Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 17. Membaik


__ADS_3

“Kenapa mereka lama sekali, ya? Sebenarnya, apa yang sedang mereka bicarakan, sih? Apa kamu nggak penasaran, Laila?” tanya Syifa yang sejak tadi sibuk memandangi pintu masuk ruangan---tempat di mana Aya sedang dirawat. Dia benar-benar dibuat penasaran dengan perbincangan yang sedang terjadi di antara orang tua mereka saat ini.


Tidak ada jawaban sama sekali dari Laila.


“Ih ... kamu denger aku nggak, Laila?” celoteh Syifa yang langsung menoleh ke arah Laila.


Semula ia ingin mengomeli Laila yang masih saja bersikap dingin padanya. Namun, ia urungkan niat itu manakala ia mendapati kondisi gadis itu yang terlihat tidak baik-baik saja.


Beberapa detik yang lalu, keadaan Laila baik-baik saja. Tapi, kenapa ia berubah jadi pucat dan banjir oleh keringat seperti ini. Otot-otot wajah gadis itu juga terlihat menegang, berikut tangan dan juga kakinya yang tampak gemetaran. Saat Syifa menyentuh kening Laila, ia bisa merasakan panas di kulitnya.


“Kamu demam, Laila!” Syifa mulai syok dengan suhu tubuh Laila yang sangat tinggi.


“Kepalaku sakit. Perutku juga sangat mual, Syifa,” keluhnya sambil merintih kesakitan.


“Iya-iya. Sekarang, Sandarkan tubuhmu dan istirahatlah dulu.” Dengan hati-hati, ia membantu Laila untuk menyandarkan tubuhnya di atas sofa.


Selagi gadis itu mengistirahatkan tubuhnya yang tidak sehat, Syifa segera bangkit untuk mengambil botol minum yang diletakkan di atas nakas. Setelah itu, ia mulai meruqyah air yang ada di dalam botol mineral tersebut.


“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad, wa ‘alaa sayyidinaa Muhammad.” Syifa mengucapkan selawat sebanyak tiga kali. Kemudian, dilanjutkan dengan melafazkan ayat suci pilihan yang ada di dalam Al-Qur’an.


اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ


"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."


Saat hendak meruqyah air, usahakan posisi mulut berada dekat dengan bibir gelas/botol yang digunakan. Bacalah zikir atau ayat suci Al-Qur’an yang dihapal sebanyak yang kita mampu. Setelah selesai, tiupkan ke air yang sudah disiapkan tadi dengan niat yang kuat---meminta kepada Allah---untuk mengangkat penyakit yang ada di dalam tubuh. Dengan tiupan itu pula, niatkan untuk membakar jin atau setan yang tanpa kita sadari bersarang dalam tubuh dan setiap aliran darah.


“Minumlah. Jangan lupa baca basmalah!” titah Syifa kemudian memberikan botol minum tadi pada Laila.

__ADS_1


“Bismillaahir Rahmaannir Rahiim." Laila langsung meminum air ruqyah itu sebanyak tiga kali tegukan.


Baru saja air itu masuk ke dalam kerongkongan dan jatuh ke lambung, ia kembali merasakan perutnya semakin mual. Seakan-akan, ada sesuatu yang bergejolak dan hendak keluar dari dalam perutnya tersebut.


Rasa mual itu semakin menjadi-jadi manakala Syifa menepuk-nepuk ulu hati Laila dan mendorongnya sampai ke leher. Setibanya di tenggorokan, ia menahan jemarinya sebentar, kemudian membuat tarikan hingga ke mulut. Ia melakukan hal itu secara berulang-ulang kali, sampai akhirnya, Laila berhasil memuntahkan isi perutnya.


Seketika, Laila terkapar lemas di atas sofa itu. Meskipun begitu, ia merasakan tubuhnya lebih ringan daripada sebelumnya.


Tepat di saat yang bersamaan, Nike dan juga yang lainnya masuk. Mereka sangat terkejut saat melihat bekas muntahan yang ada di atas lantai. Karena merasa khawatir dengan kondisi putrinya yang terlihat sangat buruk, Nike lantas berjalan dengan cepat untuk mendekati Laila yang masih setengah sadar.


“Laila, kamu kenapa sayang? Kamu demam?” cecar Nike sambil menyentuh sekujur wajah anaknya dengan khawatir.


Dengan susah payah Laila menggerakkan matanya untuk bisa melihat wajah sang mama. Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat senang karena bisa melihat kedua orang tuanya khawatir seperti ini. Saking bahagianya, ia sampai meneteskan air mata dengan haru.


“Laila nggak apa-apa, Ma,” ucap Laila dengan suara yang terdengar parau.


