Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 24. Rumah Syifa


__ADS_3

Mereka baru saja selesai mengerjakan salat berjama'ah. Setelah melakukan zikir dan memanjatkan doa dengan khusuk, keduanya langsung melepas mukenah dan melipatnya rapi sebelum dikembalikan ke tempatnya yang semula.


"Kita kerjain tugasnya di rumahku aja, yuk!" ajak Syifa dengan suara setengah berbisik karena salat untuk kloter kedua akan segera dimulai.


"Apa nggak apa-apa?" tanya Aya ragu. Sebab, dia tak pernah bertamu ke rumah siapapun selama ini.


"Nggak papa dong. Ummi pasti seneng banget kalo kamu dateng ke rumah."


Aya mematung sejenak. Dalam kediamannya itu, dia sedang menimbang-nimbang keputusan yang akan dia ambil. Setelah beberapa saat kemudian, ia pun setuju dengan ajakan Syifa untuk mengerjakan tugas di rumah gadis itu.


***


Sepulang sekolah.


Seperti biasa, Syifa dijemput oleh Husna. Betapa senangnya wanita itu saat tahu kalau Aya akan bertamu ke rumahnya. Dengan kedatangan Aya, rumah mereka akan jauh lebih ramai dari sebelumnya.


Dengan menggunakan kendaraan dua rodanya tersebut, Aya lantas mengikuti mobil Husna dari belakang.


"Inilah rumah sederhana kami," ucap Husna setibanya mereka di rumah mewah berlantai dua itu. Rumah yang sangat jauh dari kesan sederhana.


Aya hanya mematung dengan sejuta kagum yang menyentil hatinya. Dia tidak pernah membayangkan, jika rumah Syifa begitu besar dan megah seperti ini. Baginya, ini bukanlah sebuah rumah semata, melainkan istana kecil yang lebih dari cukup.


Sebagai tuan rumah yang baik, Husna mengajak Aya untuk masuk ke dalam dan meninggalkan motornya yang telah terparkir cantik di pelataran rumah yang luas.


Pertama kali menjejakkan kaki di rumah mewah ini, Aya langsung disuguhi dengan foto keluarga Syifa yang harmonis. Mereka terlihat sangat anggun dan elegan dengan pakaian adat sumatera yang mereka kenakan. Namun, ada sesuatu yang berhasil menarik perhatian Aya.


Di dalam tangkap gambar itu, memperlihatkan Husna dan Ali yang sedang menyandarkan tubuh di atas sofa dengan tangan yang saling bertautan. Sementara Syifa dan saudari kembarnya duduk di atas arm panel dengan salah satu kaki yang berjuntai.


Di bawah foto berukuran 10 R atau 25,4 x 30,5 cm terdapat bunga seruni putih di dalam vas yang serupa warnanya.


"Dia adalah Syafa, kakakku. Cantik, kan, sama kayak aku," celetuk Syifa memuji almarhumah sang kakak. Meskipun lara menyambangi hatinya kini, namun ia tetap berusaha menghibur diri dan tersenyum di hadapan Aya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa dalam hatinya setelah kepergian sang kakak.


Aya tahu bila Syifa sedang menipunya. Untuk menghargainya, Aya hanya bisa membalas perkataan gadis itu, bila Syafa memang wanita yang sangat cantik.


"Gambar ini diambil sebulan sebelum Kak Syafa tiada. Saat itu dia terlihat sangat pucat dan sendu. Namun, dia tetap saja keras kepala dan bersikukuh untuk mengambil foto keluarga kami. Kak Syafa tak pernah peduli meski keadaannya sendiri sedang tidak baik-baik saja."


Ada setitik bulir mengendap di sudut mata Syifa. Setiap kali ia mengingat saudari kembarnya itu atau membicarakan tentangnya, Syifa selalu merasakan sakit direlung hatinya. Namun, sesakit dan semenyiksa apa pun rasa kehilangan itu, Syifa beserta keluarganya harus tetap ikhlas pada takdir yang telah berkehendak.


Syifa yakin, bahkan sangat yakin, bila Syafa pasti bahagia di atas sana.


"Aduh. Jadi curhat, kan." Sembari mengucek matanya yang nyaris memerah, Syifa mencebik diri sendiri di hadapan Aya.


"Syifa," panggil Aya pelan.


"Iya?" Syifa langsung menoleh pada Aya.


Aya ingun memberitahukan Syifa perihal indra keenamnya yant bisa melihat sosok Syafa. Ya---meskipun sekarang dia tak mampu lagi melihat keberadaan Syafa. Tetapi, Aya masih ingat betul tentang sosok Syafa yang senantiasa hadir di sisi adiknya, Syifa. Bahkan, dia pernah menemui Aya di dalam mimpinya. Mimpi yang terjadi sehari setelah mereka bertemu di sekolah.


