Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 4. Dua Kehidupan Yang Berbeda


__ADS_3

Dukung ceritanya dengan memberikan vote, like, rate 5 dan juga komentar (boleh kritik asal membangun)


***


Seorang ibu tetaplah seorang ibu. Dia akan selalu menyayangi anaknya, walau anak tersebut tak pernah berbakti selama hidupnya. Dan, itulah yang dirasakan oleh Asya pada putri yang sangat ia cintai itu.


Jika ditanya ... kenapa Asya tak memberi pelajaran saja pada Aya atau memukulnya dengan keras agar ia tahu bagaimana caranya berterima kasih pada ibu yang telah bersusah payah menghidupinya?


Maka Asya akan tetap membela anaknya dan memberikan menjawab dengan tegas. "Aya adalah putriku. Buah hati yang aku kandung selama lebih dari sembilan bulan lamanya. Cahaya yang selama ini aku nantikan kehadirannya. Aku memaklumi setiap perbuatannya padaku. Perbuatan yang timbul sebagai bentuk protesnya pada dunia yang tak pernah berlaku adil. Dia hanya ingin menumpahkan kekesalannya padaku. Pada mama yang sudah gagal menjadi seorang ibu---karena tak becus membagi waktu antara anak atau pekerjaan."


Ya. Asya adalah salah satu---dari begitu banyaknya---seorang ibu yang akan selalu mencintai anaknya tanpa pamrih dan balasan yang setara. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih menaruh kepercayaan pada Aya. Jika suatu hari nanti, anak itu pasti akan berubah.


Entah itu sekarang atau nanti?


Buk!


Aya pun melepaskan seragam sekolahnya dengan kasar. Meninggalkan pakaian berlenhan pendek yang kini menempel di tubuhnya. Beberapa detik kemudian, ia pun terlihat melemparkan pakaian penuh noda itu ke sembarang tempat dan segera pergi tidur dengan membiarkan seragamnya teronggok begitu saja.


Aya menatap langit-langit kamarnya untuk waktu yang cukup lama. Hingga---


"Uhh. Coba lihat ini! Kamu habis membunuh siapa, Aya? Kenapa kamu meninggalkan bekas darah di seragammu seperti ini?" Suara berisik dari hantu kesepian itu benar-benar mengusik ketenangannya.


Aya lantas bangkit dan menatap Mega---yang tengah menenteng seragamnya--- dengan tatapan yang tajam dan menusuk.


"Letakkan pakaian itu atau kau akan kuusir dari sini!" ancam Aya tak pernah main-main.


"Oke-oke. Aku akan melepaskannya," sahut Mega sontak mengembalikan baju tadi ke tempatnya kembali. Setelahnya, ia pun menerbangkan dirinya ke udara dan mendarat tepat di tepi ranjang Aya. "Kamu kenapa Aya? Apa kamu marah karena aku sudah menjaili si brengsek itu atau aku yang sudah menghilang tanpa memberimu kabar sama sekali? Atau mungkin ... ada alasan lainnya?"


"Kamu dari mana saja tadi?" ketus Aya mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku? Aku hanya pergi jalan-jalan. Menuntaskan apa yang harusnya aku tuntaskan. Apa aku harus menjelaskannya?" Seringai itu kembali terbit di bibir Mega. Sayangnya, senyuman itu terlihat sangat menyeramkan mengingat status Mega yang sudah menjadi hantu gentayangan.


"Kalau kamu mau tinggal di sini dan tetap berteman denganku, kamu harus memberitahuku apa yang sudah kamu lakukan di luar sana!" titah Aya kemudian.


"Aku akan mengatakannya. Tapi, ada satu syarat."

__ADS_1


"Apa?"


"Apa kamu lupa, kalau kamu sangat membenci manusia. Mereka selalu saja membuatmu menderita. Tapi, kenapa kamu malah menyelamatkan gadis itu?"


Aya menghela napas kasar. Kemudian menerjunkan diri sekali lagi di atas ranjang kesayangannya. "Bagaimanapun juga aku adalah manusia. Aku masih memiliki hati untuk menyelamatkan orang yang hampir sekarat," jawab Aya dengan mata yang terpejam.


"Itu bukan keinginan untuk menolong. Tetapi, perasaan bersalah karena kamu sudah meramal masa depan gadis itu. Lalu, kamu teringat dengan masa lalumu yang tanpa sengaja meramal temanmu akan mati kecelakaan. Apa aku salah?"


Aya membuka matanya kembali. Manik legam itu menyorot hampa pada langit-langit kamar yang begitu gelap.


"Ternyata, aku benar. Kamu masih saja menyakiti dirimu sendiri untuk apa yang tidak kamu lakukan." Suara Mega terdengar lebih rendah dari sebelumnya.


Aya merasa sudah ditelanjangi. Ia lupa dengan status Mega yang bukan lagi seorang manusia. Dia arwah tanpa raga dan hidup di alam yang berbed dengannya. Sesuatu yang wajar jika Mega tahu, ke mana ia pergi dan apa yang sedang ia kerjakan di luar sana.


Ah. Aya tidak selera lagi untuk menanyakan ke mana Mega pergi waktu sekolah tadi. Akhirnya, ia pun memilih kembali tidur dan mengabaikan Mega yang terlihat kesal karena diabaikan.


