Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 11. Memori Yang Menyakitkan


__ADS_3

Usai berkunjung dari rumah kontrakan Aya, Laila menyempatkan diri pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Syifa. Bagaimana tidak. Sampai saat ini, ia belum mengetahui kabar gadis itu sama sekali. Selain itu, ada hal penting lainnya yang ingin Laila sampaikan pada Syifa beserta Husna. Ini tentang rasa takut dan ketidakjujurannya yang tidak berusaha untuk mengakui kesalahan sejak awal.


Kini, Laila sudah berdiri tepat di depan pintu kamar, dimana Syifa sedang mendapatkan perawatan secara intensif. Dari balik kaca yang tembus pandang itu, Laila bisa melihat langsung situasi yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan tahulah Laila, jika Syifa sudah sadar dari pingsannya.


“Ummi. Syifa mau ketemu sama Aya. Kita harus menyelamatkan Aya, Ummi,” pinta Syifa yang terus saja memberontak dan berusaha menjauh dari ranjang pasiennya.


“Syifa. Bukannya Ummi nggak mau mengizinkanmu, Nak. Keadaanmu belum pulih benar saat ini. Kamu istirahatlah dulu. Biar nanti, Ummi yang jemput Aya." Husna meminta pengertian pada Syifa mengenai kondisinya yang belum stabil saat ini. 


Anak tunggalnya itu baru saja sadar beberapa menit yang lalu. Namun, yang disebutnya hanya nama Aya, Aya dan Aya. Dia terus saja mengatakan, jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada Aya dan dia ingin menemui gadis tersebut. 


Untuk menghentikan situasi yang tidak terkendali itu, akhirnya Laila memutuskan untuk masuk dan menyapa keduanya.


“Assalamu’alaikum," ucap Laila yang sontak mengalihkan perhatian Syifa dan umminya.


“Wa’alaikumussalaam,” jawab keduanya beberapa saat kemudiam. 


Kedua alis Syifa saling bertautan. Ia sama sekali tak ingat pernah bertemu atau memiliki teman selain Aya di kota ini. Lalu, siapa yang datang untuk mengunjunginya? Apakah dia adalah teman umminya? Tapi, ia terlalu muda dan usianya terlihat sebaya dengan Syifa.


Untuk memgetahui jawabannya, Syifa harus bertanya langsung pada wanita tersebut.


“Siapa dia, Ummi?” tanya Syifa kemudian.


“Aku Laila. Teman satu angkatan denganmu di sekolah. Bagaimana dengan kondisimu saat ini, Syifa?” jawab Laila balik melemparkan pertanyaan di penghujung kalimatnya.


“Aku baik-baik saja.”


“Alhamdulillah, jika keadaanmu sudah lebih baik sekarang," ucap Laila dengan sengaja menjeda perkataannya. Semula, kedatangannya kemari hanya  untuk meminta maaf pada Syifa di hadapan ummimya secara langsung. Namun, melihat situasi yang tak bersahabat kali ini. Sepertinya, ia harus menundanya terlebih dahulu.


"Sebenarnya, saya baru saja pergi dari kontrakan Aya. Saat saya datang ke sana, saya melihat dia sedang mengemasi barang-barangnya. Sepertinya, Aya akan pergi hari ini," beritahu Laila.


"Apa?! Aya akan pergi? Ke mana dia akan pergi! Ummi, tolong hentikan dia. Syifa khawatir Ummi. Bagaimana kalau makhluk itu mengikutinya?" rengek Syifa yang terus saja mengayun-ayunkan lengan umminya dengan lemah.


"Makhluk?" Laila mengernyit bingung. "Makhluk apa yang dibicarakan oleh Syifa?"


Husna hendak menjelaskan perihal mimpi buruk yang terus muncul selama Syifa tidak sadarkan diri. Namun, belum sempat ia membuka suaranya, Syifa malah melarang Husna dan memintanya untuk segera pergi menyelamatkan Aya.


"Baiklah. Ummi akan pergi bersama Laila. Kamu baik-baik saja kalau Ummi tinggal sendirian?"


"Ummi jangan cemas! Syifa baik-baik saja, Ummi."


Husna menghela napas dengan panjang. Mau tak mau, ia harus menuruti permintaan anaknya tersebut untuk menemui Aya dan memastikan jika keadaannya baik-baik saja. Sebelum pergi, ia lantas mengajak Laila untuk menunjukkan alamat rumah Aya.


***


Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah Aya. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang ada di samping pos satpam, mereka lantas bergegas pergi ke ruangan Aya yang ada di lantai atas.


Menaiki anak tangga, berjalan sedikit ke ujung lorong. Akhirnya, mereka sampai di pintu bernomor 12 itu.


"Assalamu'alaikum." Husna mengucapkan salam sambil mengetuk pintu kontrakan Aya secara terus menerus.


Namun, tak ada sahutan atau balasan dari dalam sama sekali. Keadaan rumah ini seakan sepi ditinggal oleh pemiliknya.