"Nggak apa-apa," sahut Aya tersengih malu. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahu Syifa. Biarkan ia menyimpannya terlebih dahulu, setelah mendapatkan waktu yang tepat, ia akan langsung menceritakannya pada Syifa. Ini lebih baik daripada harus menabur garam di atas luka yang sudah bernanah.

__ADS_1


"Kamu memang suka aneh gitu, ya?" ejek Syifa dengan alis yang saling bertautan. Sementara orang yang diejek hanya memperlihatkan giginya dengan membuka sedikit mulut.


"Syifa, Aya. Kenapa masih berdiri di sana? Ummi udah siapin camilan, lho!" seru Husna yang mendadak muncul dari balik dinding rumah ini.


Untung saja, jantung Syifa dan Aya itu menggantung kuat di tempatnya. Kalau tidak ... tak tahulah apa yang akan terjadi.


"Ummi, jangan kayak jailangkung gitu. Syifa sama Aya jadi kaget, kan," protes Syifa dengan kening yang mulai keriting.


"Kalian kayak serius banget. Lagi ngomongin apa sih?" Husna ikut nimbrung karena keponya yang terlampau besar.


"Ada deh. Ummi mau tahu banget atau mau tahu aja?" ujar Syifa yang merasakan hal sama seperti apa yang Aya rasakan tadi. Jika Syifa sampai memberitahu Husna, umminya itu akan terbawa perasaan untuk ke sekian kali.


"Bilang aja nggak mau kasih tahu," cebik Husna memanyunkan bibirnya. "Ayo masuk. Keburu makanannya dingin. Kalau perlu ganti baju dulu sana. Nggak tahan Ummi, liat kalian pake seragam kayak gini. Kayaknya gerah banget gitu."


"Tapi, Ummi. Aya nggak bawa baju ganti."


"Nggak apa-apa. Aya bisa pinjam sama Syifa. Kalau perlu ambil banyak-banyak dan nggak usah balikin lagi," seloroh Husna setengah serius.


"Tapi Ummi," sela Aya tak enak hati pada Syifa dan Husna yang terlampau baik padanya.


"Kalau Ummi udah bilang itu, turuti aja. Ummi nggak pernah mau denger yang namanya tidak atau tapi-tapian. Bisa-bisa, Ummi malah ngambek, lho. Bener nggak, Ummi?"


Husna hanya mengangguk.


"Nah. Bener, kan. Ayo kita ke kamarku. Nanti aku pilihkan baju yang bagus buat kamu," ajak Syifa sembari menarik tangan dengan lemah.


Syifa masih terus menarik lengan Aya untuk menaiki anak tangga yang terhubung langsung dengan kamarnya yang ada di lantai atas. Setibanya di pintu yang terletak di ujung lorong. Syifa segera membuka dan terlihatlah penampakan kamarnya dari luar sana.


Besar dan juga enak dipandang mata. Perpaduan antara warna biru langit, putih dan soft green membuat pemandangan kamar ini begitu nyaman. Penataan barang-barangnya juga sangat pas dan membuat kamar ini terlihat sangat luas.


Melangkahkan kaki dan masuk ke dalam kamar, Syifa meminta Aya untuk duduk terlebih dahulu sementara dirinya berjalan menuju ke sisi pintu yang letaknya tak jauh dari ranjang tidurnya yang super empuk.


Aya lantas menurut dan mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.


Dengan wajah yang berbinar-binar, Syifa menunjukkan seluruh isi lemarinya yang didominasi oleh gamis dan kerudung yang berwarna kalem.


Aya berdecak kagum dibuatnya. Dia sampai melongok karena tak memiliki beberapa set gamis di rumahnya. Gamis itu pun baru ia beli tadi malam.


"Kamu bisa pilih yang mana aja yang kamu suka, Ya," kata Syifa membuat lamunan Aya buyar seketika.


"Jangan Syifa. Aku tidak enak hati karena sudah menyusahkan kalian. Aku pakai seragam sekolah saja," elak Aya. Sebisa mungkin, ia menolak dengan lembut dan tak menyakiti hati orang yang dia tolak itu.


Yang namanya Syifa itu mana mau menyerah begitu saja. Dia bahkan melakukan sesuatu yang tak terduga. Gadis itu mengambil beberapa lembar gamisnya. Setelah itu, ia menyerahkan semua gamisnya tersebut pada Aya.


"Ini terlalu banyak, Syifa."


"Bagiku tidak."


