
Bau kemenyan langsung menyapa hidung Mega saat ia memasuki rumah seorang dukun yang sudah terkenal akan kesaktiannya. Pemandangan yang menyapa netra juga tak kalah mengerikan karena ruangan berpetak itu hanya dipenuhi dengan tengkorak binatang, beragam jenis bunga segar, cok bakal, kendi, sesajen, boneka yang terbuat dari jerami, bermacam-macam dupa serta minyak wangi beraneka ragam jenisnya.
Sebenarnya, ia merasa sedikit takut untuk bertamu pada sang dukun. Akan tetapi, dendam yang sudah menjadi darah daging dalam hatinya, tak lantas membuat wanita itu mengurungkan niatnya begitu saja.
Ibarat kata ... dendam harus dibayar tuntas. Jika dia tidak bisa mendapatkan cinta Danu kembali. Maka orang lain tak boleh mendapatkannya juga. Apa pun akan Mega lakukan, meskipun ia harus membayar dengan harga yang mahal.
“Saya datang kemari, meminta bantuan Mbah untuk membalaskan dendam saya ...."
Lelaki parubaya dengan jenggot dan kumis yang menghiasi wajahnya tersebut langsung mengangkat tangannya ke arah Mega---sebagai isyarat bagi wanita tersebut untuk tidak banyak bicara.
“Saya sudah tahu, maksud dari kedatanganmu kemari,” ujar si mbah sambil membuka matanya dengan pelan. “Kamu mencintai seorang lelaki dan menginginkan dia untuk menjadi suamimu. Tapi, wanita lain malah merebutnya dari tanganmu. Untuk itu, kamu datang kemari agar bisa membalas dendam pada wanita tersebut.”
Mega mengangguk cepat. Dia tertegun dengan kelihaian si Mbah yang mampu membaca pikirannya.
“Saya akan bayar berapapun yang Mbah mau. Asalkan, saya bisa melihat perempuan itu menderita,” ujar Mega dengan antusias.
Si praktisi suprantural tersebut tampak mengangguk sambil mengusap-usap jenggotnya yang telah beruban. Dia kembali berkata, “Saya bisa saja membantumu cah Ayu. Tapi, bayarannya tidaklah murah. Karena resikonya sangat berat.”
“Seperti yang saya katakan tadi. Saya akan bayar berapapun yang Mbah mau. Asal wanita jal*ng itu menderita.”
“Walaupun taruhannya adalah nyawamu sendiri?”
“Iya. Saya juga akan menaruhkan nyawa saya asal Asya menderita,” ucap Mega dengan sangat yakin.
“Baiklah, kalau keputusanmu sudah bulat. Mbah akan membantumu dan kamu bisa melihat hasilnya besok,” tandas si Mbah yang langsung disambut seulas senyum dari bibir Mega.
Tak tahan berlama-lama di tempat tersebut, Mega segera undur diri setelah membayar beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu sebagai ucapan terima kasih pada si Mbah.
***
Benar kata orang. Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Seakan dalam hati tumbuh berkuncup-kuncup bunga yang siap mekar setiap saatnya. Perasaan itu bertambah menyenangkan manakala dia yang dicintai juga menaruh perasaan yang sama.
Seperti itulah yang Asya rasakan saat ini. Untuk pertama kalinya, ia jatuh cinta pada seorang pria yang sudah berhasil meluluhkan hatinya.
Bukan karena rupa, jabatan atau status yang Danu miliki. Melainkan kegigihannya lah yang membuat Asya merasa semakin yakin untuk melabuhkan hati pada pria berjanggut tipis tersebut. Asya berharap besar supaya Danu akan menjadi cinta pertama dan cinta terakhirnya. Cinta yang akan berakhir di tandu pelaminan.
Asya memandang ke atas langit yang semakin indah dengan sinar redup milik sang rembulan. Entah mengapa, hawa di sekelilingnya mendadak panas dan membuat Asya merasa tak nyaman? Detik berikutnya, ia mulai merasa gelisah dan gemetaran hebat. Hingga---
Dug!
Tiba-tiba saja, gadis berusia 22 tahun tersebut merasakan sesuatu merasuk ke dalam perutnya. Membuat gadis itu merintih kesakitan dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Saaakiiit!" teriak Asya sambil terus menekan rahimnya dengan kuat. Saking menderitanya ia karena rasa sakit tersebut, membuat gadis itu sampai berguling-guling di atas lantai kamarnya.
