Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 3 - Arsyifa Story


__ADS_3

**Dukung cerita ini dengan cara tekan vote, favorit, rate lima, dan likenya.


Jangan lupa juga untuk meninggalkan kritik atau kesannya di kolom komentar.


Terima kasih sudah mampir**.


***


Arsyifa Izzatun Nisa memiliki saudara kembar yang sangat ia cintai. Arsyafa Izzatun Nisa namanya. Mereka lahir dan tumbuh menjadi gadis shalihah di tengah keluarga yang taat, harmonis dan saling mendukung antara satu dan yang lainnya.


Namun, semuanya berubah hanya dalam sekejap mata. Sejak Syafa divonis mengidap penyakit liver yang sangat mematikan, semua orang merasa sangat terpukul dan juga bersedih. Tetapi, itu tidak pernah berlaku untuk seorang Syafa yang begitu tegar dalam menerima cobaan-Nya.


"Jika aku tidak ada lagi. Bisakah kamu menjaga abi dan ummi untukku?" tanya Syafa dengan sorot mata yang teramat sayu.


"Kakak ngomong apa, sih? Syifa nggak suka tahu. Kakak itu harus berjuang untuk terus sembuh. Kita hanya perlu mendapatkan donor saja. Setelah itu, semuanya selesai." Syifa begitu kesal saat saudara kembarnya itu menyerah untuk tetap berjuang.


Syifa tentu syok mendengar perkataan kakaknya itu.


"Hidup dan mati itu hanya ada di tangan Allah. Kakak akan selalu ikhtiar dan berusaha untuk bisa sembuh. Tapi, bagaimana kalau takdir berkata lain? Kita semua tidak bisa melawan kehendak-Nya."


Syifa diam. Apa yang dikatakan Syafa memang benar? Tapi, tetap saja, rasanya begitu menyakitkan jika Syafa benar-benar pergi, meninggalkan dunia ini.


"Apakah Kakak tidak peduli pada Syifa, Ummi dan juga Abi?" tanya Syifa mulai menitihkan air mata.


Syafa tersungging manis. "Kakak sayang dengan kalian semua. Tapi, Kakak juga tidak ingin menyusahkan Abi, Ummi dan Syifa lagi."


Syifa tak punya kata-kata lagi untuk diucapkan. Dia memilih untuk mengalah dan memberikan pelukan hangat untuk saudarinya itu.


Syafa pun sama. Dia membalas pelukan Syifa tak kalah erat. Membiarkannya menangis dan meluahkan semua kesedihan yang Syifa rasakan saat ini. Mungkin, Syifa bisa merasa lebih baik setelahnya.


Percakapan itu adalah percakapan terakhir yang terjadi di antara saudara kembar itu. Karena keesokan harinya, Syafa pun pergi dengan wajah yang damai. Meninggalkan semua orang yang begitu terpukul dan juga tak percaya dengan kepergiannya yang begitu cepat.


Semuanya terjadi dengan begitu cepat. Syifa bahkan tidak punya waktu untuk sekadar menghindar dari pengendara motor yang tiba-tiba saja menyambarnya. Detik berikutnya, tubuh Syifa terpelanting hingga membuat orang-orang berteriak---mengumpat si pengendara motor yang ugal-ugalan.


Hosh! Hosh! Hosh!


Syifa merasakan napasnya mulai berat. Kepalanya terasa nyeri setelah menghantam beberapa saat yang lalu jalan aspal. Dan benturan itu mengakibatkan luka di pelipisnya hingga mengeluarkan cairan kental berbau amis yang menodai kerudungnya.


Syifa pasrah jika ini adalah akhir dari hidupnya.


"Kak Syafa. Apakah ini adalah akhir hidupku?" batin Syifa saat melihat orang-orang mulai mengerumuninya.


"Jika iya. Tunggu Syifa di sana, Kak."


Syifa tersenyum karena sebentar lagi, ia akan bertemu dengan Syafa, kakak yang begitu ia rindukan itu.


Sesaat sebelum Syifa memejamkan matanya yang semakin terasa berat. Ia melihat seseorang mendekat dan berteriak pada orang-orang untuk membawanya ke rumah sakit. Setelah itu, semuanya gelap. Syifa tidak ingat apa-apa lagi.


***


Sebuah mobil ambulans memasuki pelataran rumah sakit. Selang beberapa saat kemudian, datanglah dua orang perawat yang membuka pintu belakang mobil tersebut dan mengeluarkan Syifa yang tidak sadarkan diri di atas ranjang pasien.

