Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 23. Cahaya Hijrah


__ADS_3

Bakda Asar, mereka kembali ke kota. Meskipun Fajri  telah meminta pada mereka untuk menginap dan tinggal di pesantren sampai besok pagi. Namun, mereka semua menolak dengan halus. Bukan karena tak mau, hanya saja, ada begitu banyak pekerjaan dan urusan genting yang telah menanti untuk diselesaikan.


Akhirnya, mereka pun pulang setelah berpamitan pada Fajri, Nada dan Huda, suaminya.


Selama di perjalanan kembali ke rumah, Aya terus memandang keluar jendela sembari menyunggingkan senyum dengan lebar. Dia merasa jauh lebih tenang dan bahagia dari sebelumnya. Seakan-akan, dia telah berhasil menemukan apa yang selama ini dia cari.


Mega. Makhluk itu tak lagi menampakkan diri di hadapannya.


Tidak.


Lebih tepatnya itu, Aya tak akan bisa lagi melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dengan segala rupa mereka yang beraneka ragam itu. Termasuk juga dengan sahabat-sahabat Aya. Kini, dia tak mampu lagi untuk melihat sahabat gaibnya.


Meskipun dia merasa sangat senang, karena telah terbebas dari Mega. Akan tetapi, dia tak bisa menutupi perasaan sedih yang tiba-tiba menyusup di dalam hati Aya.


"Ada apa, Aya?" tanya Asya seolah tahu dengan isi pikiran anak gadisnya itu.


Aya langsung menoleh pada Asya. Mamanya itu masih tetap fokus pada mengemudi mobilnya.


"Aya butuh pendapat Mama. Apa Aya boleh melanjutkan sekolah di sana sampai lulus?" tanya Aya yang penasaran dengan jawaban dari mamanya.


"Mama setuju saja. Asal demi kebaikan Aya dan Aya merasa nyaman di sana," usul Asya menyerahkan pilihan pada putrinya. Karena bagaimanapun juga, dia tak bisa memaksa Aya untuk dapat nenuruti kehendaknya.


Aya bergeming. Tatapannya lurus memandang jalan aspal yang berkelok. Sedetik kemudian, ia pun tersenyum manis. Senyuman yang telah ini menghilang selama waktu yang cukup lama.


***


Keesokan paginya, Aya tidak sabar untuk pergi ke sekolah dan bertemu dengan Syifa juga Laila. Aya tak henti-hentinya mematut diri di depan cermin yang memperlihatikan seragam yang baru dibeli tadi malam.


Semalam---setibanya di pusat kota---Aya menyempatkan diri untuk mampir ke mall terlebih dulu. Di sana, mereka membeli seragam dan rok yang panjang, lengkap dengan kerudung syar'ih-nya.


Aya sangat bahagia sekali dengan penampilan barunya yang sekarang. Begitu pula dengan Asya yang tak kalah bahagianya dengan perubahan drastis yang terjadi pada putri tunggalnya itu. Saking bahagianya, ia terus saja mengucapkan kata syukur pada Sang Khalik---Sang Penggenggam dan Pembolak-Balik hati manusia. Sebab Dia telah memberikan hidayah pada anaknya tersebut.


"Bismillah," gumam Aya sembari tersungging manis. Detik setelahnya, ia pun beranjak dan menyambar tas punggung yang tergeletak di atas kasurnya.


***


Baru saja Aya melintasi gerbang sekolah, dia sudah menjadi perhatian banyak orang. Sampai-sampai, ada yang berhenti hanya untuk melihat dengan jelas


... apakah yang ada di hadapannya ini adalah sesuatu yang benar?


Beberapa siswa yang ada di sana langsung terperanjat saat melihat Aya menyingkirkan helm yang menutupi kerudung putihnya.