"Ibuuu! Ayaaaah! Tolong!" Teriakan Asya yang nyaring mengundang seisi rumah masuk ke dalam kamarnya.
"Ya Allah, Asya," sergah Kina---ibunya Asya---langsung memeluk putrinya yang sedang melawan rasa sakit.
"Tolong, Bu. Sakit! Perut Asya sakit! ARGH!" Asya kembali berteriak seperti orang yang kerasukan. Membuat keluarganya menjadi panik dan bingung harus berbuat apa.
Rasa sakit yang Asya rasakan tidaklah main-main. Rahimnya serasa sangat sakit seolah-olah ada sebilah keris yang menusuk dan menghantam perutnya secara berulang-ulang kali.
"Pak. Apa yang harus kita lakukan? Tolong Asya, Pak. Ibu nggak tega melihat Asya kesakitan seperti ini," ujar Kina ikut tersiksa melihat putrinya meringis kesakitan seperti itu.
"Bu. Sebaiknya, kita bawa Kak Asya ke rumah sakit," usul Fadhil yang turut panik melihat kondisi kakaknya saat itu.
Dengan cepat Anwar dan Fadhil segera membopong tubuh Asya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
***
Di rumah sakit, Asya terkapar sakit di atas ranjang pesakitan sebagai seorang pasien. Setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan, tak ditemukan sesuatu yang ganjal dari tubuh Asya. Dan hal itu, semakin membuat keluarga Asya bingung.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada putri mereka saat ini?
"Pak. Bapak jangan diam saja. Ibu nggak tega lihat Asya menderita seperti ini, Pak," ujar Kina yang tak bisa berhenti meneteskan air matanya sejak beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Bu. Ibu yang tenang. Kalau Ibu nggak bisa tenang seperti ini, Bapak jadi makin panik," ketus Anwar tak dapat berpikir dengan jernih.
Detik selanjutnya, sepasang suami istri tersebut saling diam. Membuat suasana di dalam ruangan berbau obat itu senyap saat itu juga.
Untuk menenangkan perasaannya yang kalut, Fadhil memilih untuk menjauh dan pergi ke mushola rumah sakit.
***
Keesokan paginya, Asya berangsur-angsur sadar. Walau rasa sakit di rahimnya belum juga hilang sampai sekarang. Meskipun begitu, ia cukup senang dan beruntung sebab kedua orang tuanya mau menemani Asya untuk melawan rasa sakit yang benar-benar menyiksanya tanpa tanggung. Paling tidak, Asya bisa lebih tenang karena masih bisa bersama dengan mereka di saat-saat yang sulit ini.
"Fadhil ke mana, Pak?" tanya Asya dengan suara yang lirih. Sejak ia bangun dari tidurnya, ia tak mendapati Fadhil---adik lelakinya---berada di sekitar ruangan tersebut.
Kina dan Anwar saling berpandangan. Setelahnya, Anwar menganggukkan kepala seolah menyetujui apa pun yang akan istrinya katakan pada Asyam
"Fadhil sedang ada kelas di kampusnya. Mungkin, siang nanti dia akan kemari," kata Kina terpaksa berbohong karena tak ingin membuat Asya sedih.
Entah di mana anak itu sekarang? Sejak malam tadi, Fadhil menghilang dan tak memberi kabar sama sekali.
"Maafin, Asya ... Pak, Bu. Asya sudah menyusahkan kalian," kata Asya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan bicara seperti itu, nduk. Ibu ikutan sedih kalau kamu bicara seperti itu. Anggap saja, ini semua ujian dari Allah. In syaa Allah, pasti ada jalannya. Sama seperti sakit. Penyakit itu juga punya obatnya. Kita cukup bertawakkal saja pada Allah. Banyak berdoa dan memohon kesembuhan dari-Nya." Nasehat yang sangat sejuk dan mampu membuat hati Asya merasa lebih baik dari sebelumnya.
Cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong bagi setiap hamba-Nya yang membutuhkan.
***
Sudah beberapa hari ini, Danu tak melihat Asya. Entah itu di masjid atau kantor---tempat gadis itu bekerja. Sementara rasa rindu dalam dadanya, setiap detiknya semakin mengganas. Bagaimana tidak. Lelaki tersebut sudah telanjur cinta pada wanita salihah itu.