Laila tak bisa mendengar ucapan mamanya dengan jelas. Dia terlalu fokus pada wajah sang mama. Wajah yang sudah lama ia rindukan untuk waktu yang lumayan lama.


Selama ini, dia tak pernah mendapatkan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya. Jangankan untuk mengetahui keadaan Laila, berbicara dengannya pun mereka tak pernah punya waktu. Kedua orang tuanya hanya sibuk dengan pekerjaan atau nilai tinggi yang berhasil Laila dapatkan. Selebihnya, tak ada kepedulian yang selama ini mereka tunjukkan pada gadis itu.


Laila sudah lama menunggu waktu itu tiba. Waktu di mana ia bisa menemukan kedua orang tuanya peduli dan khawatir padanya. Dan waktu itu datang setelah Laila harus berpayah-payah melewati banyak hal yang nyaris merenggut kewarasannya.


“Kenapa kamu menangis, sayang? Apa ada yang sakit?” tanya Nike yang semakin panik saat melihat sudut-sudut mata Laila mengembun dan menganak sungai.


Sambil mengulum bibirnya dengan tipis, ia nampak menggenggam pergelangan tangan sang mama yang mengusap wajahnya berulang kali. “Maafkan Laila. Tapi, Laila sangat senang melihat Mama dan Papa khawatir pada Laila seperti ini. Rasanya, sudah begitu lama Laila tidak merasakan perasaan sebahagia ini. Terima kasih, Mama, Papa. Laila sayang dengan kalian berdua.


Tes.

__ADS_1


Semua yang berada di sana, tak mampu menahan air mata saat menyaksikan pemandangan haru tersebut. Mereka senang, melihat kedekatan yang kembali terjalin---di antara orang tua dan anak itu---setelah beberapa waktu yang cukup lama harus merenggang dan tak harmonis. Bagi Laila sendiri, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya.


***


Semula, Nike ingin menempatkan Laila di kamar VVIP yang ada di rumah sakit ini. Akan tetapi, Laila malah menolak dan meminta kedua orang tuanya untuk memberikan izin agar ia tetap berada di kamar ini sampai Aya bangun dari tidurnya. Dan tentu saja, setelah mendengar permintaan Laila yang demikian, Syifa jadi mau ikut-ikutan untuk menginap di kamar teman sebangkunya itu. Alhasil, mereka berdua tidur di ranjang yang berbeda, namun tetap dalam satu ruangan yang sama.


Lalu, bagaimana dengan orang tua dari ketiga gadis tersebut?


Reino dan Nike sudah lama pulang beberapa saat yang lalu. Katanya, mereka ingin menyiapkan pakaian dan kebutuhan Laila untuk besok. Sementara Ali, Husna dan Asya tetap tinggal di rumah sakit itu. Hanya Asya seorang diri yang menginap di kamar Aya. Dia merebahkan dirinya di atas sofa yang bersebelahan dengan Aya.


Melihat kondisi kamar yang tak lagi memiliki tempat tidur yang cukup. Akhirnya, Husna mengalah dan memutuskan untuk menginap di ruang kerja suaminya, Ali.


Semua orang sudah terlelap di pembaringannya masing-masing. Tetapi, tidak dengan Ali. Pria itu masih tetap terjaga dan terlihat sibuk melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


“In syaa Allah, aku akan datang ke sana,” ucap Ali pada seseorang di seberang talian sana.


Setelah mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan telepon tersebut, ia pun meletakkan benda pipih tersebut di atas meja yang terbuat dari kayu jati itu.


Seketika, sudut-sudut bibirnya tampak tertarik ke atas. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum manakala pandangan matanya jatuh pada wajah Husna yang sudah sangat nyenyak dalam tidurnya.


Husna … adalah wanita yang sangat ia cintai. Wanita penyejuk hati dan selalu indah saat dipandang mata. Wanita yang mau menghabiskan hidup---yang penuh dengan suka dan duka ini---bersamanya. Wanita yang selalu berhasil meluluhlantakan perasaannya dalam setiap saat. Dia adalah bidadari yang begitu Ali cintai. Bidadari surga yang telah melahirkan kebahagiaan di tengah keluarga kecil mereka.


Tak tega melihat istrinya meringkuk kedinginan di atas sofa tersebut. Ia lantas mendekat dan segera menyelimuti tubuh istrinya dengan penuh sayang. Detik berikutnya, ia pun melayangkan sebuah kecupan tepat di atas kening Husna.


“Terima kasih, sudah mau menemaniku sampai detik ini. Meski apa pun yang akan terjadi nanti. Tetaplah seperti sekarang. Aku sangat mencintaimu, istriku,” bisik Ali sambil mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut. Karena terlalu lelah, ia akhirnya tertidur dalam keadaan duduk bersandar sofa.


Bersambung

__ADS_1


----


__ADS_2