__ADS_1


Tidak heran bila mereka kaget dengan perubahan Aya. Sebelumnya, gadis itu sangat misterius, jarang tersenyum, angkuh dan sekali bicara terkadang menyebalkan. Kemudian---setelah menghilang nyaris seminggu lamanya dan menyebarlah rumor yang mengatakan tentang kepindahannya ke sekolah yang lain---semua orang malah dibuat kaget dengan penampilan Aya saat kembali ke sekolahnya yang lama.


Tepat di saat yang bersamaan, Syifa dan Laila baru saja tiba di sekolah. Syifa masih setia diantar -jemput oleh umminya. Sementara Laila sendiri, sudah terbiasa mengendarai motor maticnya yang berwarna biru tua itu.


Mereka berpapasan dan saling menyapa.


"Maa syaa Allah. Senangnya hati dedek, melihat dua bidadari surga di depan mata," goda Syifa sembari tersenyum jail pada kedua sahabatnya itu. Raut kebahagiaan juga tampak terpancar jelas dari wajahnya yang manis itu.


Jangankan Syifa. Aya bahkan tak menyangka akan berhubungan akrab dengan Laila. Padahal, Laila itu beda kelas dari mereka sebelum ini. Bahkan, saat bersua muka pun mereka hanya saling melewati seperti orang asing. Terlebih lagi, Aya adalah salah satu orang yang sangat membenci Aya.


Tapi, setelah kejadian di dekat gudang itu, semuanya langsung berubah hanya dalam sekejap mata. Pertemanan mereka terjalin dengan diawali insiden tak terduga, kemudian berlanjut sampai sekarang. Laila bahkan mengikuti jejak Aya untuk mulai mengenakan kerudung dan seragam putih abu-abu yang panjang.


Berita tentang perubahan Aya dan Laila yang secara drastis, kini menjadi topik perbincangan yang paling hangat seantero sekolah. Tak ada yang luput untuk lepas dari memperbincangkan kedua gadis yang terkenal pandai itu. Dan tentu saja, jalan hijrah yang mereka tempuh akan menciptakan suatu pro dan kontra.


***


Bel tanda masuk sekolah telah lagi akan berbunyi. Sebentar lagi guru yang bertugas akan segera masuk ke kelas. Berulang kali Aya terlihat meremas tangannya. Dia gusar dan bimbang, apakah perlu melakukan semua ini?


Tiba-tiba saja, Aya merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Sontak, ia pun melemparkan pandangan pada Syifa yang sedang mengenggam tangannya erat. Sedetik kemudian, Syifa pun mengangguk pelan dengan satu senyuman yang tertarik di setiap ujung bibirnya.


Mendapat dukungan dan  semangat dari sahabatnya itu, Aya merasa jauh lebih baik. Ia lantas membalas senyuman itu dengan mengulum senyum yang sama.


"Sebelumnya, aku berpikir untuk tidak melakukan apa pun atau meminta maaf dengan siapapun. Karena rasanya percuma saja, jika kalian sangat membenciku. Tapi, ada seseorang yang berkata padaku, bahwa aku harus mulai menyingkirkan semua ego yang ada dalam diriku. Untuk itulah, aku berdiri di depan sini. Aku hanya ingin meminta maaf kepada kalian semua. Maaf, jika aku sudah berbuat salah atau membuat kalian jengkel," tutur Aya sembari menundukkan padangannya dengan rendah.


Seisi kelas mendadak sepi. Semua orang diam dan saling melemparkan pandangan satu sama lain. Syifa yang menjadi penonton bahkan ikut berdegup kencang menanti jawaban maaf dari teman satu kelas. Hingga, seorang perempuan berdiri dan langsung menghampiri Aya.


Setibanya di depan Aya. Gadis itu hanya diam dan ia pun mengulurkan tangannya pada Aya.


"Aku salut sama kamu, Aya. Kamu sampai melawan dirimu sendiri hanya untuk mendapatkan maaf dari orang lain. Padahal mungkin, kamu tidak salah dan orang lainlah yang terlalu menjengkelkan. Terima kasih, Aya. Kamu telah membuka mataku dan terimalah permintaan maaf dariku. Mari kita berteman," ujar Aira kemudian.


