Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 12. Dendam Kesumat


__ADS_3

[NB : Semua episode akan direvisi setelah cerita selesai. Jadi, harap maklum bila menemukan typo, pemborosan kata dan semacamnya. Terima kasih]


***


Syifa itu gadis yang ngeyel. Bahkan, sangat ngeyel. Dia akan selalu merengek sampai keinginannya terwujud. Tak peduli, jika dirinya sendiri kesulitan karena hal itu. Seperti hari ini, sambil duduk di kursi roda, ia nekat pergi ke kamar pasien Aya dengan bantuan dari abinya, Ali.


Betapa sedihnya hati Syifa manakala sepasang netranya mendapati sosok yang tak asing itu tengah terlelap di atas pembaringannya. Wajahnya yang pucat itu menunjukkan seribu duka dan nestapa yang tak berkesudahan. Hanya dengan melihat kehidupan sehari-hari Aya di sekolah … tahulah ia, jika gadis itu sudah banyak menderita dan kesepian tanpa teman di sisinya. Bahkan, tak cukup sampai di situ saja. Begitu banyak pandangan merendah dan juga ketidaksukaan yang setia menghunjam hati dan juga akalnya setiap saat.


“Ummi,” panggil Syifa dengan suara yang lemah, meski begitu Husna langsung menoleh ke arah putrinya tersebut.


“Syifa.” Husna yang kaget lantas menghampiri Syifa yang tengah didorong oleh suaminya dengan menggunakan kursi roda. “Kamu ngapain ke sini? Ummi, ‘kan, udah bilang … kamu harusnya istirahat dulu,” sambung Husna berakhir dengan sebuah omelan yang panjang.


“Ummi. Syifa baik-baik saja. Ummi jangan marah sama Abi, ya. Karena Syifa yang meminta Abi untuk mengantar Syifa kemari. Syifa benar-benar khawatir dengan keadaan Aya. Bagaimana dengan keadaannya sekarang?” tanya Syifa sambil memandang wajah Aya yang pulas dalam tidurnya.


Mendapati Husna---istrinya---mendaratkan pandangan ke arahnya, Ali lantas mengangguk pelan. Ia memberi isyarat pada Husna untuk memberikan izin pada anak mereka untuk menemui Aya. Lagipula, keadaan Syifa sudah lebih dari sekadar baik saat ini.


Husna lantas mengangguk. Dia akhirnya mengalah dan mengizinkan Syifa untuk menjenguk Aya. Bahkan, dia sendirilah yang mengantarkan Syifa dengan mendorong kursi rodanya. Kini, jarak Syifa dan Aya hanya berkisar beberapa sentimeter saja.


Tak ada kata yang mampu terucap dari bibir Syifa. Dia hanya diam sambil memandang wajah Aya dengan berlinang air mata. Otaknya turut berkelana pada mimpi buruk beberapa saat yang lalu. Walaupun mimpi itu hanyalah bunga tidur semata, namun rasanya begitu nyata. Terlebih lagi yang sedang terjadi dengan Aya saat ini, telah membuktikan kebenaran mimpi tersebut. Lalu, apa yang akan Syifa lakukan untuk menyelamatkan Aya?


“Ummi. Ummi sudah menghubungi orang tuanya Aya?” tanya Syifa kemudian.


Husna lantas menggeleng dan menjawab, “ Ummi tidak tahu nomornya. Ummi juga lupa membawa HP Aya karena terlalu panik.”


Syifa menghela napas dengan lemah. Jika dia tidak dalam keadaan seperti ini, sudah pasti ia yang akan pergi untuk mengambil gawai Aya.


“Kalau begitu, aku yang akan pergi ke kosannya Aya,” kata Laila menawarkan diri.


“Apa tidak apa-apa, Laila?” tanya Syifa merasa tak enak hati karena harus membuat Laila kerepotan gara-gara dirinya.


Laila menggeleng pelan. Dia malah mengulas senyum dan berkata dengan lirih, “Aku tidak keberatan sama sekali, Syifa. Semoga saja, aku bisa menebus semua kesalahanku sebelum ini.”


Sudut-sudut mata Syifa tampak menyipit. Pertanda, jika gadis itu sedang mengulum senyumnya saat ini.


“Terima kasih, Laila,” ucap Syifa beberapa saat kemudian.


Tanpa membuang-buang banyak waktu lagi, Laila lantas bergegas pergi---meninggalkan Syifa bersama dengan orang tuanya dan juga Aya yang masih belum sadarkan diri.


Tak lama setelah Laila pergi, Syifa mengajak abi dan umminya untuk berdiskusi.


Kira-kira, apa yang sedang mereka bicarakan sepeninggal Laila?


***


Asya selalu berdoa dalam tiap-tiap sujudnya yang panjang. Semoga Allah melembutkan hati Aya dan mau memaafkan segala ketidakbecusannya sebagai seorang ibu.


