Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 19. Ruqyah : Anak Indigo


__ADS_3

Semua orang tampak kebingungan. Tak ada yang tahu, ke mana Ali akan membawa mereka pergi. Meskipun begitu, mereka tetap memilih untuk diam dan menurut saja. Toh, ini semua untuk kebaikan mereka sendiri.


Mereka semua sudah masuk ke dalam mobil masing-masing. Dan, mereka bersiap untuk segera pergi dengan mobil Ali yang memimpin di depan.


Untuk menghindari kemacetan dan mempercepat laju kendaraan. Ali memutuskan untuk melewati jalan tol saja. Terlebih karena bebas hambatan, mereka juga bisa menikmati pemandangan indah yang masih asri selama di perjalanan menuju ke tempat yang masih rahasia itu.


Syifa tak mampu mengedipkan mata dan menahan rasa takjubnya. Ini memang bukan pertama kalinya bagi Syifa melihat mahakarya ciptaan Tuhan ini. Akan tetapi, dia terus saja merasa sangat kagum dan tak pernah bosan untuk memandangi ciptaan Allah yang teramat inidah itu. Tak lupa, dia bahkan mengucapkan syukurnya karena masih diberikan nikmat hidup untuk melihat ini semua.


Singkat cerita, ketiga kendaraan beroda empat itu, memasuki halaman pesantren yang sangat luas.


Masih ingat dengan pesantren Ar-Risalah ini? Jika belum, di sinilah tempat saat Husna harus menjalani rehabilitasi hatinya selama beberapa tahun.


Saat itu---saat pertama kali---Ali bertemu dengan Husna, keadaan wanita itu sangat buruk dan kacau. Dia sering meracau, menangis, tertawa, bahkan mengamuk hingga dapat membahayakan nyawa orang-orang yang berada di sekitarnya. Entah keberuntungan atau memang sudah ditakdirkan untuk bertemu, Hasan---ayah Husna---tak sengaja menabrak seorang pria. Dan pria itu adalah Ali.


Setelah mendengarkan luahan Hasan tentang depresi yang diderita anaknya, Ali jadi tertarik dan bersedia untuk membantu Hasan. Lantas, ia pun dibawa kepada Husna.


Saat Ali meruqyah gadis itu. Reaksinya sungguh dasyat. Husna menjerit, berteriak dan memecahkan apa saja yang ada di dekatnya. Tetapi, dengan berkat Allah, Husna pun berangsur-angsur pulih dan kembali pada kepribadiannya seperti dulu lagi.


Melihat jiwa Husna yang terguncang akibat kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya, Ali menyarankan untuk membawa Husna ke pesantren Ar-Risalah yang dulu masih bernama Ar-Rayyan.


Di sanalah, dia mulai belajar banyak hal. Tentang arti dari sebuah tauhid, keikhlasan dan senantiasa ridho akan takdir-Nya. Perlahan tapi pasti, Husna benar-benar sembuh dan mampu menengang keimanannya dengan sangat kuat.


"Assalamu'alaikum," ucap Ali memberi salam pada sahabat lamanya itu.


"Wa'alaikumussalaam," jawab semua orang yang ada di sana.


Seorang lelaki yang usianya sebaya dengan Ali menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Di samping pria itu, berdiri seorang pemuda yang cukup bersih dan cerah yang terus saja menundukkan pandangannya. Sementara di sisinya yang lain, ada seorang perempuan berkhimar panjang yang tengah menggendong seorang balita yang masih berusia dua tahunan.


"Mari, silakan masuk." Pria yang mengenakan sorban hijau itu lantas mempersilakan semua tamunya untuk masuk ke dalam.


Mereka semua masuk, kecuali Syifa, Husna, dan seorang wanita berkhimar panjang beserta kemenakan lelakinya.


"Saya permisi, Aunty dan Bude," salam pria muda itu tak lupa mengecup punggung tangan Nada. Sedangkan pada Husna, dia hanya menakupkan kedua tangannya di depan dada.


