Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 16. Diskusi Antara Orang Tua


__ADS_3

Mata Asya tak bisa berhenti untuk terus mengeluarkan cairan bening itu. Hatinya turut teriris-iris dan sesak saat mengetahui kondisi Aya yang ternyata tidak sedamg baik-baik saja. Tahulah ia sekarang, jika selama ini Aya hanya menjalani hidupnya dengan banyak menyimpan penderitaan. Dan penyebab dari semua itu adalah perceraian yang terjadi antara dirinya dan Danu, mantan suaminya.


Bukannya sadar dan segera memperbaiki diri, dia malah larut dalam pekerjaan hingga lupa untuk memberikan kasih sayang cukup pada putrinya, Aya. Dia terlalu percaya diri dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Baginya, mengumpulkan materi dan memenuhi kebutuhan Aya adalah sesuatu yang harus dilakukan sebagai seorang wanita yang merangkap menjadi ibu sekaligus ayah untuk putrinya.


Waktu tak dapat diputar kembali dan semua perbuatan serta kebodohannya di masa lalu juga tak dapat diperbaiki lagi. Tak ada yang bisa Asya lakukan, selain menyesali apa yang sudah menjadikannya buruk di mata Aya.


Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir wanita itu. Dia hanya diam dan terus mengelus rambut putrinya dengan lembut. Air mata yang mulai menganak sungai itu menjadi saksi bisu betapa sedihnya perasaan Asya saat ini.


“Mbak Asya,” panggil seorang wanita yang sejak tadi berdiri di samping Asya. Sebagai seorang ibu, dia juga bisa merasakan apa yang Asya rasakan saat ini. Karena itulah, dia memilih untuk membiarkan Asya meluapkan semua perasaan yang terpendam dalam hatinya. “Saya tahu, Mbak sedang sedih saat ini. Tapi, ini bukan waktu yang tepat untuk meratapi apa yang sudah terjadi. Karena ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan sebelum semuanya terlambat. Mari ikut saya, Mbak. Ada yang ingin kami diskusikan bersama dengan Mbak,” sambung Husna berusaha menyampaikan maksudnya dengan lembut.


Sebelum Asya pergi---mengikuti Husna---ia tampak melayangkan sebuah kecupan tepat di kening putrinya. Setelah itu, ia pun bangkit dan meninggalkan Aya bersama dengan Syifa dan juga Laila.


“Ummi titip Aya bersama kalian, ya. Sebentar lagi Ummi akan kembali,” pesan Husna pada Syifa dan juga Laila.


“Iya, Ummi,” balas keduanya secara bersamaan.


Husna menyunggingkan senyumnya. Membelai pucuk kepala Syifa dan juga Laila secara bergantian. Setelahnya, ia pun bergegas pergi bersama dengan Asya untuk suatu urusan. Urusan yang sangat penting dan melibatkan orang tua dari ketiga remaja putri tersebut.


Tidak jauh berbeda dengan Aya yang saat ini sedang tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Syifa dan juga Laila juga dalam kondisi yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


Keadaan Syifa memang jauh lebih baik setelah tak sadarkan diri pasca serangan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Meskipun begitu, ia diminta untuk tetap istirahat total sampai keadaannya benar-benar bisa dikatakan pulih seperti sedia kala.


Sementara Laila, mentalnya sedikit terganggu saat ini. Dia cukup merasa syok dan sangat terguncang setelah apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu. Bagaimana tidak. Seumur hidupnya, baru kali ini ia menghadapi makhluk dari dunia lain. Untung saja, dia diselamatkan lebih cepat. Jika tidak … entah apa yang akan terjadi padanya? Dia bahkan tak mampu memikirkannya.


***


Di ruang kerja Ali, semua orang sudah duduk berkumpul untuk membahas perihal penyerangan yang terjadi pada ketiga putri mereka. Penyerangan yang terjadi ini sudah keterlaluan dan melewati batas. Jika mereka tak segera mengambil tindakan, anak-anak mereka bisa saja menjadi korbannya.


