
Sepulang sekolah, Husna datang untuk menjemput Aya dan putrinya. Sesuai rencana kemarin, hari ini mereka akan pergi ke rumah Aya dan melakukan ruqyah rumah di sana. Lebih tepatnya lagi, mereka ingin mencari tahu apakah ada jimat atau benda pusaka yang tersimpan di dalam rumah Asya.
Setelah menunggu untuk waktu yang cukup lama, akhirnya yang dinanti pun tiba. Mereka keluar dari gedung sekolah dengan sedikit bergurau seperti biasanya.
Mewanti-wanti agar kedua putrinya itu malah bablas pergi dan pulang ke rumah, Husna akhirnya menunggu mereka di gerbang masuk sekolah. Sementara yang lainnya tetap menunggu di dua mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Aya! Syifa!" panggil Husna kemudian.
Kedua gadis itu lantas menoleh ke arah datangnya suara. Setelah mengetahui siapa yang baru saja memanggil mereka ... mereka lantas melenggang pergi untuk menghampiri Husna.
"Motornya tinggal saja. Biar nanti diurus sama Abi," sambungnya.
Kalau umminya sudah berkata demikian. Syifa sangat yakin, jika Ali pasti akan mengurus semuanya. Termasuk juga mengurus barang-barang Aya yang masih ada di kontrakannya, yang kemudian akan dipindahkan di tempatnya menginap saat ini.
Tanpa banyak bicara, Mereka segera masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan gedung sekolah
***
Sewaktu tiba di rumah, jam di pergelangan tangan Syifa sudah menunjukkan pukul 15.38 WIB. Bersamaan dengan itu, sayup-sayup terdengar azan asar yang saling bersahutan.
Pihak lelaki pergi ke masjid untuk melaksanakan salat berjama'ah di sana. Sementara pihak perempuan tetap tinggal di rumah Asya dan melaksanakan salat bersama dengan Husna sebagai imamnya.
Usai salat, berzikir dan berdoa, Asya mempersilakan tamunya untuk duduk di ruang tamu. Sembari menunggu kedatangan para kaum adam itu, Asya dengan dibantu oleh Aya sedang sibuk mempersiapkan makanan dan minuman yang sudah ia beli melalui jasa food online karena tak punya banyak waktu untuk memasak seperti biasanya.
Mereka hanya berdua saja di dapur saat ini. Dan sekarang adalah waktu yang tepat bagi Aya untuk bertanya pada mamanya itu perihal mimpi yang dia dapatkan tadi malam.
"Ma," panggil Aya pada sang mama yang masih sibuk mewadahi beberapa gorengan ke atas piring berbetuk daun itu.
"Ada apa, nak?" sahut Asya kemudian berjalan mengambil beberapa gelas yang tersimpan rapi di dalam lemari khusus.
"Ada yang mau Aya tanyakan pada Mama." Aya mencoba memberanikan diri. Apa pun jawaban yang akan gadis itu dapat, dia akan berusaha untuk menerimanya dengan hati yang lapang.
Asya pun menghentikan kegiatannya. Dia merasakan ada sesuatu yang sangat serius sedang dipikirkan oleh anaknya itu. Terlebih saat dia memandang bilik mata anak gadisnya itu, tersirat ketakutan, kecemasan dan juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.
"Ada apa, Aya? Tanyakan saja, apa yang ingin kamu tanyakan pada Mama."
Aya menghela napasnya yang terasa sesak. Ia tetap mencoba tenang, meski rasanya sangat sukar. Setelah keberanian itu telah berkumpul sepenuhnya, ia pun menceritakan mimpinya pada Asya. Tidak sepenuhnya, hanya bagian Mega saja yang Aya sampaikan.
"Apa benar Papa dan Mega memiliki hubungan yang serius sebelum bertemu dengan Mama? Dan, apakah benar, kalau Mama sudah merebut Mega dari Papa?"
Asya membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka, jika Mega akan melakukan hal sejauh ini. Padahal, dia sudah mati dimakan oleh cacing-cacing tanah. Harusnya, dia mengurusi nasibnya saja, dibandingkan menyebarkan fitnah pada anaknya yang tidak tahu menahu apa pun.
"Jadi benar, kalau Mama dan Papa sudah membuat Mega mengakhiri hidupnya," sangka Aya setelah melihat reaksi Asya yang tidak biasa. Dia terlihat sangat terkejut, seolah tak percaya jika Aya akan menanyakan hal sebesar ini padanya.