Meskipun Husna, dia panggil sebagai Bude. Tetapi mereka tak memiliki ikatan sama sekali. Sebab Husna adalah istri dari sahabat baik abahnya, yaitu Fajri---pemilik dari pesantren Ar-Risalah tersebut.


Terlebih lagi pada Syifa. Pria yang usianya lebih muda satu tahun itu hanya menunduk dan berlalu pergi setelah mengucapkan salam.


"Rama mau pergi ke mana?" selidik Husna, penasaran.


"Dia sedang ada undangan untuk mengisi acara di masjid dekat sini," jawab Nada---ibu beranak tiga itu.


Melirik sekilas pada Syifa yang mematung tanpa suara. Husna bisa menangkap gelagat aneh pada anaknya itu. Sorot matanya tampak tak biasa. Mendadak, dia berubah menjadi gadis yang pendiam dan tak banyak polah.


"Ganteng dan salih, ya. Cocoklah sama Syifa," gurau Husna menjaili anaknya itu.


Mendengar ucapan Husna yang demikian, Syifa spontan melototkan matanya.


"Ummiii! Jangan gitu, dong! Nggak enak didengar sama yang lain," gerutu Syifa salah tingkah sendiri.


Rasa hangat seakan menjalar di wajahnya. Syifa yakin, jika kedua pipinya saat ini, tak ada ubahnya seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.


Husna terkikih geli sebab berhasil menjaili anaknya sampai malu begini. Begitu juga dengan Nada, dia hanya tersenyum, menahan tawa. Hanya Bilqis sajalah yang diam, karena belum mengetahui apa yang menjadi perbincangan oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya.


"Syifa mau sama Abi aja, deh. Ummi ngeselin," rutuk Syifa dengan bibir yang mengerucut. Lantas, ia pun pergi dan masuk, menyusul yang lainnya.


"Kakak, sih. Kenapa malah gangguin anak sendiri? Dia jadi malu, 'kan?" ujar Nada hanya menggeleng kecil melihat kelakuan ibu dan anak itu. Mereka begitu akrab sampai terlihat seperti dua sahabat yang saling berkelakar.


"Kakak nggak ada maksud untuk membuat Syifa merajuk. Hanya saja, Kakak sangat berharap. Jika Syifa bisa mendapatkan jodoh sebaik Rama. Dia pria pria yang salih dan imam yang baik," tutur Husna sembari menerawang jauh, entah ke mana. Setelah beberapa saat kemudian, ia pun kembali berkata, "Tapi, semuanya tergantung takdir Allah. Jika mereka benar-benar berjodoh. Kita bisa apa?"

__ADS_1


Nada hanya mengangguk. Dia setuju untuk perkataan kakak angkatnya yang satu ini.


***


Kembali pada Syifa.


Gadis itu masuk dan segera mengambil tempat duduk di kursi yang masih kosong. Dan tepat sekali, tempat itu berada persis di samping Aya.


Melihat Syifa masuk dengan muka yang ditekuk, Aya jadi merasa tergelitik untuk bertanya.


"Kamu kenapa, Syifa?" selidiknya dengan setengah berbisik.


Syifa hanya menggeleng dan mengangkat jarinya ke atas bibir.


Mendapati kode keras untuk menutup mulut. Membuat Aya terdiam dan kembali fokus pada musyawarah yang sedang terjadi.


"Jadi seperti itu, Kyai. Saya membutuhkan bantuan Kyai untuk bisa meruqyah mereka semua," kata Ali mengutarakan maksud kedatangannya kemari.


"In syaa Allah, saya bisa saja membantu. Tapi, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah semuanya murni datang dengan niat yang bersungguh-sungguh dan lillahita'ala atau ada yang memaksa?"


"Alhamdulillah. Kami datang kemari murni dengan kesadaran dan niat yang sungguh-sungguh. Harap untuk Kyai bisa menolong kami," celetuk Asya yang duduk di samping Nike.