“Saya tidak ingin menghakimi siapapun dalam kondisi seperti ini. Akan tetapi, saya butuh penjelasan dari kalian mengenai Laila dan juga Aya,” kata Ali memulai topik pembicaraan antar orang tua itu.


“Apa perlu aku memberitahumu semuanya, Dokter? Jika Laila itu adalah anak yang sangat kami banggakan. Selain pintar, dia juga sangat penurut. Dia tidak pernah menuntut atau membantah perkataan kami sekali pun,” jawab seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu.


“Apa yang istri saya katakan itu benar. Laila adalah anak kami dan kami sangat menyayanginya. Untuk apa hal seperti ini dokter tanyakan pada kami? Apa yang sebenarnya ingin dokter ketahui?” cecar Reino dengan angkuhnya.


Ali hanya tersungging tipis. Sedikit banyaknya, ia sudah bisa menarik kesimpulan hanya dengan mendengarkan perkataan yang disampaikan oleh Nike, selaku orang tua dari Laila. Tanpa menjawab pertanyaan pria itu, Ali langsung beralih pada Asya yang sejak tadi hanya diam, tak bersuara.

__ADS_1


Dia bertanya, “Kalau boleh saya tahu. Apa yang Anda ketahui tentang putri Anda, Mbak Asya.”


Asya hanya bergeming dengan mata yang memandang lurus ke depan dengan hampa. Ada begitu banyak perasaan yang berkecamuk dalam hatinya saat ini. Perasaan sedih dan kesalnya karena tak becus menjadi seorang ibu.


“Mbak Asya.” Ali memanggil nama wanita itu sekali lagi.


Akan tetapi, dia tetap diam, seolah tak mendengar panggilan pria itu sama sekali.


“Mbak Asya.” Kali ini, giliran Husna yang memanggil Asya. Saat Husna menyentuh pundak wanita itu dengan lembut, ia langsung sadar dari permenungannya.


“Maafkan saya. Saat ini, pikiran saya tidak bisa tenang. Saya tidak  bisa berpikir dengan jernih saat ini.”


“Tidak apa-apa, Mbak. Sebagai orang tua, saya sangat mengerti dan sangat memahami posisi Mbak saat ini. Terlebih lagi, Mbak baru saja mengalami hal yang tidak terduga. Rasanya, wajar saja, jika Mbak merasa sangat terguncang dan kebingungan," maklumnya.


Adalah hal yang wajib bagi seorang psikoterapi untuk membangun kedekatan dan komunikasi dengan pasiennya. Dia tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat beban psikologi pasiennya bertambah.


“Kalau Mbak belum siap untuk bercerita, saya tidak akan memaksa Mbak untuk mengatakan apa pun. Karena di sini, kita sedang mencari solusi atas permasalahan yang sedang kita hadapi," lanjut pria itu beberapa saat kemudian.


Husna yang seolah mampu menangkap kesedihan melalui jendela hati Asya, lantas mengelus punggung wanita itu dengan lembut. Sebagai seorang wanita yang merangkap menjadi seorang ibu, dia sangat paham, arti dari sebuah kehilangan. Ia telah kehilangan perhatian dan juga cinta dari putrinya.


"Cahaya Zahira Marwah. Saya sangat menyayanginya. Dia adalah satu-satunya buah hati yang lahir dari rahim saya. Apa pun akan saya lakukan untuk bisa membuatnya bahagia. Bahkan setelah perceraian saya dan mantan suami saya terjadi, saya masih tetap sombong dan berpikir---jika saya mampu untuk memenuhi kebutuhan Aya. Entah itu kebutuhan materi ataupun kasih sayang yang cukup ...." Asya tak mampu untuk meneruskan perkataannya lagi. Dadanya mulai terasa sesak dan nyeri. Ia tak lagi mampu menahan bendungan air matanya.


"Saya sudah tahu titik dari permasalahan dari Ananda Cahaya dan juga Ananda Laila. Tapi sebelum saya menjelaskannya dengan rinci, saya ingin meminta maaf sebelumnya pada Tuan dan Nyonya Reino serta Mbak Asya. Mungkin, apa yang akan saya jelaskan ini tanpa sengaja membuat kalian tersinggung. Maka dari itu, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya."