"Sepertinya, Aya sudah pergi," kata Husna melemparkan pandangan pada Laila yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


Laila rasa mungkin demikian. Akan tetapi, hatinya justru berkata lain. Untuk memastikannya, ia nekat mengintip dari dalam jendela Aya yang tampak sedikir terbuka.

__ADS_1


Awalnya tak ada yang aneh. Semuanya masih sama, yaitu gelap dan ada banyak tumpukan barang-barang yang siap dibawa. Itu pertanda, jika Aya belum pergi dari kontrakannya ini. Namun, saat pandangan Laila jatuh tak jauh dari tumpukan barang-barang itu berada, ia terperanjat kaget manakala mendapati Aya tengah terbujur, tak sadarkan diri.


"Astaghfirullah, Aya!" Laila spontak berucap asma Allah, karena kaget.


"Ada apa, Laila?" tanya Husna turut merasa khawatir.


"Aya pingsan," jawab Laila diserang kepanikan.


Husna lantas menengok dari jendela. Ternyata benar yang dikatakan Laila tentang Aya.


"Kamu tolong panggilkan petugas keamanan di luar sana. Tante akan menelpon ambulance terlebih dahulu," kata Husna mengintruksi.


Laila mengangguk. Ia segera berbalik arah dan berlari dengan sekencang-kencangnya. Berkejaran dengan waktu dan bayangan Aya yang selalu melintas di dalam pikirannya.


Tak jauh dengan apa yang Laila rasakan. Dengan gemetaran Husna mencoba menghubungi suaminya yang masih bertugas di rumah sakit. Setelah beberapa saat tak mendapatkan jawaban ... akhirnya, telepon wanita itu pun tersambung.


"Assalamu'alaikum, Mas Ali."


'Wa'alaikumussalaam. Ada apa, sayang? Kenapa napasmu kayak terengah-engah gitu? Semuanya baik-baik saja, 'kan?'


"Mas, tolong kirimkan ambulans ke jalan Ahmad Dhani, di indekos pelangi."


'Loh. Kok kamu ada di sana? Siapa yang jagain Syifa?'


"Nanti aku jelaskan. Mas kirimkan saja dulu ambulansnya. Ini darurat, Mas!"


'Iya-iya. Mas akan mengirimkan ambulans ke sana, ya.'


Tut tut tut!


"Aku tidak tahu ... mengapa aku sampai seperti ini? Namun, melihat anak itu terbaring di sana, itu membuat hatiku sakit karena harus teringat pada masa lalu. Kumohon untuk tetap bertahan sampai bantuan datang," bisik Husna dengan berlinangan air mata.


Selang beberapa saat kemudian, Laila pun datang bersama dengan dua petugas keamanan yang berjaga di gerbang depan. Dua pria dewasa tersebut segera membuka pintunya dengan menggunakan kunci cadangan. Setelah pintu kontrakan tersebut berhasil dibuka, mereka bergegas masuk dan keluar sambil membopong Aya yang tidak sadarkan diri. Dari tangan dan lubang hidung gadis itu tampak keluar cairan merah kental yang berbau anyir.


Semuanya terjadi dengan begitu cepat. Husna tak pernah menyangka, bila senyuman yang senantiasa terpatri di bibir Syafa hanyalah tipuan belaka. Dia tidak pernah baik-baik saja, namum berpura-pura baik dan menutupi ras sakitnya dari semua orang. Hingga, penyakit itu pun mencapai puncaknya.


Hari itu adalah hari yang paling suram sepanjang hidup yang Husna jalani. Hari dimana ia menemukan anaknya tergeletak dengan darah yang mengalir dari hidungnya. Sama persis seperti yang terjadi pada Aya.


"Tante." Suara Laila sontak membuat lamunan Husna buyar. Ia segera menyapu linangan air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Tante, kenapa menangis?" tanyanya sembari duduk di samping Husna.


"Tante teringat masa lalu. Semuanya seakan terulang kembali," lirihnya.


Laila tidak mengerti dengan masa lalu yang Husna ceritakan itu. Akan tetapi, ia hanya tahu satu hal saja ... yaitu menenangkan Husna yang terlihat sangat syok dengan kejadian tidak terduga yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.


"Aya pasti baik-baik saja, Ummi." Mendengar Laila memanggilnya Ummi, ia spontan menoleh dan memandang wajah Laila yang mengulum senyum padanya. "Apakah boleh, saya memanggil Tante dengan sebutan Ummi?"


Husna tersungging sembari menganggukkan kepala dengan pelan. Ia sama sekali tak masalah jika ada yang ingin memanggilnya ummi. Justru, ia  merasa senang karena ada yang mau memanggilnya ummi, selain Syifa.


"Apakah saya boleh memeluk Ummi?" tanya Laila tampak ragu. Ia tahu, ini terlalu cepat. Akan tetapi, ia tidak bisa menahan diri lagi karena terlalu lama merindukan pelukan hangat dari sosok seorang ibu.


Tanpa menjawab sama sekali, Husna malah menarik tangan gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan.


Sepasang netra Laila terbelalak. Dia sedikit terkejut karena Husnalah yang memberikan pelukan lebih dulu. Detik berikutnya, ia mulai mengulas senyum di bibirnya.


