sekolah. Hanya sehelai kain sajalah yang menjadi penutup tubuhnya. Kain basahan yang menutupi dari bawah leher sampai bawah lutut kaki. Dan kain yang berwarna cokelat itu sudah nyaris berubah warnanya, karena bercampur dengan merahnya darah.
"Untuk membalaskan dendam. Semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin," balas si Mona sambil berseringai. Auranya yang hitam terlihat sangat kuat dan jahat. Tak hanya itu saja, bola matanya terlihat tak kalah menyeramkan. Hanya hitam sepenuhnya.
"Apa yang kalian inginkan dariku?! Aku ... bukan aku yang membunuh kalian!"
Hening. Mona ataupun Dinda sudah menghilang dari hadapannya.
Tapi, belum sempat Aya bisa menarik napas dengan lega. Tiba-tiba saja ...
"Bagaimana rasanya, Aya?" Mega mendadak muncul dan membuatnya kaget.
"Me--ga. Syukurlah. Aku senang bisa melihatmu lagi. Aku ... aku sangat takut."
"Aku juga senang bisa melihat keadaanmu yang sangat menyedihkan seperti ini, Aya."
Dahi Aya langsung berkerut, bingung. Apa yang baru saja Mega katakan padanya? Tidak. Dia pasti salah mendengar. Mega pasti mengatakan hal yang lain.
Mega yang mampu membaca pikiran dan rasa takut Aya hanya tersungging sinis.
"Kamu tidak salah dengar, kok. Aku memang sangat senang, karena bisa melihatmu menderita seperti ini. Hanya dengan melihatmu menderita saja, semua dendam dan kemarahanku terbayar lunas," ujarnya diselingi dengan tawa bahagia.
Aya menggeleng. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa Mega berbuat hal sejauh dan sejahat ini padanya? Sejauh yang Aya kenal, Mega adalah arwah yang sangat baik dan juga penuh perhatian. Sejak ia kecil, Megalah yang mau menjadi temannya. Meskipun, dia sama sekali tidak pernah tahu, alasan yang sebenarnya, mengapa Mega mati dan berakhir menjadi hantu gentayangan seperti ini?
"Kamu bodoh." Lagi-lagi dia tertawa lebar. Sampai-sampai, suaranya terdengar menggelegar di lorong sepi ini. "Aku? Berteman denganmu? Tidak-tidak. Kamu sudah salah paham denganku, Aya. Aku, hanya sedikit bermain-main denganmu sebelum semuanya kuakhiri di sini."
"Apa sebenarnya maksud kamu, Mega?! Kenapa kamu melakukan ini padaku?" tanya Aya merasa sangat dikhianati.
"Bagaimana mengatakannya, ya, jika aku memiliki dendam pada orang tuamu?!" jawab Mega dengan ekspresi wajah yang mendadak datar dan juga penuh dengan kebencian.
"Mama dan Papa? Apa yang sudah mereka lakukan sampai kamu membenci mereka dan menyeretku masuk ke dalam kebencianmu itu?" cecar Aya yang tak terima dirinya dijadikan tumbal untuk kesalahan yang sudah orang tuanya lakukan.
__ADS_1
"Mamamu itu sudah merebut Danu dariku. Tak cukup sampai di situ, dia bahkan membunuhku."
"Itu tidak mungkin. Kamu pasti bohong Mega!" elak Aya sambil menggeleng, tak percaya.
Bagaimana bisa dia memercayai ucapan dari makhluk yang jelas-jelas sudah menipunya? Lagipula, mamanya tak mungkin membunuh seseorang begitu saja. Mengingat keteguhan iman dan kesabaran hati yang dimiliki sang mama itu tak sebanding dengan perbuatan buruk yang selama ini ia lakukan pada mamanya.
Ini terlalu ganjal dan aneh. Aya tidak akan terjebak lagi. Dia tidak akan percaya dengan mudah pada makhluk yang sudah merusak kepercayaannya?