Fajri tampak mengangguk, paham.


"Tapi sebelumnya, saya meminta dengan sangat untuk tidak menaruh kepercayaan yang terlalu besar pada saya. Saya ini hanya perantara saja dan Allah-lah yang berhak untuk memberikan kesembuhan pada hamba-Nya."


"In syaa Allah, Kyai," jawab semua orang secara bersamaan.


"Jika kalian sudah siap. Mari, kita pergi ke masjid dan mulai saja ruqyahnya," ajak Fajri yang kemudian berdiri dan berjalan pergi, yang kemudian disusul oleh yang lainnya.


***


Mereka semua sudah mengambil wudhu. Dan untuk yang perempuan, diwajibkan untuk mengenakan mukenah yang berfungsi untuk menutupi aurat.


Posisi duduk untuk para lelaki dan perempuan diberi jarak satu saf. Saf depan untuk pria dan itu ditempati oleh Reino. Sementara saf lainnya ditempati oleh pihak wanita yang terdiri dari Syifa, Aya, Asya, Laila dan Nike.


Husna dan Nada tidak ikut diruqyah. Karena mereka mendapatkan tugas untuk meruqyah pasien khusus wanita.


"Bismillaahir Rahmaannir Rahiim. Nahmaduhu wa nasta'iinuhu wa nastaghfiruhu wa na'uudzubillaaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a'maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lahu wa man yudhlilhu falaa haadiya lahu. Allahumma sholli wa sallam 'ala sayyidinaa Muhammadin wa 'ala aalihi wa shohbihi ajma'ina ammaa ba'du." Fajri memulai sesi ruqyah dengan pembukaan dan selawat yang ditunjukkan khusus kepada Baginda Rasulullah. Gunanya, untuk mengharapkan syafa'at beliau, kelak di yaumil akhir.


Sebelum memulai sesi ruqyah, biasanya seorang peruqyah akan memberikan pertanyaan seputar keluhan-keluhan yang selama ini dirasakan atau dialami oleh para pasiennya.


Dimulai dari Aya. Dia mengatakan, "Sejak kecil saya sudah bisa melihat hal-hal yang berbau mistis. Orang-orang biasa memanggilnya indigo. Saya bisa melihat keberadaan mereka di manapun dan kapanpun. Tapi, saya memiliki satu teman yang sangat istimewa yang selalu menemani saya. Namanya Mega. Dia selalu ada setiap kali saya merasa sedih atau marah. ...."


Mendengar nama Mega disebut membuat Asya menoleh pada Aya. Sebegitu besarkah pengaruh yang wanita iblis itu berikan? Pantas saja, jika anaknya sampai berontak dan tak pernah mau menurut. 


"... Saya juga bisa melihat aura yang terpancar dari tubuh manusia. Saya bahkan mampu menerawang masa lalu ataupun masa depan manusia yang dekat dengan saya. Karena saya tidak ingin mencelakakan siapapun, saya akhirnya memutuskan untuk sendiri dan tidak berteman dengan orang lain. Terakhir kali, saya bisa bermimpi sangat buruk."


Kali ini, Asya dan Syifa yang melemparkan pandangan pada Aya. Mereka tidak pernah tahu, alasan di balik tertutupnya Aya pada semua orang adalah ... karena dirinya tak mau mencelakai siapapun. Terbukti saat pertama kali Syifa dan Aya bertemu di perpustakaan tanpa sengaja. Dan hasilnya, Syifa harus masuk rumah sakit karena diserempet oleh pengendara motor.


Fajri menghela napas panjang setelah mendengarkan keluhan Aya. "Saya ingin lihat dahulu. Bagaimana reaksinya nanti. Setelah itu, kita akan melakukan tindakan."


Aya dan mamanya hanya mengangguk kecil. Pertanda, bila mereka mengerti dengan ucapan sang Kyai.


"Ada yang ingin menyampaikan keluhannya lagi?"


"Saya Kyai," ucap Laila mengangkat tangannya.