Sudah begitu banyak air mata yang tak mampu terbendung sudut-sudut matanya yang telah sembab. Setiap tetesan jatuh, kemudian menjelma menjadi rasa rindu yang terpatri di dalam hatinya. Dan setelah menunggu untuk waktu yang cukup lama ... akhirnya, Allah pun mengabulkan do'anya.


Tak ada angin, tak ada hujan. Mendadak, Aya menelponnya dan meminta ia untuk segera menjemput.

__ADS_1


Antara senang dan sedih, Asya pun mengiyakan permintaan anaknya tersebut. Dia segera pergi setelah meminta izin pada atasan-tempat ia bekerja. Syukurlah, atasannya tersebut mau mengerti dan memberikan ia cuti selama satu hari.


Selama perjalanan menuju ke rumah kontrakan Aya. Asya tak henti-hentinya memikirkan motif di balik keinginam Aya untuk kembali pulang.


Ini terlalu cepat bagi Asya. Karena ia sempat berpikir, bila putrinya tersebut akan selalu tinggal sendiri sampai lulus kuliah nanti.


Apakah Aya mengalami kesulitan selama berada di sana?


Apa ada seseorang yang sudah mengusik putrinya sampai ia tak betah tinggal di sana?


Pertanyaan-pertanyaan di atas benar-benar mengganggu konsentrasinya selama mengendari mobil pribadinya. Namun untunglah, Asya masih mampu mengendalikan diri dan mengemudi kendaraan roda empatnya dengan baik dan selamat sampai tujuan.


Setelah mobilnya memasuki area indekos elit tersebut, lalu disusul dengan memarkirkaan mobil yang ada di pelataran samping pos keamanan. Asya lantas melenggang pergi ke kontrakan Aya. Ia benar-benar tak sabar untuk membawa putri kecilnya pulang---kembali ke rumah mereka.


Berhenti sejenak. Mengatur napas yang tak karuan karena saking bahagianya. Namun, saat ia membuka pintu bernomor 12 itu. Ia hanya mendapati ruangan yang gelap dan hampa seperti biasanya.


Tidak. Ini agak sedikit berbeda. Sebab di depan pintu kamar Aya terdapat beberapa tumpuk kardus yang sudah siap dibawa.


"Assalamu'alaikum, Aya. Mama sudah sampai ini," ucap Asya yang mulai menjejak masuk selangkah demi selangkah.


"Wa'alaikumussalaam," jawab seseorang dari balik kegelapan.


Tapi, tunggu dulu!


Asya merasa sedikit aneh dengan suara wanita yang baru saja ia dengar tadi. Suaranya sangat berbeda dengan suara Aya.


Tak ingin dipusingkan oleh pertanyaan-pertanyaan lainnya, ia lantas bertanya untuk memastikannya secara langsung.


Wanita itu berjalan dari kegelepan. Membuat aura di sekitar Asya menjadi terasa aneh dan suram. Saat wanita tersebut menunjukkan jati dirinya ... ternyata, dia adalah Laila.


"Kamu siapa? Di mana Aya? Ke mana anak saya?" tanya Asya lagi.


Laila memandang hampa pada Asya yang berdiri---dengan wajah diluputi kebingungan---di depan gadis itu.


"Kamu lupa padaku, Asya?" ucap Laila dengan suara yang sedikit sesak dan berat.


"Aku bahkan tak kenal denganmu!" ucap Asya dengan sekujur tubuh yang mulai merinding.


"Hahaha!" Wanita itu tertawa dengan sangat keras hingga menimbulkan gema di segala penjuru ruangan minim cahaya ini. "Dasar wanita j*lang kamu! Kamulah yang sudah membuatku menjadi seperti ini! Kamu pula yang sudah menghancurkan mimpi dan kebahagiaanku! Kamu rebut Mas Danu dariku dan kamu malah bersenang-senang di atas penderitaanku! Tak ingatkah kamu dengan perbuatan bi*dabmu dulu!"


Deg!


Mata Asya membelalak seketika. Bibirnya kaku dan jantungnya berdetak hebat. Tubuhnya bahkan mulai gemetaran dengan hebat. Bersamaan dengan itu, kilasan masa lalu hadir menyapa pikirannya.


"Ka--kamu. Apa kamu Mega?" tanyanya dengan suara yang terbata-bata.


"Hihihi." Dia tertawa lagi. Kali ini, tawanya diselingi tangisan yang begitu memilukan. "Rupanya, kamu masih ingat denganku, Asya."


"Apa maumu sebenarnya? Di mana anakku sekarang? Jika kamu macam-macam dengannya, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!"

__ADS_1


"Kamu mau membunuhku?" Kali ini, dia tertawa sumbang. Seolah perkataan Asya hanyalah sebuah lelucon belaka. "Aku ini sudah lama mati, Asya. Jadi, bagaimana bisa kamu membunuhku, hah? Apa mungkin ... kamu akan membunuh anak ini juga?"