"Tidak, Aya," potong Asya sebelum Aya berprasangka buruk lebih jauh lagi. "Dengarkan Mama dan jangan memikirkan apa pun lagi. Mama tidak pernah mencoba merebut siapapun dari siapapun juga. Mega bunuh diri, itu karena sakit parah yang sedang dideritanya. Papamu bahkan memutuskan untuk menikah dengan Mega. Namun, pernikahan itu batal setelah Mega menghabisi nyawanya sendiri."
"Apakah benar seperti itu?" gumam Aya dengan sepasang mata yang telah memerah dan berkaca-kaca. Dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia sangat berharap, jika apa yang baru saja disampaikan mamanya itu adalah sesuatu yang benar dan tidak mengada-ngada.
"Iya. Mama tidak mungkin bohong, nak. Mama mohon maafkan Mama jika Mama sudah membuatmu khawatir seperti ini," ucap Asya menyapu bulir-bulir bening di sudut putrinya. Melihat anaknya menangis seperti ini, hatinya merasa sangat sesak dan juga sakit.
"Maafkan aku, Ma. Aku sudah berburuk sangka pada Mama," sesal Aya.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya, kita segera menyelesaikan pekerjaan kita. Sebelum yang lain kembali dan sedang melihat kita dalam keadaan seperti ini."
Aya tersenyum. Setelah itu, bersama dengan Aya, ia kembali meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda.
Tak butuh waktu lama yang ditunggu pun datang dan jamuannya juga sudah terhidang dengan rapi di atas meja.
"Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Kyai dan juga Dokter, karena sudah menyempatkan datang ke rumah kami. Maafkan juga jika jamuan yang kami hidangkan hanya seadanya saja," tutur Aya berbasa-basi ria pada tamunya.
"Tidak perlu repot-repot. Segini saja sudah lebih dari cukup, kok," jawab Ali.
Hari akan semakin petang, bila mereka tak segera memulai sesi ruqyah rumah. Setelah menyantap sedikit makanan dan melakukan konsultasi sejenak, Ali dan Fajri segera memulai ruqyah rumah.
Fajri meminta si pemilik rumah untuk membersihkan patung, gambar-gambar, lonceng dan segala sesuatu yang disukai jin dan bisa dijadikan tempat untuk mereka tinggal. Rumah juga harus bersih dari tumpukan sampah atau sesuatu yang dapat menimbulkan bau yang tidak sedap.
Asya dan anaknya lantas menyingkirkan segala sesuatu yang dimaksudkan oleh Fajri. Tentu saja, mereka tidak berdua, karena yang lainnya turut membantu untuk membersihkan barang atau gambar yang bernyawa itu. Maksud barang atau gambar bernyawa di sini seperti lukisan bergambar manusia atau hewan.
Usahakan untuk membersihkan diri dan bersuci (wudhu) sebelum meruqyah rumah. Karena Ali dan yang lainnya baru saja selesai salat asar, mereka tidak perlu mengambil wudhu lagi.
__ADS_1
Ali menggunakan 7 lembar daun bidara yang sudah tumbuk atau diblender hingga halus. Selanjutnya, tumbukan daun bidara tadi dimasukkan ke dalam air. Kemudian, air yang telah dicampurkan dengan daun bidara tadi ditambahkan dengan sedikit garam. Lebih bagus, jika garam yang digunakan adalah garam gunung. Setelah itu, aduk-aduklah air tersebut sambil membaca ayat-ayat ruqyah di bawah ini:
.• Istighfar.
.• Zikir (tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir).
.• Selawat Nabi.
.• Kalimat Tammah.
"A'uudzu bikalimaatilaahit taammati min syarri maa kholaq."
atau
"A'uudzu bikalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haam matin wa mingkulii 'aiinin laammah."
.• Al-Fatihah (3x)
.• Al-Hasyr ayat 21-24 (3x)
.• Al-Baqarah ayat 1-4 (3x)
.• Al-Baqarah ayat 255 (3x)
.• Al-Baqarah ayat 256-257 (3x)
.• Al-Baqarah ayat 284-286 (3x)
.• Al-Ikhlas (3x)
.• Al-Falaq (3x)
.• An-Naas (3x)
Tiuplah air tersebut setiap selesai membaca satu surat.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka lantas meruqyah rumah tersebut sampai ke sudut-sudut tempat yang sulit dicapai. Hingga ....