"Silakan."

__ADS_1


"Selama beberapa hari ini, saya didatangi oleh seorang wanita yang mengaku bernama Mega. Dia selalu merasuki tubuh saya dan parahnya lagi, di sampai membuat saya hampir membunuh Syifa dan juga Tante Asya. Alhamdulillah-nya, saya bisa mengendalikan diri saat insiden yang kedua itu terjadi."


"Subhaanallah," lafaz Fajri mensucikan nama Allah. "Ada yang lain?"


Asya, Nike dan Reino bercerita secara runtun. Mereka menceritakan keluhan yang mulai dirasakan dalam jiwa dan raga masing-masing. Ada yang sulit mengendalikan emosi atau amarah, ada yang terlalu ambisius untuk mencapai kedudukan dan haus akan pujian manusia lainnya. Serta, ada yang dirundung kesedihan karena mendapatkan penolakan secara terang-terangan dari anaknya.


Di sana, mereka bisa melepaskan beban yang selama ini terpendam. Sementara Ali dan Fajri hanya mendengarkan dengan saksama.


Setelah semuanya selesai. Sesi selanjutnya adalah siraman rohani dan pencerahan dari sang Kyai. Pencerahan tersebut berisikan masalah tauhid dan pemecahan masalah yang wajib diketahui oleh banyak orang. Terkhusus mereka yang awam akan sesuatu yang ghaib dan kasat mata.


"Orang-orang terlalu melebih-lebihkan seorang indigo. Padahal nyatanya, indigo itu adalah suatu penyakit yang harus segera disembuhkan. Kemampuan indigo itu berasal dari setan yang mendiami mata manusia. Dari mata inilah mereka mulai melakukan tipu dayanya.  Sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'alaa,


ﻳَٰﺒَﻨِﻰٓ ﺀَﺍﺩَﻡَ ﻟَﺎ ﻳَﻔْﺘِﻨَﻨَّﻜُﻢُ ﭐﻟﺸَّﻴْﻄَٰﻦُ ﻛَﻤَﺎٓ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺃَﺑَﻮَﻳْﻜُﻢ ﻣِّﻦَ ﭐﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻨﺰِﻉُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ


ﻟِﺒَﺎﺳَﻬُﻤَﺎ ﻟِﻴُﺮِﻳَﻬُﻤَﺎ ﺳَﻮْﺀَٰﺗِﻬِﻤَﺎٓ ۗ ﺇِﻧَّﻪُۥ ﻳَﺮَﻯٰﻜُﻢْ ﻫُﻮَ ﻭَﻗَﺒِﻴﻠُﻪُۥ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﺗَﺮَﻭْﻧَﻬُﻢْ ۗ


ﺇِﻧَّﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﭐﻟﺸَّﻴَٰﻄِﻴﻦَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎٓﺀَ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ


Artinya:


Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, dia (iblis/ setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." ( QS. Al A'raf ayat 27 ).


Allah Subhaanahu Wa Ta'ala juga berfirman di ayat yang lain,


ﻗُﻞْ ﻟَّﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮٰﺕِ ﻭَﺍﻟْﺎَﺭْﺽِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﺍِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭْﻥَ ﺍَﻳَّﺎﻥَ ﻳُﺒْﻌَﺜُﻮْﻥَ


"Katakanlah (Muhammad), Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan." (QS. An-Naml 27 Ayat 65)


Jadi, jika ada yang mengaku bisa melihat penampakan, meramal atau mengetahui perkara gaib. Maka, dipastikan bahwa orang tersebut, masuk dalam tiga kemungkinan. Pertama, orang tersebut berdusta. Kedua, orang tersebut terkena gangguan Jin. Dan ketiga, orang tersebut Mempelajari mempelajari sihir. Wallahu'alam."