Mangsa yang selama ini ia tuju adalah Asya dan Danu. Bukan, Aya. Gadis itu hanyalah sebagai jalan lebar bagi makhluk bernama Mega itu untuk mencapai jalan dan tujuannya ... yaitu membalaskan dendam dengan membuat mereka semua lenyap dari muka bumi ini. Dan sekarang---setelah belasan tahun yang terlewati---akhirnya, ia bisa membalaskan dendam itu dengan mudah.


"Oh, ya. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu, sebelum aku menghabisi nyawamu. Selama ini, akulah yang sudah menghasut Aya untuk membencimu. Kamu tahu, aku sangat senang setiap kali melihatmu menderita karena tak pernah mendapatkan pengakuan dari Aya," beritahu makhluk itu untuk apa yang telah ia perbuat selama ini.


"Jadi. Kamulah yang sudah membuat Aya begitu membenciku. Kamu benar-benar tak punya hati Mega!" teriak Asya penuh dengan emosi yang memuncak.


"Tak punya hati! Kamulah yang tak punya hati!" Jeritan Mega membuat kaca-kaca di sekelilingnya retak.


"Mas Danu tidak memilihmu itu bukanlah kesalahanku. Karena memang, kamu itu sangat egois dan hanya memanfaatkannya saja untuk kepentingan dirimu sendiri. Lagipula, aku tak pernah merebut siapapun darimu, karena mas Danulah yang memilihku untuk menjadi istrinya! Jikapun kamu mati, itu adalah kesalahanmu karena sudah memilih untuk mengakhiri hidupmu sendiri!"


Makhluk itu diam. Namun, tatapannya begitu menusuk tajam. Ia tak terima dengan perkataan Asya yang demikian. Karena cintanya pada Danu sangatlah tulus. Jika dia meminta banyak hal pada lelaki tersebut, itu dikarenakan pikirannya yang mengatakan, bila Danu sangat mencintainya dan mereka pasti akan menikah.


Sekarang ataupun nanti, itu sama saja. Harta Danu akan tetap menjadi miliknya juga. Meskipun Danu menolak untuk memberi, ia tak pernah mempermasalahkannya sama sekali. Tapi nyatanya, Danu tidak pernah mempermasalahkannya selama mereka masih menjadi sepasang kekasih.


"Aku akan menghabisimu. Aku akan membuat anakmu menjadi yatim dan ikut merasakan hidup menderita tanpa orang tua di sampingnya!"


"Aya. Di mana Aya sekarang? Kamu bawa ke mana anakku?!"


"Aku tidak akan memberitahumu. Aku ingin kamu mati dalam ketidaktahuan yang menyiksa."


Setelah mengatakannya, wanita itu pun mendekat. Selangkah ia maju, selangkah pula Asya mundur. Saat ia hendak berlari ke arah pintu untuk meminta pertolongan, dengan cepat makhluk itu menjegal kaki Asya, hingga ia tersungkur.


Tak


Tak


Tak


Jarak mereka tinggal hitungan sentimeter. Kesempatan bagi Mega untuk menghabisi nyawa Asya. Namun, suatu keajaiban terjadi. Mendadak, tubuh yang Mega rasuki tak dapat digerakkan. Ternyata, Laila mampu melawan kekuatan Mega dan mengembalikan kesadarannya dengan cepat.


"Berhenti mengendalikanku, makhkuk sialan!" teriak Laila kemudian.


Kebingungan menyergap otak Asya. Membuatnya lambat merespon.


"Bu. Tolong segera pergi dari sini. Makhluk ini mengincar Ibu bukan saya. Saya akan mencoba untuk melawannya." Mendengar suara Laila mengajaknya bicara, Asya segera tersadar dari lamunannya.


"Tapi, Nak. Ibu tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja."


"Kalau Ibu peduli pada saya, cepat pergi dan minta pertolongan orang-orang. Dan, tolong ambil handphone saya di dalam tas yang tergeletak di sana," tunjuk Laila sambil melemparkan pandangan ke arah tas yang tergeletak tak jauh dari pintu masuk berada. "Tolong hubungi nomor Ummi Husna. Dan mintalah bantuan darinya."


Asya segera menurut. Dia segera bangkit dan pergi meninggalkan Laila. Tentu saja, setelah ia mendapatkan tas milik Laila.


Dengan langkah terburu-buru, Asya pergi ke luar dan meminta pertolongan pada mereka yang ia temukan. Syukurlah, banyak yang ingin membantunya untuk menolong Laila.


Tak lupa pada pesan Laila sebelumnya, Asya lantas menghubungi nomor Husna melalui gawai Laila.


"Halo. Dengan Ummi Husna. Apakah Anda adalah orang tuanya Laila?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2