Hal tersebut benar-benar menyiksa jiwa dan raganya. Menyebabkan ia tak enak badan, tak enak makan, bahkan mandi pun rasanya tak basah. Ah. Situasi yang benar-benar menyesakkan untuk seorang pria yang sedang jatuh cinta.
Di saat, ia sedang asyik merenungi sang pujaan hati. Mendadak, Mega datang dengan wajah yang semringah.
"Selamat sore, sayang," sapa Mega sembari duduk di kursi seberang---tempat dimana Danu sedang duduk menikmati senja.
Refleks wajah Danu mengerut. Dia sungguh terganggu dengan kehadiran Mega yang di waktu yang tidak tepat.
Sungguh, kedatangan Mega semakin memperburuk suasana hati Danu yang tengah ditimpa kegalauan.
"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Untuk apa kamu menemuiku?" Danu menyambut kedatangan Mega dengam dingin. Saking dinginnya, menoleh ke arah Mega pun dia enggan.
Terdengar tawa sumbang yang mengusik telinga Danu. Dengan sinisnya, ia pun membalas, "Kamu benar-benar keterlaluan Danu. Kenapa kamu jadi dingin seperti ini padaku? Apa kamu lupa, kita bahkan pernah bersenang-senang bersama malam itu."
"Sudahlah, Mega. Kamu sudah mendapatkan imbalan yang lebih dari cukup. Lagi pula, kamu itu masih cantik. Pasti ada yang mau denganmu."
"Mulutmu mudah sekali berkata, Danu. Kamu pikir, ada yang mau denganku setelah mengetahui jika kehormatanku sudah direnggut. Dan lelaki pengecut itu, enggan untuk bertanggung jawab."
"Jangan menyalahkanku saja! Salahkan dirimu yang tak bisa membuatku bertahan! Aku muak harus berpura-pura bahagia di depanmu. Dan lagi, itu semua sudah masa lalu. Aku ingin memperbaiki semuanya dan memulai hidup yang baru dengan ...."
"Gadis si*lan itu?"
Sontak Danu memandang wajah Mega dengan tajam. "Berhenti mengatakan hal yang bisa membuatmu menyesal nanti!" tegasnya.
Sambil menyungging sinis, Mega pun berkata, "Hidup yang baru dengan gadis lain, ya? Kamu hanya omong besar saja, Danu. Buktinya, kamu tidak tahu, 'kan, jika kekasihmu itu sedang sakit saat ini."
"Sakit?" Sentak Danu tak percaya dengan apa yang Mega sampaikan padanya.
Mega mengangguk.
"Jangan berbohong padaku, Mega!"
"Kalau kamu tidak mau percaya padaku, terserah. Kamu bisa membuktikannya sendiri."
Setelah mendengar penuturan mantan kekasihnya itu, Danu sontak bangkit dan mengangkat jari telenjuknya, tepat di depan wajah Mega.
"Jika kamu berbohong, aku akan membuatmu menyesal. Dan jika kamu benar dan kamulah yang menjadi dalang di balik ini semua. Maka tunggu saja, Mega. Akan kupastikan kamu menderita," ancam Danu sesaat sebelum ia pergi--meninggalkan Mega yang tertawa puas, penuh kemenangan.
__ADS_1
Sambil menopang dagunya, Mega berkata dalam hati. "Kita lihat saja. Siapa yang akan menyesal dan menderita? Aku atau kamu, Danu. Aku tidak sabar membuatmu menderita setelah melihat kekasihmu itu kesakitan dan mati secara perlahan."
***
Berlari dengan cepat. Menembus kerumunan orang-orang di lorong-lorong rumah sakit. Akhirnya, Danu sampai di ruangan---tempat Asya dirawat sejak beberapa hari yang lalu.
Langkah kaki Danu terhenti manakala ia mendapati Asya tengah berteriak dan memberontak seperti orang yang sedang kerasukan.
"Ibu! Bapak! Sakiit! Perut Asya sakiiit!" jerit Asya meronta-ronta kesakitan seperti sebelumnya.
"Istighfar, sayang. Ingat Allah!" bisik Kina sambil memegangi jemari putrinya yang tampak mengeras.
Seorang wanita berjas putih segera mengambil tindakan. Ia memberikan suntikan bius di lengan Asya. Hanya dalam waktu beberapa detik kemudian, Asya berhasil tenang dan terpejam dengan damai.