***

__ADS_1


Syifa tak henti-hentinya memanjatkan doa pada Sang Khalik. Tentang rasa takut dan khawatirnya pada gadis bernama Cahaya itu. Meskipun mimpi buruk itu hanyalah bunga tidur yang datangnya dari setan. Namun tetap saja, dia tak bisa menampik perasaan khawatir ini, kalau-kalau mimpinya itu adalah sebuah kebenaran.


"Assalamu'alaikum."


Dengan refleks kepala Syifa tertoleh ke arah datangnya suara tersebut. Bibirnya spontan mengerut saat mengetahui yang datang adalah Ali, abinya.


"Hei. Kok malah cemberut lihat Abi? Nggak suka kalau Abi datang menjenguk?" goda Ali, menghampiri anaknya yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien.


"Abi ngomong apaan sih? Syifa sukaaa banget Abi datang kemari?" ucap Syifa dengan senyuman yang lebar hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi dan berseri.


Ali melayangkan kecupan tepat di dahi putrinya. Sebagai hadiah kecil atas permintaan maafnya yang sudah datang terlambat datang. Akhirnya, ia pun memberikan sesuatu yang bisa membuat hati Syifa mencair seketika---apalagi kalau bukan es krim vanilla.


"Kalau suka, kenapa nggak jawab salam Abi, hmm?"


"Ah, iya. Syifa lupa." Syifa tersengih malu. Ia lantas  membalas salam abinya detik itu juga.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah mendingan?" tanya Ali kemudian.


"Alhamdulillah. Syifa baik-baik saja. Apa Abi nggak tahu, kalau Syifa ini anak super? Syifa harus kuat supaya bisa menemani abi dan ummi sampai tua nanti," tutur Syifa yang disibukkan dengan kotak es krim yang masih bersegel itu.


"Iya, ya. Abi lupa, kalau Abi punya anak yang super kuat seperti Syifa."


"Gimana nggak lupa, kalo Abi aja sibuk kerja? Abi bahkan baru datang, menjenguk Syifa," rutuk Syifa pada abinya.


"Terus, Syifa marah sama Abi?"


"Ya, nggaklah Abi. Syifa malah seneng punya Abi yang banyak membantu orang-orang  sakit." Kata-kata Syifa berhasil membuat Ali tersenyum. Dia senang---meski sesibuk apa pun dirinya---Syifa bisa memahami dan tidak mempermasalahkannya sama sekali.


Matanya tak pernah lepas memandang pada Syifa yang sibuk menyuapi sesendok demi sesendok es krim ke dalam mulutnya. Setiap satu suapan masuk---menyentuh lidahnya---sepasang bola mata Syifa langsung membesar dengan sempurna. Bibirnya bahkan tidak bisa berhenti memuji betapa enaknya es krim yang abinya beli itu.


"Abi mau?" tanya Syifa sembari mengulurkan kotak es krim---yang isinya telah ia makan sebanyak seperempat kotak.


Ali menggeleng. Ia tak mau menganggu kebahagiaan Syifa yang terlihat begitu menikmati es krim tersebut.


"Ya sudah, kalau Abi nggak mau," tutur Syifa kembali menyuapkan es krim tersebut ke dalam mulutnya.


"Abi datang ke sini, sekalian mau menyampaikan pesan dadi ummimu. Dia bilang ... dia akan sedikit terlambat," kata Ali memulai topik pembicaraan yang sesungguhnya.


Syifa menghentikan makannya. Kemudian melemparkan tatapan penuh tanya pada Ali. "Jadi, Ummi udah memberitahu Abi?"


"Iya. Ummimu menelpon Abi, kalau ada keadaan darurat."


"Keadaan darurat? Maksud Abi apa?"


"Temanmu, Aya. Dia ditemukan pingsan di kosannya."


"Apa?!" Syifa terperanjat setelah mendengar kabar Aya dari mulut abinya secara langsung. Dia tak bisa berkata-kata lagi karena otaknya sudah dipenuhi oleh rasa khawatir pada gadis itu. "Abi. Syifa mau bertemu dengan Aya. Izinkan Syifa untuk bertemu dengan Aya," pinta Syifa merengek pada Ali.


"Tapi, Syifa. Ummimu tidak akan senang melihatmu pergi dalam keadaan yang seperti ini?"


"Abi lihat, 'kan? Kalau Syifa baik-baik saja. Jadi Syifa mohon ... bantu Syifa, Abi. Syifa ingin bertemu dengan Aya."


Ali menghela napasnya yang panjang. Kalau sudah begini, ia tak bisa menolak permintaan putrinya sama sekali. Jika ia sampai menolak, Syifa bisa saja nekat dan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya untuk dirinya sendiri. Dan Ali tidak bisa mengambil resiko untuk itu.


Setelah berpikir dan menimbang-nimbang cukup lama, Ali akhirnya mengalah dan menuruti permintaan Syifa. Ya ... meskipun nanti, Husna akan sangat marah padanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2