"Aku tidak percaya padamu!" teriak Aya dengan sorot netra yang menantang.
Ketakutan itu perlahan menguap dan lenyap dari dalam dirinya.
"Tak masalah jika kamu tidak percaya padaku. Karena kamu tidak lagi berguna bagiku. Aku hanya harus menyelesaikan misiku, yaitu membunuhmu dan membuat wanita itu hancur-hancurnya dengan kematian satu-satunya anak yang sangat ia cintai."
"Tidak! Jangan bunuh aku?!" Aya berteriak dan berusaha bangkit meski tubuhnya masih terasa sangat sakit.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia terus berlari di sepanjang lorong tak berujung itu. Di saat-saat yang seperti ini, gambaran wajah Asya hadir di dalam benaknya. Dia sangat menyesal karena telah percaya dengan bualan dan omong kosong yang selama ini Mega lakukan untuk mencuci otaknya. Hingga ....
Bugh!
Aya tersandung dan terjerembab dengan wajah kedua telapak tangan yang menyentuh lantai. Untung saja, bukan wajahnya yang mendarat lebih dulu. Jika itu sampai terjadi, mungkin saja, hidungnya akan langsung patah dan mengeluarkan banyak darah.
"Mau ke mana lagi kamu, Aya? Kamu tidak akan mungkin bisa lari dariku," ucap makhluk itu sambil menerbangkan dirinya di udara.
Aya panik. Tapi, sial. Kakinya terasa sangat sakit gara-gara tersandung tadi. Akhirnya, ia pun berbalik dan bergerak perlahan dengan posisi tangan, dan bokong yang menyapu lantai.
Aya terus menggeleng dengan rasa takut yang tergambar jelas dari wajahnya. Sementara jarak antara makhluk itu dengan dirinya semakin dekat, sejengkal demi sejengkal. Namun, sesuatu yang aneh kembali terjadi. Dia mendengar suara yang tak asing bergema di langit-langit lorong yang lembab.
"Aya. Ini Mama, sayang. Aya jangan takut. Mama akan selalu ada di samping Aya."
"Mamaaa!" jerit Aya berusaha memanggil mamanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu keluar dengan mudah," ancamnya lagi.
Aya yakin, ini hanya mimpi. Untuk itu, ia haru segera bangun dan pergi dari sini. Tapi, bagaimana caranya?
Di saat kebingungan sedang melanda dirinya, mendadak saja, renjisan air membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Hingga ....
"Mamaaa!" Aya berteriak dan langsung bangun dengan posisi duduk.
"Alhamdulillah. Kamu akhirnya bangun juga. Mama benar-benar khawatir, Aya," ucap Asya yang bisa bernapas lega melihat anaknya kembali membuka mata.
Melihat sang mama sedang berdiri di sampingnya, Aya langsung memeluknya dengan sangat erat. Dia sampai menangis tersedu-sedu karena begitu merasa ketakutan.
Beberapa saat sebelumnya, dia masih tertidur di atas sofanya dengan nyenyak. Namun, ia langsung tebangun saat mendengar teriakan Aya yang sangat keras. Dia semakin bertambah kaget manakala melihat putrinya menggelinjang seperti ikan yang diangkat dari dalam air. Karena khawatir, ia akhirnya bangkit dan mendekat pada putri tunggalnya itu.
Tak lama kemudian, Syifa dan Laila menyusul bangun.
Tak bisa tinggal diam melihat kondisi Aya yang demikian. Syifa langsung membuat tindakan dengan mengambil botol yang berisi air mineral dan meruqyahnya kembali.
Kali ini, gadis itu melantunkan surat Al-Isra' ayat 82.
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا
"Dan, Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."
Setelah itu, air pun ditiup dan ipercikkan pada Aya dari mulai kepala sampai ke ujung kakinya.
"Alhamdullillahi Rabbil 'Aalamiin," ucap Syifa dan Laila saat Aya berhasil membuka matanya.
Bersambung
__ADS_1