__ADS_1


Selagi Syifa diangkut ke UGD untuk mendapatkan penanganannya. Seorang perempuan muda datang ke bagian pendaftaran untuk mengurus segala administrasi yang diperlukan. Dan gadis itu, tiada lain ... adalah Aya.


***


"Syifa! Ayo bangun sayang!"


Syifa mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang terdengar tidak asing bagi telinga gadis itu.


"Ummi sangat menyayangimu. Jangan tinggalkan Ummi, Syifa."


Suara itu terdengar lagi.


"Sudahlah Ummi. Abi yakin, Syifa pasti baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggunya bangun."


Kali ini, Syifa mendengar suara yang berat dan berbeda dari sebelumnya.


Otak Syifa mulai merespons. Suara itu berasal abi dan umminya. Mereka ada di sini, di samping Syifa. Menunggu gadis itu siuman dari pingsannya.


Dengan susah payah, Syifa membuka matanya. Saat semuanya semakin jelas, ia mendapati dua wajah yang begitu ia cintai sedang mengkhawatirkannya.


"Alhamdulillah, Yaa Allah. Anakku sudah sadar." Husna sangat senang saat melihat anaknya kembali siuman. Saking senangnya, ia langsung sujud sebagai tanda syukurnya kepada Sang Pencipta


"Abi, Ummi," panggil Syifa dengan suara yang lemah.


"Iya, Nak. Ummi dan Abi ada di sini bersamamu."


Syifa tersenyum simpul. Dia merasa senang sekaligus sedih di saat yang bersamaan.


***


Selama ini, Aya selalu hidup seperti apa yang dia inginkan. Dia tidak pernah mendengarkan kata hatinya atau sesuatu yang menyangkut perasaan. Karena ia hanya akan menderita pada akhirnya.


Namun hari ini, Aya merasa berbeda. Dia sudah melawan dirinya sendiri dan mengubur semua ego yang ada untuk menyelamatkan seorang gadis yang bahkan ia tak kenal sama sekali.


Setelah melakukan hal sebesar itu, Aya merasa sangat lelah sekarang. Dia ingin segera membersihkan diri dan pergi tidur di atas kasur kesayangannya. Namun---


“Kamu dari mana saja, Aya?” tanya Asya yang sudah menunggu kedatangan anaknya sejak siang tadi.


“Ada perlu apa Mama datang ke mari?” Aya menyambut kedatangan mamanya dengan dingin.


“Mama datang karena Mama kangen. Tunggu dulu ….” Perkataan Asya tertahan saat tanpa sengaja ia melihat bercak merah yang menempel di seragam sekolah Aya. “Kenapa pakaianmu penuh darah seperti ini? Kamu baik-baik saja, kan, Nak?” cerca Asya seraya memeriksa sekujur tubuh anaknya dengan panik.


“Ini bukan urusan Mama,” kata Syifa terkesan ketus dan juga dingin.


“Kamu itu masih anak Mama. Kamu itu tanggung jawab, Mama. Jadi Mama berhak tahu apa yang terjadi padamu, Aya.”


“Kalau Mama memang peduli padaku, kenapa Mama harus bercerai dengan Papa? Jika Mama memang menganggapku sebagai anak. Lalu, kenapa Mama lebih mementingkan pekerjaan Mama daripada aku?”


“Aya. Mama sudah menjelaskannya berkali-kali padamu, sayang. Apa kamu tidak pernah mengerti? Posisi Mama juga sulit. Ini semua berat untuk Mama.”


“Sudah cukup, Ma! Perbincangan kita cukup sampai di sini. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. Aku sangat lelah dan ingin istirahat sekarang.” Setelah mengatakannya, Aya berjalan melewati mamanya yang mematung karena begitu terpukul.

__ADS_1


Asya tidak pernah menyangka, jika anaknya itu ternyata masih belum memaafkannya. Dia begitu membenci Asya dan menganggapnya bersalah untuk perceraian yang terjadi di antara orang tuanya. Padahal, Danulah yang harusnya disalahkan. Karena dialah yang sudah berkhianat dan menghancurkan keluarga ini sampai hancur berkeping-keping.


Asya tersungkur. Ia merasa lemah karena kekuatannya telah dirampas secara paksa darinya. Kekuatan yang selama ini membuatnya selalu bangkit dan melawan kerasnya dunia. Dan kekuatan itu bersemayam di dalam diri Aya.


Apa yang lebih menyakitkan selain dibenci oleh anak yang begitu ia cintai?


Mengingatnya saja. Membuat Asya menitihkan air matanya. Ia merasa payah karena sudah gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk Aya.