"Jangan hancurkan tempatkuuu!" teriak Aya pada Rama yang ditugaskan oleh abinya untuk menyemprot halaman depan.
Semua orang terlonjak saat Aya berlari ke arah Rama dan hendak menyerangnya. Jika saja Rama tak cepat menghindar, dia mungkin sudah terluka saat ini.
Aya menjatuhkan dirinya di atas tanah. Dia menjerit dan melarang siapa saja untuk mendekat ke sana. Tiba-tiba saja, tubuhnya membeku. Dia diam cukup lama. Sampai akhirnya, dia bangkit dengan posisi seperti ular kobra yang hendak mematuk mangsanya.
Suara desisan terdengar berkali-kali dari bibir Aya. Mata gadis itu melotot, tapi terasa begitu hampa.
"Kalian sudah melakukan kesalahan besar dengan terus mengganggu anak ini. Dan sekarang, kalian juga ingin menghancurkan tempat tinggalku," ancam wanita itu dengan suara yang sangat halus, namun mampu membuat bulu kuduk berdiri.
"Kamulah yang sudah berdosa karena mengusik anak ini dan tempat tinggalnya. Apa yang kamu lakukan dalam tubuh gadis? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari gadis ini?"
"Aku tidak ingin berurusan dengan anak ini. Tapi, gara-gara kalian aku harus turun tangan untuk menghancurkan gadis ini dan keluarganya."
"Memangnya, apa yang sudah kami lakukan?" tanya Fajri.
"Tidakkah kalian ingat, jika kalian sudah menghasut anak buahku?"
"Abdurrahim," gumam Ali mengucapkan nama seseorang.
Sekarang, Ali ingat siapa yang ratu ular itu maksud. Itu pasti Abdurrahim dan bala tentaranya yang sudah masuk Islam saat Aya diruqyah olehnya. Dan, dialah yang sudah memberi nama komandan jin itu dengan panggilan Abdurrahim tersebut.
"Rahim sudah bertaubat kepada Allah dan dia sudah menerima ajaran Islam sebagai pedoman hidupnya. Sebaiknya, kamu juga mengikuti jejak Rahim. Bertaubat kepada Allah dan memeluk ajaran Islam," ceramah Ali.
"Berhenti memerintahku. Aku tidak akan segan-segan memerintahkan seluruh pasukanku untuk membunuh kalian semua!" teriak ratu ular tersebut tidak terima dengan nasehat Ali yang seperti sebuah omong kosong belaka.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Kami hanya menasihatimu saja. Itu urusanmu dengan Allah, jika kamu tidak mau bertaubat kepadanya. Kami pun, tak bisa membiarkanmu terus berada di dalam tubuh anak ini dan mengusiknya setelah ia hijrah," ucap Fajri yang dilanjutkan dengan melantunkan surat shaaffat ayat 1-10.
Makhluk itu lagi-lagi berteriak hebat. Dalam jeritannya, ia memerintahkan pada kedua peruqyah itu untuk menghentikan bacaan Qur'an mereka. Ayat-ayat suci yang telah mereka bacakan sungguh menyiksanya dan membuatnya teramat menderita.
"Sekali lagi, kami mengajakmu untuk bertaubat kepada Allah. Allah lah Pemilik bumi dan langit. Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang ingin bertaubat." Sekali lagi, Fajri menasehati ratu ular itu.
__ADS_1
"Aku tidak mau melakukannya. Jika aku sampai melakukannya, aku pasti akan kehilangan pengikutku. Merekalah yang sudah membuatku sampai sebesar ini. Mereka selalu memberiku makanan dan timbal baliknya aku akan memberikan mereka apa pun yang mereka inginkan. Aku tidak akan melepaskan semuanya begitu saja! Kerajaanku, pengikut, dan seluruh pasukanku tidak akan pernah aku lepaskan!"
Fajri tidak punya pilihan lain lagi. Ia harus mengeluarkan makhluk itu dari dalam tubuh Aya. Meskipun, ia harus memaksa dan menyakiti makhluk yang telah mengaku sebagai ratunya para ular itu.
"A’uudzu biwaj’hillaahil kariim
Wa bikalimaatil laahit taammaatil latii laa yujaawizuhunna barrun wa laa faajirun
min syarri maa yanzilu minas’sama’i
Wa min syarri maaya’ ruju fiiha
Wa min syarri maa dzaro-a fiil ardhi
Wa min syarri ma yakh’ruju minhaa
Wa min fitanil laili wan nahaari
Wa min thowaariqil laili wan nahaari illa thooriqon
Yath’ruqu bikhoirin ya rahman."