Aya memberikan senyumnya. Setelah itu, ia pun membalas uluran tangan gadis tadi dan menyambut ajakannya untuk mulai berteman.


Syifa ikut senang melihat pemandangan dari , karena Aya tak akan lagi merasa kesepian sekarang.


Melihat reaksi Aira yang demikian, serentak teman-temannya yang lain pun bangkit dan mendekat pada Aya. Mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan maat satu sama lain.


***


Waktu istirahat telah tiba. Syifa dan Aya akan pergi ke kantin untuk membeli sesuatu.


Tapi, baru saja kedua gadis itu. sampai di ambang pintu, mendadak ada yang memanggil mereka. Penasaran dengan siapa yang sudah memanggil, mereka lantas menoleh dan mendapati Aira mendekat bersama dengan dua temannya yang lain, yaitu Ika dan Desya.

__ADS_1


Syifa tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat ingatan beberapa minggu yang lalu berputar di otaknya. Ia ingat betul, saat itu mereka mengatakan hal buruk tentang Aya.


"Kalian mau ke kantin?" tanya Aira.


"Iya. Kalian juga mau ke kantin?" Syifa yang menjawab.


Aira mengangguk.


"Kalau begitu, bareng aja sama kita." Anjuran Syifa langsung disetujui oleh Aira. Tapi, tidak dengan dua sahabatnya yang masih terlihat kikuk. Mau bagaimana lagi? Soalnya, mereka sudah kepalang malu karena telah bergosip tentang keburukan Aya di depan Syifa.


"Ayo, kita pergi!" Aira menggandeng tangan Aya dan mengajaknya untuk segera pergi.


Sebelum melangkahkan kakinya, Aya memalingkan wajah ke belakang, kemudian berucap, "Kalian kenapa diam saja? Ayo, kita pergi bersama."


Sesaat setelah Aya mengatakannya, Syifa langsung merangkul lengan Desya dan Ika tanpa pamit. "Lupakan masa lalu. Mari kita berdamai dan mulai semuanya dari awal. Bagaimana?" kata Syifa setengah berbisik.


Mereka hanya menurut dan berjalan beriringan dengan Syifa.


Setibanya di kantin, mereka langsung mengedarkan pandangan untuk mencari meja yang kosong. Namun, edaran mata Syifa langsung terhenti saat menangkap seorang perempuan melambaikan tangan ke arah mereka.


"Ayo duduk bareng kita!" anjur Laila sedikit berteriak. Syifa dan yang lainnya lantas mendekat ke meja Laila.


Laila tidak sendiri. Saat itu, dia sedang menyantap makanan di kantin bersama dengan kedua sahabat baiknya.


"Kamu sudah di kantin saja," cibir Syifa seraya mengambil tempat duduk di kursi yang masih kosong.


"Mau bagaimana lagi? Soalnya, udah laper banget," balas Laila sambil nyengir kuda.


"Kamu pesen apa, sih? Kok baunya enak banget," ucap Syifa heboh sendiri.


"Ui. Beli sendiri sana. Jangan ngambil-ngambil punya orang," cebik Laila menyingkirkan mangkuknya dari ancaman Syifa.


Syifa mengulum bibirnya manyun. Ternyata, Laila tidak berubah seutuhnya. Dia masih kadang menyebalkan dan pelit.


"Jangan berantem terus Syifa. Kamu nggak mau pesan makan gitu?" timbrung Aya merasa kesal melihat tingkah Laila dan Syifa layaknya anak kecil. Sementara perutnya sendiri sudah keroncongan karena lapar.


Melihat Syifa dan Laila yang mendadak diam. Sontak saja, Aya tertawa puas disusul dengan teman-temannya yang lain, kecuali Ika dan Desya.


Laila dan Syifa berdecak kesal pada Aya. Lihatlah gadis itu sekarang ... dia sudah berani-beraninya menjaili mereka seperti itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2