"Tolong, jangan bertele-tele, Dokter! Kami tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal yang sepele, seperti ini," celetuk Nike membuat semua mata tertuju padanya, kecuali mata suaminya sendiri.


"Baiklah. Saya akan mulai pada Laila," ucap Ali mengalah. Untuk menghadapi orang semacam Nike dan Reino tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran berlebih untuk tetap berada pada jalur kewarasan.


"Jika dilihat dari sikap keseharian Laila dan juga dari perkataan Tuan dan Nyonya tadi. Saya menarik kesimpulan, jika Tuan dan Nyonya suka membanding-bandingkan Laila dan saudaranya. Apa benar begitu?"


"Itu tidak mungkin, Dokter. Bagaimana mungkin kami membandingkan anak-anak kami seperti itu?" elak Nike, karena ia tetap merasa tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali.


Lagi-lagi, Ali hanya tersenyum miring. Sebagai seorang psikiater yang berpengalaman, dia sudah cukup lihai dalam membaca gestur dan mimik seseorang yang sedang berbohong padanya.


"Jika saya salah ... saya akan minta maaf. Tapi faktanya, Laila selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain. Dan Laila sendiri telah mengakuinya pada saya."

__ADS_1


Skak!


Nike terdiam dan tak bisa mengelak lagi. Entah mengapa ia jadi merasa malu dan tak mampu lagi untuk membuka suara?


"Harusnya Nyonya dan Tuan tahu. Membandingkan anak itu tidaklah baik. Tidak peduli apa pun alasannya. Karena anak itu adalah titipan Allah. Allah telah memberikan keistimewaan tersendiri pada mereka. Biarkan mereka berkembang dengan potensi yang mereka miliki dan teruslah berikan dukungan agar dia bisa percaya diri dengan kemampuan yang ia miliki. Anak-anak yang terbiasa dibandingkan rentan untuk merasa stres, rasa percaya dirinya rendah, tidak bisa menghargai dirinya sendiri, menghindari situasi sosial antara kedua orang tuanya sendiri, sampai akhirnya ia membangun prilaku yang tidak bersemangat untuk menggali potensial dan bakat yang murni ada dalam dirinya. Kemudian, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang ragu dengan dirinya sendiri, hingga terjadilah kecemburuan dan juga kebencian yang dapat memicu perselisihan dengan saudara kandungnya sendiri. Yang lebih parahnya lagi, dia akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mudah cemas dan gelisah," papar Ali dengan sedetail mungkin. Dia hanya bisa memberikan nasehat saja. Selebihnya, biarkan Allah yang bekerja. Karena, hanya Allah sahajalah yang memegang dan membolak-balikkan setiap jiwa hamba-Nya.


Sepasang suami istri tersebut hanya bungkam dan saling melemparkan pandangan. Jika dilihat dengan saksama, ada semburat penyesalan yang terbit di wajah mereka. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ali berharap, semoga Allah membukakan mata dan hati sepasang suami istri ini. Mereka terlalu sibuk mencari materi duniawi, hingga lupa untuk memberikan bekal akhirat pada putrinya sendiri.


Sepertinya mereka mulai sadar, jika selama ini, mereka sudah dibutakan oleh rasa hormat, cinta dunia, dan juga kemilau harta. Bahkan, sampai detik ini pun, tak ada momen yang berhasil tercipta di antara keluarganya. Mereka memang tinggal dalam satu atap yang sama. Tapi soal hati dan hubungan, mereka layaknya seorang yang asing dan tak saling mengenal.


Mereka pikir, dengan adanya harta semua akan menjadi mudah. Siapapun akan bertekuk hormat dan mengaku menjadi saudara dekat. Apa pun yang diperlukan tinggal gesek dan semuanya kelar. Akan tetapi, semua perkara tidaklah semudah itu. Uang tak selamanya menjadi bermanfaat jika ditempatkan pada situasi yang salah. Dan sejak awal mereka sudah keliru mengenai dunia dan segala kemegahannya yang menyilaukan mata.