Fajri kembali berfatwa setelah diam beberapa saat lamanya. Dia berkata, "Penderita indigo juga berasal dari jin nasab atau jin yang terikat perjanjian dengan moyangnya di waktu lampau. Ketika pendahulu anak ini sudah tua, maka setan akan mulai mencari siapa yang cocok untuk dijadikan korban berikutnya ....


Setelah ada kecocokan, maka setan akan mulai dengan langkah-langkah pendekatannya kepada si anak ....


Bila anak ini masih di bawah umur 7 tahun, setan hanya akan menampakkan dirinya pada si anak. Ia tidak bisa masuk ke dalam tubuh si anak karena masih lemahnya sel-sel tubuh anak tersebut dan keadaan ini tidak bisa di gunakan oleh setan tersebut. Keadaan tidak bisanya setan ini masuk ke tubuh, maka satu-satunya jalan untuk pendekatannya adalah dengan menampakkan diri dan inilah sebabnya, kenapa si anak itu menderita indigo. Di masa-masa ini, anak ini akan berada di bawah penjagaan si setan. Setelah anak ini sudah di atas 7 tahun, maka mulailah setan ini masuk ke tubuh anak ini,dan kekuasaannya semakin terkontrol ....


Penyebab lainnya, bisa juga berasal adalah rumah yang sedang ada gangguannya. Gangguan dirumah bisa disebabkan oleh :


Pertama, adanya benda-benda yang diagungkan atau jimat. Bila benda-benda itu sudah dijadikan jimat. Maka, jimat ini akan diikuti setan. Sstan ini dinamakan taabi' atau taabi'ah/ ﺗﺎﺑﻊ /ﺗﺎﺑﻌﺔ /setan pengikut/pendompleng jimat.


Kedua, rumah anak ini penuh dengan kemaksiatan. Rumah ini kosong dari ketaatan. Setiap hari yang terdengar adalah nyanyian-nyanyian. Penghuninya tidak salat. Adanya anjing, lonceng, dan gambar-gambar bernyawa.


Ketiga, rumah ini terdapat sihir. Sihirnya bisa ditanam, disemprotkan atau bisa sihir tersembunyi di tembok, dan lain-lain di sekitar rumah ini.


Keempat, orang tua anak ini sedang ada gangguan. Bila orang tua anak ini ada gangguan sihir atau gangguan jin, maka anaknya bisa melihat penampakan. Lalu, kenapa setan ini harus menampakkan diri pada anak ini? Sebabnya tentu untuk mengganggu dan menakuti. Setan lebih suka menakut-nakuti yang lemah dan kelemahan ini dominan terletak pada anak kecil dan perempuan.


Kelima, rumah anak ini dulunya tempat jin. Rumah yang dulunya dibangun di atas bekas kuburan, hutan atau tanah terpencil akan dipertahankan oleh jin ini. Jin ini tidak serta-merta mau digusur. Dia akan melawan dengan cara menakut-nakuti penghuni rumah, terutama anak-anak dan perempuan. Wallahu'alam. Semuanya kita kembalikan pada Allah. Karena, hanya Allah-lah yang mengetahui segala perkara gaib di dunia ini."


Asya mulai mengingat kembali pada beberapa tahun sebelumnya, tepat ketika dia masih bersama dengan Danu, suaminya.


Saat itu, Danu memang bertingkah aneh. Dia yang dulu penyayang, romantis dan juga lembut. Mendadak berubah menjadi kasar, tak bisa mengendalikan emosinya dan kerap kali memukul tanpa sebab. Puncaknya adalah, saat ayah dari anaknya tersebut ketahuan berselingkuh dengan wanita lain. Karena tak tahan menanggung sakit dan air mata, Asya akhirnya bercerai dengan suaminya itu. Dan kini, dia sudah bahagia bersama wanita lain.


Bersambung


***


Sumber :


- Al-Ustaz Rido Abu Fathan (Praktisi Ruqyah Syar'iyyah, Ketua Qur'an Healing Internasional DPW Sumatera Selatan, serta Founder Ruqyah Healing Community Lubuklinggau)

__ADS_1


__ADS_2