Di balik pintu kamarnya yang terkunci rapat, Aya hanya diam---mendengarkan tangisan mamanya yang begitu menyakitkan.


Dia tahu, dia tidak berhak menjadikan mamanya pelampiasan untuk semua rasa sakit dan juga kecewa yang ia pendam selama ini. Ini bukanlah murni kesalahan mamanya. Namun, semuanya sudah terlambat. Akan jauh lebih baik, jika Asya juga membencinya. Karena ketika ia tak ada lagi, dia tidak akan begitu sedih kehilangan seorang anak yang begitu buruk seperti dirinya.


***


Syifa baru saja pindah karena mengikuti orang tuanya yang dipindahtugaskan di rumah sakit kota beberapa hari yang lalu. Selama beberapa hari itu pula, Syifa tidak pernah ke mana-mana. Dan dia merasa sangat bosan karena hal itu.


Syifa hanya ingin menuntaskan kebosanannya dengan berjalan-jalan, menghirup udara di luar sana. Akan tetapi, nasib baik tidak berpihak padanya. Membuat gadis itu harus berakhir di atas ranjang rumah sakit sebagai pasien pesakitan.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa diserempet motor seperti itu?" tanya Husna setelah keadaan Syifa kembali membaik dan bahkan, sebentar lagi ia diperbolehkan untuk pulang.


"Kejadiannya begitu cepat Ummi. Syifa bertemu dengan wanita yang sangat cantik. Dia menjatuhkan sesuatu dan Syifa berinisiatif untuk mengembalikannya pada orang itu. Tapi, syifa terlambat. Orang itu sudah pergi, entah ke mana? Sewaktu Syifa mau kembali ke perpustakaan, eh, malah ada yang nyerempet. Setelah itu, Syifa nggak ingat apa-apa lagi."


Husna mengangguk paham. "Makanya, lain kali jangan bebal. Kalau Ummi bilang jaga diri baik-baik. Kamu harusnya jaga diri. Kita itu masih baru di sini, Syifa. Kita tidak tahu, apa saja bahaya yang ada di kota ini," kata Husna yang berakhir mengomeli Syifa karena gemas.


Betapa khawatir dan takutnya Husna, saat ia mendapatkan kabar kalau anaknya sudah menjadi korban tabrak lari dari seorang pengendara motor yang ugal-ugalan. Ia sampai harus meninggalkan pekerjaannya yang tengah sibuk mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pindah sekolahnya Syifa.


Syifa menghentikan aktivitas makannya. Dia meletakkan kotak berisi es krim itu di atas nakas yang ada di samping ranjang barunya.


“Ummi.” Syifa menyentuh punggung tangan Husna dengan lemah. Ditatapnya mata sang ummi dengan lekat. Seolah dari bilik mata itu, ia ingin menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. “Seperti yang Ummi lihat. Syifa baik-baik saja. Ini hanya lecet biasa dan sebentar lagi pasti akan sembuh. Ummi jangan terlalu khawatir apalagi sampai harus menangis seperti ini. Syifa nggak mau melihat Ummi sedih.”


“Hati ibu mana yang akan tahan melihat anaknya seperti ini, Syifa. Kamu baru saja mengalami insiden buruk. Dan Ummi sangat bersyukur karena Allah masih melindungimu melalui seorang gadis yang baik hati. Dia membawamu ke rumah sakit tepat waktu. Jika dia terlambat sedikit saja. Ummi tidak bisa membayangkan kehidupan Ummi setelah kepergianmu.”


Syifa tertegun. Ia jadi penasaran … kira-kira, siapa yang sudah menyelamatkan nyawanya?


“Apa Ummi tahu siapa gadis itu? Apa Ummi sudah bertemu dengannya?” tanya Syifa kemudian. Dia ingin mengucapkan terima kasih pada malaikat berwujud manusia yang sudah menyelamatkan nyawanya hari ini. Berkat gadis itu, ia masih hidup sampai sekarang


“Sayang sekali. Ummi belum sempat bertemu dengannya. Dia sudah tidak ada saat Ummi sampai kemari.” Jawaban yang sangat mengecewakan bagi Syifa. “Tapi, Ummi tahu nama gadis itu sewaktu pergi ke bagian administrasi.”


“Siapa namanya, Ummi?” Syifa menunggu dengan tidak sabar.


“Kalau nggak salah, namanya itu Marwah.”


“Marwah,” gumam Syifa sembari tersungging dengan manis.


Syifa sudah tahu nama gadis itu. Sekarang, dia hanya perlu mencari keberadaannya saja.


Bersambung


***


Baru di-edit. Ternyata banyak typo, ya😂

__ADS_1


__ADS_2