"Hei! Apa kamu tidak mau mendengarkan alasanku, ke mana aku pergi tadi?" pancing Mega agar gadis itu mau mendengarkannya.


"Nggak tertarik! Kamu mau pergi ke manapun, itu terserah kamu!"


Mega terpaku sejenak. Memandangi Aya yang perlahan mulai masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


***


Senin berikutnya, Syifa sudah bisa masuk ke sekolahnya yang baru. Gadis itu terlihat sangat senang dan bersemangat. Pasalnya, ia tidak sabar lagi untuk segera belajar dan bertemu dengan teman-teman baru di sana.


"Assalamu'alaikum, Ummiku yang cantik dan shalihah," sapa Syifa pada Husna yang tengah sibuk mengatur meja makan.


"Wa'alaikumussalaam, anak Ummi yang cantik." Husna menghentikan pekerjaannya sejenak. Berbalik badan dan membalas pelukan Syifa dengan hangat. "Maa syaa Allah, coba lihat anak Ummi yang cantik ini. Kayaknya udah nggak sabar lagi buat pergi sekolah," ujar Husna berakhir dengan sebuah godaan.


Syifa terkekeh. Namun, ketika pandangannya jatuh ke atas meja makan, bola matanya mendelik dan membuat gadis itu melepaskan pelukannya pada Husna.


"Maa syaa Allah. Makanannya banyak banget, Ummi. Kayaknya enak nih. Baunya aja enak banget, jadi bikin Syifa laper," celetuk Syifa sambil mengusap-usap perutnya yang memang sudah keroncongan sejak bangun tidur.


"Kalau laper, ya, dimakan. Jangan diliatin terus," cetus Husna yang langsung disambut dengan cengiran Syifa yang khas.

__ADS_1


"Syifa mau makan bareng Abi. Apa Abi belum bangun, Ummi?" tanya Syifa kemudian.


"Abi udah berangkat pagi-pagi tadi. Ada urusan katanya."


"Oh---"


"Jadi, Ummi yang akan nganterin Syifa ke sekolah." Husna mencuil hidung Syifa dengan lembut.


"Oke, Mombos!" seru Syifa sembari mengangkat tangannya, memberi hormat.


Husna menggeleng geli melihat kelakuan anaknya yang persis bocah. Padahal, beberapa bulan lagi, Syifa akan memasuki usia ke tujuh belas tahunnya. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak berpengaruh bagi gadis berwajah lugu itu.


Selama ini orang tua Syifa tidak pernah mempermasalahkan sikap manja yang dimiliki oleh anaknya tersebut. Karena mereka tahu Syifa dengan baik. Syifa bermanja-manja ria tersebut hanya ingin lebih dekat dengan orang tuanya saja. Selain itu, Syifa tidak pernah suka berpangku tangan pada orang lain. Terbukti dari setiap prestasi yang Syifa berhasil dapatkan.


Syifa mengangkat tangannya ke udara. Beberapa saat kemudian, ia pun meraup wajahnya dengan lembut, sebelum akhirnya menyantap sarapan pagi yang benar-benar menggungah selera makan.


Jika Syifa begitu bahagia dengan kehidupan keluarganya yang harmonis. Berbanding terbalik dengan keadaan Aya yang begitu menyedihkan dan hanya dipenuhi kekelaman saja. Sama seperti keadaan kamarnya yang tak lagi berwujud.


Dalam posisi duduknya, Aya terlihat sibuk mengikat tali sepatu. Setelah selesai memasang sepatunya, ia pun mengambil tas punggung dan juga gawai yang tergeletak di atas ranjang tidurnya.


Aya bergegas keluar dari dalam tasnya. Tak lupa menutup kamarnya dengan rapat. Saat ia berbalik untuk bergegas. Tiba-tiba saja, langkahnya terhenti detik itu juga.


"Kenapa Mama masih di sini?" tanya Aya dengan ekspresi tak suka.


Asya tetap tersenyum manis. Sama sekali tak menunjukkan raut kemarahan pada anaknya tersebut. Ia bahkan sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Aya. Sepiring nasi goreng dengan sosis potong yang bertaburan di atasnya.


"Mama sudah menyiapkan sarapan dan juga makan untuk Aya. Siang nanti, lauknya tinggal dipanasin kalau udah dingin," pesan Asya yang kembali sibuk dengan menyedukkan beberapa centong nasi ke atas piring keramik miliki Aya.


"Mama. Aya mohon, jangan membuat Aya berbuat kasar lebih dari ini."


"Mama rindu Aya. Mama rindu makan satu meja denganmu. Mama rindu masak makanan kesukaan Aya. Apa Mama salah, kalau Mama rindu? Sekali ini saja, Nak. Setelah itu, Mama tidak akan datang jika kamu tak mau Mama datang," pinta Aya sembari menunduk sayu, menatap jari-jemari kakinya.


Aya mendesah kasar. Dia merasa sangat kesal, karena tak punya pilihan lain. Selain menuruti permintaan Asya yang tulus merindukannya.


Bersambung

__ADS_1


***


Harap maklum bila banyak typo di sana-sini. In syaa Allah, akan di-edit kembali.


__ADS_2