"Syifa ...." Aya memelas agar Syifa tidak memaksanya.

__ADS_1


"Kalau kamu menganggapku seperti seorang sahabat dan saudara, kamu harus menerimanya," ancam Syifa masih tetap saja keras kepala.


Aya tidak punya alasan apa pun untuk bisa menolak permintaan Syifa. Jika dia semakin bersikeras menolak, maka itu hanya akan membuat Syifa tersinggung. Alhasil, Aya tak punya pilihan lain, selain menuruti permintaan Aya. Dialog mereka harus berakhir setelah kumandang azan sayup-sayup menyapa telinga. Mereka lantas membersihkan diri terlebih dahulu, dilanjutkan mengganti pakaian dan mendirikan salat sebelum mulai mengerjakan tugas sekolah.


***


Selesai mandi dan salat, Syifa dan Aya sudah bersiap-siap untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka. Di atas meja juga sudah tertata makanan dan minuman ringan yang belum disentuh sama sekali.


"Ini bagaimana, ya, Kak?" tanya Syifa sambil menunjukkan buku besarnya pada Aya.


Aya mengalihkan fokusnya, kemudian membaca soal yang Syifa tunjukan. Setelah mengerti, Aya pun menjelaskan maksud dari soal tersebut berikut dengan jalan dan hasil akhir yang didapat.


"Terima kasih, Aya" ucap Syifa, kemudian menyalin soal terakhir di atas buku PR-nya. Setelah selesai menyalin Syifa menutup bukunya dan menggeliat karena senang. "Uhh. Akhrinya selesai juga. Terima kasih, ya, Yak. Belajar bareng kamu ternyata semenyenangkan ini," sambungnya kemudian.


Aya tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mulai mengemasi buku-buku ke dalam tas punggung miliknya.


Selagi Aya sibuk mengemasi barang-barangnya, Syifa malah sibuk menyantap camilan yang sudah dihidangkan oleh umminya itu. Walaupun nasinya sudah mendingin, tapi lumayanlah untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan.


"Sebelum pulang, makanlah dulu camilannya, Aya," kata Syifa dengan punggung yang disandarkan di tepi ranjang.


Setelah selesai berkemas, Aya pun menikmati hidangan yang telah di atas meja. Selama makan itu, Syifa dan Aya saling bertukar cerita banyak hal. Salah satu topik pembicaraan mereka adalah kondisi Aya setelah melakukan ruqyah di pesantren Ar-Risalah.


"Oh, ya, Syifa. Ada satu hal yang membuatku penasaran sampai sekarang. Apakah ruqyah itu akan langsung bekerja hanya dalam satu kali percobaan?"


"Kalau menurutku, sih. Ruqyah itu tidak bisa dilakukan satu kali saja. Harus dilakukan berulang-ulang kali, bila perlu setiap selesai salat. Definisi Ruqyah syar'iyyah itu sendiri adalah bacaan-bacaan atau doa-doa yang dibacakan untuk perlindungan diri atau tawasul kepada Allah dengan mengharapkan hilangnya suatu penyakit dalam badan maupun batin. Doa tersebut bisa berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits tentang pengobatan atau doa yang dibaca dengan bahasa sendiri. Bacaan dan doanya pun harus dapat dipahami maknanya. Doa tersebut hanya ditujukan kepada Allah saja dengan harapan Allah menyembuhkan segala penyakitnya," terang Syifa dengan panjang lebar.


Aya mengangguk paham. Penjelasan yang Syifa berikan berhasil masuk ke dalam otaknya.


"Jadi, aku harus ratin melakukan ruqyah mandiri juga?"


"Seratus persen, ya," jawab Syifa sembari mengacungkan kedua jempolnya pada Aya. "Kamu masih ingat cara-cara ruqyah mandiri, kan?"


"Masih."


"Terus. Kenapa wajahmu ditekuk kayak gitu? Apa ada yang sedang mengusikmu saat ini?"


Aya menggeleng.


"Lalu?"


"Sebenarnya ... semalam, aku mimpi bertemu dengan Mega."


Syifa sontak tersendak setelah mendengar perkataan Aya. Karena panik, Aya langsung memberikan air minum pada gadis itu. Syifa lantas menerima gelas minum tersebut, lalu menenggak isinya sampai tersisa setengah lagi.


Rasa kesal bercampur penasaran mendadak muncul di pikirannya. Syifa ikut merasa bingung. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Aya? Apa yang membuat gadis itu begitu sulit untuk lepas dari makhluk menyebalkan bernama Mega itu?


**Bersambung


*Revisi setelah naskah selesai**.

__ADS_1


__ADS_2