Reino dan Nike mungkin telah membanjiri anak-anak mereka dengan uang, gelar dan juga popularitas yang membanggakan. Namun mereka lupa, bila ada hal yang lebih penting dari seonggok kertas penista itu. Mereka lalai untuk memberikan kasih sayang dan bekal akhirat yang cukup.


Harta, popularitas, dan jabatan. Ketiga perkara itu tidak bisa dibawa mati. Namun berbeda dengan tiga perkara yang lainnya. Dan ketiga perkara tersebut ialah, ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah dan anak yang salih/salihah.


Lalu, sudahkah mereka memiliki ketiganya?


"Dan untuk Mbak Asya. Saya tidak bisa menyalahkan Mbak sepenuhnya dalam kasus yang terjadi pada Cahaya. Gadis itu sudah lama menderita sejak perceraian Mbak dan juga suami Mbak. Sebagai seorang anak dia sangat terluka dengan perceraian tersebut. Terlebih, saat ia tak lagi mendapatkan curahan kasih sayang yang sama seperti sebelum perceraian itu terjadi. Mantan suami Mbak lebih sibuk dengan kehidupan barunya. Begitu pula dengan Mbak yang lebih sibuk untuk memenuhi kebutuhan jasmani Ananda Cahaya. Ini sangat berbahaya, Mbak. Karena anak itu adalah jiwa yang rapuh. Dalam lubuk hatinya, dia membutuhkan dua sosok yang sangat berperan dalam hidupnya. Satu sosok yang tegas, kuat dan sanggup untuk mengarahkannya pada jalan yamg benar. Di samping itu, ia juga harus mampu menjaganya dari segala macam bahaya yang mengintai. Sementara sosok lainnya, adalah kebalikan dari sosok yang pertama. Dia harus lembut, penuh kasih sayang dan mampu membawanya pada kenyamanan saat bersama dengan sosok yang satu ini. Jika diibarakan seperti pegangan, Cahaya merasa sudah kehilangan pegangan dalam hidupnya. Dan hal ini sangat berdampak negatif bagi perkembangan dan kesehatan mental anak. Perceraian yang terjadi pada orang tuanya dapat menyebabkan anak merasa kehilangan peran penting keluarga di hidupnya, merasa stres, tertekan, hingga merasa dirinya yang menjadi penyebab perpisahan tersebut."


Asya tak mampu berkata-kata lagi. Dia hanya menangis dan terus meneteskan air mata penyesalannya. Bahkan, dia sampai mengutuk dirinya sendiri yang tidak becus sebagai orang tua. Buah hati yang malang itu harus tumbuh menjadi gadis yang pemurung dan kekurangan akan kasih sayang.


Siapapun bisa menjadi wanita yang baik.


Siapapun bisa menjadi istri yang baik.


Tapi, tak mudah untuk menjadi seorang ibu yang baik. Terlebih lagi, jika harus menyandang gelar sebagai ibu tunggal dalam mendidik anaknya. Kadang mereka harus merelakan satu dari dua hal yang sangat penting bagi mereka. Antara limpahan materi atau kasih sayang yang cukup ... yang manakah yang akan dia pilih?


Jika dia memilih keduanya. Maka dia akan menjadi orang tua yang serakah dan juga egois. Karena hakikatnya manusia itu, hanya mampu fokus pada satu hal saja. Sementara yang lainnya, akan terabaikan tanpa disengaja dan disadari.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya tidak ingin kehilangan putri saya," ucap Asya dengan berlinangan air mata. Bibirnya bahkan gemetaran saat mengutarakan ucapannya pada Ali.


"Tolong bantu kami juga Dokter Ali. Kami ingin memperbaiki kesalahan kami selama ini. Kami sangat menyayangi Laila. Kami tidak mau menyesal pada akhirnya," celetuk Nike yang disetujui oleh suaminya.


"Sebenarnya, saya punya solusinya," kata Ali sambil memandang ke arah istrinya. Dan Husna tampak membalas dengan menyunggingkan senyumnya yang manis.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2