Artinya : “Aku berlindung pada Tuhan Yang Maha Pemurah dan berpegang teguh pada kalimat-kalimat-NYA yang sempurna yang tidak dapat diperangaruhi oleh siapapun juga, baik orang taat maupun orang fasik.
Dari kejahatan yang turun dari langit dan kejahatan yang naik ke langit.
Kejahatan yang ada di muka bumi dan kejahatan yang keluar dari bumi.
Kejahatan fitnah-fitnah dan peristiwa yang membawa akibat buruk yang terjadi siang dan malam, kecuali peristiwa yang membawa kebaikan,
Ya Tuhan kami yang Maha Rahman (Pengasih).”
"Ukhruj ya aduAllah!" kalam Fajri sembari menunjuk jemari telunjuknya pada Aya. Sedetik kemudian, Aya pun pingsan dan keluarlah gumpalan asap putih yang tak kasat mata.
Setelah Aya kembali sadar, mereka pun mulai membongkar tanah yang diindikasi tersimpan jimat atau perantara sihir di dalamnya. Bahkan, Asya pun menuturkan, jika tanah tersebut tak pernah berhasil ditanami tumbuhan apa pun. Entah itu bunga atau sayur-sayuran, dia akan kering, layu dan berakhir mati.
Setelah tanah itu dibongkar, mereka menemukan sebuah kain kafan yang telah menguning dan telah rusak dimakan tanah. Rasanya wajar saja ... sebab umurnya sudah terhitung memasuki belasan tahun lamanya.
Sebelum mengambil bungkusan itu dari dalam galian tanah tersebut, Fajri membaca kalimat tammah sebagai perlindungan dari efek sihir yang mungkin masih melekat dalam benda itu.
Bungkusan tersebut segera diangkut dari tanah dan membongkar isinya. Betapa terkejutnya semua yang ada di sana, ketika mereka melihat ada selembar foto di dalam bungkusan tersebut. Foto tersebut memang sudah usang dan tak bisa diidentifikasi sama sekali. Meskipun begitu, Asya sangat paham dan masih sangat paham, foto tersebut adalah fotonya dengan Danu. Foto tersebut biasa tersimpan di dompetnya Danu. Namun, suatu hari dompet itu menghilang dan tak pernah ditemukan sampai sekarang. Siapa yang akan menyangka, jika foto tersebut akan digunakan sebagai media sihir. Entah siapapun yang menggunakannya, dia benar-benar sudah keterlaluan.
Bersama dengan foto itu, terdapat pula beberapa tulang yang sudah menguning dimakan usia dan juga sebuah botol kecil yang di dalamnya berisi air busuk.
Benda-benda itu kemudian dibakar. Sebelum dibakar, botol kecil tersebut dibuang airnya, lalu dihancurkan.
Selama pembakaran berlangsung, mereka tak henti-hentinya membaca ayat-ayat ruqyah.
Di saat yang bersamaan, di tempat yang berbeda, seorang lelaki separuh baya merasakan panas yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba saja, pandangannya menjadi kabur dan semuanya pun gelap. Lelaki tersebut pingsan dan menabrak pembatas jalan. Ia tak sadarkan diri dengan lelehan darah yang mengalir deras dari pelipisnya yang terbentur kemudi mobil. Dan pria itu tiada lain adalah Danu.
Bersambung Ke Season 2, ya.
***
Pengumuman Sebentar, ya, guys.
Terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah mampir dan telah mendukung cerita ini. Vote, komentar dan like yang kalian berikan sangat berharga bagi saya. Saya benar-benar terharu dan senang bisa kenal dengan platfrom ini
Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan season 1 dari cerita ini. Saya cukup senang dan sangat lega. Mengingat satu tahun ini, saya hanya mampu menyelesaikan satu buku dan Alhamdulillahnya lagi, buku tersebut sudah naik cetak.
In syaa Allah, cerita ini akan diteruskan ke season 2. Ya ... walaupun saya belum tahu, kapan saya akan memulainya. Tapi, saya akan tetap berupaya untuk bisa meneruskannya.
Untuk berkenalan lebih dekat dengan penulis. Sila mampir ke-FB : Ismi Muthmainnah
Terima kasih sebanyak-banyaknya. :)
Wassalamu'alaikum.
[Revisi setelah naskah selesai]
__ADS_1