***
"Beberapa hari yang lalu, Asya tiba-tiba saja menjerit dan mengerang kesakitan di dalam kamarnya. Kami langsung membawanya ke rumah sakit dan selama itu pula, ia harus melewati beberapa rangkaian pemeriksaan untuk mengetahui keadannya lebih jauh. Tapi, sampai saat ini, kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Asya. Tidak ada rekam medis yang bisa menjelaskan rasa sakitnya itu." Anwar menjawab pertanyaan Danu saat pria itu menanyakan penyebab yang telah membuat Asya sampai seperti ini.
Danu menghela kasar. Dia tak pernah menyangka, jika gadis yang sangat ia cintai itu harus menderita seperti ini. Mendadak, dia teringat pada percakapannya dengan Mega beberapa saat yang lalu. Dia sangat yakin, kalau Mega-lah yang menjadi dalang dari ini semua.
Sebelum Asya semakin tersiksa akibat ulah Mega. Ia harus menemui gadis itu dan melakukan kompromi dengannha untuk menyelamatkan nyawa Asya.
Danu mengambil gawai yang tersimpan di dalam saku celananya. Setelah itu, tangannya tampak mengetik sesuatu di layar benda pipih tersebut.
[Di mana kamu sekarang?] tanya Mega melalui pesan singkat pada sebuah aplikasi berlogo telepon genggam.
[Masih di tempat yang sama.]
[Kamu jangan ke mana-mana! Aku akan segera ke sana!]
[Aku tunggu, sayang.] balas Mega dengan menyertai emot cium di ujung pesannya.
Tanpa membalas pesan dari Mega, Danu langsung menyimpan benda pipih itu kembali dan segera melenggang pergi ke kafe---tempat ia dan Mega bertemu beberapa saat yang lalu.
Setibanya di kafer tersebut, Mega langsung menyambut Danu dengan seulas senyum yang menghiasi bibirnya. Sedangkan Danu, pria itu hanya diam dengan raut wajah yang tak suka.
"Aku tidak menyangka. Kamu akan datang secepat ini, Danu," kata Mega sambil terus memandang mata Danu dengan lekat. Jika dilihat dengan jelas, masih ada cinta yang tersembunyi di dalamnya.
"Katakan padaku. Apa kamu yang sudah melakukan ini pada Asya?" tuduh Danu.
Mega tersenyum sinis. Dengan santainya, dia menyeruput kopi hangat yang ada dalam genggaman.
"Jangan asal menuduh orang seperti itu, Danu. Kamu bisa saja dipidana dengan kasus pencemaran nama baik, lho," ancamnya kemudian.
"Jangan bermain-main denganku, Mega!" bentak Danu sambil menggebrak meja dengan kuat hingga membuat semua pasang mata tertuju padanya.
"Tenanglah Danu. Duduklah sebentar. Apa kamu tidak lihat, mereka semua sedang memperhatikan kita?"
"Aku tidak punya waktu untuk peduli pada orang lain, apalagi harus mendengarkan omong kosong darimu! Kamu jawab saja pertanyaanku. Apa kamu yang sudah membuat Asya sakit!"
Mega mendesah kesal. Perhatian yang Danu berikan pada Asya benar-benar membuat hatinya sakit dan patah berkeping-keping.
"Jika aku yang melakukannya kamu mau apa? Dan, jika bukan aku yang melakukannya ... apa yang akan kamu perbuat?" Nada bicara wanita itu terdengar lebih serius dari sebelumnya.
Tanpa berpikir panjang, Danu mendadak berlutut di hadapan Mega. Dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca, ia memohon pada Mega. "Jika kamu yang melakukannya ... aku mohon hentikan, Mega. Aku berjanji. Aku akan menjauh dari Asya dan kembali padamu lagi."
Mega mengerutkan dahinya seketika. Siapa sangka, bila semudah ini menaklukan Danu dan membawa pria itu kembali ke dalam pelukannya.
**Bersambung
NB : [Usai menulis, langsung Author upda****te. Jadi, mohon maklumnya teman-teman, jika kalian menemukan typo, atau kesalahan dalam part kali ini.
Jika kalian menemukan keganjalan, bolehlah bantu Author dengan memberi kritik dan sarannya.
Masih ada satu episode lagi yang akan menceritakan kisah Asya dan Mega di masa lalu.
__ADS_1
Oh, ya. Cerita akan direvisi setelah seluruh part selesai. Terima kasih**]